Kisah Mas Santo bermula pada 2006 dan berpusat pada sahabat masa kecilnya yang disamarkan dengan nama Udin. Keduanya tumbuh bersama di kawasan Kalideres dan sudah berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sejak kecil, Udin mempunyai ketertarikan besar terhadap dunia otomotif. Ia sering datang ke bengkel milik pamannya untuk belajar memperbaiki sepeda motor hingga akhirnya memilih tidak melanjutkan sekolah setelah SMP dan serius menekuni pekerjaan sebagai montir.
Kemampuan Udin sebagai montir berkembang cukup cepat. Setelah sempat membantu pamannya, ia bekerja di bengkel milik orang lain dan mulai mempunyai banyak pelanggan. Sekitar dua tahun kemudian, Udin memberanikan diri membuka bengkel sendiri menggunakan uang yang berhasil dikumpulkannya. Usahanya sebenarnya cukup ramai dan menurut Mas Santo seharusnya mampu memberikan kehidupan yang layak apabila dikelola dengan baik.
Masalah mulai muncul ketika Udin mengenal perjudian dari pergaulan di sekitar bengkel. Awalnya ia hanya ikut taruhan kecil, tetapi kebiasaan itu semakin lama semakin sulit dikendalikan. Pernikahan pertamanya juga berakhir setelah sekitar lima tahun tanpa dikaruniai anak. Setelah beberapa tahun hidup sendiri, Udin kemudian menikahi seorang janda yang telah mempunyai seorang anak laki-laki yang saat itu masih duduk di sekolah dasar.
Tanggung jawab keluarga tidak membuat kebiasaan berjudi berhenti. Udin mulai meminjam uang dari orang-orang yang dikenalnya melalui lingkungan bengkel. Pinjaman pertama masih dapat dikembalikan sehingga para pemberi pinjaman semakin percaya kepadanya. Namun jumlah pinjaman berikutnya semakin besar dan menurut Mas Santo Udin bahkan meminjam kepada dua hingga tiga orang berbeda. Penghasilan bengkel akhirnya tidak lagi mampu menutup kebutuhan keluarga, perjudian, dan cicilan utang.
Dalam keadaan terdesak, Udin pertama kali mencoba jalan mistis setelah mendapat informasi mengenai seseorang yang dianggap mampu membantu. Mas Santo bersama beberapa teman mengantarnya menemui seorang lelaki yang mereka panggil Abah. Di tempat tersebut, Udin ditawarkan ritual yang disebut “jualan sate gagak”. Ia diminta menyediakan sejumlah uang, sementara sang Abah menyiapkan burung gagak yang kemudian dibuat menjadi sekitar 20 tusuk sate.
Beberapa hari kemudian mereka pergi menuju sebuah area pemakaman. Udin duduk di bawah pohon besar sambil membakar sate gagak satu per satu, sedangkan sebuah kardus diletakkan di sebelahnya. Mas Santo dan teman-temannya diminta menjauh. Menurut cerita yang mereka terima dari sang Abah, sate tersebut dipercaya “dibeli” oleh berbagai sosok ghaib. Udin sendiri mengaku tidak melihat siapa pun secara jelas, tetapi merasa suasananya sangat mencekam dan melihat jumlah sate yang dibakarnya perlahan habis.
Setelah ritual selesai, kardus tersebut ditutup rapat dan Udin diminta membawanya pulang. Pesannya sangat jelas: kardus tidak boleh dibuka sebelum tiga hari dan harus disimpan di dalam lemari. Namun karena tidak sabar, keesokan paginya Udin membuka kardus tersebut. Alih-alih menemukan uang, ia hanya melihat daun-daun di dalamnya. Sang Abah kemudian mengatakan ritual dianggap gagal karena Udin melanggar pantangan dengan membuka kardus terlalu cepat.
Kegagalan itu terjadi saat tekanan utang semakin berat. Para penagih mulai datang ke bengkel dan menurut kesaksian Mas Santo ada yang sampai menendang meja, membanting kursi serta kunci, dan mengancam Udin apabila utangnya tidak segera dibayar. Udin sempat memindahkan lokasi bengkel dengan harapan dapat menghindari mereka, tetapi salah satu penagih kembali menemukannya. Sejak saat itu, pembicaraan tentang mencari pesugihan semakin sering dilontarkan Udin setiap kali berkumpul bersama teman-temannya.
