Teh Tanti tidak pernah membayangkan dirinya akan sampai di titik yang paling gelap dalam hidupnya. Pada tahun 2013, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang terpaksa mencari jalan keluar setelah suaminya terkena pemutusan hubungan kerja. Dengan kondisi ekonomi yang terjepit, dapur yang harus tetap mengepul, dan anak yang masih kecil membutuhkan biaya, ia tidak bisa hanya diam di rumah. Ia mencoba melamar kerja ke berbagai tempat hingga akhirnya diterima bekerja di sebuah rumah makan tidak jauh dari rumahnya, tempat ia mulai belajar dari nol tentang cara memasak dalam porsi besar dan seluk-beluk dapur komersial.
Selama bekerja di rumah makan itu, Teh Tanti menyerap setiap ilmu yang bisa ia pelajari. Cara mengiris bahan, meramu bumbu, memasak dalam jumlah banyak, semua ia tekuni dengan serius. Setelah beberapa bulan, ia merasa sudah cukup bekal untuk membuka usaha sendiri. Ia pun berbicara kepada suaminya dan bersama-sama mereka memberanikan diri meminta modal kepada mertua sebesar lima juta rupiah. Dengan modal itu, Teh Tanti pamit baik-baik dari bosnya yang dengan lapang hati merestui kepergiannya, lalu bersama suami mulai mencari lapak yang strategis untuk dijadikan tempat usaha.
Keberuntungan berpihak pada mereka di awal. Seorang teman lama Teh Tanti ternyata memiliki ruko kosong di lokasi yang sangat strategis, berada di kawasan dekat pabrik-pabrik yang ramai dikunjungi karyawan setiap harinya. Sang teman memberikan harga khusus karena merasa kasihan melihat ruko baiknya terlantar. Setelah deal dicapai, renovasi segera dilakukan dan menu-menu andalan mulai disiapkan, yaitu masakan Sunda seperti semur jengkol, sayur lodeh, sayur asem, ikan asin, dan sambal terasi. Mereka membuka ruko dari pagi hingga sore dengan harapan besar.
Namun kenyataan tidak seindah harapan. Bulan demi bulan berlalu, pendapatan warung hanya bergerak di kisaran seratus hingga dua ratus ribu rupiah per hari, jumlah yang tidak cukup bahkan untuk memutar modal apalagi membayar sewa ruko. Kehadiran pesaing baru di sekitar kawasan pabrik itu semakin memperparah kondisi. Pelanggan yang sudah mulai datang perlahan berpindah ke tempat lain. Teh Tanti dan suaminya semakin bingung, tidak tahu harus berbuat apa sementara tekanan ekonomi terus menggerogoti dari hari ke hari.
Titik balik yang tidak terduga datang suatu pagi di pasar. Teh Tanti yang tengah berbelanja sambil melamun, pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang nasib warungnya, tiba-tiba bertubrukan dengan seorang nenek yang menyebut dirinya Makmunah. Nenek itu langsung berkata bahwa ia melihat Teh Tanti sedang dalam kondisi banyak pikiran dan banyak masalah. Tanpa dikenal sebelumnya, Makmunah menyodorkan tawaran bantuan dan meminta Teh Tanti untuk menemuinya keesokan harinya di warung makan anaknya dekat lampu merah. Teh Tanti yang sudah putus asa tidak banyak bertanya dan langsung mengiyakan.
Sore harinya setelah warung tutup, Teh Tanti dan suaminya mendatangi Makmunah. Sang nenek langsung memastikan keseriusan mereka, lalu menyebutkan persyaratan yang harus dipenuhi sebelum dibawa menemui seseorang yang lebih ahli, yaitu air bekas pemandian jenazah dan bunga tujuh rupa. Teh Tanti yang mengira persyaratannya berupa uang atau barang biasa langsung terkejut. Namun dalam kondisi terhimpit dan pikiran yang sudah tidak jernih, baik ia maupun suaminya memilih untuk menurut. Kebetulan malam itu dari masjid terdengar pengumuman berita duka tentang tetangga dekat rumah mertua yang meninggal dunia.
Suaminya ikut memandikan jenazah dan secara diam-diam menampung air pemandiannya ke dalam botol Aqua satu liter. Tidak ada yang mencurigai apapun di tengah keramaian proses pemakaman. Air itu dibawa pulang dan disimpan. Keesokan sorenya, Makmunah membawa keduanya menuju sebuah gubuk di tengah hutan di belakang desa, jauh dari pemukiman, dengan suasana yang semakin dingin dan mencekam semakin dalam mereka berjalan. Di gubuk itu sudah menunggu seorang nenek tua bungkuk bernama Mbah Sari, dengan aneka sesajen sudah tersusun rapi di hadapannya. Barulah di situ Teh Tanti menyadari bahwa Makmunah adalah tangan kanan sang dukun.
