Jauh sebelum dikenal sebagai Bang Kiwil, Wildan Delta mengaku sudah mengalami kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan sejak masih duduk di sekolah dasar. Suatu sore menjelang Magrib, ia hendak menuju kamar mandi yang letaknya terpisah dari rumah. Ketika pintu dibuka, kamar mandi yang mulai gelap justru terlihat sangat terang, seolah diterangi lampu berkekuatan besar. Di tengah cahaya tersebut, Kiwil melihat sesosok putih menyerupai manusia melintas dengan cepat.
Karena masih kecil, Kiwil langsung menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Reaksi sang ibu justru membuatnya semakin teringat sampai sekarang. Ibunya menampar pipinya dan berpesan agar apa yang baru saja dilihat tidak diceritakan kepada siapa pun. Kiwil baru memahami pesan tersebut setelah dewasa. Menurut penafsirannya sekarang, sosok putih itu merupakan makhluk baik yang ia yakini sebagai malaikat, sementara ibunya tidak ingin cerita tersebut berkembang menjadi fitnah atau membuat orang menganggap lokasi itu keramat.
Ibunda Kiwil sendiri dikenal sebagai guru mengaji dan penghafal Al-Qur’an. Kiwil merasa pendidikan agama serta nasihat sang ibu memberi pengaruh besar terhadap perjalanan hidupnya. Ia bahkan meyakini banyak keberhasilan yang kemudian diperolehnya tidak terlepas dari doa orang tua. Namun ketika akhirnya berhasil menjadi artis terkenal dan hidup berkecukupan, ada penyesalan besar yang terus dibawanya: sang ibu sudah meninggal dan tidak sempat menikmati kesuksesan yang diraih anaknya.
Perjalanan karier Kiwil mulai dirintis sekitar tahun 2000. Ia sempat menjadi figuran dan bergabung dalam grup lawak sebelum namanya perlahan muncul sebagai pelawak solo. Titik penting terjadi ketika ia bermain dalam sinetron Tarzan Betawi dengan menggunakan gaya suara yang menyerupai almarhum KH Zainuddin MZ. Karakter tersebut mendapat perhatian besar hingga berbagai tawaran sinetron, program televisi, dan acara hiburan mulai berdatangan.
Menurut Kiwil, dirinya bahkan sempat meminta izin langsung kepada KH Zainuddin MZ untuk menggunakan karakter suara tersebut. Sang kiai tidak mempermasalahkannya dan justru pernah mendoakan agar suatu hari Kiwil menjadi ustaz. Ucapan itu kemudian terus diingatnya ketika kehidupan Kiwil berubah dan ia mulai lebih aktif berdakwah. Dari seorang komedian yang dikenal lewat dunia hiburan, perlahan ia mulai mengisi ceramah di berbagai daerah.
Selama berada di industri hiburan, Kiwil juga mendengar berbagai cerita mengenai artis yang memakai susuk atau benda tertentu sebagai pengasihan maupun pemikat. Ia mengatakan informasi tersebut kebanyakan berasal dari pengakuan teman-teman artis sendiri, bukan dari kemampuan Kiwil melihat susuk secara langsung. Ada yang menurut cerita menggunakan emas, berlian, atau menjalani praktik spiritual tertentu. Namun Kiwil memilih tidak menyebut nama dan tidak ingin menjadikan cerita tersebut sebagai tuduhan kepada individu tertentu.
Sekitar 2021, Kiwil pernah bertemu seorang musafir ketika sedang beristirahat di sebuah pom bensin di Jawa Barat. Orang tersebut mengatakan mengetahui sebuah tempat yang sering didatangi artis sebelum terkenal dan menawarkan Kiwil untuk pergi ke sana. Ia bahkan menyebut contoh seorang penyanyi yang menurut ceritanya menjadi terkenal setelah rutin datang. Kiwil menolak tawaran itu karena merasa dirinya sudah lebih dahulu dikenal publik dan tidak melihat alasan untuk mencari pengasihan atau jalan spiritual semacam itu.
