Hengky Kurniawan dikenal melalui dunia hiburan sebelum kemudian masuk ke politik dan pemerintahan. Dalam wawancara bersama Malam Mencekam, ia menceritakan sisi lain perjalanan hidupnya yang jarang dibahas, mulai dari rumah yang dianggap berhantu, pengalaman saat syuting, dugaan pelet, hingga kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan ketika mengikuti Pilkada Kabupaten Bandung Barat. KPU mencatat Hengky sebagai bagian dari pasangan calon yang ditetapkan dalam Pilkada Bandung Barat 2018, dan dokumen Pemerintah Kabupaten Bandung Barat pada 2023 juga mencantumkan namanya sebagai Bupati Bandung Barat.
Jauh sebelum masuk pemerintahan, Hengky mengatakan ketertarikannya pada politik sudah muncul sejak kecil karena tumbuh di lingkungan keluarga yang aktif membicarakan persoalan sosial dan pemerintahan. Namun kehidupannya tidak berasal dari keluarga berada. Ia masih mengingat satu telur dadar harus dibagi untuk lima bersaudara. Sejak SD ia sudah mencoba mencari tambahan uang dengan menitipkan es ke warung, berjualan alat tulis saat SMP, hingga membuat berbagai produk untuk dijual ketika SMA.
Perjalanan hidup membawanya merantau ke Jakarta dan akhirnya masuk dunia hiburan. Setelah kariernya mulai berkembang dan penghasilannya meningkat, sekitar 2003 Hengky membeli sebuah rumah di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Harga rumah tersebut menurut ingatannya jauh lebih murah dibandingkan harga pasar saat itu. Ketika hendak pulang setelah melihat rumah, seorang perempuan lanjut usia dari keluarga pemilik sempat mengatakan agar Hengky tidak mempercayai cerita-cerita aneh mengenai rumah tersebut.
Awalnya Hengky tidak memikirkan ucapan itu. Namun setelah menempati rumah, ibunya mengaku melihat sosok perempuan melintas ketika sedang sendirian menonton televisi. Sang ibu yang sebelumnya berencana tinggal selama sekitar seminggu bahkan meminta pulang lebih cepat. Kakak laki-laki Hengky yang kemudian menginap di rumah tersebut juga disebut merasa tidak nyaman dan kesulitan tidur.
Hengky sendiri tidak pernah mengaku melihat sosok tersebut secara langsung dalam keadaan sadar. Namun selama dua malam berturut-turut ia bermimpi ada perempuan cantik berkulit putih berada sangat dekat di belakang tubuhnya. Seorang sesepuh yang kemudian diminta keluarga datang dari Blitar menafsirkan bahwa rumah tersebut mempunyai “penghuni lama”. Hengky juga pernah mendengar suara-suara aneh serta mengalami pintu kamar yang menurutnya sudah tertutup dengan benar tiba-tiba terbuka sendiri.
Pengalaman tersebut membuat pola tidurnya terganggu hampir dua tahun. Ia sering baru berani tidur dengan tenang setelah Subuh ketika cahaya matahari mulai muncul, padahal jadwal syutingnya sangat padat. Hengky tetap tidak dapat membuktikan apa sebenarnya penyebab kejadian-kejadian itu. Ia memilih menghadapinya dengan doa dan akhirnya pindah dari rumah tersebut tanpa pernah melihat secara langsung sosok perempuan yang diceritakan keluarganya.
Pengalaman berbeda berkaitan dengan hubungan asmara. Hengky menggambarkan dirinya sebagai anak yang biasanya sangat mendengarkan nasihat orang tua, tetapi pada salah satu hubungan ia justru menjadi sangat keras kepala meskipun keluarganya tidak merestui. Orang-orang di sekitarnya sempat menduga dirinya terkena pelet. Hengky sendiri tidak dapat memastikan hal tersebut dan hanya merasa ketika itu cintanya kepada sang pasangan begitu kuat hingga nasihat keluarga tidak lagi ia dengarkan.
