Kisah ini bermula pada 2017, sebelum Teh Tina menjalani pengalaman susuk Nyi Ronggeng yang pernah diceritakannya sebelumnya. Saat itu Tina baru bekerja di sebuah spa dan berkenalan dengan seorang perempuan lebih muda yang disamarkan dengan nama Ayu. Meski masih muda, Ayu sudah termasuk pekerja senior dan menjadi salah satu perempuan yang paling banyak diminati pelanggan. Karena merasa masih kesulitan mendapatkan tip, Tina kemudian banyak belajar dari Ayu mengenai cara memperlakukan tamu agar lebih nyaman.
Kedekatan mereka berkembang sangat cepat hingga terasa seperti kakak dan adik. Ayu mengajari Tina berbagai cara menghadapi pelanggan, mulai dari bersikap ramah, menemani mengobrol, hingga menyesuaikan diri dengan kebiasaan tamu. Tips tersebut memang membuat penghasilan Tina bertambah, tetapi jumlahnya tetap jauh di bawah Ayu yang menurutnya bisa mendapatkan jutaan rupiah dalam sehari. Hal itu membuat Tina semakin penasaran karena merasa ada sesuatu yang belum diceritakan oleh sahabatnya.
Pada periode itu Tina sendiri sedang mempunyai tekanan ekonomi karena harus mengirim uang untuk anak sekaligus melunasi utang yang berkaitan dengan mantan suaminya. Ketika melihat Tina sering murung setelah ditagih keluarga, Ayu akhirnya menawarkan “solusi” lain. Ia menyebutnya sebagai tambahan “bumbu” agar rezeki lebih mudah datang. Tina awalnya menolak karena takut praktik semacam itu memiliki konsekuensi, termasuk kemungkinan adanya sesuatu yang harus dikorbankan.
Setelah terus diyakinkan, Tina akhirnya bersedia ikut. Ayu meminta izin kerja untuk mereka berdua dan mengatur perjalanan pada Kamis malam menjelang Jumat. Semua biaya dikatakan akan ditanggung Ayu. Dalam perjalanan Tina baru mengetahui mereka tidak sendirian. Selain Ayu, terdapat lima perempuan lain sehingga seluruh peserta ritual berjumlah tujuh orang. Mereka bertemu di sebuah rest area sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan Karang Hawu di Pelabuhan Ratu.
Masing-masing perempuan membawa kebaya dengan warna berbeda, tetapi warna hijau dilarang. Tina mendapat kebaya kuning milik Ayu. Mereka juga membeli tujuh buah kelapa merah sebelum menemui seorang kuncen. Setiap peserta kemudian diberi tiga kuntum bunga kantil. Satu bunga dimakan dan ditelan dengan bantuan air kelapa, sementara dua bunga lainnya dibawa selama perjalanan menuju tempat pemandian.
Ketujuh perempuan kemudian diminta mengganti pakaian dengan kebaya dan berendam secara bergantian di sebuah lokasi pemandian. Proses pertama berlangsung singkat dan bagi Tina tidak terasa istimewa. Setelah itu kuncen mengatakan ritual belum selesai. Rombongan dibawa lagi menuju sebuah gua di bagian lain kawasan pantai selatan. Di dalam terdapat kolam kecil, lampu minyak, dupa, buah-buahan, serta berbagai perlengkapan yang menurut Tina menyerupai sesajen.
Sebelum masuk ke kolam, setiap peserta diberi tujuh butir beras untuk dikunyah hingga habis. Kuncen berpesan agar mereka berdiri membentuk susunan tertentu di dalam air dengan mata terpejam. Apa pun suara atau kejadian yang muncul, mereka dilarang membuka mata sampai pundaknya ditepuk tiga kali oleh sang kuncen. Tina mengaku saat itu masih setengah tidak percaya dan menganggap sebagian proses tersebut mungkin hanya permainan sugesti.
Beberapa menit setelah memejamkan mata, Tina mulai mendengar suara mendesis seperti sesuatu yang semakin mendekat. Tubuhnya kemudian merasa dililit benda licin menyerupai belut atau ular dari bagian kaki hingga lengan. Karena rasa geli dan penasaran tidak tertahankan, Tina melanggar larangan dan membuka mata. Di situlah ia mengaku melihat ular hitam sangat besar berada di atas Ayu dengan kepala mengarah tepat ke tubuh sahabatnya.
