Mas Aldo membuka ceritanya dari tahun 2009, saat seorang teman sekolah lama tiba-tiba datang mencari pekerjaan. Temannya Joko (nama samaran) waktu itu sedang terjepit ekonomi, nganggur lama, rumah tangga retak, bahkan hampir bercerai karena kebutuhan hidup makin menekan. Mas Aldo yang berprofesi sebagai sopir truk kasihan dan akhirnya mengajak Joko kerja sebagai kenek, sekadar supaya dapur temannya tetap ngebul dan anak-anaknya bisa sekolah.
Joko ikut sekitar setahun. Menjelang Lebaran 2010, Joko pamit dan bilang dapat pekerjaan lain. Mas Aldo tidak curiga apa-apa. Sampai tiga tahun kemudian, Joko mendadak muncul lagi—kali ini seperti orang yang berbeda. Mas Aldo diajak ketemu di garasi, namun yang bikin kaget: Joko datang membawa Pajero. Bukan cuma gaya, Joko bahkan menyelipkan uang Rp3 juta “buat rokok”, dan tetap menolak menjelaskan kerja apa sebenarnya.
Tiga hari setelah itu, Joko menjemput Mas Aldo dan membawanya ke showroom truk. Di sana, Joko menyuruh Mas Aldo memilih unit. Mas Aldo sempat mengira ini bercanda, tapi Joko benar-benar membayar cash sekitar Rp1,1 miliar untuk satu unit Hino (kabin dan sasis). Setelah unit jadi, Mas Aldo mulai jalan cari muatan sendiri. Baru satu unit beroperasi, muatan sudah menumpuk—dan ketika Mas Aldo bilang “mobilnya kurang”, Joko menjawab enteng: lima hari lagi akan ada mobil datang.
Benar saja, Joko mendatangkan bukan satu-dua unit, melainkan sekitar sepuluh truk sekaligus. Lalu menyusul lagi. Armada bertambah cepat dan anehnya selalu terjadi setelah ada musibah. Mas Aldo belum paham pola itu, sampai ia jadi pengurus: mengatur sopir, surat jalan, uang jalan, dan operasional. Ia bahkan mengajak banyak sopir lain bergabung karena uang jalannya lebih besar. Di titik ini, Mas Aldo masih mengira Joko hanya “dapat pemodal besar.”
Korban pertama yang menempel di ingatan Mas Aldo adalah Toto (nama samaran), sopir yang dekat dengannya. Baru jalan pertama, Toto kecelakaan di Tol Pemalang. Truknya sudah berhenti dan diganjal, muatan berat, tapi tetap terdorong sampai pancang dari kendaraan di depan menghantam kabin dan menjepit Toto hingga meninggal. Mas Aldo melapor ke Joko dengan takut-takut, tapi Joko sama sekali tidak marah—hanya bilang “urus saja, kasih santunan, mobil dibawa pulang.” Dua minggu setelah Toto meninggal, Joko justru menelepon: besok ada mobil datang lagi, cari sopir lagi.
Tidak lama kemudian korban berikutnya menyusul: Rendy (nama samaran) kecelakaan di jalur Alas Baluran menuju Banyuwangi. Yang bikin Mas Aldo heran, truk baru dengan tenaga besar tiba-tiba tidak kuat nanjak, lalu mundur dan terguling sampai sopirnya tewas tergencet. Lagi-lagi respons Joko sama: dingin, datar, “urus saja.” Dan lagi-lagi setelah itu, armada bertambah.
Keanehan bukan hanya di jalan. Di garasi, truk-truk bekas kecelakaan sering “hidup” sendiri: klakson bunyi, lampu nyala, mesin starter padahal kontak tidak ada. Montir jaga malam mengaku sering mendengar tangisan dan permintaan tolong dari arah truk yang masih hancur dan masih ada darahnya. Montir pertama tidak tahan dan resign. Montir pengganti pun banyak yang mengalami gangguan serupa: penampakan pocong, kuntilanak, bahkan sosok Toto disebut pernah terlihat duduk nangis di pojok toilet.
Menjelang Lebaran, saat aktivitas berkurang dan banyak sopir berkumpul di garasi, kejadian makin gila. Seorang kenek bernama Santo tergencet kabin truk saat ganti oli—kabin menutup sendiri padahal kendaraan baru. Santo dibawa ke rumah sakit, namun meninggal di perjalanan. Mas Aldo mulai merasa ini bukan rentetan kecelakaan “normal.”
