Pada 2011, Mbak Yuli sedang mengalami masalah rumah tangga hingga akhirnya berpisah dengan suaminya. Anak-anak ikut bersamanya, sementara kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi tanpa bantuan yang cukup dari sang suami. Kondisi tersebut membuat Yuli berusaha mencari pekerjaan ke berbagai tempat. Meski beberapa lowongan pembantu rumah tangga tersedia, ia lebih berharap mendapatkan pekerjaan sebagai babysitter.
Kesempatan itu muncul setelah Yuli bertemu seorang teman yang kemudian membawanya ke sebuah agen penyalur tenaga kerja. Agen tersebut mengatakan ada keluarga di salah satu daerah Jawa Barat yang sedang membutuhkan babysitter. Karena sangat membutuhkan penghasilan untuk anak-anaknya, Yuli menyetujui tawaran tersebut meskipun harus bekerja jauh dari rumah.
Ketika tiba di lokasi, kesan pertama yang dirasakan Yuli justru membuatnya tidak nyaman. Rumah tempatnya bekerja berdiri di lahan sangat luas, dikelilingi tembok tinggi berwarna gelap dengan gerbang merah besar. Di sekitar rumah terdapat beberapa bangunan lain, pepohonan tinggi, rerumputan, kendaraan proyek, serta area yang menurut Yuli terasa sepi dan menyeramkan.
Pemilik rumah dipanggil “Papi” dan “Mami”. Mami terlihat hidup sangat mewah, sementara Papi justru tampil sederhana dengan pakaian yang menurut Yuli sering terlihat kotor dan kusut. Keluarga tersebut disebut memiliki bisnis besar. Dalam wawancara, Yuli mengatakan mereka mempunyai tiga toko emas serta sekitar 120 truk, belum termasuk kendaraan dan peralatan berat lain yang berkaitan dengan usaha mereka.
Sebelum resmi bekerja, Mami memberikan sebuah lembar perjanjian kepada Yuli. Namun bukannya sekadar diminta menandatangani kontrak seperti biasa, menurut Yuli ia diminta menusuk jarinya dengan jarum hingga keluar darah lalu menggunakan darah tersebut sebagai tanda persetujuan. Isi aturan juga menyebut dirinya tidak boleh pulang tanpa izin, bahkan apabila keluarganya sedang sakit. Karena merasa takut, Yuli menolak melakukan perjanjian menggunakan darah tersebut.
Meski demikian, Yuli tetap diperbolehkan bekerja dengan berbagai aturan ketat. Ia diminta tidak terlalu banyak bertanya, tidak pergi ke tempat yang tidak diperintahkan, serta mengikuti arahan seorang pembantu lama yang disamarkan dengan nama Biis. Ketika pertama melihat Biis, Yuli merasa perempuan itu terlihat murung dan seperti berada di bawah tekanan. Kamar yang diberikan kepada Yuli pun kotor, penuh sarang laba-laba, dan memiliki aroma anyir yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Kejanggalan lain muncul ketika Yuli hendak mandi dan salat. Menurut kesaksiannya, Biis justru memperingatkannya agar tidak salat apabila ingin bertahan bekerja di tempat tersebut. Yuli merasa sangat sedih karena dirinya seorang Muslim, tetapi pada saat itu ia memilih tidak melawan karena baru datang dan masih membutuhkan pekerjaan. Seiring waktu, ketika merasa takut, ia tetap diam-diam membaca ayat-ayat Al-Qur’an untuk menenangkan diri.
Tugas utama Yuli adalah menjaga dua anak yang disamarkan dengan nama Dito dan Dani. Menurutnya, kedua anak tersebut justru sangat sopan dan baik kepadanya. Namun Mami melarang Yuli masuk ke kamar mereka apabila anak-anak belum berada di rumah. Ia juga dilarang menggunakan pintu tertentu dan tidak diperbolehkan mendekati beberapa bagian rumah tanpa didampingi Biis.
