Pada 2021, Mas Mul baru saja menikah dan bekerja sebagai kurir paket di sebuah perusahaan ekspedisi. Ia mendapat wilayah pengantaran di satu desa sehingga hampir setiap hari bertemu dengan orang-orang yang sama. Penghasilannya saat itu bergantung pada jumlah paket yang berhasil diantar, membuat pekerjaan tersebut cukup menjanjikan ketika pesanan sedang ramai.
Memasuki bulan kedua bekerja, Mas Mul mulai mengenal seorang pelanggan bernama samaran Pak Hasan. Dalam seminggu, ia bisa mengantarkan paket ke rumah Pak Hasan sebanyak tiga sampai empat kali. Pak Hasan dikenal sebagai juragan buah yang memiliki kebun luas, gudang, banyak pekerja, serta bisnis distribusi buah ke luar kota. Karena sering bertemu, hubungan keduanya perlahan menjadi semakin akrab.
Pak Hasan juga dikenal ramah dan sering memberikan uang lebih ketika membayar paket COD. Jika terdapat uang kembalian, Mas Mul beberapa kali diminta mengambilnya untuk sekadar membeli minuman. Namun setelah sekitar lima bulan bekerja sebagai kurir, jumlah paket mulai menurun karena persaingan bisnis ekspedisi. Penghasilan Mas Mul yang sebelumnya cukup besar ikut berkurang.
Mengetahui keadaan tersebut, Pak Hasan menawarkan pekerjaan di usaha buah miliknya dengan bayaran sekitar Rp100 ribu per hari. Setelah berdiskusi dengan sang istri, Mas Mul menerima tawaran itu dan berhenti dari pekerjaan kurir. Ia mulai bekerja menyortir buah, menimbang hasil panen, merawat kebun, menyemprot tanaman, hingga membantu mencatat barang yang akan dikirim.
Kehidupan Pak Hasan terlihat sangat berkecukupan. Rumahnya tergolong mewah untuk ukuran lingkungan tersebut dan di depannya terdapat Honda Civic Turbo serta Toyota Fortuner yang biasa digunakan bersama istrinya. Selain itu terdapat beberapa mobil pikap untuk operasional kebun, sejumlah sepeda motor untuk pekerja, serta sekitar empat truk yang digunakan mengirim buah ke berbagai kota.
Dua bulan pertama bekerja berlangsung normal. Kejanggalan baru mulai dirasakan Mas Mul sekitar bulan ketiga ketika berada di gudang yang terletak di dekat kebun mangga. Saat sedang menyortir buah, ia beberapa kali merasa seperti diperhatikan oleh sosok bertubuh tinggi dan besar. Setiap menoleh, tidak ada siapa pun sehingga Mas Mul yang saat itu tidak terlalu percaya dengan hal ghaib memilih menganggapnya sebagai perasaan biasa.
Suatu hari ketika sedang menyemprot kebun, Mas Mul tiba-tiba mengalami sakit perut sangat hebat. Rasanya bukan seperti sakit perut biasa, melainkan seperti diperas dan dipelintir hingga ia harus berhenti bekerja serta berjongkok menahan sakit. Setelah sekitar setengah jam, rasa sakit tersebut mereda dan ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kejadian yang sama terus berulang hingga Mas Mul menyadari pola yang menurutnya sangat aneh. Sakit itu selalu muncul ketika memasuki waktu salat dan azan mulai terdengar. Ketika waktu salat berlalu, rasa sakit perlahan menghilang. Ia akhirnya pergi ke puskesmas, tetapi pemeriksaan saat itu disebut tidak menemukan masalah tertentu dan dirinya hanya diberikan obat pereda nyeri.
Obat tersebut ternyata tidak mengubah keadaan. Setiap masuk waktu salat, perutnya tetap terasa sakit. Pada malam hari muncul pengalaman lain ketika Mas Mul bermimpi seperti melihat tubuhnya sendiri sedang tidur bersama sang istri. Dalam mimpi itu terdapat perempuan cantik memakai kebaya putih dan sanggul yang berdiri di dekat lemari sambil tersenyum kepadanya.
Mimpi tersebut kembali terjadi pada malam berikutnya. Kali ini perempuan itu tidak hanya tersenyum, tetapi mengatakan, “Kamu itu milik saya.” Selama tiga malam, Mas Mul mengaku bertemu sosok yang sama dengan perkataan hampir serupa. Ia mulai merasa pengalaman tersebut mungkin berhubungan dengan sakit aneh yang terus menyerangnya sehingga akhirnya menceritakan semuanya kepada orang tuanya.
Memasuki bulan berikutnya, kondisinya semakin memburuk. Selain sakit perut, Mas Mul mengalami batuk setiap kali mendengar azan hingga suatu hari mengeluarkan darah. Pak Hasan kemudian mengizinkannya pulang dan memberikan uang sekitar Rp300 ribu untuk biaya pemeriksaan. Mas Mul menjalani pemeriksaan dan rontgen di rumah sakit serta sempat dirawat selama dua hari, tetapi menurut kesaksiannya dokter tidak menemukan kelainan yang dianggap menjelaskan seluruh keluhannya.
