Sekitar 1996 hingga 1999, Heru Gundul menghabiskan sebagian hidupnya di pedalaman Kalimantan Tengah. Tujuan awalnya bukan semata-mata mencari kekayaan, melainkan melatih kemampuan bertahan hidup. Ia berangkat tanpa membawa banyak uang, membantu orang di berbagai tempat, hingga akhirnya mendapat informasi bahwa pekerjaan di tambang emas dapat memberikan penghasilan besar. Heru kemudian nekat masuk ke kawasan pertambangan di tengah hutan meskipun sebelumnya tidak mempunyai pengalaman sebagai penambang.
Di lokasi tersebut, Heru belajar bekerja dari bawah. Ia menebang pohon, membuang akar, mengoperasikan mesin, membersihkan lumpur, dan menggali tanah hingga menemukan lapisan yang oleh para penambang disebut lantakan serta pasir poyak, yakni pasir berwarna merah kehitaman yang dipercaya mengandung butiran emas. Tambang yang dijalani bukan tambang modern, melainkan pertambangan ilegal dengan sistem bagi hasil dan lubang besar seperti kawah yang kedalamannya dapat mencapai belasan meter.
Pada awalnya hasil yang diperoleh tidak terlalu besar. Namun suatu hari seorang bos mengajak sekitar 15 pekerja membuka lokasi baru yang masih berupa hutan. Sebelum pekerjaan dimulai, lima orang termasuk Heru dipilih mengikuti sebuah ritual yang disebut sebagai “pengenalan hutan”. Menurut kesaksiannya, di lokasi terdapat kepala kerbau, darah dan bulu ayam, bunga, serta bahan menyerupai candu. Empat pekerja lain juga diminta menyerahkan potongan rambut yang kemudian diletakkan bersama perlengkapan persembahan. Heru tidak menyerahkan rambut karena saat itu kepalanya memang gundul.
Kelima pekerja kemudian dimandikan menggunakan air bunga sementara seseorang membaca rapalan yang tidak dipahami Heru. Setelah ritual selesai, mereka mulai membuka hutan dan menggali hingga kedalaman sekitar 12 meter. Hasilnya mengejutkan. Dalam waktu sekitar dua minggu mereka mendapatkan emas dalam jumlah jauh lebih besar daripada biasanya, bahkan hasil pencucian berikutnya menurut Heru kembali mencapai sekitar satu hingga dua ons. Para pekerja mulai menghubungkan keberhasilan tersebut dengan ritual yang baru saja dilakukan.
Namun bersamaan dengan meningkatnya hasil tambang, Heru dan beberapa pekerja yang mengikuti ritual mulai merasa seperti ada sesuatu yang terus membayangi mereka pada malam hari. Tidak lama kemudian terjadi kecelakaan besar. Ketika pasir yang mengandung banyak emas terlihat, pengawas yang seharusnya memperhatikan kondisi tebing ikut turun membantu bekerja. Tanpa ada orang yang mengawasi dinding tambang setinggi sekitar 12 meter, tebing tiba-tiba runtuh dan menimbun kelompok Heru.
Heru sendiri sempat tertimbun tetapi berhasil diselamatkan. Empat rekannya yang bekerja bersamanya tidak tertolong. Setelah kejadian tersebut, Heru mulai berulang kali bermimpi didatangi sosok menyerupai dukun dengan tongkat dan terus memanggilnya untuk ikut. Ia kemudian teringat bahwa keempat orang yang meninggal adalah pekerja yang rambutnya dipotong dalam ritual pembukaan lahan, sementara dirinya menjadi satu-satunya dari kelompok tersebut yang tidak menyerahkan rambut.
Di kawasan hiburan para penambang, Heru kemudian mendengar berbagai pembicaraan bahwa kematian pekerja dianggap sebagai “tumbal” dan setelah korban berjatuhan hasil emas biasanya meningkat. Ia tidak dapat memastikan apakah kecelakaan itu benar-benar berhubungan dengan ritual atau murni akibat kelalaian kerja di tambang yang sangat berbahaya. Namun pengalaman tersebut membuat Heru trauma. Setelah itu setiap kali bos baru mengadakan ritual pembukaan tambang, ia memilih pindah lokasi daripada ikut serta.