Tak lama setelah itu, Joko menjemput Mas Aldo dan mengajak ke Bekasi menjemput “guru”-nya. Mereka bertiga lalu bertemu seorang kuncen. Mas Aldo disuruh membawa kardus-kardus yang ternyata berisi ayam—ia baru sadar setelah mendengar suaranya. Mereka berjalan kaki hampir tiga jam menuju sebuah gua di gunung. Di sana, Mas Aldo melihat sendiri persiapan ritual: ayam hitam, bunga tujuh rupa, dupa, kemenyan, dan penerangan lilin. Ayam dipotong, darahnya ditampung, lalu kuncen membaca doa-doa.
Saat ritual berlangsung, Mas Aldo menyaksikan penampakan bertubi-tubi: sosok tinggi besar hitam berbulu, kuntilanak tertawa, pocong, bahkan macan melintas. Yang paling aneh, makhluk-makhluk itu seolah tidak “ngeh” pada Mas Aldo—kecuali satu: sosok putri cantik bermahkota berkebaya yang berdiri tepat di hadapannya dan menawarkan kekayaan lebih besar dari bosnya, dengan satu syarat: harus “menikah” dengannya. Mas Aldo hanya diam, terlalu shock untuk menjawab.
Setelah ritual selesai, Mas Aldo disuruh membawa dua karung besar. Dalam perjalanan pulang, Mas Aldo mengaku melihat sosok-sosok lain: wajah para sopir korban kecelakaan seperti Toto dan Rendy, tubuh mereka penuh darah, dirantai dan dikawal makhluk tinggi besar. Saat karung dibuka diam-diam, isinya uang pecahan merah—ratusan ribu. Di situlah Mas Aldo yakin: Joko melakukan pesugihan.
Di rumah kuncen, Mas Aldo memberanikan diri bertanya. Kuncen menjelaskan: “putri” yang menawari Mas Aldo itu disebut ratu siluman ular, dan syaratnya harus menikah dengan dia—dengan risiko tumbalnya tidak bisa orang lain. Berbeda dengan pesugihan Joko yang disebut pesugihan genderuwo—yang bisa mencari tumbal orang lain. Mas Aldo menolak keras. Ia bilang kerja untuk anak-istri, tidak mau keluarga jadi korban.
Mas Aldo dan Joko berdebat sampai di mobil. Joko meminta Mas Aldo diam dan tidak bicara ke sopir lain. Tapi setelah pulang, kecelakaan terus terjadi, dan Mas Aldo tak tahan melihat teman-teman sopir jadi “tumbal” bertahun-tahun. Ia memutuskan resign, pulang kampung, meski Joko menawarkan fasilitas, gaji dilipatkan, sekolah anak ditanggung, bahkan diminta membawa keluarga ke Jakarta. Mas Aldo tetap menolak.
Setelah keluar, Mas Aldo mulai bicara diam-diam ke beberapa sopir yang masih kerja. Ia menyampaikan pola yang ia lihat: setiap ada sopir meninggal, tidak lama armada bertambah. Ia juga menyuruh mereka tanya ke ibu warung depan garasi yang disebut tahu banyak soal korban. Pelan-pelan sopir ketakutan dan resign massal. Akhirnya garasi kosong, truk nganggur, spanduk lowongan sopir pun sepi peminat karena kabarnya sudah menyebar.
Beberapa waktu kemudian Joko menelepon memohon Mas Aldo kembali, gaji tiga kali lipat, tapi Mas Aldo tetap menolak dan memblokir nomor. Tidak lama, Mas Aldo dapat kabar dari pengurus muatan (Bang Samsu) bahwa Joko meninggal mendadak—habis main bulu tangkis, duduk, lalu wafat. Mas Aldo merinding karena tanggalnya bertepatan dengan tanggal saat ia dulu diajak ritual, dan itu juga tanggal ulang tahun Mas Aldo. Ia menafsirkan: ketika tidak ada lagi tumbal dari sopir, “tagihannya” akhirnya mengambil Joko sendiri.
Seusai Joko meninggal, istri-istrinya ribut warisan. Armada dijual, garasi dijual. Tidak sampai setahun, dua-duanya bangkrut. Bahkan salah satu istri sampai ngontrak. Mas Aldo juga merasakan imbas lain: usaha kecilnya di kampung yang sempat jalan malah ikut hancur, karena ia pernah memakai modal pinjaman dari Joko. Seolah benang kusut itu masih menyisakan efek walau ia sudah pergi jauh.
Di akhir ceritanya, Mas Aldo menyampaikan keyakinan yang membuat banyak orang tercengang: menurutnya, praktik seperti ini tidak hanya terjadi pada bosnya. Ia percaya sekitar “50%” perusahaan angkutan yang maju pesat memakai cara mistis. Ciri yang ia pegang sederhana: kalau ada kecelakaan sampai sopir meninggal tapi armada justru terus bertambah, patut dicurigai ada pesugihan di baliknya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
