Kang Ikhsan memulai perjalanan dakwahnya sekitar 2012 setelah bertahun-tahun belajar dan mengikuti salah satu ustaz nasional ke berbagai daerah hingga luar negeri. Sebelum berdakwah sendiri, ia meminta restu kepada tujuh gurunya dan menerima dua pesan penting: jangan menggunakan dakwah untuk menyinggung orang lain serta jangan menjadikannya kegiatan yang transaksional. Sejak itu ia mulai mengisi pengajian, mendampingi doa bersama, dan sesekali membantu orang yang datang dengan keluhan yang mereka anggap bersifat nonmedis.
Di luar dakwah, karier profesional Ikhsan juga berkembang pesat. Ia bekerja di bidang marketing dan dalam waktu sekitar tujuh tahun naik dari posisi manajer, senior manajer, hingga direksi di sebuah perusahaan besar. Pada masa tersebut ia mendapatkan fasilitas seperti mobil dan rumah dinas. Aktivitas kerja yang semakin padat membuat jadwal ceramah dan kegiatan pengobatan nonmedisnya mulai berkurang karena sebagian besar waktunya tersita untuk pekerjaan.
Menurut Ikhsan, sejak kecil dirinya memang akrab dengan pengalaman yang ia tafsirkan sebagai kejadian mistis. Saat berdakwah, ia pernah melihat jemaah memenuhi sebuah lokasi padahal jumlah orang sebenarnya tidak sebanyak yang ia lihat. Dalam perjalanan ke Cianjur Selatan, ia bersama tim juga mengaku melewati kawasan yang tampak ramai seperti pasar malam, tetapi setelah bertanya kepada warga di ujung jalan mereka justru diberi tahu bahwa tempat yang dilewati hanyalah kawasan hutan. Pengalaman serupa kembali ia rasakan dalam perjalanan kerja ke Jawa Timur.
Ikhsan juga pernah mengalami perjalanan yang menurutnya sangat menegangkan ketika pulang dari sebuah acara internasional di Istanbul, Turki. Pesawat yang ditumpanginya mengalami turbulensi hebat hingga ia merasa peluang untuk selamat sangat kecil. Ia terus berdoa, membaca Yasin, beristigfar, dan bernazar akan melakukan sujud syukur jika seluruh penumpang tiba dengan selamat. Setelah mendarat di Jakarta, ia mengaku langsung menunaikan nazar tersebut sebelum mengambil bagasi.
Meski kehidupan profesional dan dakwahnya sempat berjalan baik, kondisi itu berubah ketika Ikhsan berhenti dari pekerjaannya. Mobil dan rumah dinas harus dikembalikan, sementara ia mengaku sebelumnya tidak menyiapkan investasi atau tabungan yang cukup. Dalam waktu sekitar setahun, kondisi ekonominya jatuh drastis. Bersama istri dan anak, ia pernah berada pada titik harus makan nasi dengan garam, menghabiskan sosis yang sudah kedaluwarsa karena tidak ada makanan lain, dan menerima beras dari ibu mertuanya.
Ikhsan mengatakan tekanan tersebut membuat harga dirinya terpukul. Undangan ceramah masih ada, tetapi ia tetap memegang prinsip tidak meminta bayaran tertentu sehingga pemasukan tidak selalu bisa diandalkan. Ia juga merasa sulit mendapat pekerjaan baru. Utang kepada teman bertambah karena kebutuhan makan dan rumah tangga harus tetap berjalan. Pada titik itulah ia mulai merasa gelap, bingung harus berbuat apa, sementara setiap peluang yang dicoba menurutnya terus gagal.
Harapan sempat muncul ketika Ikhsan bertemu seorang teman lama dan diajak membantu membuka pasar untuk biro umrah dan haji. Ia berhasil membantu membuka jaringan di Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Sukabumi, Jampang, Surade, hingga Bandung. Beberapa jemaah bahkan mulai berangkat. Namun masalah dengan pemilik usaha membuat Ikhsan memutuskan mundur. Saat sedang berada di Tasikmalaya setelah keputusan itu, ia hanya mempunyai sekitar Rp50 ribu dan bensin setengah tangki.