Tina panik dan berteriak karena mengira Ayu akan diserang. Setelah itu ingatannya terputus. Dalam pengalaman yang terasa seperti mimpi, Tina merasa berada di sebuah tempat menyerupai keraton yang sangat besar dan dipenuhi orang-orang berwajah muda. Ia juga melihat makhluk dengan tubuh ular dan kepala manusia. Ketika ketakutan dan berusaha mencari jalan keluar, muncul seorang anak laki-laki sekitar lima tahun yang memanggilnya “Mama” dan membawanya menjauh dari sosok tersebut.
Anak itu menawarkan air kelapa dan sebuah buah berwarna hitam, tetapi Tina tidak sempat memakannya karena mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ketika membuka mata, Tina mendapati Ayu sedang memeluknya. Hal yang paling mengejutkan adalah penjelasan bahwa Tina sudah tidak sadarkan diri selama sekitar tiga hari, padahal baginya seluruh pengalaman tersebut terasa hanya berlangsung sebentar. Kuncen mengatakan kejadian itu terjadi karena Tina melanggar pesan dengan membuka mata ketika ritual berlangsung.
Setelah kembali bekerja, perubahan paling mencolok justru terjadi pada Ayu. Tidak lama setelah ritual, seorang pelanggan mentransfer uang sekitar Rp23 juta kepadanya. Dua minggu kemudian Ayu mengatakan akan berhenti bekerja karena seorang pelanggan yang disamarkan sebagai Bang Beto, pengusaha batu bara dari Kalimantan, mengajaknya menikah. Menurut cerita Ayu, Beto mencari istri lain karena pernikahan sebelumnya belum memberinya keturunan.
Setelah menikah, kehidupan Ayu berubah drastis. Ia disebut menerima Pajero, rumah tiga lantai di Sukabumi, serta modal untuk membuka butik dan salon. Tina awalnya menganggap semua itu kebetulan karena Ayu memang menikahi orang kaya. Bahkan orang tua Ayu kemudian dapat berangkat haji dengan biaya yang menurut keluarga berasal dari Ayu. Namun perubahan tersebut mulai terasa berbeda bagi Tina setelah Ayu hamil untuk pertama kalinya.
Ketika kandungan memasuki usia sekitar tujuh bulan, bayi tersebut meninggal dalam kandungan. Berdasarkan cerita yang disampaikan kepada Tina, kondisi janin ketika dikeluarkan terlihat sangat mengenaskan. Beberapa waktu kemudian Ayu kembali hamil dan akhirnya mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikannya. Menurut pengakuan Ayu kepada Tina, dalam ritual di Karang Hawu ia merasa telah membuat perjanjian dengan sosok yang disebutnya Ratu Kidul, dengan konsekuensi setiap anak yang dikandungnya akan “diambil”.
Karena tidak ingin kehilangan anak lagi, Tina membawa Ayu menemui seorang kiai. Menurut penafsiran sang kiai, kunci untuk menghentikan semua itu ada pada kemauan Ayu sendiri. Kiai dan Ayu kemudian berbicara secara pribadi, sementara Tina tidak mengetahui detailnya. Beberapa bulan kemudian Ayu melahirkan seorang bayi laki-laki yang terlihat sehat. Tina sempat merasa lega dan mengira masalah mereka sudah selesai.
Namun beberapa bulan setelah kelahiran tersebut, Tina kembali menerima kabar bahwa bayi itu meninggal dunia. Keluarga mengatakan terdapat bekas menyerupai gigitan ular di dekat jari kaki bayi. Tina juga merasa janggal karena tidak pernah mengetahui secara pasti lokasi pemakaman anak tersebut. Setelah kejadian itu, suasana rumah Ayu semakin sering dianggap tidak normal. Ibu Ayu serta para pekerja rumah mengaku mendengar suara anak kecil berlari, tertawa, menangis, tirai bergerak sendiri, dan barang-barang jatuh tanpa sebab yang mereka ketahui.