Perubahan menurut Hengky terjadi ketika orang tuanya mengajaknya umrah. Awalnya ia bahkan menolak, tetapi akhirnya ikut setelah terus dibujuk sang ibu. Menjelang keberangkatan, paspor yang telah disiapkannya mendadak hilang sehingga ia harus mengurus dokumen baru. Saat umrah ia sempat mencurahkan persoalannya kepada almarhum Ustaz Jefri Al Buchori. Setelah pulang ke Indonesia, Hengky mengaku perasaannya kepada pasangan tersebut tiba-tiba berubah dan hubungan mereka akhirnya berakhir.
Sekitar 2005, pengalaman mistis juga disebut terjadi ketika Hengky menjalani syuting sinetron di kawasan Puncak. Menurut kesaksiannya, sekitar enam orang yang terlibat dalam produksi mengalami kondisi yang dianggap sebagai kesurupan secara bersamaan. Beberapa dari mereka berbicara menggunakan bahasa Sunda lama yang tidak dipahami kru sehingga seorang sesepuh setempat dipanggil. Kondisi mereka baru disebut kembali normal ketika hari mulai terang.
Pada periode kariernya sedang meningkat, Hengky juga pernah mengalami perubahan pada wajah yang menurutnya muncul sangat mendadak. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik gelap menyerupai jerawat sehingga cukup mengganggu kesinambungan penampilannya ketika syuting. Seseorang kemudian mengatakan kepadanya bahwa ada pihak yang “mengerjai” dirinya. Hengky tidak mengetahui apakah penafsiran itu benar dan memilih memperbanyak doa, puasa, sedekah, serta meminta doa ibunya hingga kondisi wajahnya perlahan kembali normal.
Pengalaman yang paling membekas menurut Hengky terjadi ketika mengikuti Pilkada Bandung Barat. Ia mengaku saat itu mampu menghadiri banyak titik kampanye setiap hari dan kondisi tubuhnya relatif bugar karena terbiasa berolahraga. Namun pada pagi menjelang agenda pengambilan nomor urut pasangan calon, setelah mandi dan berpakaian dalam keadaan sehat, Hengky tiba-tiba merasa kepalanya berputar sangat keras ketika keluar dari kamar.
Ia menggambarkan sensasinya seperti mendapat pukulan di kepala, disertai mual hingga muntah dan tubuh yang langsung jatuh ke kasur. Karena menganggap kehadirannya dalam agenda tersebut sangat penting, Hengky berusaha menenangkan diri sambil membaca doa dan Ayat Kursi. Kondisinya kemudian perlahan membaik dan ia tetap dapat menghadiri pengambilan nomor urut. Belakangan ia mendengar penafsiran dari orang-orang di sekitarnya bahwa kejadian itu mungkin merupakan “kiriman”, tetapi Hengky mengakui tidak mengetahui siapa pelakunya dan tidak mempunyai bukti yang dapat memastikan penyebab tersebut.
Pada masa kampanye berikutnya, beberapa orang terdekat Hengky juga mengalami masalah kesehatan dalam waktu yang berdekatan. Anak, anak asistennya, keluarga pengemudi, hingga keluarga personel pengamanan disebut jatuh sakit. Karena berlangsung berurutan, sebagian orang di lingkungan Hengky kembali menghubungkannya dengan dugaan gangguan ilmu hitam yang bertujuan mengacaukan konsentrasi kampanye. Namun sakitnya sejumlah orang tersebut tetap tidak dapat dijadikan bukti bahwa mereka benar-benar menjadi sasaran serangan ghaib.
Hengky kemudian memilih menghadapi kekhawatiran tersebut dengan kegiatan doa bersama dan pengajian kecil. Setelah terpilih dan menjalani aktivitas pemerintahan, ia mengaku masih mendengar berbagai suara aneh pada malam hari. Pada satu periode ia bahkan memilih tidur di lantai beralaskan tikar, sebuah bentuk tirakat yang dikenalnya dari tradisi Jawa. Menurut Hengky, langkah tersebut lebih merupakan cara pribadi untuk memperkuat ketenangan batin daripada upaya menyerang siapa pun.
Gangguan juga disebut terasa ketika keluarganya tinggal di rumah dinas yang disewa pemerintah daerah. Istrinya beberapa kali mengaku mendengar suara Hengky memanggil meskipun suaminya sedang tidak berada di rumah. Hengky sendiri pernah mendengar suara sangat jelas memanggilnya dengan sapaan yang biasa digunakan keluarga. Karena istrinya semakin takut dan tidak berani tidur sendirian, keluarga akhirnya memilih pindah ke rumah lain meskipun masa sewa tempat sebelumnya belum habis.
