Teh Puji adalah seorang perempuan dari Bogor yang pada tahun 2024 terperosok dalam lingkaran investasi bodong bernama “Isih” — sebuah skema berbasis Bitcoin mining yang menjanjikan keuntungan menggiurkan hanya dengan modal kecil. Rp100.000 untuk mendapatkan handphone, Rp500.000 untuk motor, dan Rp5 juta untuk mobil. Siapa pun yang mendengarnya pasti tergiur, dan Teh Puji pun tidak terkecuali. Ia bahkan berhasil merekrut banyak orang di sekitarnya untuk ikut bergabung, meyakini bahwa ini adalah peluang nyata yang telah ia rasakan sendiri hasilnya — ia kebagian satu unit motor PCX secara tunai dari putaran pertama.
Namun di balik gemerlapnya iming-iming itu, kenyataan pahit menanti. Tiga bulan pertama berjalan lancar, sampai suatu hari fitur mining di aplikasi tiba-tiba tidak lagi menghasilkan. Satu minggu kemudian datang kabar yang menghancurkan: mereka digugat ke pengadilan, dan dalam sidang tersebut investasi yang selama ini diyakini sebagai peluang emas itu dinyatakan sebagai skema bodong. Teh Puji dan para anggota yang ia rekrut menjadi korban, sementara Teh Puji sendiri harus menanggung beban pengembalian uang kepada orang-orang yang telah ia ajak bergabung.
Jumlahnya tidak kecil. Total kewajiban yang harus ia lunasi mencapai sekitar Rp200 juta. Karena tidak ada aset yang cukup untuk menutupi semuanya, sang ibu menawarkan sertifikat rumah sebagai jaminan ke bank. Dari pencairan Rp150 juta, Teh Puji hanya kebagian Rp100 juta untuk dibagi ke anggota yang paling mendesak. Sisanya masih menganga. Selama tiga bulan cicilan berjalan lancar, tapi di bulan berikutnya Teh Puji tidak sanggup membayar. Petugas bank datang ke rumah orang tuanya, dan dari situlah seluruh rahasia yang selama ini Teh Puji tutupi terbongkar habis di depan keluarga besar.
Kakak-kakaknya murka. Mereka menganggap Teh Puji telah bertindak sewenang-wenang dengan menjaminkan rumah orang tua tanpa sepengetahuan siapa pun. Sidang keluarga digelar, dan Teh Puji menjadi pesakitan di tengah cercaan dan kecaman. Sang ibu pun akhirnya mengeluarkan ultimatum yang membekukan hati: jangan pernah pulang sebelum mampu melunasi hutang ke bank. Teh Puji merasa dirinya seperti dihapus dari daftar anggota keluarga. Ia pergi membawa badan, tidak punya uang, tidak punya tempat berlindung, dan tidak punya siapa pun yang bisa diandalkan.
Di saat paling gelap itu, suami yang seharusnya menjadi sandaran justru menambah luka. Bukannya mencari solusi bersama, suaminya justru mencaci maki dan menyalahkan. Di penghujung pertengkaran yang melelahkan itu, keluarlah kalimat yang tidak pernah Teh Puji bayangkan akan ia dengar: talak. Dalam sekejap, Teh Puji kehilangan keluarga besar, kehilangan rumah, dan kehilangan suami — semuanya dalam satu waktu. Ia terdiam sendirian di perumahan yang terasa asing, tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus berbuat apa.
Di titik paling putus asa itulah, Teh Puji menghubungi seorang saudara jauh yang ia panggil Bang Anto. Ia mencurahkan semua bebannya — hutang yang menggunung, keluarga yang memutus hubungan, status pernikahan yang hancur. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba terlontar sebuah kata dari mulut Teh Puji sendiri: pesugihan. Ia meminta Bang Anto mencarikan jalur. Bang Anto menelepon temannya yang dikenal punya koneksi ke dunia tersebut, seorang pria yang dipanggil Kak Aim. Malam Sabtu itu, Kak Aim datang dan pertemuan tiga orang itu pun membuka jalan yang tidak akan pernah Teh Puji duga akan ia tempuh.
Kak Aim membawa Teh Puji berkenalan dengan seorang pria bernama Pamin yang punya modal dan koneksi ke seorang sesepuh di Ciamis, Jawa Barat — dikenal dengan panggilan Aki Wawan. Di sana tersedia tiga pilihan pesugihan: jual umur, jual janin, dan jual musuh. Teh Puji menolak dua pilihan pertama. Pilihannya jatuh pada opsi ketiga — jual musuh. Yang ia sebut sebagai musuh adalah atasan dari skema investasi bodong yang telah menghancurkan hidupnya. Lengkap dengan nama, alamat, umur, dan nama ibu si target, berkas syarat pun disiapkan.
