Pada 2019, Mas Iyan mengikuti acara gathering kantor ke Jawa Timur. Sejak perjalanan dimulai, perasaannya sudah tidak tenang dan pikirannya terus tertuju kepada keluarga di rumah. Ia berkali-kali menghubungi sang istri, tetapi teleponnya sulit diangkat. Ketika akhirnya tersambung, istrinya mengatakan bahwa anak pertama mereka sedang mengalami demam tinggi.
Sepulang dari acara tersebut, Mas Iyan memilih turun di kampung halaman dan tiba menjelang subuh. Ia mendapati anaknya yang berusia sekitar 10 tahun benar-benar sedang sakit. Ketika Mas Iyan sedang merawat dan mengompres anaknya, sang istri justru mengatakan hendak pergi menemui teman. Mas Iyan sempat meminta istrinya tetap di rumah, tetapi setelah ia selesai mandi, perempuan itu sudah pergi.
Pada siang hari, anak pertamanya yang disamarkan dengan nama Andi menyampaikan sebuah rahasia. Menurut cerita sang anak, selama Mas Iyan bekerja di Jakarta terdapat seorang laki-laki yang sering datang ke rumah, bahkan beberapa kali menginap. Mas Iyan awalnya tidak percaya, tetapi ketika membuka lemari untuk mengambil pakaian anak, ia menemukan surat yang menurutnya menjadi bukti bahwa istrinya telah menjalani pernikahan siri dengan pria lain.
Mas Iyan kemudian memperlihatkan temuan tersebut kepada ibu mertuanya. Setelah beberapa hari tidak dapat dihubungi, sang istri akhirnya bersedia bertemu dan mengakui kesalahannya sambil meminta maaf. Bahkan ia disebut menangis dan bersujud di kaki Mas Iyan agar tidak diceraikan. Demi ketiga anak mereka, Mas Iyan akhirnya memberikan kesempatan kedua dan membawa seluruh keluarga pindah ke Jakarta pada 2020 agar tidak lagi menjalani hubungan jarak jauh.
Beberapa bulan pertama kehidupan mereka kembali berjalan normal, tetapi perilaku sang istri perlahan berubah. Suatu hari perempuan itu pergi dan tidak kunjung pulang sehingga Mas Iyan bersama anak-anak mencarinya. Di jalan, mereka melihat sang istri sedang berboncengan dengan seorang pria yang disamarkan dengan nama Budi. Anak sulung Mas Iyan langsung mengenali Budi sebagai laki-laki yang sebelumnya sering datang ke rumah.
Mas Iyan mencoba mengejar pria tersebut, tetapi gagal karena saat itu ia sedang bersama anak-anak. Setelah kejadian itu istrinya kembali menghilang. Ketika Mas Iyan sedang bekerja dan rumah kosong, sang istri diam-diam mengambil hampir seluruh barang, termasuk kendaraan, ATM, tabungan, hingga kebutuhan rumah tangga. Mas Iyan mengaku ketika kembali, rumahnya nyaris tidak menyisakan apa pun.
Rasa sakitnya semakin besar setelah anak-anak mulai menceritakan pengalaman mereka selama Mas Iyan bekerja di Jakarta. Menurut kesaksian anaknya, ketiganya pernah disuruh mengamen meskipun uang gaji dan tabungan Mas Iyan selama ini diserahkan kepada sang istri. Anak-anak yang saat itu berusia sekitar 4, 6, dan 10 tahun juga mengaku mengalami kekerasan. Mas Iyan bahkan melihat bekas luka di tubuh mereka yang disebut berasal dari perlakuan sang ibu.
Tidak lama setelah istrinya pergi, Mas Iyan mulai mengalami kejadian yang menurutnya tidak biasa. Rumahnya kerap terdengar seperti dilempari batu pada malam hari, muncul suara-suara aneh, sedangkan kondisi tubuhnya semakin lemah dan beberapa kali mengalami pendarahan. Seorang teman bernama samaran Yadi kemudian membawanya menemui seorang kiai di Bogor setelah pemeriksaan medis disebut tidak menemukan masalah yang dianggap menjelaskan kondisinya.
Menurut penuturan Mas Iyan, kiai tersebut menduga istrinya telah terkena pelet dari Budi dan dirinya ikut menjadi sasaran kiriman untuk membuat tubuhnya sakit. Mas Iyan diberi air serta bacaan untuk digunakan dalam proses pemulihan. Kondisinya perlahan membaik, tetapi rasa dendam kepada istri dan pria yang merebutnya belum hilang. Dalam pikirannya saat itu, ia bahkan menginginkan keduanya mati.
Seorang teman kerja lain yang disamarkan dengan nama Niko kemudian mengetahui besarnya dendam Mas Iyan. Niko menawarkan untuk membawanya ke sebuah tempat di Sukabumi yang disebut dapat menjalankan ritual “jual musuh”. Setelah sempat ragu, Mas Iyan akhirnya menyetujuinya karena terus teringat perselingkuhan sang istri serta cerita kekerasan yang dialami anak-anaknya.
Perjalanan menuju Sukabumi yang biasanya hanya membutuhkan beberapa jam disebut berubah menjadi sekitar 12 jam karena berbagai hambatan di jalan. Ketika memasuki kawasan pelosok menuju rumah kuncen, Mas Iyan mengaku mendengar tawa dan melihat sosok perempuan putih di antara hutan bambu. Sesampainya di rumah tujuan, seorang perempuan yang dipanggil Bunda langsung menyambutnya dan menurut Mas Iyan seperti sudah mengetahui maksud kedatangannya.
