Kang Angga bukan orang yang tiba-tiba memilih untuk menyelami dunia gaib karena dorongan rasa ingin tahu semata. Kemampuan yang ia miliki untuk melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang sudah ada jauh sebelum ia sendiri memahaminya. Ketika masa kecilnya mulai diwarnai oleh pengalaman-pengalaman yang tidak lazim, pertanyaan-pertanyaan besar mulai bermunculan di benaknya. Beruntung, ia tidak menghadapi semua itu sendirian karena dalam keluarganya terdapat orang-orang yang bisa menjelaskan, yaitu sang ayah dan sang kakek yang ternyata memiliki kemampuan serupa sebagai warisan garis keturunan. Di keluarga Jurnal Risa yang seluruh anggotanya adalah persepupuan, hampir semuanya memiliki kemampuan ini dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Di antara banyak kisah yang disampaikan kakeknya dari Ciamis, ada satu cerita yang paling membekas di benak Kang Angga sejak ia masih remaja. Pada sekitar tahun 1940 atau 1950-an, salah seorang tetangga kakeknya mengalami kejadian yang membuat seluruh kampung gempar. Lelaki itu pulang ke rumah setelah beraktivitas seperti biasa, namun di tengah perjalanannya ia menemukan beberapa lembar uang berserakan di jalan. Tanpa berpikir panjang, seperti kebanyakan orang yang menemukan uang di tempat umum, ia mengambilnya dan membawa pulang. Tidak lama setelah kejadian itu, lelaki tersebut meninggal dunia secara mendadak tanpa sakit yang jelas.
Cerita tidak berhenti di kematian itu. Setelah proses pemakaman selesai, warga kampung mengadakan tahlilan seperti kebiasaan, yang berlangsung dari hari pertama hingga hari ketujuh. Tepat pada hari ketiga, saat tahlilan lepas magrib sedang berlangsung dan suasana sudah remang-remang karena penerangan zaman itu belum seterang sekarang, tiba-tiba sosok yang sudah dimakamkan itu berdiri hidup di depan pintu. Ia mengenakan kain kafan yang tidak dipocong, melainkan bagian bawah diikat seperti sarung dan bagian atas diselimutkan seperti kain ihram. Seluruh peserta tahlilan berhamburan ketakutan, namun pemuka agama yang hadir memberanikan diri mendekati sosok itu dan menanyakan apa yang terjadi.
Sosok yang hidup kembali itu kemudian dibawa masuk, diganti pakaiannya, dan keesokan harinya baru mau bercerita. Ia menuturkan bahwa setelah meninggalkan jasadnya, ia merasa dibawa ke suatu tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di tempat itu terdapat tumpukan manusia yang kesakitan. Beberapa anak kecil dipermainkan oleh sosok yang biasa disebut sebagai buta, makhluk besar yang mengerikan. Di ujung tempat itu duduk sosok buta yang lebih besar bertengger di singgasana, memandangi siapa saja yang dibawa ke sana. Di antara semua orang yang ada di tempat itu, perlakuan terhadap lelaki ini berbeda, ia justru dijamu dan dipersilakan makan.
Namun karena lelaki itu dikenal sebagai orang yang taat beribadah, kebiasaannya sebelum makan adalah membaca doa dan berzikir. Di tengah ketakutan yang luar biasa menyaksikan kondisi tempat itu, ia terus berzikir dan tidak menyentuh hidangan yang disuguhkan. Sang raja yang melihat sikap itu akhirnya mendekatinya dan berkata bahwa lelaki tersebut bukan bagian dari kelompoknya dan sebaiknya pulang karena keberadaannya justru mengganggu. Sebelum pergi, ia dititipi sebuah benda oleh sang raja, yaitu sebuah jarum berwarna emas yang tampak terbuat dari emas murni. Dengan benda itu dan petunjuk jalan yang diberikan, ia berjalan mengikuti satu jalur lurus dan tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya sendiri.
