Pada 2015, Mbak Devi baru saja lulus SMA dan sedang menunggu surat kelulusan sambil mencari pekerjaan bersama temannya. Pada periode yang sama, ayahnya mendapat penempatan kerja baru di Karawang dan memperoleh tempat tinggal untuk keluarga. Setelah berdiskusi, Devi, kakak, dan ibunya akhirnya ikut pindah. Seluruh nama orang yang terlibat dalam kisah ini, menurut Devi, telah disamarkan.
Setelah sekitar tiga hari membereskan rumah baru, ibu Devi merasa tidak nyaman hanya berdiam diri. Karena lokasi kontrakan berada di pinggir jalan dan berhadapan dengan swalayan, ia memutuskan membuka usaha kecil-kecilan dengan modal sekitar Rp2,5 juta dari suaminya. Menu yang dijual berupa nasi kuning dan nasi lengko khas Cirebon. Awalnya pembeli tidak terlalu banyak, tetapi sekitar satu minggu kemudian warung tersebut mulai ramai.
Di sebelah warung ibu Devi terdapat ruko bakso milik pasangan yang disamarkan sebagai Pak Pardi dan Bu Yuyun. Mereka sudah lebih lama berdagang di lokasi itu, tetapi warungnya tidak seramai warung keluarga Devi. Suatu hari Bu Yuyun mendatangi ibu Devi dan bertanya apa yang digunakan hingga dagangannya cepat ramai. Sang ibu menjawab bahwa dirinya hanya berusaha, bersabar, berzikir, dan berselawat sambil berharap rezeki datang dengan cara yang baik.
Tidak lama setelah percakapan itu, warung bakso Pak Pardi dan Bu Yuyun tiba-tiba tutup selama tujuh hari. Ketika kembali buka pada hari Senin sekitar pukul 10 pagi, keluarga Devi terkejut karena sudah ada pelanggan menunggu sebelum warung dibuka. Setelah itu pembeli terus berdatangan sampai sebagian tidak mendapatkan tempat duduk. Menurut Devi, dalam waktu sekitar sebulan perubahan ekonomi pasangan tersebut terlihat sangat cepat, mulai dari bertambahnya kendaraan hingga perhiasan yang dikenakan Bu Yuyun.
Karena warung semakin ramai, Bu Yuyun meminta bantuan ibu Devi mencarikan karyawan untuk membantu keponakannya yang bernama samaran Ibnu. Devi yang masih menunggu panggilan kerja akhirnya menerima tawaran tersebut. Namun sejak awal terdapat aturan yang menurutnya aneh. Devi hanya boleh mengantar makanan, membuat minuman, serta mengisi saus dan kecap. Ia dilarang menyiapkan bakso, menyentuh dandang, bahkan dilarang makan bakso jualan tersebut dan justru diberi uang untuk membeli makanan di luar.
Aturan lain adalah Devi tidak boleh datang sebelum warung buka pukul 10 pagi. Ketika suatu hari ia sengaja datang lebih awal untuk membantu membersihkan dan menyiapkan dagangan, Pak Pardi serta Bu Yuyun malah memarahinya dan meminta agar berikutnya datang tepat saat warung dibuka. Seluruh proses menyiapkan bakso, membersihkan gerobak, dan menangani bagian tertentu hanya boleh dilakukan pasangan tersebut. Devi merasa janggal, tetapi memilih tidak banyak bertanya karena menganggap dirinya hanya seorang pekerja.
Sekitar dua bulan bekerja, datang enam remaja ke warung. Lima orang memesan bakso balungan, sementara satu lainnya hanya membeli minuman karena makanan yang diinginkannya tidak tersedia. Sebelum makan, salah seorang dari mereka mengingatkan teman-temannya agar membaca doa. Devi yang sedang melayani meja lain kemudian mendengar mereka mengeluh. Setelah berdoa, kelima porsi bakso itu disebut mendadak berlendir, sayurannya terlihat tidak segar, soun berlendir, kuah berbusa, dan baksonya mengeluarkan bau sangat busuk seperti bangkai.