Dalam kondisi tertekan, Ikhsan tiba-tiba teringat teman satu angkatan pesantrennya yang disamarkan sebagai Ujang. Setelah lulus pesantren, Ujang memilih jalan yang sangat berbeda dan menjadi juru kunci di sebuah tempat yang dikenal untuk praktik pesugihan di kawasan Cianjur. Ikhsan awalnya mengaku hanya ingin bersilaturahmi dan mungkin mencari jalan keluar melalui teman lamanya, tetapi di tengah perjalanan muncul pikiran bahwa mungkin saja dirinya bisa meminjam uang dari sesuatu yang disebut “bank ghaib”.
Ikhsan kemudian mengendarai kendaraan seorang diri menuju tempat Ujang. Ia mengaku saat itu sudah sekitar tiga hingga empat hari tidak memberi kabar kepada istri karena malu pulang tanpa membawa solusi. Ketika tiba, ia justru langsung dimarahi Ujang. Temannya itu mengatakan Ikhsan tidak mempunyai “bagian” untuk melakukan muja atau pesugihan dan menyuruhnya pulang. Menurut Ikhsan, Ujang bahkan menegaskan bahwa tempat tersebut bukan jalan yang ditakdirkan untuk dirinya.
Meski mengaku tidak sempat melakukan ritual, Ikhsan melihat banyak orang datang ke lokasi tersebut dengan kendaraan mahal. Ia mendengar dari Ujang dan kemudian dari seorang penjaga warung di jalur pulang mengenai berbagai bentuk pesugihan yang diyakini orang di sana, mulai dari bank ghaib tanpa tumbal, tuyul, babi, hingga pernikahan dengan makhluk tertentu. Semua informasi itu ia terima sebagai cerita dari orang-orang yang berkaitan dengan lokasi tersebut, bukan sesuatu yang dapat ia buktikan secara objektif.
Sebelum pulang, Ujang memberi pesan agar Ikhsan tidak melalui jalur kota. Ia diminta melewati jalan hutan, tidak berhenti jika ada seseorang menghadang di ujung jalur, lalu mampir ke sebuah warung kopi dan mencari masjid untuk mandi tobat, beristigfar, serta salat Subuh. Di perjalanan Ikhsan memang melihat seorang laki-laki berdiri agak ke tengah jalan, tetapi karena teringat pesan Ujang ia terus melaju hingga menemukan warung yang dimaksud.
Di warung tersebut, seorang lelaki tua langsung menebak bahwa Ikhsan baru pulang dari tempat Ujang dan bertanya berapa banyak uang yang didapat. Ikhsan menjawab dirinya justru diusir. Lelaki itu kemudian menjelaskan bahwa biasanya orang yang pulang dari lokasi tersebut membawa kotak atau dus berisi uang hasil ritual. Sebelum berpisah, lelaki itu menolak uang Rp50 ribu yang ditawarkan Ikhsan dan justru menasihatinya agar tidak menyerah serta tetap kuat dalam iman.
Ikhsan kemudian menuju masjid, mandi, salat tobat, dan memohon ampun. Saat akhirnya pulang setelah hampir empat hari menghilang, ia menemukan istrinya dalam kondisi sangat terpukul. Menurut cerita ibu mertuanya, sang istri hampir tidak makan karena terus menangis dan khawatir Ikhsan mengalami kecelakaan atau diculik. Ikhsan akhirnya menceritakan dengan jujur bahwa dirinya sempat mendatangi tempat pesugihan. Istri dan ibu mertuanya menolak keras gagasan mencari uang melalui jalan tersebut.
Setelah kembali ke rumah, Ikhsan mengaku mengalami beberapa kejadian yang ia tafsirkan sebagai gangguan. Pada malam pertama saat sedang berzikir dan berselawat, ia mendengar suara perempuan marah dari luar rumah dan mempertanyakan mengapa dirinya datang ke tempat mereka. Malam kedua muncul suara laki-laki disertai desisan seperti ular dengan keluhan serupa. Istrinya tidak mendengar suara-suara tersebut sehingga pengalaman itu hanya dirasakan Ikhsan sendiri.