Kepulangan lelaki itu membawa dampak yang tidak terduga. Jarum emas yang ia bawa ternyata memberinya kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit, dan warga kampung mulai berdatangan untuk minta tolong. Barulah semua orang bertanya-tanya, apakah lelaki itu sengaja dijadikan tumbal oleh seseorang. Dan dengan senyum tipis, ia membenarkan dugaan itu. Uang yang ia temukan di jalan ternyata sudah sengaja ditandai oleh seseorang yang berniat menjadikan siapapun yang mengambilnya sebagai tumbal. Ketika ditanya siapa pelakunya, ia hanya berkata bahwa orang itu akan ketahuan dengan sendirinya. Tepat satu minggu kemudian, seseorang yang dikenal di kampung itu sebagai orang berada dengan kekayaan yang jauh melampaui warganya, meninggal dunia. Dan ketika makamnya dibongkar oleh warga yang penasaran, yang ditemukan di dalam liang lahat bukan jasad manusia, melainkan hanya sebatang gedebong pisang.
Kisah dari kakeknya itu menjadi salah satu jawaban paling awal bagi Kang Angga atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bergolak dalam dirinya tentang keberadaan dunia gaib dan praktik pesugihan. Namun bersama rasa penasaran yang terjawab, muncul pula kekhawatiran baru. Ia mulai bertanya-tanya apakah kemampuannya yang baru mulai berkembang bisa menjerumuskannya ke arah yang sama dengan apa yang diceritakan sang kakek. Dari kekhawatiran itulah ia semakin intensif berdiskusi dengan ayah dan kakeknya tentang bagaimana mengelola dan mengendalikan kemampuan yang ada agar tidak menjadi jalan yang salah.
Proses belajar mengendalikan kemampuan itu ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Di masa-masa awal, Kang Angga sering kehilangan kendali atas apa yang ia lihat dan rasakan. Pernah ia sedang mengendarai kendaraan lalu tiba-tiba mengerem mendadak karena melihat sesuatu menyeberang, padahal tidak ada siapa-siapa menurut penumpang yang diboncengnya. Pernah juga ia tanpa sadar turun dari tempat tidurnya tengah malam, mengetuk kamar ayahnya, dan mengajak ngobrol dalam keadaan setengah kesurupan. Kondisi seperti itu berjalan cukup lama sebelum ia benar-benar bisa mengontrol kemampuannya seperti sebuah sakelar yang bisa dinyalakan dan dipadamkan sesuai kebutuhan.
Kunci yang diajarkan oleh ayah dan kakeknya ternyata sangat sederhana namun membutuhkan konsistensi yang tidak mudah, yaitu amalan ibadah yang dilakukan secara rutin setelah salat. Bukan amalan yang berat dengan hitungan ribuan kali, melainkan bacaan-bacaan sederhana seperti Bismillah dan memahami makna Al-Fatihah, yang diwiridkan dalam jumlah tidak lebih dari seratus. Yang paling menentukan bukan jenis amalannya, melainkan keistiqamahan menjalankannya. Kakek juga memberi tiga pilihan awal untuk memulai perjalanan ini, yaitu puasa sejumlah hari, membersihkan masjid dalam jumlah tertentu, atau membayar zakat. Kang Angga yang jujur mengakui beratnya dua pilihan pertama akhirnya memilih membayar zakat.
Dampak dari konsistensi ibadah itu sangat nyata ia rasakan dalam kesehariannya. Ketika ibadahnya bagus dan teratur, sosok-sosok seperti kuntilanak dan pocong tidak berani mendekat dan mudah diabaikan. Sebaliknya, ketika ibadahnya kendor, hal-hal yang sama menjadi jauh lebih mengganggu dan sulit dikendalikan. Pengalaman ini membuat Kang Angga semakin memahami bahwa kemampuan melihat dunia gaib bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sangat bergantung pada kekuatan spiritual yang bersumber dari kedekatan dengan Allah. Prinsip ini kemudian menjadi fondasi utama seluruh perjalanannya di Jurnal Risa.
Bergabung dengan Jurnal Risa membuka banyak kasus nyata yang jauh melampaui pemahaman awalnya. Salah satu yang paling membekas adalah saat tim Jurnal Risa diundang ke sebuah rumah oleh penonton mereka yang mengaku terganggu oleh berbagai fenomena aneh, mulai dari televisi yang bisa mengetik sendiri sesuai keinginan penghuni tak kasat mata, hingga keran air yang tiba-tiba menyala sendiri. Saat penelusuran berlangsung, pemilik rumah tiba-tiba menjerit dan kesurupan. Setelah kondisinya membaik, ia menceritakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan, yaitu bahwa selama beberapa bulan terakhir ia kerap bermimpi berhubungan dengan orang lain, dan yang lebih mengejutkan, setiap pagi setelah mimpi itu celana yang ia kenakan selalu sudah terbuka ke bawah, meski kamar dikunci dan suaminya sedang dinas malam.