Pak Pardi sempat mengganti semua pesanan dengan bakso baru yang menurut Devi masih dalam kondisi segar ketika diangkat dari tempat penyimpanan. Namun pelanggan kembali mengatakan hal yang sama: makanan pengganti kembali berbau dan tidak layak dimakan. Anehnya, pelanggan lain yang berada di warung tidak mengeluhkan apa pun. Keenam remaja itu akhirnya membayar dengan potongan harga lalu meninggalkan tempat tersebut, sementara Devi mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa dengan warung tempatnya bekerja.
Keesokan harinya warung yang biasanya penuh mendadak sepi sejak pagi hingga lewat Zuhur. Devi kemudian melihat Pak Pardi membawa kendi dan sebuah ember berisi air. Kendi tersebut dicelupkan ke dalam ember sambil Pak Pardi seperti membaca sesuatu, kemudian airnya digunakan untuk menyiram serta mengelap gerobak, kaca, dan meja. Menurut Devi, tidak lama setelah proses itu dilakukan, pelanggan mulai berdatangan lagi hingga warung kembali sangat ramai dan baru selesai berjualan selepas Magrib.
Beberapa bulan kemudian datang pasangan suami istri bersama anak berusia sekitar lima tahun. Setelah makanan diletakkan di meja, sang anak tiba-tiba menangis histeris. Ketika dibawa keluar, Devi mendengar anak tersebut mengatakan dirinya takut karena melihat pocong berdiri di sebelah gerobak, tepat di sekitar lokasi kendi yang sering diperhatikan Devi. Sang ibu bahkan mengatakan kepada suaminya bahwa anak mereka “melihat lagi”, membuat Devi menduga anak tersebut sebelumnya memang pernah mengalami pengalaman serupa.
Pak Pardi kemudian mendatangi keluarga itu dan meminta agar kejadian tersebut tidak disebarluaskan. Devi mengaku melihat Pak Pardi memberikan sejumlah uang kepada mereka sambil memohon agar persoalan itu dirahasiakan. Makanan keluarga tersebut masih utuh dan bahkan tidak diminta untuk dibayar. Meski semakin curiga, Devi kembali mencoba mengabaikannya karena takut kehilangan pekerjaan dan tidak ingin ikut campur terlalu jauh dalam urusan pemilik warung.
Kejadian yang akhirnya membuka rahasia terbesar terjadi ketika warung hampir tutup dan hanya tersisa satu pelanggan tetap. Pelanggan tersebut meminta bakso balungan dan berharap masih ada tulang besar dengan sumsum di dalam dandang. Karena Pak Pardi sedang keluar dan Bu Yuyun sibuk mencuci kain, pelanggan itu terus mendesak Devi untuk mencari sendiri tulangnya. Meski mengetahui larangan keras untuk membuka dandang, Devi akhirnya memberanikan diri melakukannya.
Begitu tutup dandang dibuka, Devi langsung mencium aroma yang menurutnya sangat harum. Tangannya kemudian masuk lebih dalam untuk mencari tulang. Ia menemukan sesuatu yang terasa lembek dan cukup berat. Ketika benda tersebut ditarik ke atas, Devi terkejut karena yang muncul bukan tulang maupun daging, melainkan celana dalam anak kecil. Bu Yuyun yang melihat reaksinya segera datang, memasukkan kembali benda tersebut ke dalam dandang, menutupnya, lalu memarahi Devi karena telah menyentuh bagian yang sejak awal dilarang.
Devi pulang dalam keadaan syok dan tidak menceritakan temuannya kepada siapa pun. Malam setelah kejadian itu tubuhnya mulai demam, kepala sangat pusing, tangan dan kaki terasa dingin sementara badannya panas, serta muncul rasa mual. Ketika mencoba tidur, ia mencium bau bangkai yang semakin lama terasa semakin dekat. Saat membalikkan badan, Devi mengaku melihat sosok pocong tepat di samping tempat tidurnya hingga dirinya berteriak dan menangis. Keluarga ketika itu masih menduga penampakan tersebut mungkin dipengaruhi kondisi demamnya.
Gangguan menurut Devi berlanjut pada hari berikutnya. Ketika sendirian di rumah, ia mendengar aktivitas di dapur meskipun tidak ada orang, lalu panci dan gelas jatuh tanpa sebab yang ia ketahui. Malamnya, saat berada di kamar mandi, Devi melihat melalui cermin sosok pocong berwajah gosong dengan mata merah berdiri di belakangnya. Bau yang tercium menurutnya persis seperti bau bangkai pada lima mangkuk bakso yang pernah dikomplain para pelanggan sebelumnya.