Ketika berada di rumah di Cimahi, Ikhsan kembali mengalami pengalaman yang menurutnya lebih jelas. Ia mengaku didatangi sosok tinggi besar berpakaian seperti busana kerajaan. Sosok itu mempertanyakan kedatangannya ke wilayah mereka dan menuduh Ikhsan merusak tatanan. Setelah Ikhsan meminta maaf dan menjelaskan bahwa niat awalnya menemui sahabat, sosok tersebut justru menurut kesaksiannya menasihati agar ia tidak pernah kembali dan tidak meminta kekayaan kepada makhluk lain. Setelah kejadian itu, gangguan yang dirasakannya disebut berhenti.
Anehnya, setelah pengalaman tersebut Ikhsan mulai menerima banyak telepon dari orang yang mengaku terlibat pesugihan dan meminta bantuannya. Salah satu keluarga kaya menjemputnya menggunakan mobil mewah karena anak mereka sakit dengan kondisi yang menurut keluarga tidak mendapat penjelasan memuaskan dari pemeriksaan medis. Sang ayah akhirnya mengaku pernah membuat kontrak dengan makhluk yang digambarkan menyerupai biawak besar dan menurut keyakinannya kontrak sepuluh tahun itu kini menuntut dirinya atau keturunannya.
Ikhsan mengatakan keluarga tersebut memilih memutus perjanjian meski harus kehilangan kekayaan. Ia melakukan doa bersama, meminta bantuan kepada gurunya, dan dalam penafsirannya proses itu membutuhkan pengganti berupa hewan berkaki empat. Seekor domba kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada anak yatim sambil diadakan pengajian. Setelahnya kondisi anak tersebut disebut membaik, sedangkan kekayaan keluarga perlahan habis akibat berbagai masalah. Hubungan antara ritual, kesembuhan, dan hilangnya harta tetap merupakan penafsiran spiritual pihak-pihak dalam cerita.
Kasus lain datang dari seorang perempuan sekitar usia 50 tahun di Nagrek. Ia mengaku telah sekitar tiga tahun menjalani ikatan yang digambarkan seperti “pernikahan” dengan makhluk tinggi, besar, dan hitam demi kekayaan. Setiap malam Jumat perempuan itu mengalami gatal hebat tanpa bentol yang terlihat. Ketika meminta hubungan tersebut diputus, Ikhsan memperingatkan bahwa harta yang diperoleh mungkin ikut hilang. Perempuan tersebut tetap memilih berhenti karena ingin sembuh.
Dalam proses pemutusan yang dilakukan bersama seorang rekannya, Ikhsan mengatakan suasana rumah berubah sangat tegang dan perempuan tersebut sempat pingsan. Setelah sadar, ia menceritakan pengalaman seperti dibawa ke suatu tempat dan dimarahi karena mengakhiri perjanjian. Tidak lama kemudian rumah, mobil, dan sebagian besar asetnya memang dijual hingga ia pindah ke tempat yang jauh lebih sederhana. Namun sekitar setahun kemudian, menurut Ikhsan, perempuan itu bangkit kembali dengan usaha sentra jaket kulit yang bahkan mampu menembus pasar ekspor. Ikhsan mengaitkan perubahan hidupnya dengan tobat, kerja keras, dan kebiasaan bersedekah.
Pengalaman-pengalaman itu membuat Ikhsan menilai titik terendah ekonomi dapat menggoyahkan siapa saja, termasuk orang yang dikenal sebagai ustaz. Ia mengakui dirinya sendiri hampir terjerumus ketika utang menumpuk, pekerjaan hilang, dan keluarga kesulitan makan. Dari peristiwa tersebut ia menyampaikan tiga pegangan ketika berada dalam masalah: jangan menjauh dari Tuhan, jangan menjauh dari orang-orang saleh, dan jangan meninggalkan salat. Baginya, kedatangan ke tempat Ujang justru menjadi peringatan bahwa rasa putus asa dapat mendorong seseorang mencari jalan pintas, sementara jalan itu belum tentu membawa ketenangan atau menyelesaikan masalah.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
