Mbak Ais mengalami babak ini di tahun 2020, setelah kejadian sebelumnya yang membuatnya dan Mei nyaris terjun ke jurang saat menumpang mobil Mas Dito. Mereka selamat karena mobil tertahan pohon, lalu dibantu teman Mas Dito dari Kediri hingga akhirnya bisa pulang ke Jawa Barat untuk menenangkan diri. Tapi ternyata, teror tidak berhenti di situ—hanya berganti bentuk, berubah menjadi godaan yang pelan-pelan mengikis akal sehat.
Di perjalanan pulang, mereka sempat berhenti di rest area Cikampek. Saat Mbak Ais dan Mei sedang antre makanan, muncul seorang kakek berpenampilan nyentrik—celana komprang, baju motif seperti batik, rambut agak gondrong, berjenggot—yang tiba-tiba menatap mereka dan berkata, “Kalian harus salah satu dari kalian harus terjun.” Kata-kata itu absurd, tapi menusuk karena mereka baru saja lolos dari jurang. Begitu Mas Rudi menepuk bahu mereka, kakek itu lenyap begitu saja, dan Mas Rudi mengaku tidak melihat siapa pun.
Mbak Ais menganggapnya sekadar kejadian aneh. Mereka lalu mencari kerja baru dan mendapatkan tempat di sebuah kafe karaoke di Jawa Tengah, di masa ketika COVID masih ketat dan tempat hiburan sering “kucing-kucingan” dari razia. Sistem gaji mereka pun aneh: dibayar setiap 60 jam kerja, bukan harian atau mingguan. Mereka ditempatkan di mes atas bersama belasan LC lain. Tapi ada kejanggalan yang membuat Mei frustrasi: tamu seperti tidak melihat mereka—seolah mereka duduk di lobi, tapi mata orang menembus begitu saja.
Dalam kondisi seret kerja, Mei mulai merancang sesuatu. Ia mendekati pemilik kafe, Pak Indra (samaran), yang sudah beristri. Mei memanfaatkan perhatian Pak Indra, sampai akhirnya mereka menikah siri. Mbak Ais ikut terseret karena hidupnya ditanggung: kosan dibayari, makan aman, tapi batinnya tidak tenang. Dalam fase itulah, Mei makin berani melangkah ke jalur gelap yang lebih jauh.
Saat ikut kunjungan wisata milik Pak Indra, Mei sempat bertanya pada seorang ibu penjual kantin tentang “tempat mistis.” Dari ibu itulah Mei mendapat informasi: ada tempat pasang susuk bernama Susuk Konde Terang Bulan di Wonosobo. Mbak Ais awalnya menolak ikut—ia paham risikonya—tapi telepon dari anaknya yang minta sepeda dan kebutuhan sekolah membuat Mbak Ais runtuh. Ia merasa buntu, lalu memutuskan ikut, bukan karena yakin, tapi karena terdesak.
Mereka pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Pak Indra. Perjalanannya melelahkan: jalur curam berbatu, sampai harus merangkak selama berjam-jam. Di puncak, mereka menemukan gubuk kecil. Ketika pintu dibuka, Mbak Ais dan Mei terpaku—orang yang menyambut adalah kakek yang sama persis seperti sosok di rest area Cikampek. Seolah ucapan “harus terjun” itu bukan ancaman kosong, tapi alamat bahwa mereka memang sedang digiring.
Kakek itu tinggal bersama seorang asisten muda. Ia tidak banyak bertanya—seolah sudah tahu tujuan mereka. Ia hanya memastikan: siapa yang akan menjalani ritual, satu orang atau berdua. Mei dan Mbak Ais menjawab berdua. Mereka membayar sekitar dua juta untuk kebutuhan sesajen selama tiga hari, dan ritual dilakukan malam hari di kawasan gua—dari total belasan gua, mereka masuk gua tertentu yang sudah ditentukan.
Malam pertama relatif “kosong”—hanya dingin dan sepi. Malam kedua mulai muncul suara gamelan dan bunyi tongkat “tok-tek” seperti orang tua berjalan, padahal lokasi jauh dari pemukiman. Kakek itu menyebut, kemungkinan hanya salah satu dari mereka yang “terbuka.” Mbak Ais mulai ketakutan, tapi Mei malah makin keras.
Malam ketiga disebut hari final. Mereka membawa sesajen lebih berat: bunga kantil, arak, darah ayam cemani, dan telur hitam. Saat tidur di atas “ranjang batu” di dalam gua, Mbak Ais melihat bayangan sosok tinggi besar, dan suara geraman membuatnya lari keluar. Saat ia memanggil “Mei,” yang ia pegang ternyata bukan Mei, melainkan ranting—seolah ia dibodohi penglihatan. Mbak Ais kabur ke rumah kakek itu dalam panik. Kakek hanya tertawa, lalu menyuruh asistennya mengantar Mbak Ais kembali.
Di malam itu pula, Mbak Ais mengalami mimpi yang justru membuatnya gagal “masuk gerbang.” Ia didatangi nenek tua bertongkat yang menawarkan jalan masuk, tapi Mbak Ais mendengar suara anaknya memanggil minta tolong berkali-kali—lalu suara kakeknya (yang sudah meninggal) menyuruh pulang. Mbak Ais menolak masuk gerbang dan akhirnya “terbangun” sudah berada di rumah si kakek. Kakek itu berkata tegas: Mbak Ais tidak ditakdirkan menempuh jalan salah, leluhurnya menolak, hatinya masih bersih.