Sebelum berangkat ke Ciamis, rombongan sempat melakukan ritual penarikan uang gaib terlebih dahulu di sebuah kamar kosong di pabrik milik Pamin. Malam itu, pada pukul 11.30, muncul sosok misterius berbulu lebat dengan mata merah menyala. Sosok itu menyampaikan syarat yang langsung membuat Teh Puji mundur: siapa pun yang berhasil membawa uang dari sana, harus menyerahkan nyawanya sebagai imbal balik. Teh Puji langsung meniup lilin dan menolak. Ritual itu ia hentikan di sana.
Namun rencana ke Ciamis tetap berjalan. Rombongan berangkat Minggu malam dari Bogor, menempuh perjalanan sembilan jam penuh hingga tiba di kediaman Aki Wawan dini hari. Sebelum berangkat, ada kejadian yang seharusnya menjadi peringatan keras: sebuah televisi di kamar tiba-tiba terbanting sendiri dan hancur berantakan tanpa sebab apapun, tepat saat Kak Aim sedang salat Isya. Tidak ada angin, tidak ada gempa — hanya sesuatu yang tak kasat mata yang seolah berteriak: jangan pergi. Tapi tekad mereka sudah terlanjur bulat.
Sesampainya di sana, Aki Wawan menjelaskan aturan main: setelah Magrib, Teh Puji akan diantar naik ke Gunung Keramat. Di sana ada sembilan kamar. Ia tidak boleh menyebut nama Allah, tidak boleh beranjak dari tempat duduk, dan harus terus memfokuskan pikiran pada kesedihan, hinaan, dan cacian yang pernah ia terima. Mahar sebesar Rp3.500 pun dibayarkan. Teh Puji diantar ke gunung bersama Kak Aim dan Pamin, menapaki jalan selama tiga puluh menit di tengah gelap malam dengan penerangan seadanya, melewati hamparan sawah dan pohon jati.
Malam pertama di gunung berjalan tanpa hasil yang berarti. Sosok memang datang — badan Teh Puji tiba-tiba terasa panas, gemetar, dan berkeringat deras seolah ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya — tapi Teh Puji tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia membeku seperti orang bisu. Sosok itu pergi dengan suara seperti orang kesal, seolah kecewa karena permintaan tidak pernah diucapkan. Sampai subuh, hanya kunang-kunang yang menemaninya, bersama cahaya misterius yang menyorot tepat ke arah tempat duduknya hingga azan berkumandang.
Malam kedua berlangsung lebih dramatis. Teh Puji kembali duduk di posisi yang sama, memusatkan pikiran, dan menyebut nama yang sudah diajarkan. Tiba-tiba dari sebelah kiri, sebuah ular hitam metalik muncul dan berdiri tegak menatapnya. Teh Puji terkejut tapi menahan diri mengikuti pesan Aki Wawan — jangan terbawa suasana sebelum tiga kali kemunculan. Ular itu menghilang, lalu datang lagi dari belakang, kemudian dari kanan. Setelah tiga kali kemunculan, Teh Puji membuka mata dan mendapati sosok yang membekukan nafasnya: setengah tubuh bawah berbentuk ular sebesar pohon kelapa, setengah tubuh atas berwujud perempuan setengah baya berpakaian mahkota. Sosok itu berkata bahwa ia akan mengantarkan rezeki Teh Puji.
Sosok itu meninggalkan selembar daun nangka berwarna hijau segar — bukan uang, bukan emas, melainkan sebuah simbol yang tidak Teh Puji pahami sepenuhnya. Teh Puji menyimpannya di saku jaket, berharap ada kelanjutan. Namun kelelahan membuat ia terlelap tanpa sadar. Tiba-tiba dari langit-langit kamar gunung yang gelap, jatuh seekor ular raksasa menimpa seluruh tubuhnya. Teh Puji tidak bisa bernafas, tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak. Ia pingsan. Ketika sadar, ia sudah berada di tengah sawah dengan badan penuh lumpur, tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana. Ia berlari melewati perkampungan tanpa arah, dan begitu melihat wajah si Abah kuncen yang menyambutnya di kaki gunung — Teh Puji kembali pingsan untuk kedua kalinya.
