Tahun 2018, Mas Puji sedang merintis usaha laundry setelah sebelumnya bekerja sebagai teknisi pemeliharaan gedung dan telekomunikasi di sebuah perusahaan Jepang. Latar belakang teknik membuatnya masih sering menerima pekerjaan pemasangan CCTV ketika ada proyek tambahan. Salah satu pekerjaan itulah yang kemudian membawanya ke pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya.
Suatu hari, teman lamanya yang disamarkan dengan nama Tata menghubunginya. Tata menawarkan proyek pemasangan CCTV di sebuah rumah mewah di kawasan Malingping, Banten. Bayarannya mencapai sekitar Rp400 ribu untuk setiap titik, hampir dua kali lipat dari tarif normal yang biasa diterima Mas Puji. Tergiur dengan nilai tersebut, ia langsung menerima pekerjaan itu.
Karena proyek tersebut tidak mungkin dikerjakan seorang diri, Mas Puji mengajak temannya dari Jakarta yang dipanggil Nyong. Keduanya berencana menyelesaikan pekerjaan dalam tiga hari agar Mas Puji bisa segera kembali mengurus laundry, sedangkan Nyong dapat kembali menjaga warung milik kakaknya.
Setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta dan mobil proyek, mereka tiba di lokasi menjelang sore. Mas Puji terkejut melihat rumah yang akan dipasangi CCTV. Bangunannya sangat besar, memiliki tiga lantai di atas area basement, pilar megah, garasi luas, dan taman belakang yang direncanakan menjadi kolam renang.
Meski terlihat mewah, rumah yang masih dalam tahap penyelesaian itu terasa kosong dan pengap. Sejak memasuki basement, Mas Puji dan Nyong sama-sama merasakan suasana tidak nyaman. Nyong bahkan langsung mengatakan bahwa rumah tersebut terasa menyeramkan, tetapi Mas Puji mencoba mengabaikannya agar pekerjaan tidak terganggu.
Mas Puji kemudian meminta izin kepada Tata untuk menginap di rumah itu agar bisa langsung bekerja. Permintaannya membuat para pekerja menatapnya dengan ekspresi aneh. Tata akhirnya menyerahkan kunci sambil bertanya apakah Mas Puji benar-benar berani bermalam di sana.
Ketika Nyong mandi, Mas Puji mencari jalur kosong untuk menarik kabel CCTV. Ia menemukan sebuah ruang saluran bangunan yang tersembunyi di balik kitchen set. Saat pintunya dibuka, ia melihat sesuatu menyerupai kepala besar berbulu hitam berada di antara pipa-pipa. Mas Puji langsung menutup pintu dan memilih tidak menceritakannya kepada Nyong.
Gangguan berikutnya dialami Nyong saat memindahkan perlengkapan ke lantai atas. Ia mengaku melihat seorang perempuan meletakkan nampan berisi kopi di dekat pintu depan. Ketika mereka turun, tidak ada kopi ataupun perempuan tersebut. Pintu rumah juga masih terkunci dari dalam, membuat Nyong mulai ketakutan dan kehilangan semangat bekerja.
Menjelang malam, Mas Puji naik ke plafon kamar pemilik rumah untuk mencari jalur kabel. Dengan cahaya telepon genggam yang terbatas, ia melihat benda besar terbungkus kain putih sekitar tiga meter di depannya. Ketika diamati lebih dekat, terlihat ikatan di bagian atas seperti pocong. Mas Puji segera turun dari tangga tanpa memberi tahu Nyong.
Pada malam pertama, keduanya tidur di kamar lantai dua. Mas Puji merasa pergelangan kakinya dicengkeram oleh makhluk kecil bertubuh kurus. Makhluk itu kemudian naik ke atas tubuh dan mencekik lehernya. Setelah Mas Puji bertakbir, tekanan tersebut terlepas. Ketika lampu dinyalakan, Nyong ternyata juga mengaku baru saja dicekik.
Mereka berpindah tidur ke lantai bawah dan berhasil melewati sisa malam tanpa gangguan. Namun pagi harinya, Mas Puji kembali mengalami kejadian aneh. Ia melihat sosok menyerupai Nyong sedang tidur menghadap tembok, padahal Nyong yang sebenarnya ternyata sedang mandi di basement.
Ketika kejadian itu diceritakan kepada Tata, Tata mengaku rumah tersebut memang sudah lama mengganggu para pekerja. Tata sendiri pernah melihat sosok menyerupai Mas Puji duduk di atas tumpukan bahan bangunan. Para pekerja bahkan sebelumnya meminta disediakan tempat tinggal lain karena tidak berani tidur di rumah tersebut.