Di belakang rumah, Yuli melihat beberapa dump truck dan alat berat yang sudah tidak digunakan. Salah satu dump truck justru dipagari atau dikurung sehingga terlihat berbeda dari kendaraan lainnya. Tidak jauh dari sana terdapat seekor anjing hitam berukuran besar, ayam cemani, serta beberapa hewan lain. Setiap Yuli bertanya kepada Biis mengenai tempat tersebut, jawabannya selalu sama: jangan banyak bicara apabila ingin aman.
Setiap malam Jumat terdapat aturan yang menurut Yuli sangat janggal. Mulai sekitar pukul tiga sore, dirinya dan Biis harus meninggalkan rumah dan menginap di sebuah mess tempat para sopir truk serta keluarga mereka tinggal. Bahkan satpam disebut sudah pergi lebih dahulu. Ketika berada di mess, Yuli pernah mendengar percakapan tentang seorang sopir yang mengalami kecelakaan menggunakan dump truck. Menurut cerita yang ia dengar dari Biis dan penghuni mess, kejadian semacam itu justru dipercaya akan membuat kekayaan sang bos bertambah, meskipun Yuli tidak dapat memastikan kebenaran anggapan tersebut.
Selama lebih dari setahun bekerja, Yuli juga sering mendengar suara anak kecil menangis dari salah satu bangunan yang tidak boleh ia dekati. Ia baru mengetahui siapa anak tersebut setelah seorang laki-laki datang membawa bocah laki-laki berusia sekitar tiga tahun yang memiliki kondisi disabilitas. Menurut penuturan Biis, anak itu merupakan anak bungsu Papi dan Mami yang selama ini ditempatkan terpisah dari saudara-saudaranya.
Biis kemudian bercerita bahwa pasangan tersebut sebenarnya memiliki lima anak. Menurut cerita yang diterima Yuli, dua anak perempuan mereka telah meninggal dunia, sedangkan anak bungsu yang mengalami disabilitas tersebut tinggal di bangunan terpisah dan jarang terlihat. Yuli tidak mengetahui penyebab kematian kedua anak perempuan itu dan hanya mengetahui informasi tersebut dari cerita Biis selama bekerja.
Pengalaman paling mengerikan terjadi pada suatu malam Jumat Kliwon. Saat itu Mami belum pulang hingga malam, sedangkan Yuli takut meninggalkan dua anak yang menjadi tanggung jawabnya. Ia dan Biis akhirnya tetap berada di rumah sampai sekitar pukul sebelas malam. Ketika Mami tiba, keduanya justru dimarahi karena seharusnya sudah meninggalkan tempat tersebut sejak sore.
Yuli kemudian diperintahkan masuk ke kamar dan mematikan lampu. Sekitar tengah malam, ia mendengar suara pintu mobil lalu mengintip dari dalam kamar. Menurut kesaksiannya, ia melihat Papi berada di luar tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana hitam, kemudian membawa tiga karung menuju dump truck yang selama ini dikurung. Karung-karung tersebut dilemparkan satu per satu ke area kendaraan tersebut.
Tidak lama kemudian, Papi disebut keluar lagi dengan mengenakan topeng berlidah panjang yang sebelumnya pernah dilihat Yuli tergantung di salah satu bangunan. Tubuh bagian atasnya tetap terbuka, sementara sebuah kain putih dililitkan di tubuhnya dan ia membawa dupa. Yuli mengaku melihat Papi bergerak berputar-putar seperti sedang melakukan suatu ritual. Pada saat yang sama, sejumlah anjing hitam berukuran besar mulai muncul dari sekitar area tersebut.
Puncaknya, menurut Yuli, muncul seekor anjing hitam yang ukurannya jauh lebih besar dari anjing lainnya dari arah dump truck yang dikurung. Ia mengaku melihat Papi bersujud di hadapan hewan tersebut beberapa kali sementara anjing-anjing lain duduk mengelilinginya. Yuli hanya berani mengintip sambil menutupi sebagian wajahnya dengan Al-Qur’an karena ketakutan. Ia kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan dugaan praktik pesugihan, meskipun apa yang dilihatnya malam itu merupakan kesaksian pribadi yang tidak dapat diverifikasi secara independen.