Sepulang dari Ciamis, ritual dilanjutkan di Bogor. Kamar khusus telah disiapkan. Malam pertama ritual, suara yang sama persis seperti yang ia dengar di gunung itu muncul dari dalam kamar dan mengusirnya keluar: “Kamu kotor, jangan di sini.” Teh Puji tidak mengerti maksudnya. Ia mengalami pendarahan yang tidak berhenti — seperti bukan siklus biasa, mengalir terus-menerus selama satu bulan penuh, dan sampai detik ia menceritakan kisah ini, pendarahan itu masih berlangsung. Tubuhnya juga memberikan sinyal-sinyal lain yang mengkhawatirkan.
Satu minggu setelah mulai bekerja di sebuah katering di Tangerang, tangan Teh Puji tiba-tiba membengkak parah saat bangun tidur — dari ukuran normal menjadi berkali-kali lebih besar, kaku, dan tidak bisa digerakkan. Ia dibawa ke rumah sakit, didiagnosis sebagai kram biasa, diberi obat, namun kondisi tidak membaik. Ia akhirnya minta izin pulang ke Bogor untuk berobat kampung, dan setelah sedikit membaik melalui bantuan seorang guru spiritual bernama Ama, ia kembali ke Tangerang. Tapi tangan yang sudah membaik itu kambuh lagi, disertai pendarahan yang semakin parah, hingga Teh Puji memutuskan berhenti bekerja sepenuhnya.
Di tengah kondisi fisik yang semakin melemah, suaminya yang sudah menalak ternyata masih mau menerimanya kembali. Teh Puji pulang dan perlahan-lahan menceritakan semua yang telah ia lakukan. Suaminya terkejut, tidak menyangka istrinya sampai menempuh jalan segelap itu tanpa sepengetahuannya. Sejak saat itu, suaminya melarang Teh Puji melanjutkan ritual apapun. Dan Teh Puji pun berhenti — tapi berhenti bukan berarti bebas.
Karena perjanjian dengan dunia gaib tidak pernah diputus secara resmi, teror pun terus berdatangan setiap malam. Sosok ular datang menyerang dalam keadaan setengah sadar, seolah mencakar dan mematuk dari dalam. Perempuan tua berjubah membawa bakul nasi muncul dan menawarkan sesuatu yang tidak Teh Puji mengerti. Dua sosok laki-laki bersenjata tombak hadir seperti pengawal dari sosok ratu yang pernah ia jumpai di gunung. Semua itu hadir bukan sebagai mimpi, melainkan dalam kesadaran yang nyata, setiap malam, tanpa jeda.
Hidup Teh Puji kini menjadi sangat sempit — harfiah dan kiasan. Ia tidak pernah keluar dari kamar, tidak pernah melihat matahari, tidak pergi ke warung, tidak bersosialisasi. Seluruh harinya habis dalam satu ruangan yang terasa semakin pengap. Setiap kali ada niat untuk beribadah, ada sesuatu yang menghalangi — tubuh terasa kotor, pikiran kacau, semangat runtuh begitu saja. Salat yang seharusnya menjadi benteng justru terasa semakin jauh dari jangkauannya. Ia sadar dirinya dalam kondisi terikat, tapi tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri.
Yang paling menyakitkan, Teh Puji belum bisa bertemu keluarganya. Lebaran kemarin ia tidak pulang. Anak tertuanya yang sudah mondok di pesantren hanya bisa ia rindukan dari jauh. Suaminya menyembunyikan kondisi Teh Puji dari orang tua dan saudara-saudaranya demi melindungi perasaan istrinya yang sudah rapuh. Teh Puji tidak kabur, tidak menghilang — ia hanya belum berani menghadapi tatapan dan pertanyaan yang ia tahu akan datang. Hutang kepada nasabah investasi pun belum selesai — sudah lebih dari setahun berlalu tanpa penyelesaian, dan Teh Puji hanya bisa berjanji dalam hati bahwa suatu hari, jika ada rezeki, ia akan mencicilnya satu per satu.
Di penghujung kisahnya, dengan suara yang berat dan mata berkaca-kaca, Teh Puji hanya punya satu pesan untuk siapa saja yang mau mendengar — termasuk keluarganya yang mungkin menonton video ini. Ia minta maaf kepada ibunya, kepada kakak-kakaknya, dan kepada orang-orang yang uangnya belum ia kembalikan. Ia tidak kabur, ia tidak sengaja menipu, dan jalan sesat yang ia ambil bukan karena serakah semata melainkan karena rasa panik yang sudah membutakan akal sehat. Jalan pintas yang ia kira akan menyelesaikan masalah justru berlipat ganda masalahnya. Dan pelajaran itu kini ia bayar setiap hari — bukan dengan uang, melainkan dengan ketenangan yang hilang, tidur yang tidak pernah nyenyak, dan perjanjian gaib yang belum juga berhasil diputus.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