Kang Angga yang mendengar cerita itu langsung menangkap bahwa ada sosok yang sengaja dikirimkan untuk mengganggu keharmonisan rumah tangga perempuan tersebut. Setelah melakukan penelusuran lebih dalam, terbukti bahwa ada seorang mantan yang merasa sangat sakit hati ketika perempuan itu memilih menikah dengan orang lain. Mantan itu mengirimkan sosok gaib dengan tugas khusus untuk merusak kehidupan rumah tangga korbannya. Kang Angga kemudian melakukan negosiasi dengan sosok yang dikirimkan itu, dan karena sosok tersebut sangat taat pada perintah tuannya, satu-satunya cara agar ia mau pergi adalah dengan merusaknya terlebih dahulu. Beberapa hari setelah syuting selesai, perempuan yang mengirim gangguan itu tiba-tiba datang sendiri ke rumah korban dan meminta maaf tanpa menjelaskan alasannya secara langsung.
Di dunia pesugihan yang pernah ia masuki secara langsung untuk memahaminya, Kang Angga menemukan sesuatu yang membuatnya bergidik. Ia menyaksikan sendiri kerajaan-kerajaan gaib tempat para tumbal dikumpulkan. Di sana terdapat tumpukan manusia yang tersiksa, tidak jauh berbeda dari apa yang diceritakan oleh tetangga kakeknya dahulu. Di dalam penelusuran Jurnal Risa, ada satu sosok yang masuk ke dalam anggota tim dan menceritakan bahwa ia tidak tahu apa-apa. Ia hanya menerima sesuatu dari seseorang dan tiba-tiba dibawa ke kerajaan itu. Sosok itu mengisahkan betapa tersiksa kehidupan di dalam sana, dengan kewajiban yang harus terus dilakukan, ada yang ditugaskan menjadi tukang bersih-bersih, ada yang harus menggaruk punggung sang buta, dan berbagai tugas lain yang tidak ada habisnya selama perjanjian belum selesai.
Kang Angga mencoba membebaskan beberapa dari mereka meski sang ayah pernah memperingatkannya untuk tidak terlalu jauh mencampuri urusan orang lain. Namun ketika melihat korban yang tidak tahu apa-apa meminta tolong, nuraninya tidak bisa diam. Proses pembebasan itu tidak mudah. Negosiasi dengan sang raja selalu memakan waktu dan tenaga, karena pihak kerajaan selalu berdalih bahwa korban adalah bagian dari jatah mereka yang tidak bisa diambil begitu saja. Butuh konfrontasi langsung ketika negosiasi menemui jalan buntu. Dalam beberapa kesempatan, Kang Angga berhasil membebaskan tiga hingga lima sosok, meski semuanya sudah dalam kondisi meninggal. Setidaknya mereka tidak lagi berada dalam genggaman kerajaan itu dan bisa meninggal dengan tenang.
Setiap pertarungan dan konfrontasi itu meninggalkan bekas fisik yang nyata di tubuhnya. Sekilas dari luar kamera Jurnal Risa memang terlihat biasa saja, namun setelah syuting selesai tubuhnya sering terasa seperti habis berolahraga keras, bahkan tidak jarang demam. Di bagian punggung terkadang muncul goresan tiga garis seperti bekas cakaran yang tidak terlihat waktu kejadian namun terasa nyata setelahnya. Kang Angga mengakui bahwa apa yang ia lakukan memang cukup ekstrem dan berisiko, namun ia selalu meyakini bahwa niat untuk membantu yang tulus adalah perlindungan terkuat yang ia miliki selain ibadah.