Pada pengalaman berikutnya, sosok tersebut menurut Devi bahkan menyerupai ayahnya. Ia melihat seorang laki-laki duduk membelakanginya di sisi tempat tidur dan mengira sang ayah sudah pulang. Ketika disentuh dan berbalik, wajahnya justru terlihat gosong dan dipenuhi sesuatu menyerupai belatung. Kondisi fisik Devi terus menurun hingga hari keempat. Ia merasa kelelahan, ketakutan, dan hampir putus asa karena tidak memahami mengapa gangguan tersebut terus mengikutinya.
Ketika ayah Devi akhirnya pulang dan mengetahui kondisi anaknya, ia meminta istrinya mengambil segelas air putih langsung dari Pak Pardi. Sang ayah kemudian mengaji dan meminta Devi membaca basmalah serta Al-Fatihah tiga kali sebelum meminum air tersebut. Air juga dibasuhkan ke wajah, tangan, dan kaki Devi. Menurut kesaksiannya, tubuh yang sebelumnya lemah kemudian mengeluarkan banyak keringat dan terasa jauh lebih baik. Sang ayah selanjutnya meminta Devi mengingat kejadian terakhir sebelum sakit.
Setelah mendengar cerita mengenai celana dalam yang ditemukan dalam kuah bakso, ayah Devi menyarankannya berhenti bekerja di sana. Menurut penafsiran spiritual sang ayah, larangan menyentuh dandang berkaitan dengan benda tersebut dan sosok pocong yang terus muncul sedang mengincar Devi. Penjelasan tersebut merupakan keyakinan pribadi keluarganya dan tidak dapat diverifikasi secara objektif. Devi mengikuti nasihat ayahnya dan tidak pernah kembali bekerja di warung tersebut.
Setelah sembuh, Devi menghubungi Ibnu dan baru mengetahui rekannya juga menyimpan banyak kejanggalan. Ibnu mengaku sering melihat Pak Pardi menyalakan dupa di belakang warung, serta menemukan sesajen berupa rokok, kopi, bunga, kendi, dan perlengkapan lain di sekitar tumpukan barang. Ia juga mengatakan salah satu dari lima remaja yang sebelumnya mengeluhkan bakso busuk jatuh sakit selama tiga hari dan meninggal pada hari keempat dengan bekas menyerupai memar di leher. Tidak ada bukti yang menghubungkan kematian tersebut dengan makanan atau ritual di warung, sehingga cerita itu tetap merupakan informasi yang diterima Devi dari Ibnu.
Ibnu juga mengaku pernah mendengar Pak Pardi memarahi Bu Yuyun setelah Devi menemukan celana dalam di dandang. Dari percakapan itu, ia menangkap kekhawatiran bahwa usaha mereka akan hancur apabila benda tersebut terlihat orang lain. Setelah Devi berhenti bekerja, warung memang berangsur sepi. Beberapa calon pelanggan bahkan mengatakan tempat itu terlihat tutup meskipun menurut ibu Devi warung sedang terbuka. Pada akhirnya aset pasangan tersebut disebut mulai dijual, usaha bakso berhenti, lalu Pak Pardi dan Bu Yuyun sama-sama mengalami stroke sebelum kemudian meninggal dunia. Devi tidak dapat membuktikan bahwa kebangkrutan, penyakit, ataupun kematian mereka berkaitan dengan dugaan pesugihan pocong.
Kini Devi memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai pengingat agar lebih berhati-hati ketika mencari pekerjaan maupun membeli makanan. Ia tidak bisa memastikan apa fungsi celana dalam, kendi, sesajen, atau sosok pocong yang disebut terlihat di sekitar warung, tetapi seluruh kejadian itu membuatnya percaya bahwa mengejar keramaian usaha melalui jalan yang tidak benar dapat membawa konsekuensi berat. Pesan dari ibunya juga terus ia ingat: jangan iri terhadap rezeki orang lain, manfaatkan kesempatan yang ada, dan tetap bekerja keras karena dirinya adalah seorang perintis, bukan pewaris. Bagi Devi, bahkan ketika sebuah tempat makan terlihat sangat ramai, ia tetap memilih berdoa sebelum makan dan menyerahkan perlindungan kepada Tuhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
