Di pasar besar, persaingan kadang bukan cuma soal harga dan kualitas barang. Ada yang memilih jalan gelap—menutup rezeki orang lain lewat cara mistis, supaya pelanggan pindah tanpa sadar. Itulah yang disaksikan Mas Awi, petugas kebersihan pasar yang sudah bertahun-tahun hidup di antara debu, sampah sayur, dan cerita-cerita yang orang awam sering anggap mitos.
Kejadian ini terjadi tahun 2013, saat Mas Awi masih bekerja sebagai tukang sapu di Perumda Pasar Kota Cirebon. Ia masuk kerja sejak 2010, diajak adik iparnya karena sedang nganggur. Di pasar, Mas Awi terbiasa mendengar hal aneh: suara orang nangis, suara ketawa, bayangan melintas dekat pohon besar di samping pasar—hal-hal yang muncul di jam-jam sepi ketika kios sudah tutup.
Di tengah rutinitas itu, Mas Awi kenal dengan Kang Adi, pedagang sayur yang lapaknya ramai. Subuh-subuh, lapak Kang Adi selalu penuh orang. Omzetnya tinggi—disebut bisa hampir empat juta per hari pada masa itu. Mas Awi sering membantu beres-beres, sekadar angkat-angkat atau buang sampah sayur yang tersisa.
Sampai suatu masa, semuanya mulai berubah pelan tapi tajam. Langganan Kang Adi satu per satu pindah ke lapak sebelah—lapak Pak Ano—jaraknya cuma sekitar lima meter. Harga sama, kualitas Kang Adi malah lebih bagus karena ambil barang baru dan pilih yang segar. Tapi entah kenapa, yang datang justru berkurang drastis.
Yang lebih aneh lagi, ada pelanggan yang bertanya ke Mas Awi, “Kang Adi jualan nggak?” Mereka bilang sudah tiga hari lapaknya tutup. Padahal Mas Awi yakin Kang Adi buka terus, bahkan hampir tidak pernah libur. Di situlah muncul dugaan yang membuat dada dingin: bukan lapaknya yang tutup… tapi lapaknya “dibikin tidak terlihat” oleh sebagian orang.
Kang Adi sendiri mulai stres. Sayuran cepat busuk, tomat yang biasanya laku 20 kilo sehari sekarang paling lima kilo. Saat nyortir, Kang Adi menemukan ulat dan belatung di sayur—sesuatu yang terasa terlalu cepat terjadi. Omzet turun dari jutaan menjadi sekitar sejuta, bahkan 800 ribu. Setiap hari banyak sayur dibuang.
Kang Adi lalu mengajak Mas Awi ziarah ke Gunung Jati, mandi tujuh sumur, ikut tahlilan. Harapannya sederhana: minta berkah, biar dagangan pulih. Setelah ziarah, Kang Adi ikut main ke rumah Mas Awi. Di perjalanan mereka sempat bertemu Kang Ali—saudara Mas Awi—yang dikenal bisa membantu urusan spiritual dan pengobatan. Mas Awi teringat pengalaman ikut Kang Ali “bersih-bersih rumah” dan mengobati orang kesurupan, lalu ia menawarkan pada Kang Adi: coba konsultasi.
Kang Ali mendengar keluhan Kang Adi, lalu berkata kemungkinan ada “penutupan” atau kiriman. Kang Ali minta malam berikutnya diajak melihat lapak Kang Adi secara langsung. Mas Awi diminta menyiapkan garam krosok, kembang tujuh rupa, dupa, dan air—perlunya untuk netralisir.
Malam itu mereka datang ke pasar saat sepi. Jam sembilan malam, kios-kios tutup, hanya ada security keliling. Mas Awi sudah biasa mendengar suara-suara aneh di pasar, tapi malam itu tekanannya berbeda: hawa panas, merinding, dan suasana seperti menunggu sesuatu. Begitu dupa dinyalakan, Mas Awi mendengar suara orang nangis dan ketawa. Lalu muncullah penampakan yang membuat lututnya lemas—bayangan putih berubah jadi pocong, bukan satu tapi dua, nongol di dasaran dan dekat pintu lapak. Wajahnya hancur, matanya merah menyala.