Melalui seseorang yang dikenalnya di bengkel, Udin mendapat informasi bahwa di Cilacap terdapat tempat-tempat yang dipercaya berkaitan dengan praktik tersebut. Karena terus memohon bantuan, akhirnya Mas Santo bersama beberapa teman bersedia mengantarnya. Mereka menuju Cilacap dan mendapat informasi dari warga bahwa orang-orang yang mencari ritual tertentu sering menyeberang ke Nusakambangan. Rombongan kemudian menyewa perahu dan dibawa menemui seorang kuncen.
Di Nusakambangan, mereka mendatangi sebuah tempat yang disebut Gua Sela. Sang kuncen menyiapkan tumpeng dan melakukan ritual sebelum membawa mereka masuk ke gua pada sore menjelang malam. Di dalam gua yang gelap, kuncen menunjukkan beberapa titik yang disebut sebagai petilasan tokoh tertentu, termasuk tempat yang dikaitkan dengan Prabu Siliwangi dan sosok yang disebut Ibu Ratu. Mereka kemudian diminta duduk dalam kegelapan dan menunggu apakah ada penglihatan, bisikan, atau tanda tertentu.
Tidak ada hasil yang dianggap sesuai keinginan Udin. Salah satu teman bernama samaran Wawan hanya mengaku mendengar suara seperti derap kuda, tetapi tidak menganggap dirinya sedang mencari pesugihan. Ketika mereka kembali menyeberang, tukang perahu yang mendengar tujuan sebenarnya kemudian mengatakan ada tempat lain di kawasan Gunung Sumbing yang menurut pengalamannya pernah didatangi orang dengan tujuan serupa. Udin langsung tertarik dan rombongan memutuskan meneruskan perjalanan menuju daerah Temanggung.
Mereka tiba di rumah seorang kuncen di kawasan Gunung Sumbing pada malam hari. Setelah mendengar persoalan Udin, sang kuncen memastikan kembali apakah tekadnya benar-benar sudah bulat. Udin mengatakan siap menanggung segala risiko karena merasa tidak mempunyai jalan lain untuk menyelesaikan utangnya. Sejumlah uang kemudian diberikan kepada kuncen untuk membeli sesajen yang akan digunakan dalam ritual.
Menjelang sore mereka naik menuju lereng gunung melewati jalan berbatu, kebun tembakau, dan jalur setapak hingga mencapai sebuah sendang. Udin diminta meminum airnya sekali lalu mengguyurkan air ke tubuhnya dalam jumlah ganjil. Di sekitar lokasi, sesajen berupa berbagai bunga, kemenyan, ayam bakar, buah, dan perlengkapan lainnya ditata. Setelah itu Udin duduk di tempat ritual dan mengikuti bacaan yang dituntun sang kuncen sebelum akhirnya ditinggalkan seorang diri.
Menurut cerita Udin kepada Mas Santo setelah ritual, suasana perlahan berubah sangat mencekam. Ia mendengar suara bisikan dan tawa, melihat bayangan bergerak, hingga sosok yang menurutnya menyerupai kuntilanak. Seorang perempuan cantik juga disebut datang dan berkali-kali mengajaknya pergi bersamanya. Udin menolak karena sebelumnya telah diperingatkan oleh kuncen bahwa apabila ada sosok yang mengajaknya pergi, ia tidak boleh mengikuti. Ia juga mengaku mendapat larangan tertentu selama prosesi, termasuk tidak mengucapkan bacaan keagamaan dan hanya berkonsentrasi pada tujuan ritual.
Setelah perempuan itu menghilang, Udin mengaku didatangi seorang lelaki tua yang ia panggil Eyang. Sosok tersebut menanyakan tujuan kedatangannya sekaligus apa yang akan diberikan sebagai pertukaran. Dalam kondisi sudah terdesak oleh utang, Udin mengatakan dirinya bersedia menukarkan anak yang tinggal bersamanya. Anak tersebut sebenarnya merupakan anak bawaan dari istri keduanya dan saat itu disebut sudah duduk sekitar kelas tiga sekolah dasar. Ritual malam pertama kemudian dihentikan karena menurut kuncen prosesnya belum selesai dan Udin belum bertemu sosok yang disebut Ibu Ratu.