Orang tua Mas Mul kemudian datang bersama seseorang yang disamarkan dengan nama Om Dodi, yang dipercaya keluarga memahami persoalan spiritual. Setelah melakukan proses tertentu di rumah, Om Dodi mengatakan bahwa Mas Mul bukan hanya sedang sakit, melainkan diduga mendapat gangguan yang sengaja diarahkan kepadanya. Mas Mul sendiri masih merasa ragu karena sebelumnya tidak terlalu percaya terhadap hal-hal semacam itu.
Pencarian kemudian difokuskan ke ruang makan rumah Mas Mul. Sebuah kain putih diletakkan di tengah lantai, sedangkan Mas Mul diminta membaca Ayat Kursi selama proses berlangsung. Menurut kesaksiannya, suasana rumah mendadak berubah, lampu terasa redup, terdengar suara tawa serta seperti anak kecil berlari. Setelah beberapa saat, kain yang sebelumnya rata terlihat memiliki tonjolan di bagian tengah.
Ketika kain tersebut dibuka, Om Dodi mengaku menemukan benda menyerupai keris kecil berwarna kuning keemasan, ukurannya hanya sekitar sebesar telunjuk dan tanpa gagang. Benda itu kemudian dianggap sebagai media gangguan yang ditujukan kepada Mas Mul. Setelah benda tersebut diambil, ia diberi amalan berupa Ayat Kursi, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Nas yang masing-masing diminta dibaca 99 kali.
Amalan tersebut dijalankan selama tujuh malam. Pada malam pertama, Mas Mul mengaku mendengar suara perempuan tertawa di sekitar rumah. Malam kedua terdengar suara benda dan panci seperti berjatuhan dari arah dapur, tetapi ketika diperiksa tidak ada barang yang benar-benar jatuh. Malam ketiga suasana semakin terasa mencekam dengan hawa dingin, lampu redup, suara tawa, dan percakapan yang tidak jelas sumbernya.
Puncaknya terjadi pada malam ketujuh. Mas Mul mengaku melihat banyak bayangan melayang dan merasa seperti terus diperhatikan dari belakang. Lampu rumahnya juga sempat mati sementara rumah tetangga tetap menyala. Setelah berhasil menyelesaikan seluruh bacaan dan tertidur, perempuan berkebaya putih kembali hadir dalam mimpinya. Kali ini sosok tersebut mempertanyakan alasan Mas Mul terus membaca doa dan berusaha mengusirnya.
Om Dodi kembali datang dan melakukan proses lanjutan. Beberapa potongan bambu kuning yang dibungkus daun kemudian ditempatkan di sudut-sudut rumah dan di atas pintu utama. Mas Mul juga diminta melanjutkan bacaan selama sekitar dua minggu. Menurut kesaksiannya, selama periode tersebut gangguan perlahan berkurang, sakit perut mulai hilang, batuk berhenti, dan mimpi mengenai perempuan berkebaya putih tidak kembali muncul.
Setelah kondisinya membaik, Mas Mul akhirnya menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Menurut penafsiran Om Dodi, Mas Mul diduga telah dipilih sebagai target tumbal oleh seseorang yang selama ini bersikap sangat baik kepadanya. Media yang digunakan disebut dapat berupa makanan, uang, atau pemberian tertentu. Mendengar penjelasan tersebut, orang tua Mas Mul langsung menyarankannya meninggalkan pekerjaan di tempat Pak Hasan.
Mas Mul kemudian mengingat bahwa selama bekerja, dirinya memang mendapat perlakuan berbeda dibandingkan karyawan lain. Pak Hasan sering memberikan buah untuk dibawa pulang, uang tambahan, serta berbagai perhatian yang jarang diberikan kepada pekerja lain. Karena Mas Mul dipercaya membantu mencatat hasil timbangan dan barang yang keluar, ia juga sering menjadi orang terakhir yang pulang. Meski demikian, dugaan bahwa Pak Hasan melakukan pesugihan tetap berasal dari penafsiran spiritual dan pengalaman pribadi Mas Mul, bukan sesuatu yang dapat ia buktikan secara langsung.
Mas Mul akhirnya mengundurkan diri dan kembali bekerja sebagai kurir paket. Sekitar dua bulan kemudian, ia mendengar kabar usaha Pak Hasan mengalami kehancuran. Ketika mendatangi daerah tersebut, Mas Mul melihat gudang mulai kosong dan rumah yang dahulu terawat terlihat terbengkalai. Warga juga mengatakan kebun telah dijual dan para pekerja tidak lagi berada di sana. Mas Mul kemudian menghubungi Om Dodi dan menurut penuturan Om Dodi, Pak Hasan adalah orang yang sebelumnya dimaksud dalam dugaan tumbal tersebut. Mas Mul mengaku pengalaman itu mengubah pandangannya terhadap hal-hal ghaib, tetapi ia tetap tidak memiliki bukti langsung mengenai ritual yang dituduhkan kepada mantan bosnya. Dari pengalaman itu, ia memilih mengambil pelajaran untuk lebih berhati-hati ketika menerima perlakuan atau pemberian yang tidak biasa, terutama di lingkungan kerja baru, tanpa harus langsung berprasangka buruk kepada setiap orang yang berbuat baik.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