Belum selesai rasa takutnya, muncul sosok lain: bayangan hitam besar, mata merah, taring besar, berdiri di tengah dasaran. Mas Awi ingin lari, tapi tubuhnya seperti tertahan karena Kang Ali sedang proses ritual. Pocong itu lalu menghilang, tapi Kang Ali menyuruh Mas Awi mencari “benda” yang disembunyikan.
Mas Awi mencari di titik yang ditunjuk, dan akhirnya menemukan sesuatu yang membuat telapak tangannya panas: buntelan mayit—bungkusan seperti kafan kecil, sebesar kepalan. Lalu ditemukan lagi benda lain, sampai total tiga benda. Semuanya terasa panas saat dipegang, seolah ada “isi” yang tidak mau disentuh. Setelah itu, Mas Awi disuruh menaburkan kembang dan garam krosok, lalu air, sebagai penutup proses netralisir.
Saat mereka selesai, terdengar lagi suara seperti lemparan batu dari depan lapak. Mas Awi panik dan minta pulang. Mereka membawa buntelan itu ke dekat kali, lalu membuka isinya: tanah kuburan. Semuanya dibuang, dan mereka pulang membahas inti masalah—kalau dibiarkan, buntelan semacam itu bisa menghancurkan usaha, bahkan merembet ke keluarga.
Besoknya Mas Awi menceritakan semuanya ke Kang Adi. Kang Ali juga ingin datang ke rumah Kang Adi karena merasakan ada yang “tidak beres” di sana. Malam berikutnya, mereka benar-benar datang. Kang Ali menyorot satu kamar di rumah Kang Adi—auranya beda. Ketika dibuka, kamar terlihat rapi, tapi Kang Ali meminta Mas Awi mencari sesuatu. Dan benar, di bawah bantal ditemukan buntelan lagi. Saat dibuka, di dalamnya ada dua tulang, aromanya wangi seperti kemenyan dan bunga—wangi yang menipu, karena isinya justru santet.
Kang Adi akhirnya mengaku ada konflik lama: adiknya berpacaran dengan anak Pak Ano, tapi ayah Kang Adi tidak setuju. Dari situlah diduga Pak Ano sakit hati dan menyerang bukan hanya hubungan, tapi rezeki. Kang Ali menyarankan solusi lanjutan: selain pembersihan, adakan syukuran/tahlilan di rumah, mengundang warga dan anak yatim, supaya suasana rumah dan jalur rezeki “dihidupkan” kembali dengan doa bersama.
Beberapa minggu setelah itu, kabar baik datang. Kang Adi bilang jualannya mendingan. Langgan mulai balik lagi, omset naik pelan-pelan seperti dulu. Ia bahkan ingin memberi tanda terima kasih pada Kang Ali. Dan yang menarik, setelah Kang Adi pulih, justru lapak Pak Ano mulai redup. Ia tidak jualan beberapa hari, lalu digantikan anaknya—tetap sepi.
Belakangan terdengar kabar istrinya Pak Ano sakit keras lalu meninggal dengan kondisi janggal: tubuhnya biru-biru seperti dipukul, dan saat dimandikan darah keluar dari hidung tanpa berhenti, sampai pengurusan jenazah dipaksa dipercepat. Setelah kematian itu, rumah Pak Ano disebut sering terdengar suara tangis saat tahlilan. Mas Awi memilih menganggapnya pelajaran, bukan bahan sorakan—karena baginya, semua ini terlalu mahal untuk dijadikan kemenangan.
Di akhir ceritanya, Mas Awi memberi kesimpulan yang bikin banyak orang tercekat: di pasar besar, praktik mistis itu bukan satu-dua. Menurut pengamatannya, hampir 80% pedagang memakai cara begitu, dari penglaris sampai santet, bahkan ada yang “memelihara” makhluk dengan wujud aneh seperti kepala monyet badan manusia—kata Mas Awi, itu tampak bagi orang yang punya kemampuan melihat.
Namun pesan Mas Awi justru sederhana: berdaganglah dengan cara baik. Bersaing boleh, tapi jangan mengunci rezeki orang lain. Karena ketika jalur gelap dipakai, yang rugi bukan cuma korban—pelakunya pun pada akhirnya bisa ditarik oleh akibatnya sendiri. Dan di pasar, katanya, rezeki yang berkah itu bukan yang paling ramai… tapi yang paling tenang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