Pada malam kedua mereka kembali menaiki Gunung Sumbing. Setelah menjalani proses mandi dan ritual serupa, Udin mengaku mengalami berbagai penglihatan, termasuk merasa berada di sebuah pasar malam yang ramai. Perempuan cantik yang sebelumnya muncul kembali mengajaknya pergi, tetapi lagi-lagi ia menolak. Setelah itu lelaki tua yang disebut Eyang datang untuk memastikan bahwa Udin tetap bersedia dengan pertukaran yang telah disampaikan pada malam sebelumnya.
Tak lama kemudian Udin mengaku mendengar suara kuda semakin mendekat. Di hadapannya muncul kereta kencana bersama seorang perempuan cantik bermahkota dan berpakaian hijau yang ia yakini sebagai Ibu Ratu. Kepada sosok tersebut, Udin kembali menyampaikan keinginannya mendapatkan uang dalam jumlah besar dengan menukarkan anaknya. Menurut pengakuannya, ia kemudian diperlihatkan gambaran uang dalam jumlah sangat banyak sekaligus sosok anak yang hendak dijadikan pertukaran.
Setelah ritual selesai, kuncen mengatakan nilai uang yang dijanjikan mencapai sekitar Rp20 miliar. Udin meminta agar uang tersebut nantinya dikirim langsung ke tempat tinggalnya. Rombongan pun kembali ke Tangerang dan menyewa sebuah kontrakan khusus untuk tahap berikutnya. Istri dan anak Udin sengaja diminta pulang sementara ke kampung di Indramayu. Pada malam yang ditentukan, Udin dikunci seorang diri di dalam kontrakan dan menjalani ritual dengan bimbingan kuncen melalui telepon dari Gunung Sumbing.
Pada malam yang sama, menurut cerita yang kemudian diterima Mas Santo, anak Udin di Indramayu tiba-tiba mengalami demam tinggi. Sang ibu membawa anak itu kepada seorang kiai karena fasilitas kesehatan berada cukup jauh. Setelah didoakan, kondisi anak disebut membaik. Sementara itu di kontrakan, Udin mengaku sosok yang datang untuk mengambil anak tersebut gagal menyelesaikan proses pertukaran. Gambaran uang dan anak menghilang, sedangkan sosok yang disebut sebagai “algojo” menjadi marah. Keesokan paginya ketika pintu kontrakan dibuka dari luar, Mas Santo menemukan Udin dalam keadaan telungkup dan tidak sadarkan diri di dekat pintu kamar mandi.
Setelah sadar, Udin menceritakan bahwa ritualnya gagal. Sang istri kemudian mengetahui adanya dugaan upaya menjadikan anaknya sebagai tumbal setelah mendapat peringatan dari kiai di kampung. Ia marah besar, membawa pakaiannya, dan memilih meninggalkan Udin. Para penagih utang masih terus mencarinya sehingga Udin akhirnya kabur ke Lampung. Sekitar lima tahun kemudian Mas Santo sempat bertemu kembali dengannya dalam kondisi jauh berbeda. Udin mengaku hidup di sebuah lapak dan mengumpulkan koran, kardus, serta botol bekas. Ketika Santo mencoba mencari alamat yang diberikan beberapa hari kemudian, ia tidak berhasil menemukan Udin lagi.
Bagi Mas Santo, perjalanan dari ritual sate gagak hingga upaya pertukaran anak di Gunung Sumbing menjadi pengalaman yang sangat ia sesali. Ia tidak dapat membuktikan bahwa berbagai kesulitan yang kemudian dialami dirinya dan teman-temannya merupakan akibat langsung dari ritual tersebut, tetapi pengalaman itu membuatnya tidak ingin lagi terlibat dengan praktik serupa. Ia juga menilai kehancuran hidup Udin bermula dari perjudian, utang, dan keputusan mencari jalan pintas ketika tekanan semakin besar. Pesannya sederhana: ketika kehidupan sedang sulit, jangan sampai keinginan menyelesaikan masalah dengan cepat justru membuat seseorang mempertaruhkan keluarga dan menghancurkan hidupnya sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