Pada hari kedua, Mas Puji tetap melanjutkan pekerjaan. Saat sedang salat magrib sendirian, ia mendengar suara menyerupai Nyong mengucapkan “amin” tepat di belakang telinganya. Padahal Nyong sudah lama berada di warung. Seorang pekerja bernama Eko juga pernah melihat pocong bergoyang-goyang di taman belakang rumah.
Memasuki hari terakhir, pemasangan delapan kamera berhasil diselesaikan. Ketika menunggu pemilik rumah datang untuk serah terima, Mas Puji tertidur dan bermimpi melihat beberapa pekerja dengan tali jenazah terikat di tubuh mereka. Dari lantai paling atas muncul laki-laki berjubah hitam dan merah yang menunjuk Mas Puji sambil mengatakan bahwa ia akan mati.
Pemilik rumah akhirnya datang pada malam hari. Mas Puji langsung mengenali wajah laki-laki tersebut sebagai sosok dalam mimpinya. Pria yang kemudian disebut Om Botak itu terlihat dingin dan nyaris tidak tersenyum. Setelah menerima hasil pekerjaan, ia memberi Mas Puji dua buah roti dan air mineral sebelum meninggalkan rumah.
Setelah menerima bayaran dan pulang ke Bekasi, kondisi Mas Puji mulai menurun. Tubuhnya pegal, tenggorokannya kering, batuknya semakin parah, kulitnya gatal tanpa bentol, dan kepalanya terasa berat. Ia juga sering melihat bayangan ular melintas di lantai rumah.
Seekor ular hitam kecil kemudian benar-benar ditemukan di dekat kulkas. Mas Puji membunuh dan menyimpannya di dalam plastik, tetapi bangkai ular itu menghilang keesokan paginya. Ia berkali-kali pergi ke klinik dan rumah sakit, tetapi hasil pemeriksaan tidak menunjukkan penyakit yang jelas. Pada saat bersamaan, ia menjadi malas beribadah dan merasa terganggu setiap mendengar azan.
Di tengah sakitnya, Mas Puji kembali berkomunikasi dengan Udi, kakak seperguruannya ketika belajar pencak silat di Rangkasbitung. Malam setelah berbicara dengan Udi, ia bermimpi diminta mencari air di Jawa Barat. Ketika terbangun dan melihat ke luar rumah, ia mengaku melihat ular, kalajengking, kelabang, serta sosok Om Botak berdiri di balik pagar.
Mas Puji kemudian mendatangi Udi dan ayahnya yang biasa dipanggil Abah. Setelah mendengar cerita tentang rumah di Malingping, Abah segera melakukan pengobatan. Dalam proses tersebut, Mas Puji memuntahkan cairan hitam menyerupai darah serta seutas tali yang bentuknya sama dengan tali jenazah dalam mimpinya. Abah mengatakan bahwa sukma Mas Puji telah ditargetkan dan di tubuhnya ditanam media gaib.
Setelah dirawat selama tiga hari, kondisi Mas Puji berangsur pulih. Namun ia masih harus kembali ke rumah mewah itu untuk memasang dua kamera yang tersisa. Berbekal doa dari Abah, Mas Puji kembali bersama Tata. Saat memasuki kamar pemilik rumah, ia menemukan lorong tersembunyi di balik lemari yang mengarah ke ruangan berpintu hitam.
Di dalam ruangan itu, Mas Puji melihat lampu merah, bunga layu, lilin, wadah kuningan dengan noda yang telah mengering, gentong tanah, kemenyan, serta jubah yang sama dengan pakaian sosok dalam mimpinya. Temuan tersebut membuatnya percaya pada penjelasan Abah bahwa pemilik rumah menjalankan pesugihan tali pocong dan memiliki ilmu santet. Mas Puji segera meninggalkan ruangan itu dan berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan selamat.
Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran besar bagi Mas Puji. Bayaran tinggi yang awalnya terlihat sebagai rezeki ternyata menjadi umpan untuk membawanya ke rumah tersebut. Ia berpesan agar manusia tetap waspada, tetapi tidak mudah menuduh orang lain. Menurutnya, jin memang ada, tetapi tidak boleh dipercaya. Ketakutan terbesar manusia seharusnya hanya ditujukan kepada Tuhan, karena kekayaan dan bayaran besar tidak pernah sebanding dengan nyawa yang dijadikan taruhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
