Teh Keke masih ingat jelas tahun 2015, saat seorang teman lama tiba-tiba datang ke rumahnya. Teman itu—sebut saja Ujang—adalah sosok yang dulu ia kenal sejak SD: anak kampung yang sering jadi bahan ejekan, tubuhnya dianggap “tidak standar”, dan hidupnya serba kekurangan. Waktu kecil, Ujang punya banyak julukan kejam dari teman-temannya, sampai-sampai ia tumbuh dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Saat itu, Ujang muncul dengan penampilan yang sudah jauh berbeda. Lebih bersih, lebih rapi, dan ada aura percaya diri yang dulu tidak pernah ia punya. Ia bercerita setelah lulus SD, ia merantau ke Jakarta—jadi pedagang asongan, lalu sempat bekerja mengantar-jemput orang dengan bayaran tinggi. Teh Keke menganggap itu masuk akal: hidup di kota besar memang bisa mengubah nasib seseorang yang nekat.
Tapi perubahan Ujang bukan perubahan biasa. Ia memakai barang-barang branded, dan yang paling membuat Teh Keke tercengang: jam tangan Fossil yang bagi Teh Keke sendiri terasa seperti barang “impian”. Ujang hanya tertawa kecil, seolah semua itu baru permulaan.
Setahun kemudian, 2016, Teh Keke kembali bertemu Ujang—dan kali ini levelnya naik lebih gila. Ujang datang dengan mobil yang menurut orang kampung seperti mereka, biasanya cuma dipakai pejabat tinggi atau pengusaha besar. Teh Keke mulai geleng-geleng kepala: dari mana uang sebanyak itu?
Tak lama setelah Ujang terlihat “naik kelas”, kabar duka menyambar. Ayah Ujang meninggal secara tragis. Teh Keke datang takziah, dan di sana ia menyaksikan rumah Ujang berubah total: mewah, lantai marmer, AC dari depan sampai belakang—rumah paling mencolok di gang itu. Semua terlihat seperti mimpi yang terlalu cepat.
Belum genap setahun, giliran ibunya meninggal. Yang membuat Teh Keke merinding, kematian itu terasa janggal. Kata Pak RT, ibunya ditemukan di kamar mandi dalam posisi seperti bersimpuh, tubuhnya membiru, padahal sebelumnya masih terlihat sehat dan sempat belanja di warung. Teh Keke mulai menyimpan satu pertanyaan di kepala, tapi ia menelan sendiri—takut salah ucap pada keluarga yang sedang berduka.
Tahun 2017, Ujang menikah dengan perempuan cantik dari luar Jawa, sebut saja Lina. Teh Keke tidak sempat hadir di pernikahan, tetapi ia mendengar kabar Ujang makin kaya: sawah, properti, aset—seolah ia bisa membeli apa pun yang dulu mustahil ia sentuh.
Menjelang akhir 2017, Teh Keke mengalami malam yang tak akan ia lupakan. Pukul setengah satu dini hari, Ujang datang panik: Lina hendak melahirkan. Teh Keke ikut menemani, berpindah dari satu bidan ke bidan lain—semuanya tak bisa menerima. Akhirnya Teh Keke menyarankan rumah sakit besar yang dekat rumahnya.
Ujang menolak mentah-mentah. Suaranya berubah, emosinya meledak. Ia bilang ia tak mau berurusan dengan tempat itu karena trauma masa kecil—di sekitar area itu, ia dulu sering dibully pulang sekolah. Teh Keke mencoba menenangkan dan mengarahkan ke rumah sakit alternatif yang masih beroperasi.
Tapi Ujang justru membelokkan mobilnya ke arah yang tidak masuk akal: sebuah rumah sakit tua yang seharusnya sudah lama tidak beroperasi. Teh Keke ingin protes, ingin bertanya, tapi mulutnya seperti terkunci. Di depan bangunan yang dari luar tampak gelap, Teh Keke justru melihat pemandangan sebaliknya: ada satu bagian ruangan terlihat terang, ada orang lalu-lalang seperti rumah sakit masih berjalan normal.
Ujang menurunkan Lina dengan kursi roda—bahkan kursi roda itu sudah disiapkan dari mobil, seolah ia memang sudah tahu akan berhenti di sana. Teh Keke disuruh menunggu di mobil. Ia melihat Ujang berbincang dengan sosok seperti dokter… namun semua terasa aneh, datar, seperti adegan yang dimainkan tanpa emosi.
Teh Keke menyeberang ke warung kecil untuk membeli minum. Di sana, seorang bapak tua menatap Teh Keke dan Ujang dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu bertanya pelan: “Mau melahirkan di mana?” Saat Teh Keke menjawab “di rumah sakit depan,” bapak itu langsung menggeleng keras.
“Di sini udah enggak ada rumah sakit. Itu udah lebih dari lima tahun enggak beroperasi.”
Kalimat itu seperti palu. Teh Keke menoleh—dan seketika, bagian rumah sakit yang tadi terlihat terang, kini benar-benar gelap gulita. Ujang panik dan lari masuk lagi, tapi yang tampak hanya bangunan kosong. Teh Keke gemetar di tempat, mencoba memahami bagaimana matanya bisa tertipu sedetail itu.