Saat menemani Ayu yang sedang terpukul, Tina mengaku melihat sosok berwajah sangat besar dan rusak berdiri di belakang sahabatnya melalui pantulan meja rias. Perilaku Ayu juga mulai berubah. Menurut ibunya, pada malam hari Ayu pernah terlihat mengambil dan memakan daging mentah dari freezer dalam kondisi seperti tidak sepenuhnya sadar. Tina akhirnya menceritakan kepada ibu Ayu bahwa dirinya dan Ayu pernah mengikuti ritual di Karang Hawu.
Ibu Ayu kemudian menceritakan pengalaman yang menurutnya terjadi ketika menunaikan ibadah haji. Ia mengaku tidak dapat melihat Ka’bah, sementara suaminya sempat terpisah selama sekitar tiga hari ketika rangkaian jumrah dan baru ditemukan menjelang berakhirnya perjalanan. Sang ibu mulai bertanya-tanya apakah biaya perjalanan yang diberikan Ayu berkaitan dengan sumber uang yang tidak baik. Pengalaman tersebut adalah penafsiran pribadi keluarga dan tidak dapat digunakan untuk menentukan sah atau tidaknya ibadah mereka.
Ayu kemudian mencoba program bayi tabung di Singapura karena suaminya sangat menginginkan keturunan. Program tersebut sempat berhasil, tetapi kehamilannya kembali berakhir dengan keguguran. Menurut cerita Tina, Ayu mengalami pendarahan berat dan menjalani tindakan medis hingga rahimnya disebut harus diangkat. Dalam masa perawatan, kondisi emosinya semakin tidak stabil. Ia terus membicarakan uang, menangis histeris, dan menyalahkan tubuhnya sendiri karena tidak mampu mempertahankan kehamilan. Tina juga mengaku melihat sosok perempuan berkebaya hijau dengan sanggul besar tersenyum dari belakang Ayu sebelum tiba-tiba menghilang.
Tina mencoba membujuk Ayu agar menghentikan seluruh perjanjian tersebut. Mereka kembali mencari jalan kepada kuncen dan mendapat penjelasan bahwa penghentian ritual membutuhkan persembahan berupa kepala kambing serta kepala sapi atau kerbau yang akan dibawa ke laut selatan. Konsekuensinya, menurut sang kuncen, Ayu kemungkinan akan kembali kehilangan harta yang diperoleh dan hidup seperti sebelum ritual. Ayu menolak keras. Ia mengatakan lebih baik mempertahankan keadaan tersebut daripada kembali miskin.
Alasan di balik ketakutan Ayu terhadap kemiskinan akhirnya diceritakan kepada Tina. Dalam pernikahan sebelumnya, Ayu mengaku pernah hidup bersama suami yang tidak mau bekerja dan membiarkannya menanggung kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi sangat terdesak, ia bahkan mengaku pernah dieksploitasi secara seksual oleh suaminya demi mendapatkan uang untuk makan. Ia juga terus direndahkan oleh keluarga mantan suami karena dianggap miskin. Menurut Tina, pengalaman tersebut membuat Ayu terobsesi membuktikan dirinya bisa kaya dan membahagiakan orang tuanya.
Kondisi Ayu akhirnya semakin sulit dikendalikan. Setelah pernikahannya dengan Beto berakhir, rumah dan sebagian aset yang sebelumnya diberikan suaminya ditarik kembali, sedangkan kendaraan dijual untuk biaya pengobatan. Ayu sempat dibawa ke beberapa tempat pengobatan spiritual dan pesantren, tetapi kemudian disarankan mendapatkan penanganan kesehatan jiwa karena perilakunya semakin tidak stabil. Pada kunjungan terakhir sekitar 2024, Tina mengatakan Ayu sudah tidak mengenalinya lagi dan masih menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Keluarga menyebut praktik yang dahulu dijalani sebagai “pesugihan bayi bajang”, meskipun hubungan antara ritual, keguguran, kematian bayi, maupun kondisi kesehatan jiwa Ayu tidak dapat dibuktikan secara objektif. Bagi Tina, perjalanan sahabatnya menjadi alasan kuat untuk mengingatkan orang agar tidak tergoda kekayaan instan, karena sesuatu yang terlihat cepat memberikan hasil dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih berat daripada yang dibayangkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