Mbah Sari meminta Teh Tanti untuk menginap dan menjalani ritual malam itu. Suami disuruh pulang karena laki-laki tidak diizinkan masuk. Teh Tanti diminta berganti pakaian, dan ketika kain yang diberikan ternyata adalah kain putih menyerupai kafan, ia sempat protes. Namun Mbah Sari memerintahkannya untuk tidak banyak bicara dan patuh. Ia kemudian dimandikan dengan campuran air bekas pemandian jenazah dan air bunga tujuh rupa. Siraman pertama tidak terasa apa-apa, namun siraman kedua dan ketiga membuat tubuhnya bergidik panas dingin campur aduk sementara angin kencang berputar di sekitarnya di tengah kegelapan malam.
Setelah dimandikan, Teh Tanti diminta semedi dan dibacakan mantra oleh Mbah Sari. Di tengah semedinya, angin kencang semakin kuat, dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu melilit tubuhnya meski tidak mencekik. Ketika disuruh membuka mata, ia melihat sosok yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, seorang perempuan luar biasa cantik dengan mahkota di kepalanya, namun dari pinggang ke bawah berwujud ular. Sosok yang dipanggil Nyai itu bertanya apa keinginannya. Dalam kepanikan dan tubuh yang gemetar tak terkendali, Teh Tanti tidak menjawab sesuai niat awalnya ingin usaha lancar, melainkan spontan berkata ingin kaya. Nyai menerimanya, namun dengan syarat yang akan ditagih setelah satu tahun.
Mbah Sari yang kaget mendengar jawaban itu mengingatkan Teh Tanti bahwa resiko dari keinginan kaya jauh lebih besar dibanding sekadar ingin usaha lancar. Namun perjanjian sudah terbentuk dan tidak bisa dibatalkan. Sebelum pulang, Teh Tanti diberikan sisa air pemandian jenazah yang harus dicampurkan ke dalam gentong masak setiap hari sambil membaca mantra. Keesokan harinya setelah mencampurkan air itu ke seluruh masakan, terjadi perubahan yang drastis. Warung yang biasanya baru ramai menjelang siang, sejak pagi sudah dipenuhi pembeli hingga semua masakan habis jauh sebelum jam tutup. Pendapatan yang tadinya mandek di angka dua ratus ribu langsung melonjak ke lima ratus hingga enam ratus ribu rupiah dalam satu hari.
Para pelanggan terus berdatangan dari hari ke hari dengan kesetiaan yang luar biasa. Mereka memuji masakan Teh Tanti sebagai sesuatu yang berbeda dari warung-warung lain, dengan semur jengkol dan sayur lodeh sebagai menu favorit yang selalu habis terjual. Warung semakin kewalahan hingga Teh Tanti harus merekrut karyawan tambahan untuk melayani pembeli di depan. Namun dapur tetap menjadi wilayah privat yang hanya boleh dimasuki oleh Teh Tanti dan suaminya. Tidak ada seorang pun karyawan yang boleh mengetahui apa yang sebenarnya dicampurkan ke dalam masakan setiap harinya, karena rahasia itulah yang menjadi sumber dari semua keramaian.
Tepat satu tahun setelah perjanjian dibuat, Nyai datang dalam mimpi dan menagih syarat yang telah disanggupi. Syaratnya adalah satu tumbal nyawa, perempuan yang masih gadis atau laki-laki yang masih bujang. Teh Tanti yang langsung teringat pada Ningsih, karyawannya yang baru bergabung selama beberapa bulan, memotret gadis itu diam-diam dan menyerahkan fotonya kepada Nyai melalui ritual malam hari. Beberapa hari kemudian Ningsih pamit untuk pulang karena ada acara keluarga. Tidak lama setelah pergi, kabar duka datang bahwa Ningsih mengalami kecelakaan ditabrak kendaraan besar dan meninggal di tempat kejadian.
Teh Tanti ikut melayat, ikut memandikan jenazah Ningsih, bahkan memberikan santunan sebesar lima belas juta rupiah kepada sang nenek yang merupakan satu-satunya keluarga Ningsih. Namun di tengah kepura-puraan bela sungkawa itu, ia juga diam-diam menampung air bekas pemandian jenazah gadis yang baru saja ia korbankan sendiri untuk digunakan kembali sebagai campuran masakan. Rasa bersalah yang sangat dalam menggerogoti hatinya, terutama ketika mendengar bahwa nenek Ningsih sampai pingsan mendengar kabar kematian cucunya, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Teh Tanti menangis, tapi tidak berhenti.
Di tahun kedua, Nyai kembali meminta tumbal. Kali ini giliran Ani, karyawan yang juga masih muda dan belum menikah. Proses yang sama dijalankan, foto diambil diam-diam, diserahkan kepada Nyai, dan dalam waktu singkat Ani meninggal kecelakaan di jalan saat hendak mengantarkan makanan ke temannya. Saksi mata melihat Ani mengemudikan motornya dengan goyah seperti orang mengantuk meski sebelumnya tampak segar saat pamit. Yang membuat Teh Tanti semakin tersiksa adalah informasi yang ia dengar sesaat sebelum pulang dari rumah duka, bahwa Ani ternyata tinggal dua bulan lagi akan menikah. Ia telah mengambil nyawa seorang calon pengantin.