Selama berada di Bandung Barat, Hengky juga pernah berziarah ke makam sejumlah tokoh atau sesepuh lokal atas saran masyarakat. Ia menegaskan tujuannya bukan meminta kekayaan, jabatan, atau bantuan ghaib. Menurut ceritanya, ia datang sebatas mendoakan tokoh-tokoh yang telah meninggal dan memohon kepada Tuhan agar diberi kelancaran ketika menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin.
Pengaruh tradisi Jawa memang tidak sepenuhnya asing bagi Hengky. Ia menceritakan bahwa kakeknya hidup dengan tradisi Kejawen, mempunyai koleksi keris, memperhitungkan hari tertentu sebelum mengadakan kegiatan, serta mengenal sejumlah doa berbahasa Jawa. Ada pula amalan keluarga yang menurut cerita diturunkan langsung dari sang kakek kepada anggota keluarga tertentu. Hengky sendiri mengatakan amalan itu tidak sempat diwariskan kepadanya karena kakeknya meninggal ketika ia masih kecil.
Meski tidak pernah mengaku menjalani pesugihan, Hengky mengetahui ada kerabat dekatnya yang pernah mencoba mencari uang melalui cara-cara ritual ketika kondisi bisnisnya terpuruk. Kerabat tersebut membeli minyak dengan harga mahal, mendatangi beberapa tempat, mengeluarkan uang untuk berbagai proses, dan mendapat janji bahwa benda seperti daun nantinya akan berubah menjadi uang. Pada akhirnya tidak ada uang ghaib yang muncul. Keluarga justru menyimpulkan bahwa orang tersebut kemungkinan menjadi korban sindikat penipuan yang membungkus kegiatannya dengan suasana mistis.
Hengky mengatakan tawaran semacam itu juga dapat muncul ketika seseorang memasuki kontestasi politik. Berdasarkan pengalaman dan cerita yang pernah diterimanya, ada pihak yang menawarkan ritual untuk memperoleh dana secara ghaib, sementara pihak lain menawarkan skema bantuan dana yang menurutnya pada akhirnya juga dapat berujung pada penipuan. Ia juga pernah bertemu kepala desa yang kehilangan kemampuan berbicara setelah Pilkades dan keluarga kepala desa tersebut mengaitkannya dengan serangan dari lawan politik. Hengky hanya menyampaikan cerita tersebut sebagai pengalaman yang ia temui, bukan bukti bahwa lawan politik tertentu benar-benar melakukan ilmu hitam.
Mengenai cerita bahwa pejabat mendatangi tempat keramat atau guru spiritual, Hengky mengatakan dirinya pernah mendengar berbagai kisah semacam itu dan pernah melihat foto tokoh-tokoh politik ketika berkunjung ke tempat tertentu. Namun ia tidak mengetahui tujuan pribadi masing-masing orang dan tidak menyimpulkan bahwa kunjungan tersebut berkaitan dengan pesugihan. Ketika ditanya mengenai Gunung Kawi, Hengky justru mengatakan belum pernah datang dan hanya penasaran ingin mengetahui seperti apa tempat tersebut, sebatas berkunjung atau berwisata, bukan mencari kekayaan ghaib.
Setelah melewati pengalaman di dunia hiburan maupun politik, Hengky mengatakan pegangan utamanya tetap doa dan dukungan orang tua, terutama ibunya. Baginya, cerita tentang rumah angker, dugaan pelet, pengalaman syuting, sakit mendadak saat Pilkada, hingga tawaran ritual menunjukkan bahwa kehidupan dapat dipenuhi hal-hal yang sulit dipahami, tetapi ia memilih tidak menjadikan hal mistis sebagai dasar untuk menuduh orang lain. Pesan yang dibawanya dari sang ayah justru lebih sederhana: hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain, dan ketika seseorang memperoleh amanah sebagai pemimpin, tanggung jawab utamanya adalah bekerja serta mengayomi masyarakat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
