Mbak Dewi memulai hidupnya seperti keluarga lain pada umumnya: merintis usaha kecil, jatuh-bangun, lalu pelan-pelan naik. Sekitar tahun 2014, usahanya berkembang pesat. Ia membuka kafe demi kafe di Surabaya, menambah cabang sampai sekitar tujuh titik. Omzetnya pada masa itu bisa tembus belasan juta sehari, terutama kalau malam minggu. Rumah, mobil, motor, gaji karyawan—semuanya terasa mungkin, bahkan terasa “wajar” karena dibangun dari kerja keras berdua dengan suami.
Mereka punya dua anak. Yang sulung sudah lebih besar, sementara si bungsu masih kecil—sekitar empat tahun. Di fase itu, keluarga Mbak Dewi merasa hidupnya sudah mulai mapan. Sampai akhirnya badai datang di tahun 2020: pandemi membuat kerumunan dilarang, kafe-kafe sepi, dan satu per satu cabang terpaksa ditutup karena tidak sanggup menggaji karyawan.
Kondisi makin berat ketika Mbak Dewi dan anak sulungnya sempat terpapar. Pengobatan butuh biaya, dan untuk bertahan, hampir semua aset dijual. Dari keluarga yang sempat “tinggal memilih”, mereka jatuh ke kehidupan paling dasar: ngontrak, dekat sekolah, lalu Mbak Dewi jualan jajanan anak SD. Suaminya ikut berusaha, bekerja sebagai ojol, tapi karena masa itu penumpang dibatasi, hasilnya tidak seberapa.
Mbak Dewi mengaku ia bisa menerima hidup sederhana, asal keluarga utuh dan makan cukup. Namun suaminya pelan-pelan terlihat tidak terima. Ia mulai sering mengeluh, merasa lelah pulang malam tapi uang hanya cukup untuk makan. Sampai akhirnya suaminya bertemu seseorang—teman lama yang dulu sering mengantar makanan ke kafe mereka. Dari pertemuan itu, suaminya membawa pulang sebuah “alamat orang yang bisa bantu bangkit usaha lagi” di Gresik.
Mbak Dewi sempat curiga. Tapi suaminya meyakinkan—seolah ini bantuan biasa, seperti investor atau donatur. Mereka datang ke rumah orang itu, yang dipanggil Mbah Kawo. Rumahnya terasa “beda”: penuh barang antik, keris, suasana yang membuat Mbak Dewi gelisah. Saat Mbak Dewi ingin suaminya berhati-hati, justru suaminya menyuruh Mbak Dewi menunggu di luar. Ia masuk sendirian, bicara lama, lalu keluar dengan wajah semringah dan berkata semuanya aman—katanya hanya disuruh “ikhtiar” dan salat.
Tak lama setelah pulang, suaminya mendadak meminta uang jutaan untuk sesuatu yang tidak jelas. Mbak Dewi menolak karena memang tidak punya. Mereka sempat bertengkar kecil. Suaminya pergi, sulit dihubungi, dan mulai sering berkata sedang “urus bisnis” dengan teman.
Di saat yang sama, bencana pertama datang: anak bungsu Mbak Dewi mendadak demam tinggi, lalu kejang. Mbak Dewi panik, minta bantuan tetangga untuk membawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan, anaknya lemas, dan setibanya di rumah sakit dokter menyatakan anaknya sudah tidak ada. Mbak Dewi syok—anak itu masih kecil, dan ia melihat darah keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Dokter menyebut demam tinggi dan pecah pembuluh darah, tapi Mbak Dewi tetap merasa ada kejanggalan.
Yang membuatnya makin hancur, suaminya pulang dengan sikap datar. Ia hanya berkata “sudah takdir”, tanpa terlihat terguncang seperti yang Mbak Dewi rasakan. Bukan cuma itu—setelah pemakaman, suaminya kembali pergi, seolah hidup bisa lanjut tanpa luka.
Beberapa hari kemudian, suaminya pulang membawa tas seperti koper dan menyuruh Mbak Dewi duduk. Ia meminta Mbak Dewi membuka tas itu—di dalamnya uang ratusan juta, pecahan besar, dibendel-bendel. Mbak Dewi kaget dan bertanya uang itu dari mana. Suaminya menolak menjelaskan, hanya berkata mereka harus bangkit lagi, buka usaha lagi.
Dengan uang itu, mereka membuka kafe lagi, membangun rumah lagi—bahkan lebih besar dari sebelumnya. Mbak Dewi mulai merekrut karyawan, menyediakan mes untuk pegawai dari luar kota. Usaha kembali ramai “tanpa nunggu lama”. Dari luar, keluarga mereka terlihat seperti “balik ke puncak”.