Sementara Mei—berbeda. Mei berhasil “masuk.” Ia bercerita, di balik gerbang itu semuanya emas batangan, sampai ia disuruh mengambil “jatahnya” lima karung (sebagai simbol). Puncaknya, ia diberi benda kecil berbentuk seperti trisula—itulah susuknya. Saat proses pemasangan, susuk itu seperti berdiri sendiri lalu “masuk” ke kepala Mei. Mei menjerit kesakitan, lalu dimandikan kembang tujuh rupa sambil diingatkan pantangan yang paling keras: pada bulan purnama yang terang, Mei dilarang berhubungan badan atau melakukan aktivitas tertentu.
Setelah pulang, Mei berubah drastis. Auranya seperti “meledak.” Wajahnya makin memikat, tubuhnya terlihat lebih “jadi.” Begitu masuk kerja di dunia karaoke lagi, Mei langsung menyingkirkan LC lain—baru sehari masuk, ia jadi primadona. Dalam tujuh jam kerja, sawerannya disebut tembus puluhan juta. Uang menumpuk, dan orang-orang mulai berlomba “memiliki” Mei.
Mei kemudian bertemu Pak Riki (samaran), pria tajir yang terpikat berat. Ia minta Mei berhenti kerja, siap menghidupi. Mei setuju tapi dengan syarat: per bulan harus diberi 200 juta. Pak Riki mengiyakan tanpa tawar. Mbak Ais ikut tinggal dan membantu urusan rumah, tapi hanya menerima “gaji aman” sekitar 2,5 juta per bulan karena takut ikut terbawa arus uang besar.
Dalam waktu singkat, Mei membeli rumah, lalu Pajero, lalu Avanza, lalu BMW—tiga mobil dalam sebulan. Ia membeli rumah lagi, investasi lagi, seolah uang tidak ada habisnya. Bahkan ketika keluar dugem, Mei masih bisa “ketiban” pengusaha lain dan diberi 3 miliar. Dari luar, hidupnya tampak seperti dongeng yang jadi nyata.
Tapi dongeng itu punya tagihan. Suatu malam, Mei mabuk berat. Saat pagi-pagi Mei malah keramas, Mbak Ais menegurnya keras—karena malam sebelumnya adalah malam purnama terang, pantangan yang seharusnya tidak boleh dilanggar, tapi Mei diduga tetap berhubungan badan dengan suaminya. Tak lama setelah itu, tubuh Mei gemetar hebat, lalu ambruk. Ia pingsan dan mengeluarkan kotoran dengan bau busuk yang tidak wajar.
Mei dibawa ke rumah sakit VIP tiga hari—biayanya habis jutaan—tapi dokter tidak menemukan penyakit yang jelas. Yang ada justru satu hal yang makin mengerikan: tubuh Mei makin busuk, lalu panas seperti dibakar. Kulitnya memerah melepuh, dan di jarinya ada tulang yang seperti keluar. Bunyi “pletak-pletok” terdengar saat kulitnya mengelupas. Mbak Ais sendirian mengurus, karena suami Mei justru menjauh dan tidak mau datang.
Dalam kepanikan, Mbak Ais mencari pertolongan ke pondok pesantren dekat lokasi. Seorang ustaz langsung berkata: ia bisa membantu, tapi Mbak Ais harus ikhlas—karena kemungkinan besar Mei tidak bisa diselamatkan. Ustaz itu sampai gemetar dan muntah darah sebelum masuk kamar, lalu melakukan tawasul dan menyiramkan air doa dari baskom. Tubuh Mei sempat terangkat, bergerak, lalu mendadak lemas—Mei meninggal di situ juga. Dan pada momen itulah, benda susuk kecil seperti trisula disebut keluar dan “lenyap” setelah ditangani ustaz.
Kematian Mei tidak selesai sebagai duka biasa. Tiga rumah milik Mei yang lain tiba-tiba terbakar hampir bersamaan, sementara ATM-ATM yang memegang dana besar mendadak terblokir. Berkas-berkas aset menghilang. Mei dimakamkan dengan biaya sangat besar karena kondisi tubuhnya yang rusak parah. Keluarganya tidak pernah muncul—HP lama sudah dibuang, kontak putus, dan Mei seperti pergi tanpa jejak hubungan darah.
Bagi Mbak Ais, kisah ini adalah pelajaran yang paling menampar: ketika seseorang memaksa meraih sesuatu yang bukan jalurnya, hasilnya mungkin tampak “hebat” sebentar, tapi risikonya bisa menghancurkan. Mbak Ais sendiri bersyukur “ditolak” sejak awal—karena penolakan itu justru menyelamatkannya dari akhir yang sama.
Dan pesan terakhir Mbak Ais sederhana: jangan memaksa hidup harus melompat lewat jalan yang salah. Karena ketika pantangan dilanggar, ketika perjanjian dianggap mainan, yang dibayar bukan cuma uang—tapi tubuh, kewarasan, dan nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