Mas Iyan kemudian menjelaskan bahwa dirinya ingin menjadikan mantan istri serta Budi sebagai target ritual karena menganggap keduanya sebagai musuh. Ia menyerahkan foto dan nama mereka, lalu membayar mahar sekitar Rp3 juta untuk perlengkapan ritual. Bunda kemudian menunjukkan sebuah kamar khusus yang seluruh dindingnya tertutup kain hijau, dipenuhi persembahan, terdapat sebuah lukisan besar, serta kasur yang ditutup kain putih.
Sebelum ritual dimulai, Mas Iyan mendapat beberapa pantangan. Ia mengaku dilarang tidur, melarikan diri, dan menyebut nama Allah selama proses berlangsung. Ia juga harus menghafalkan mantra tertentu dan berada sendirian di ruangan dalam keadaan gelap sejak sekitar pukul 11 malam hingga menjelang subuh. Rangkaian ritual tersebut dilakukan sebanyak tujuh kali secara bergantian dengan peserta lain hingga berlangsung kurang lebih 14 hari.
Pada ritual pertama, Mas Iyan mengaku merasa kamar tertutup itu seolah berubah menjadi kawasan hutan. Ia melihat berbagai penampakan dan salah satu yang paling membuatnya takut adalah sosok perempuan menyerupai kuntilanak. Pada ritual kedua, pengalaman semakin menyeramkan karena ia merasa ada sesuatu bersandar di tubuhnya. Ketika menoleh, menurut kesaksiannya, terdapat sosok menyerupai pocong yang menatap dari jarak sangat dekat.
Ritual ketiga kembali membawanya ke suasana hutan yang dipenuhi berbagai sosok. Kali ini Mas Iyan mengaku melihat makhluk sangat tinggi dan besar berdiri tepat di hadapannya hingga ia tidak berani menatap bagian atas tubuhnya. Meskipun ketakutan, dendam membuatnya terus melanjutkan mantra dan mempertahankan niat untuk menyelesaikan ritual.
Selama proses itu, Niko membawa ketiga anak Mas Iyan ke Sukabumi karena ia sangat merindukan mereka. Kepada anak-anaknya, Mas Iyan tidak mengatakan tujuan sebenarnya dan hanya mengaku sedang menjalani pengobatan. Pada ritual keempat, ia tidak lagi melihat hutan, melainkan merasa berada di tepi lautan di depan sebuah kerajaan besar berwarna keemasan. Malam yang sama, anak-anaknya mengaku mendengar suara kereta dan ringkikan kuda dari arah atap penginapan.
Dalam ritual kelima, Mas Iyan mengaku gerbang kerajaan tersebut akhirnya terbuka dan ia dapat berjalan di antara penghuninya. Pada ritual keenam, seorang perempuan cantik berpakaian serba hijau datang menjemput dan mengajaknya berkeliling, tetapi belum mengizinkannya bertemu dengan sosok yang disebut “Nyai”. Bunda menafsirkan pengalaman itu sebagai tanda bahwa permohonan Mas Iyan semakin dekat dengan tahap akhir.
Pada ritual ketujuh, Mas Iyan mengaku dijemput sosok menyerupai panglima dan dibawa memasuki istana. Di sebuah ruangan, ia kemudian bertemu perempuan cantik dengan ekspresi bengis yang menurut kesaksiannya mengetahui seluruh tujuan kedatangannya. Di hadapannya muncul tumpukan uang yang disebut bernilai sekitar Rp12 miliar. Mas Iyan bahkan mengaku dapat memegang uang tersebut sebelum jumlahnya ditambah menjadi sekitar Rp50 miliar.
Namun tawaran tersebut datang dengan syarat yang langsung menghancurkan tekad Mas Iyan. Sosok yang disebut Nyai itu meminta salah satu anaknya sebagai bayaran. Mas Iyan menolak karena sejak awal dirinya datang untuk membalas dendam kepada mantan istri dan Budi, bukan mengorbankan anak-anaknya. Ia kemudian meminta waktu untuk berpikir dan setelah kembali ke kamar ritual langsung memohon kepada Bunda agar seluruh perjanjian dihentikan.
Menurut kesaksian Mas Iyan, Bunda kemudian masuk seorang diri ke kamar khusus untuk membatalkan ritual tersebut. Dari luar ia mendengar suara gaduh, teriakan, serta suara seseorang yang memohon agar kesepakatan dibatalkan. Setelah cukup lama, Bunda keluar dalam keadaan berkeringat dan ketakutan, lalu mengatakan bahwa perjanjian telah berhasil diputus. Mas Iyan diminta segera pulang, tidak kembali ke tempat tersebut, dan melupakan seluruh proses yang telah dijalaninya.
Mas Iyan akhirnya meninggalkan Sukabumi bersama ketiga anaknya dan memilih tidak lagi berhubungan dengan mantan istrinya maupun Budi. Anak-anak kini tinggal bersamanya dan menurut pengakuannya berada dalam keadaan aman, sementara dirinya memilih belum menikah lagi karena ingin fokus membesarkan mereka. Dari pengalaman tersebut, Mas Iyan menyadari bahwa dendam hampir membawanya pada keputusan yang jauh lebih buruk daripada sakit hati yang ingin ia balaskan. Kekayaan puluhan miliar yang menurut kesaksiannya pernah ditawarkan menjadi tidak berarti ketika nyawa anak sendiri dijadikan syarat. Ia pun memilih berhenti dari jalan pesugihan dan mempertahankan anak-anak yang sejak awal justru ingin ia lindungi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