Heru tetap bertahan di Kalimantan dan sempat mendapatkan hasil emas dalam jumlah besar. Pada suatu periode, kelompoknya bahkan mengumpulkan sekitar 1,5 kilogram emas dalam beberapa hari. Namun sebelum emas tersebut sempat dijual, hasil tambang itu dibawa kabur oleh dua orang dari kelompok mereka. Pencarian berujung konflik dengan kelompok preman sehingga Heru harus melarikan diri sepanjang malam. Ia akhirnya mencapai pelabuhan dan menumpang kapal kayu menuju Semarang demi menyelamatkan diri.
Tak lama berada di Jawa, Heru kembali ke Kalimantan. Menjelang akhir 1999, ketika sedang beristirahat di sebuah perkampungan lokal, seorang teman memberi tahu bahwa malam itu akan berlangsung pertemuan adat berkaitan dengan konflik antarkelompok yang sedang memanas. Heru menegaskan bahwa cerita yang disampaikannya bukan untuk menyudutkan masyarakat Dayak maupun kelompok lain. Ia hanya menceritakan apa yang menurutnya dilihat pada masa konflik yang kini sudah lama berlalu dan telah diikuti berbagai upaya perdamaian.
Dalam pertemuan tersebut Heru mengaku menyaksikan ritual yang disebut “Mangkok Merah”. Ia melihat sebuah mangkuk besar dengan bagian dalam berwarna merah dan berisi berbagai ramuan. Menurut penjelasan temannya saat itu, cairan tersebut hanya diminum oleh anggota kelompok tertentu yang hendak berperang dan dipercaya membuat mereka dapat mengenali siapa yang dianggap sebagai musuh. Heru sempat meminta mencoba, tetapi langsung dilarang karena dirinya bukan bagian dari kelompok tersebut.
Setelah ritual selesai, Heru mengaku menyaksikan perubahan perilaku salah seorang temannya yang sebelumnya ikut meminum ramuan. Menurut penglihatannya, lelaki tersebut seperti berada dalam kondisi trans dan tidak lagi mampu membedakan orang yang dekat dengannya dengan pihak yang dianggap sebagai musuh. Heru sangat terguncang melihat dampaknya terhadap keluarga temannya. Ia kembali menegaskan bahwa pengalaman tersebut terjadi dalam situasi konflik dan tidak boleh digunakan untuk memberi cap kepada suatu suku atau masyarakat secara keseluruhan.
Tidak kuat berada di kampung tersebut, Heru pindah sekitar sepuluh kilometer ke tempat temannya yang lain. Namun ternyata kampung baru itu berada di sisi kelompok yang sedang berseberangan. Setiap menjelang sore, warga berbondong-bondong meninggalkan rumah dan masuk ke hutan. Heru diberi tahu bahwa mereka takut terhadap sesuatu yang disebut “mandau terbang”. Karena penasaran, suatu hari ia sengaja kembali ke kampung setelah warga pergi untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Di sanalah Heru mengaku melihat kejadian yang sampai sekarang masih sangat melekat dalam ingatannya. Menurut kesaksiannya, sebuah mandau tampak berdiri dengan ujung mengarah ke depan, bergerak cepat keluar-masuk rumah pada ketinggian sekitar satu setengah hingga dua meter. Heru tidak mengetahui apakah senjata itu benar-benar bergerak sendiri atau ada sesuatu yang tidak dapat ia lihat karena kecepatannya. Namun ia mengatakan menyaksikan gerakannya secara langsung pada sore hari.
Selama beberapa hari berikutnya suasana tetap mencekam. Warga baru berani kembali ke rumah pada pagi hari dan kembali masuk ke hutan sebelum sore. Dari cerita teman-temannya, orang yang terlambat meninggalkan rumah dapat menjadi korban. Heru sendiri memilih tidak menyaksikan langsung bentrokan yang berlangsung karena sudah merasa tidak sanggup melihat kekerasan yang terjadi. Setelah sekitar dua minggu berada dalam situasi tersebut, keinginan mencari emas pun hilang dan fokusnya hanya bagaimana keluar dengan selamat.
Di tengah pengalaman itu Heru mengenal sesuatu yang disebut “minyak bintang”. Menurut cerita masyarakat yang ia temui, minyak tersebut dipercaya mempunyai kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan luka. Heru mengaku pernah melihat seorang lelaki pulang dengan tangan yang mengalami luka sangat parah dan bagian yang terpisah dibawa kembali. Kedua bagian tersebut kemudian diolesi minyak, disatukan, dibalut kain putih, dan dilakukan ritual tertentu. Heru mengaku ketika balutan dibuka tidak sampai setengah jam kemudian, tangan tersebut terlihat kembali menyatu. Pengalaman itu merupakan apa yang ia lihat dan tafsirkan sendiri, bukan klaim medis yang dapat dibuktikan.