Perjalanan kehidupan Kiwil berubah drastis ketika karier televisinya mulai menurun sekitar 2015 hingga beberapa tahun setelahnya. Program-program yang biasa menjadi sumber pendapatannya berhenti, sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan. Tabungan yang sebelumnya berjumlah sangat besar perlahan habis. Kiwil mengaku pernah berada di titik ketika saldo ATM-nya hanya tersisa Rp29.600, kondisi yang sangat bertolak belakang dengan masa ketika uang miliaran rupiah pernah berada dalam genggamannya.
Tekanan ekonomi dan rumah tangga membuat Kiwil merasa berada di titik terendah. Menurut pengakuannya, ia sempat merasa tidak kuat menghadapi kehidupan. Pada periode itulah ia bertemu Kiai Uyat Albantani dan mulai belajar lebih dalam mengenai agama. Kiwil kemudian menjalani proses mondok serta memperbanyak kegiatan mengaji. Dari gurunya ia mendapatkan pesan agar tidak takut miskin dan lebih mengejar keberkahan daripada sekadar mengejar kekayaan.
Kiwil mengatakan pandangan hidupnya perlahan berubah. Jika dahulu kesuksesan diukur melalui uang, popularitas, kendaraan, atau materi, kini ia memilih melihat hidup melalui rasa syukur. Ia mulai memperbanyak salat, puasa, sedekah, berbuat baik, serta berdakwah. Menurut keyakinannya, ketika dirinya mengutamakan urusan ibadah, kebutuhan hidup akan mendapat jalan. Dari periode nol tersebut, Kiwil bahkan mengaku akhirnya dapat menunaikan umrah dan kemudian kembali menjalani perjalanan ibadah lainnya.
Salah satu pengalaman dakwah paling membekas terjadi sekitar 2023 ketika Kiwil ikut gurunya berdakwah di sebuah daerah pedalaman sekitar Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Perjalanan menuju lokasi disebut memakan waktu sekitar empat jam dari kota. Ketika tiba, lapangan sudah dipenuhi ribuan orang yang menunggu acara. Namun di tengah kegiatan tiba-tiba turun hujan deras dan hampir seluruh jemaah meninggalkan lokasi.
Panggung akhirnya terlihat kosong. Yang tersisa hanya operator sound system, kru panggung, pencahayaan, dan beberapa orang. Meski demikian, Kiwil tetap melanjutkan ceramah. Ia mengaku berdakwah selama sekitar tiga jam tanpa berhenti, meskipun secara kasatmata tidak ada lagi ribuan jemaah yang sebelumnya memenuhi lapangan. Operator sound system bahkan sampai menangis dan mengatakan baru pertama kali melihat seseorang terus berceramah selama itu di depan lapangan yang kosong.
Hal yang membuat pengalaman tersebut terasa berbeda bagi Kiwil adalah apa yang dirasakannya selama berada di atas panggung. Menurut kesaksiannya, ia sama sekali tidak merasa sedang berbicara kepada tempat kosong. Dalam penglihatannya atau perasaannya, lapangan itu terasa tetap dipenuhi ribuan jemaah yang mendengarkan ceramah. Karena itulah Kiwil mampu terus berbicara tanpa merasa kehilangan audiens.
Kiwil kemudian mengingat pesan Kiai Uyat yang pernah mengatakan kepadanya agar tidak khawatir ketika berdakwah tanpa manusia yang mendengarkan, karena menurut keyakinan sang kiai Allah dapat menghadirkan malaikat untuk menyaksikan dakwah tersebut. Kiwil menghubungkan pesan itu dengan pengalaman malam tersebut. Ia meyakini jemaah yang dirasakannya hadir bukanlah manusia biasa, meskipun pengalaman itu merupakan keyakinan dan penafsiran spiritual pribadi yang tidak dapat diverifikasi secara objektif.