Beberapa saat kemudian, Lina sudah berada di dekat pagar masuk, masih di kursi roda, dengan bayi di pangkuannya. Lina tampak lunglai seperti habis melahirkan, tetapi bayinya… Teh Keke menyebut itu pemandangan paling menyeramkan yang pernah ia lihat: warna tubuh bayi campuran biru, ungu, hitam seperti gosong—dan bayi itu tidak tertolong.
Lina selamat. Namun tragedi belum berhenti. Beberapa bulan setelah itu, Lina meninggal menyusul. Anehnya, setelah serangkaian kematian itu, Ujang justru semakin kaya—sawah makin luas, rumah makin megah, bahkan ia sempat memiliki dua Lexus. Tapi bersamaan dengan harta, tubuh Ujang juga runtuh.
Setelah Lina meninggal, Ujang terkena gagal ginjal stadium empat. Ia harus cuci darah dua sampai tiga kali seminggu. Ia mengaku hartanya terkuras untuk berobat—tetapi masih tersisa banyak. Namun dari raut wajahnya, Teh Keke menangkap satu hal: Ujang seperti sedang dikejar sesuatu yang lebih besar dari penyakit medis.
Awal 2018, Ujang mengajak Teh Keke bertemu di tempat sepi. Ia bilang Teh Keke satu-satunya teman yang ia percaya. Lalu Ujang membuka rahasia yang membuat Teh Keke tercekat: ia sudah melakukan pesugihan sejak 2011, di daerah Sukabumi—perjanjian dengan “Nyai” siluman ular bersisik emas.
Yang membuat cerita ini makin getir: menurut Ujang, Nyai itu justru pernah menolak dirinya dua kali. Ujang mengaku diperingatkan bahwa jalan itu berat—tumbalnya bukan orang lain, melainkan keluarga sedarah. Bahkan ia disuruh kembali pada Tuhan, bekerja yang benar, jangan ikut jalan pesugihan. Tapi luka masa kecil, dendam, dan rasa ingin “membalas” dunia membuat Ujang tetap nekat.
Pada percobaan ketiga, perjanjian disahkan. Ujang menyebut ada hitung-hitungan waktu: korban tidak selalu datang tiap tahun, tapi bisa “dipadatkan” ketika Ujang dianggap tidak komit pada setoran. Ia bahkan menyadari pola itu setelah ayah-ibu, bayi, dan istrinya hilang satu per satu dalam rentang yang terasa terlalu cepat.
Ujang menangis sambil memohon pada Teh Keke: carikan kiai atau orang pintar yang mampu memutus perjanjian. Ia mengaku sudah keliling Jawa sampai Kalimantan, uang habis untuk mencari bantuan, tapi semua angkat tangan. Teh Keke akhirnya mengajak Ujang menemui seorang ustaz supranatural terkenal di Cirebon.
Ujang masuk sendiri. Teh Keke menunggu berjam-jam di luar. Ketika Ujang keluar, tubuhnya seperti kehilangan tulang. Ia bilang ustaz itu tidak sanggup—bukan karena kurang ilmu, tapi karena konsekuensinya mengerikan: jika perjanjian diputus, bencana bisa menimpa kampung Ujang. Ustaz itu menolak mengambil risiko sebesar itu.
Sejak hari itu, Ujang makin pasrah. Ia seperti orang yang sudah melihat garis akhir. Pada satu momen, ia menitip pesan terakhir kepada Teh Keke: kalau ia meninggal, minta tolong taruh tiga kelapa dugan muda di pusaranya—airnya dibuka, jangan dibuang. Alasannya sederhana tapi menyesakkan: “Biar saya enggak terlalu kehausan di sana.”
Sekitar empat puluh hari sebelum kabar kematian Ujang datang, Teh Keke mengalami gangguan aneh di rumahnya sendiri. Tengah malam, ia mendengar suara seperti tong sampah dimainkan berirama, lalu suara seperti helikopter melayang rendah, disusul suara kereta kuda berhenti—padahal tidak ada yang memelihara kuda di lingkungan itu. Puncaknya, Teh Keke mendengar suara perempuan bersenandung, nadanya jelas seperti lagu lama—sesuatu yang selama ini ia kira cuma ada di film.
Lalu kabar itu benar-benar datang: Ujang meninggal. Bukan di rumah sakit, bukan saat dirawat. Ia ditemukan di sebuah kamar yang selama ini tidak boleh dimasuki siapa pun—kamar yang katanya dibuat seperti “istana” dan hanya Ujang sendiri yang boleh menyalakan lampu. Ujang meninggal dalam posisi bersila, tubuhnya membiru, seperti orang “murungkut”—sebuah akhir yang membuat Teh Keke merinding sekaligus sedih.
Teh Keke menepati janji: ia membawa tiga kelapa dugan muda dan meletakkannya di pusara Ujang. Ia pulang dengan dada yang berat, membawa satu kesimpulan yang pahit: kekayaan bisa datang, tapi tidak selalu membawa bahagia—kadang justru jadi pintu masuk rangkaian kehilangan yang tak bisa dihentikan.
Dan dari semua bagian kisah ini, yang paling menohok bukan kemewahan Lexus atau rumah bermarmer di gang sempit. Yang paling menohok adalah bagaimana dendam masa kecil bisa membutakan seseorang sampai ia rela menukar keluarganya sendiri, pelan-pelan, demi pembuktian yang pada akhirnya hanya menyisakan penyesalan—dan nama yang tinggal jadi cerita.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.