Berbeda dari Ningsih yang lebih tenang, arwah Ani datang setiap malam. Mimpi yang terasa begitu nyata, sosok Ani datang dengan wajah penuh kecewa dan bertanya mengapa Teh Tanti tega melakukan itu kepadanya. Yang paling menyakitkan, gangguan itu tidak hanya mengincar Teh Tanti, melainkan juga menyasar anaknya yang masih kecil hingga menangis tanpa henti di malam hari tanpa sebab yang bisa dijelaskan. Suami pun mulai sering melihat sosok yang menyerupai Ningsih berdiri di seberang jalan di depan ruko, menatap ke arah mereka. Rumah makan yang ramai dan menguntungkan itu mulai terasa seperti neraka yang dihuni oleh dua jiwa yang tidak rela pergi.
Di tahun ketiga, siklus yang sama berulang. Nyai datang lagi meminta tumbal, kali ini seorang laki-laki bujang. Ujang, karyawan baru yang baru saja lulus sekolah, menjadi sasaran berikutnya. Ritual yang sama, foto yang sama, dan nasib yang sama. Ujang pamit untuk mengisi bensin di jam kerja, dan tidak lama kemudian kabar kecelakaan datang lagi. Ruko itu kini telah memakan tiga korban dalam tiga tahun. Beberapa karyawan lain mulai meminta keluar tanpa menjelaskan alasannya. Orang-orang sekitar mulai berbisik bahwa ada yang tidak wajar dengan pola kematian yang terus berulang di lingkungan warung itu.
Pada titik itu Teh Tanti sudah tidak kuat lagi. Kekayaan yang ia miliki, motor, sawah, rumah, semua sudah ia genggam, tapi hidupnya tidak pernah setenang yang ia bayangkan. Ia mendatangi Mbah Sari untuk meminta keringanan agar tumbal bisa diganti dengan hewan, bukan manusia. Mbah Sari tidak bisa berbuat apa-apa dan mengatakan bahwa itu adalah urusan Nyai sepenuhnya. Malam harinya Teh Tanti sendiri yang melakukan ritual dan berbicara langsung kepada Nyai, menyatakan bahwa ia tidak mau lagi mengorbankan nyawa manusia dan rela bila kekayaannya merosot sebagai gantinya. Nyai mengabulkan permintaan itu dengan peringatan bahwa semua kemakmurannya akan perlahan habis.
Peringatan Nyai terbukti. Pembeli mulai berkurang, pendapatan merosot, dan aset yang sudah dibeli satu per satu dijual untuk menutup modal yang terus kekurangan. Di tengah kepanikan itu, seorang pria tak dikenal datang ke ruko, duduk makan seperti biasa, lalu tiba-tiba berbicara kepada Teh Tanti dan mengatakannya bahwa ia harus pergi ke pesantren di Jawa untuk dibersihkan. Pria itu tampak seperti orang biasa namun kata-katanya seolah tahu segalanya. Teh Tanti yang sudah benar-benar lelah menurut, menutup ruko, dan bersama suami serta anaknya berangkat menemui seorang kiai di Jawa.
Di hadapan sang kiai, tanpa banyak penjelasan, Teh Tanti langsung divonis harus diruqyah. Proses ruqyah pertama langsung membuat tubuhnya bereaksi keras, panas membakar sekujur badan, telinganya menolak setiap bacaan, dan ia bahkan sampai memaki-maki sang kiai dengan kata-kata kasar tanpa menyadarinya. Di tengah proses ruqyah berlangsung, kabar datang bahwa ruko mereka terbakar habis. Teh Tanti sempat goyah sesaat, namun akhirnya memantapkan hati bahwa harta bukanlah segalanya. Proses ruqyah berlanjut selama satu tahun penuh, minggu demi minggu, dengan perlawanan dari dalam yang semakin lama semakin melemah, hingga akhirnya sang kiai menyatakan bahwa dirinya telah bersih sepenuhnya.
Teh Tanti kini menjalani hidupnya sebagai ibu rumah tangga biasa, jauh dari dunia usaha yang pernah membuatnya terperosok. Semua harta yang pernah ia kumpulkan selama tiga tahun menjalani perjanjian itu habis dalam sekejap, namun ia tidak menyesalinya terlalu dalam karena yang ia yakini adalah bahwa keselamatan jiwa dan ketenangan hidup jauh lebih berharga dari rumah, sawah, atau motor apapun. Ia masih rutin menghadiri pengajian bersama sang kiai sebagai bentuk syukur dan komitmen untuk tidak pernah lagi menyimpang. Pesan yang ia titipkan untuk siapapun yang mendengar kisahnya hanya satu, tidak ada kekayaan yang layak dikejar dengan cara mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah, karena pada akhirnya semua yang datang dari jalan gelap itu tidak pernah benar-benar menjadi milik siapapun.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