Menjadi sosok publik di Jurnal Risa ternyata membawa konsekuensi tersendiri. Sejak channel itu mulai viral, ujian dan gangguan datang bukan hanya di lokasi syuting melainkan juga ke rumah pribadinya. Di lokasi syuting, para anggota tim kerap tiba-tiba menjadi blank dan tidak bisa melihat apapun, seolah ada yang sengaja membutakan pandangan mereka. Di rumah, Kang Angga beberapa kali mendengar suara ledakan tiba-tiba dari balkon atau suara kerikil dilempar ke dinding di malam sepi. Sofa tempatnya duduk pernah bergerak sendiri. Pintu balkon yang tertutup rapat pernah diketuk berulang-ulang dari luar padahal tidak ada siapapun di sana. Semua itu ia yakini sebagai uji coba dari berbagai pihak yang ingin menguji seberapa jauh kemampuannya.
Salah satu temuan paling unik selama perjalanan Jurnal Risa adalah ketika mereka bertemu sosok perempuan berpenampilan seperti orang Belanda yang ternyata memakai susuk. Kang Angga yang penasaran kemudian mencari tahu dan menemukan bahwa di masa penjajahan, orang-orang Belanda yang tinggal lama di Nusantara ternyata mempelajari budaya dan spiritualitas lokal, termasuk susuk dan pesugihan. Sosok yang mereka temui itu diperkirakan seorang perempuan Belanda yang sangat mencintai budaya Nusantara, belajar menari, dan pada akhirnya mempelajari pula cara memakai susuk untuk mempertahankan kecantikannya. Semasa hidup mungkin ia sangat dikenal, namun setelah meninggal wajahnya tampak rusak parah, jauh dari cantik yang pernah ia kejar dengan susuk yang ia pasang.
Dalam menghadapi seluruh perjalanan panjang itu, Kang Angga tidak pernah menggunakan wewangian, kemenyan, atau dupa sebagai alat bantu. Ia mengandalkan pendekatan yang diajarkan orang tuanya, yaitu komunikasi yang sopan dan menghargai. Bagi Kang Angga, makhluk-makhluk yang sudah hidup jauh lebih lama dari manusia itu selayaknya diperlakukan seperti orang yang lebih tua, diajak bicara dengan baik, dilobi terlebih dahulu sebelum dihadapi secara frontal. Pendekatan itu ternyata memberinya banyak kenalan di alam lain yang tidak jarang membantunya ketika menghadapi situasi yang berat. Tidak ada tumbal, tidak ada perjanjian, tidak ada timbal balik material yang ia minta. Hubungan itu berdiri di atas saling menghargai, bukan saling mengikat.
Bagi mereka yang baru mulai merasakan kemampuan indigo atau kepekaan terhadap hal-hal gaib, Kang Angga menyampaikan pesan yang tegas namun penuh empati. Langkah pertama adalah membuat segalanya logis terlebih dahulu. Jika semua penjelasan rasional sudah tidak bisa menjelaskan apa yang dialami, barulah seseorang bisa mulai menerima bahwa kemampuannya memang nyata. Langkah berikutnya adalah jangan diam sendirian karena memendam semuanya tanpa ada tempat berbagi justru membuat seseorang semakin kehilangan kendali dan akhirnya dikontrol oleh apa yang seharusnya ia kendalikan. Kang Angga menegaskan bahwa kemampuan ini bukan kutukan yang harus ditangisi, melainkan sesuatu yang suatu hari akan terasa manfaatnya bila dikelola dengan benar.
Setelah lebih dari sembilan tahun menemani perjalanan Jurnal Risa menyusuri berbagai tempat dan kasus di seluruh penjuru negeri, Kang Angga kini menjalani kesehariannya sebagai suami, ayah, pengisi konten, dan pemilik kafe di Jalan Dr. Hatta nomor 6 Bandung yang ia beri nama Rumah Kami. Ia tidak pernah menganggap semua yang ia alami sebagai beban yang harus disembunyikan, melainkan sebagai bagian dari jalan hidup yang Allah pilihkan untuknya. Dari cerita kakek tentang uang tumbal dan gedebong pisang di liang lahat, hingga pertarungan nyata dengan penguasa kerajaan gaib demi membebaskan korban yang tak bersalah, semua itu menjadi rangkaian pelajaran hidup yang membentuknya menjadi sosok yang dikenal penonton sebagai pendiam, tenang, tegas, dan selalu hadir melindungi adik-adiknya di Jurnal Risa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
