Mas Ojan mengenang tahun 2009 sebagai masa ketika hidup terasa “cukup”, tapi mimpi punya rumah sendiri masih seperti jauh. Ia bekerja sebagai pengepul roller “selip” komponen roda untuk mesin pabrik penggilingan padi berkeliling dari pabrik ke pabrik, mengumpulkan yang bekas, lalu menjualnya lagi ke pengepul.
Suatu sore di pabrik selip milik seorang haji, Mas Ojan melihat sosok yang membuat langkahnya ragu. Seorang nenek tua, kurus, bersanggul, mengenakan kemben seperti orang zaman dulu, menyapu ceceran gabah dan beras di lantai pabrik. Nenek itu menyapa ramah, menanyakan kerjaan Mas Ojan, lalu melontarkan pertanyaan yang terasa seperti pancingan: “Kamu pengin kaya?”
Mas Ojan menjawab jujur ingin kaya agar bisa punya rumah untuk keluarga. Nenek itu lalu memberi “jalan”: sebuah petilasan di Jawa Barat. Katanya, di sana ada dua jalur—kalau memilih jalur kiri, bisa terseret pada tumbal; kalau jalur kanan, tidak pakai tumbal. Mas Ojan sempat ketakutan, lalu pamit pulang, menganggap itu hanya obrolan aneh yang akan hilang tertiup angin sore.
Malamnya, justru datang orang yang sedang benar-benar kepepet. Teman mainnya, Mas Agus (samaran), tiba-tiba mampir dan curhat: usahanya jual-beli beras kolaps karena ditipu—beras dibawa kabur, uang ratusan juta lenyap, bahkan modal kakaknya ikut ikut terbakar. Mas Agus ingin ikut kerja apa saja, yang penting bisa jalan dulu.
Di situlah Mas Ojan teringat lagi omongan nenek di pabrik. Ia cerita ke Mas Agus—setengah menahan, setengah menyesal—karena ia sendiri takut kalau benar ada “jalur tumbal”. Namun Mas Agus yang sedang kalut justru menangkapnya sebagai harapan terakhir. Ia minta Mas Ojan menemaninya mencari petilasan itu.
Mereka kembali ke pabrik selip beberapa hari kemudian, berharap bisa bertemu lagi sosok nenek tersebut. Tapi para pekerja dan pemilik pabrik bersumpah tidak ada nenek-nenek yang bersih-bersih di situ—yang menyapu semuanya laki-laki. Mas Ojan makin merinding, karena orang yang ia lihat seolah hanya “muncul” untuk dirinya.
Dua hari setelah itu, Mas Agus datang membawa kabar: ia dapat petunjuk lokasi petilasan dari temannya. Mereka berangkat naik motor, masuk ke daerah yang adem, sepi penduduk, dan terasa “terpisah” dari keramaian. Di sana hanya ada penjaga petilasan—kuncen—yang langsung bertanya balik, “Kamu niatnya apa ke sini?”
Kuncen menyuruh mereka izin dulu ke makam di pendopo: tahlilan, minta keselamatan, lalu nama-alamat didata seperti orang mau mendaki gunung. Barulah mereka diberi senter dan tikar. Kuncen menjelaskan ada dua tempat—kiri dan kanan—dan tempat “dua makam” di kiri disebut paling cepat diijabah, tapi risikonya juga paling berat. Mas Agus yang sedang tenggelam utang memilih yang cepat.
Mereka mulai naik setelah sore lewat. Jalur setapak sempit, semak-semak rapat, dan berkali-kali terasa seperti dibikin muter. Setelah hampir satu jam, mereka menemukan dua makam panjang berdempetan yang anehnya terlihat selalu bersih, seolah ada yang rutin menyapu walau tidak ada warga. Mas Agus memilih posisi paling ujung; Mas Ojan berjaga di bagian dekat pintu masuk area makam.
Malam pertama masih “wajar” kalau ukuran orang nekat: angin besar datang sekitar jam sebelas, lalu suara menggeram seperti sesuatu besar mendekat. Mas Ojan menyahut Mas Agus, tapi temannya tak menjawab—entah tertidur, entah memilih diam. Pagi harinya mereka salat dan membersihkan makam, lalu kuncen berpesan: selama tujuh hari tidak boleh turun. Kalau turun, ritual dianggap putus.
Malam kedua, gangguan berubah bentuk. Mas Ojan mendengar langkah kaki mendekat, lalu suara anak-anak ramai, lalu senyap mendadak seperti ada tombol yang dimatikan. Ia melihat tiga sosok tinggi kekar—ketika disapa, mereka menoleh bersamaan… tapi wajahnya polos, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Mas Ojan jatuh terduduk saking kagetnya.