Namun ada satu permintaan suami yang membuat Mbak Dewi heran: ia minta satu kamar khusus, pintunya berbeda (seperti dua daun pintu), dan tidak boleh ada siapa pun masuk. Katanya kamar itu tempat “ikhtiar”. Setiap malam Jumat, suaminya selalu masuk ke kamar itu dan mengunci diri di dalamnya.
Mbak Dewi mulai menangkap perubahan lain: suaminya yang dulu salat, ngaji, dan bergaul dengan tetangga, perlahan menjauh. Saat Mbak Dewi mencoba mengamalkan doa-doa dari seorang kiai yang ia datangi bersama temannya (Rina), suaminya justru marah besar. Ia mengancam: Mbak Dewi jangan salat, jangan ngaji, dan jangan lagi mengamalkan bacaan itu. Kalimat paling menusuk yang Mbak Dewi ingat: suaminya sampai berkata Mbak Dewi “nggak usah salat sekalian”.
Karena takut, Mbak Dewi sempat berhenti. Tapi rasa penasaran tidak hilang. Apalagi ia mulai sering mendengar suara aneh di sekitar kamar itu—seperti suara perempuan, bahkan desahan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan. Suaminya selalu membentak dan mengusir Mbak Dewi setiap kali ia mendekat.
Sampai akhirnya terjadi musibah kedua: salah satu karyawannya di mes, Rara, mendadak demam tinggi, kejang, lalu meninggal. Polanya membuat Mbak Dewi merinding—ada darah keluar seperti kasus anaknya. Di titik itu, kecurigaan Mbak Dewi mengeras: ada kaitan antara “kamar khusus”, malam Jumat, dan kematian yang berulang.
Atas saran temannya, Mbak Dewi memasang CCTV di lorong yang mengarah ke kamar itu. Rekaman malam hari membuatnya membeku: terlihat seperti ular besar bergerak menuju pintu kamar. Siangnya, saat ia meminta security mencari, tidak ada jejak apa pun. Seolah yang lewat malam itu bukan ular biasa. Mbak Dewi kembali menemui kiai, dan ia diberi peringatan bahwa itu ular pesugihan.
Puncaknya terjadi pada suatu malam Jumat ketika pintu kamar itu terbuka sedikit. Mbak Dewi mendengar suara yang sama, lalu nekat membuka pintu. Di dalam, ia melihat sesuatu yang mematahkan pikirannya: suaminya sedang bersama sosok “siluman ular”—bagian atas tampak seperti perempuan, bagian bawah ular. Mbak Dewi berteriak memanggil suaminya. Suaminya terkejut, dan sosok itu seolah marah—Mbak Dewi melihat tubuh suaminya dililit. Ia lari keluar rumah, minta pertolongan warga. Ketika warga masuk, sosok itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya suaminya, lemas, penuh memar dan mengeluarkan darah.
Mbak Dewi membawa suaminya ke rumah sakit, berharap masih bisa ditolong. Namun dokter menyatakan suaminya sudah meninggal. Seorang ustaz di sekitar komplek bahkan menyebut suaminya “tumbal terakhir”. Saat jenazah dimandikan, tanda-tandanya masih sama: memar, keluar darah, dan kejanggalan yang membuat orang-orang yang membantu ikut bergidik.
Dengan tiga korban—anak bungsu, karyawan, dan suami—Mbak Dewi merasa hidupnya selesai. Ia memutuskan tidak kembali ke rumah itu. Semua aset dijual, karyawan dipulangkan, dan Mbak Dewi memilih “memutus” semuanya. Uang hasil penjualan aset tidak ia nikmati; ia titipkan lewat kiai/ustaz untuk disalurkan ke yang membutuhkan dan panti asuhan, karena ia tidak mau membawa “uang panas” itu menjadi bekal hidup barunya.
Beberapa waktu kemudian, Mbak Dewi mendengar kabar: rumah di Surabaya terbakar, lalu tanahnya dipakai pihak lain (bahkan disebut sudah jadi area rumah sakit). Mbak Dewi tidak mengambil uang ganti apa pun. Ia memilih pergi dengan anak yang tersisa dan baju di badan—menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.
Mbak Dewi membagikan kisah ini dengan satu alasan yang ia ulang berkali-kali: pesugihan memang tampak “enak di depan”—uang cepat, usaha meledak, hidup naik lagi—tapi belakangnya menghabisi keluarga pelan-pelan. Dan bagi Mbak Dewi, tanda paling mengerikan bukan cuma ular yang muncul di rekaman, melainkan kalimat suaminya sendiri: ketika seorang suami sampai melarang istrinya salat dan ngaji, itu bukan lagi soal rahasia—itu sudah soal ikatan yang menelan iman dan rumah tangga sekaligus.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