Karena pernah aktif dalam kegiatan SAR dan PMI, Heru sangat tertarik mendapatkan minyak tersebut. Setelah kondisi konflik mereda, ia bahkan kembali ke daerah itu dan tinggal bersama seorang tetua dengan tujuan mempelajari cara membuat minyak bintang. Ia menjadi semacam murid, membantu berbagai pekerjaan, dan akhirnya memperoleh sedikit minyak. Namun ketika menanyakan bahan sebenarnya, jawaban yang didengar justru membuatnya mengurungkan niat untuk mempelajarinya lebih jauh.
Menurut cerita tetua tersebut kepada Heru, terdapat beberapa jenis minyak bintang. Versi yang dianggap biasa dibuat dari minyak, ramuan hutan, serta bahan yang dikaitkan dengan burung butbut. Sementara versi yang dianggap paling kuat disebut menggunakan campuran yang berasal dari bagian tubuh manusia korban perang. Heru langsung merasa ngeri dan menolak meneruskan keinginannya. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan penjelasan yang diterimanya dari orang di lokasi dan dirinya tidak dapat memastikan kebenaran komposisinya.
Cerita mengenai burung butbut pun menurut Heru tidak kalah mengerikan. Dalam kepercayaan yang ia dengar, anak burung dipercaya sengaja dibuat mengalami patah tulang lalu dibiarkan disembuhkan induknya. Proses tersebut disebut dilakukan berulang kali sebelum bagian tertentu digunakan sebagai bahan minyak. Di Kalimantan Heru juga mengenal istilah untalan, yaitu benda kecil dari logam atau bahan tertentu yang dipercaya dimasukkan ke tubuh untuk menambah kekebalan, wibawa, atau keberanian.
Heru sendiri pernah mencoba mempelajari ilmu lain yang menurutnya dianggap berada satu tingkat di atas penggunaan untalan. Seorang guru pernah memintanya diam-diam memilih satu dari beberapa ayam. Tanpa menyentuh ayam tersebut, sang guru hanya melakukan gerakan tangan dan ayam pilihan Heru menurut penglihatannya langsung mengalami luka seperti terbelah. Heru kemudian mencoba menjalani puasa dan sejumlah syarat untuk mempelajari kemampuan tersebut, tetapi mengaku tidak pernah menyelesaikan seluruh prosesnya.
Dalam perjalanan berikutnya ke kawasan Tanjung Puting, Heru kembali mengalami kejadian yang memperkuat pengenalannya terhadap berbagai kepercayaan lokal. Ia dan lima rekannya pernah ditawari kopi oleh warga. Heru hanya menyentuhkan minuman itu ke lidah karena teringat pesan temannya mengenai “kepohonan”, yakni kepercayaan bahwa menolak makanan atau minuman yang ditawarkan dapat membawa kesialan. Tiga temannya menolak sama sekali. Tidak lama kemudian mereka menabrak sarang tawon dan anehnya, menurut Heru, tiga orang yang menolak kopi justru menjadi orang yang paling banyak disengat.
Bertahun-tahun setelah keluar dari kehidupan tambang, Heru masih membawa banyak cerita dari perjalanan tersebut, mulai dari tersesat di hutan, kejadian saat syuting di Banyuwangi dan Toraja, hingga berbagai gangguan yang ia anggap bersifat ghaib. Namun pandangannya kini berubah. Ia tidak lagi ingin menggantungkan diri pada ritual, benda kebal, minyak, maupun ketakutan terhadap makhluk tidak terlihat. Bagi Heru, pengalaman paling penting dari seluruh perjalanan itu bukan membuktikan mandau terbang atau minyak bintang, melainkan memahami bahwa rasa takut dapat membuat manusia kehilangan kendali. Ia memilih menghormati budaya dan kepercayaan masyarakat yang pernah ditemuinya tanpa menggeneralisasi, sekaligus berpegang bahwa perlindungan terakhir bukan berasal dari benda mistis, tetapi dari keyakinannya kepada Tuhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