Keesokan harinya, Biis mengajak Yuli masuk ke salah satu ruangan yang sebelumnya tidak pernah boleh ia masuki. Di sana terdapat meja, foto keluarga, pakaian, topeng, serta berbagai benda yang menurut Yuli terasa tidak biasa. Biis kemudian membawa sebuah karung yang disebut berisi uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Yuli mengaku uang tersebut bercampur noda yang tampak seperti darah dan mengeluarkan bau anyir sebelum dimasukkan ke dalam sebuah tong.
Saat membersihkan ruangan, Yuli juga mengaku menemukan benda yang menurut penglihatannya menyerupai potongan jempol kaki. Ia spontan berteriak karena kaget, tetapi langsung dimarahi Papi dan diminta diam. Benda itu kemudian diambil dan dibawa menuju dump truck yang dikurung. Pada kesempatan lain, Yuli melihat Biis membawa pakaian bernoda darah yang menurutnya juga tidak dicuci, melainkan dilemparkan ke area kendaraan tersebut.
Karena sudah tidak tahan, Yuli mengajak Biis melarikan diri bersama. Namun Biis menangis dan mengatakan Yuli sebaiknya menyelamatkan dirinya sendiri. Menurut pengakuan Biis kepada Yuli, dirinya pernah menjalani perjanjian menggunakan darah dari jempol sehingga percaya bahwa ia akan meninggal apabila kabur. Selama sekitar empat tahun bekerja, Biis disebut tidak pernah pulang bertemu keluarganya dan hanya dapat berkomunikasi dari jauh serta mengirimkan gaji.
Pada malam itu juga Yuli akhirnya benar-benar melarikan diri tanpa membawa pakaian maupun barang miliknya. Di area persawahan ia bertemu seorang petani dan meminta pertolongan. Lelaki tersebut mengatakan Yuli bukan pekerja pertama yang pernah ia bantu melarikan diri dari rumah itu. Petani tersebut kemudian memberinya uang sekitar Rp25 ribu dan membantu Yuli menumpang kendaraan pengangkut hasil panen menuju terminal agar dapat pergi sejauh mungkin dari lokasi tersebut.
Yuli memilih tidak langsung pulang ke rumah anak-anaknya, melainkan mendatangi rumah ayah angkatnya yang dipanggil Pak Haji. Menurut Yuli, begitu tiba, Pak Haji mengatakan ada sesuatu menyerupai binatang buas yang mengikutinya. Selama tujuh hari Yuli tinggal di sana dan menjalani proses doa serta membaca “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zalimin”. Pada malam-malam tersebut ia masih mendengar suara anjing di sekitar rumah, tetapi setelah sekitar satu minggu gangguan itu disebut berhenti.
Setelah merasa aman, Yuli mendatangi agen yang dahulu mengirimnya bekerja dan meluapkan kemarahannya. Ia mengatakan seharusnya agen memberitahukan kondisi rumah tersebut dan mengaku merasa hampir dijadikan tumbal. Tidak lama kemudian Papi dan Mami disebut mencari Yuli melalui agen serta menuduhnya membawa sesuatu dari rumah mereka. Yuli bersumpah tidak mengambil apa pun, bahkan pakaian pribadinya masih tertinggal di sana. Agen kemudian memilih merahasiakan keberadaan Yuli. Bertahun-tahun kemudian, ia hanya mendengar kabar bahwa Papi telah meninggal dunia, sementara keberadaan Mami dan anak-anaknya tidak lagi diketahuinya. Setelah sekitar satu setengah tahun bekerja di rumah dengan tiga toko emas dan sekitar 120 truk tersebut, Yuli memilih mengambil satu pelajaran: pekerjaan dengan penghasilan sebesar apa pun tidak sebanding dengan rasa takut ketika keselamatan diri menjadi taruhannya, terlebih ketika terdapat perjanjian dan praktik yang tidak dipahami sejak awal.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