Pengalaman mistis lain dialami Kiwil ketika berdakwah ke daerah pedalaman Sumatera, yang menurut ingatannya berada di Jambi. Untuk menuju lokasi, rombongan harus menggunakan perahu kecil. Dalam perjalanan pulang sekitar tengah malam menuju dini hari, mesin perahu tiba-tiba mati di kawasan sungai yang di kanan-kirinya dipenuhi rawa dan hutan. Rombongan pun terpaksa menunggu bantuan sekitar satu jam.
Saat perahu berhenti, Kiwil mendengar suara anak kecil menangis dan seorang laki-laki dewasa seperti sedang berbicara kepadanya dari arah dekat perahu. Awalnya ia mengira salah seorang anggota rombongan sedang memutar video dari ponsel. Namun setelah perahu penjemput datang dan rombongan sampai di pelabuhan, mereka saling bertanya dan ternyata tidak ada seorang pun yang saat itu sedang memutar rekaman suara tersebut.
Seorang ustaz dalam rombongan ternyata sempat merekam suasana ketika mereka terjebak di sungai. Ketika rekaman diputar kembali, menurut kesaksian Kiwil suara anak kecil menangis dan percakapan seorang laki-laki memang ikut terekam. Barulah rombongan merasa merinding dan mengaitkan suara tersebut dengan keberadaan makhluk ghaib di sekitar lokasi tempat perahu mogok. Kiwil sendiri mengatakan pengalaman tersebut membuatnya semakin menerima bahwa ada hal-hal yang tidak selalu dapat dijelaskan secara logika, meskipun tidak berarti harus menjadikannya pusat keyakinan.
Pada 2024, Kiwil mengalami kondisi kesehatan yang sangat berat. Ia mengaku tiba-tiba tidak dapat menggerakkan kaki maupun tangannya sehingga hanya bagian kepala dan mulut yang masih berfungsi. Selama sekitar empat hari ia menjalani pemeriksaan medis. Menurut penuturannya, berbagai hasil pemeriksaan tidak memberikan penjelasan yang dianggap dapat menerangkan kelumpuhan sementara tersebut. Dalam kondisi itu Kiwil bahkan sempat meminta istrinya mengikhlaskan dirinya karena mengira sedang menghadapi akhir hidup.
Istrinya meminta Kiwil terus beristigfar dan tidak berprasangka buruk kepada siapa pun. Setelah beberapa hari, gerakan tubuhnya perlahan kembali dan ia mulai belajar berjalan lagi. Seusai sembuh, beberapa kiai yang ia temui menafsirkan kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “dibuat” orang. Kiwil tidak berusaha mencari siapa pelakunya. Ketika ditanya apakah ingin mengembalikan gangguan itu atau membuangnya, ia memilih agar semuanya dibuang. Ia menegaskan tidak ingin membalas ataupun mengetahui siapa yang mungkin berada di balik dugaan tersebut.
Cerita mengenai hal mistis juga terdapat dalam keluarganya. Menurut keterangan kakak-kakaknya, ayah mereka dahulu mempunyai sesuatu yang dipercaya sebagai susuk kebal dan sempat ingin mewariskannya kepada anak-anak. Kiwil menolak menerima benda tersebut. Ia juga mengingat cerita bahwa ayahnya pernah selamat setelah truk yang dikendarai jatuh ke jurang sangat dalam. Di rumahnya sendiri Kiwil mengaku sudah terbiasa mendengar dentuman atau merasakan keberadaan tertentu di beberapa bagian rumah. Pengalaman-pengalaman tersebut membuatnya memilih sikap yang menurutnya paling aman: percaya bahwa dunia ghaib ada, tetapi tidak menjadikannya tempat bergantung. Bagi Kiwil, perjalanan dari dunia hiburan, titik nol ekonomi, dakwah tiga jam di depan jemaah yang dirasakannya tidak kasatmata, hingga sakit misterius justru menguatkan keyakinannya bahwa kehidupan sebaiknya dikembalikan kepada Tuhan, bukan kepada pesugihan, susuk, ataupun kekuatan ghaib.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