Saat mencoba menenangkan diri, Mas Ojan bersandar—dan punggungnya menyentuh sesuatu yang “berbulu”. Ia menoleh dan sempat melihat setengah badan sosok mirip monyet, besar sekali. Belum selesai napasnya, ia mendengar suara seperti gas bocor, menengadah, dan melihat ular besar melilit di pohon kecil yang anehnya tidak patah ranting. Mas Ojan bertahan dengan zikir seadanya, sambil menahan rasa ingin kabur.
Malam ketiga jadi titik patah. Mas Ojan mengaku sudah lemah—hampir tiga hari tidak makan minum layak—dan di situlah gangguan terasa “lebih nyata”. Ia melihat lagi sosok nenek seperti yang dulu di pabrik, muncul malam-malam membawa nasi. Setelah itu muncul pocong-pocong mengelilingi makam, sosok manusia berkaki kuda lewat, lalu perempuan menenteng kepalanya sendiri. Puncaknya, datang sosok berkepala singa seperti algojo, tangan kiri membawa kampak, tangan kanan membawa pedang—dan sosok ini tidak hilang meski Mas Ojan merem-melek berkali-kali.
Mas Ojan lari kalang kabut turun ke pendopo. Kuncen bilang itu artinya ia gagal melanjutkan ritual di atas. Ia boleh “meneruskan” dari bawah, tapi hasilnya tidak sama. Mas Ojan memilih pulang. Baginya, yang penting nyawa selamat.
Beberapa hari kemudian Mas Agus pulang sendiri—dan marah karena merasa ditinggalkan. Namun kemarahannya berubah jadi pembuktian. Ia mengajak Mas Ojan masuk kamar: ada dua karung besar, seperti karung beras 50 kilo, penuh uang gepokan rapat seperti baru dari bank. Mas Ojan cuma bisa menatap: temannya yang kemarin nyaris hancur, mendadak punya “modal” yang tidak bisa dijelaskan.
Uang itu dipakai Mas Agus untuk melunasi utang, lalu menyewa pabrik selip dan mulai bangun usaha beras dari petani: jemur, proses, kirim. Permintaan naik terus sampai mereka kirim ke Bandung, Garut, Tegal, Brebes. Tiga miliar pun sanggup dibayar untuk mengambil alih pabrik. Mobil, truk, sawah, rumah—datang bertubi-tubi, sampai Mas Agus sempat ingin membuat bisnis rental dan menawarkan Mas Ojan mengurusnya.
Waktu berjalan, dan setelah sekitar tiga tahun “enak”, pabrik Mas Agus meledak—kebakaran besar, padi jadi berondong, tak bersisa. Di situlah Mas Agus akhirnya membuka rahasia yang selama ini ia kunci: ia punya perjanjian. Setiap Jumat Kliwon harus menyembelih seekor kambing. Jumat Kliwon terakhir ia lupa—dan kebakaran itu dianggap teguran. Mereka kembali menemui kuncen, dan Mas Agus kemudian mengaku perjanjiannya ternyata “kontrak umur”: lima tahun wajib tumbal kambing tiap Jumat Kliwon; kalau melanggar, gantinya dirinya sendiri.
Tak sampai sebulan, di Jumat Kliwon berikutnya, istri Mas Agus (Novi, samaran) menelpon Mas Ojan sambil gemetar: Mas Agus meninggal mendadak. Saat Mas Ojan ikut memandikan jenazah, ia melihat keanehan—mata sulit terpejam, lidah seperti keluar, leher biru-biru—sampai seorang kiai datang mendoakan barulah tubuhnya lebih “tenang”.
Setelah Mas Agus pergi, semua yang dulu tampak kokoh mulai rontok. Bisnis rental merosot, mobil dibawa kabur, mesin dioplos, aset perlahan lenyap. Novi sempat ingin menikah lagi terlalu cepat, lalu akhirnya menikah setelah 40 hari, dan kekayaan yang tersisa justru dihambur-hamburkan—sawah dijual, rumah digadaikan, sampai akhirnya rumah disita bank.
Tahun-tahun setelahnya, Mas Ojan bertemu Novi di Jakarta: hidupnya sudah berbalik—pernah kerja jadi ART, lalu menikah lagi dengan orang yang sederhana, sementara anaknya tetap ia gendong ke mana-mana. Mas Ojan hanya bisa membantu sekadarnya, karena yang paling ia ingat bukan harta Mas Agus, tapi perjalanan temannya dari titik nol sampai jatuh dengan cara yang tragis.
Di akhir kisah, Mas Ojan bilang ia bersyukur pernah “gagal”. Karena kegagalan itu yang menyelamatkan dirinya dari tarikan lembah hitam. Baginya, usaha yang pelan tapi halal lebih menenangkan daripada uang yang datang cepat—karena jalan cepat selalu punya harga, dan kadang harganya bukan uang, melainkan hidup itu sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
