Pada awal 1990, Mas Kenken memasuki industri perfilman bukan dengan cita-cita menjadi aktor, melainkan sekadar ingin memperoleh pekerjaan. Seorang kenalan memperkenalkannya kepada perusahaan produksi film, lalu ia diterima sebagai asisten unit yang bertugas membantu kebutuhan pemain, konsumsi, perizinan lokasi, dan berbagai urusan teknis selama proses produksi berlangsung.
Pekerjaan tersebut membuat Mas Kenken sering berada di lokasi syuting bersama aktor laga terkenal seperti Barry Prima, Baron Hermanto, Fendy Pradana, Advent Bangun, dan sejumlah bintang lainnya. Karena telah mempelajari bela diri sejak kecil, diam-diam ia mengagumi kemampuan mereka dan membayangkan apakah suatu hari dirinya juga dapat tampil di depan kamera.
Kesempatan pertama datang secara tidak terduga ketika seorang pemain yang seharusnya berhadapan dengan Barry Prima tidak hadir. Produksi tidak dapat dihentikan karena setiap keterlambatan menambah biaya. Setelah beberapa calon pengganti ditolak, sutradara laga Edi Jonathan menunjuk Mas Kenken untuk memainkan tokoh antagonis yang mempunyai banyak anak buah.
Meskipun hanya mengucapkan dialog singkat, Mas Kenken mengaku sangat gugup. Ia beberapa kali melupakan kalimat yang sebelumnya telah dihafal karena berakting bukan sekadar berbicara, tetapi juga melibatkan tatapan, gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan reaksi terhadap lawan main. Setelah berdoa dan mengikuti arahan sutradara, ia berhasil menyelesaikan adegan tersebut hingga mendapat tepuk tangan dari kru.
Penampilan pertamanya membuka jalan menuju peran-peran berikutnya. Mas Kenken tetap bekerja di bagian produksi, tetapi mulai dipercaya tampil sebagai pemain. Sejumlah sutradara yang mengenal kemampuan bela diri dan kedisiplinannya kemudian merekomendasikan namanya ketika sebuah rumah produksi mencari pemeran utama untuk sinetron Wiro Sableng.
Mas Kenken datang ke kantor produksi dengan harapan sederhana. Ia bahkan bersedia menerima peran kecil atau menjadi figuran karena merasa belum pantas menjadi pemeran utama. Setelah menyerahkan foto dan menjalani proses awal, pada suatu malam ia bermimpi didatangi sosok besar berpakaian putih yang tersenyum, mengajaknya berjabat tangan, lalu pergi setelah menjawab panggilannya dengan suara keras.
Beberapa hari kemudian, Mas Kenken diberi tahu bahwa dirinya masuk dalam daftar calon pemeran Wiro Sableng. Setelah melalui tahap penilaian dan bertemu Bastian Tito sebagai pencipta karakter tersebut, ia akhirnya dinyatakan terpilih. Kegembiraannya segera berubah menjadi kekhawatiran karena ia harus memimpin sebuah produksi besar dengan biaya yang disebut mencapai Rp1,6 miliar.
Proses syuting awalnya direncanakan berlangsung di kawasan Kaliurang, Yogyakarta. Namun aktivitas Gunung Merapi merusak set yang telah dibangun sehingga produksi dipindahkan ke Wonogiri. Pembukaan syuting dilakukan dengan prosesi pemotongan rambut Mas Kenken yang saat itu panjang hingga punggung, melibatkan bupati, sutradara, dan produser.
Salah satu pengalaman aneh terjadi ketika kru mengambil gambar di Gua Song Putri. Di dalam gua tersebut terdapat sebuah dipan tua beralaskan tikar anyaman. Sambil menunggu persiapan kamera, Mas Kenken berbaring di atasnya, kemudian pemeran Anggini ikut duduk dan berbaring di tempat yang sama.
Ketika pengambilan gambar dimulai, kamera tidak menampilkan gambar meskipun telah berulang kali diperiksa. Aneh bagi para kru karena kamera kembali berfungsi ketika dibawa keluar gua, tetapi mati setiap kali dimasukkan lagi. Seorang kuncen kemudian dipanggil dan mengatakan ada sosok yang tidak senang karena dipan tua tersebut digunakan tanpa izin.
Mas Kenken dan pemeran Anggini diminta menyampaikan permohonan maaf serta meminta izin untuk melanjutkan syuting. Setelah proses tersebut dilakukan, kamera kembali menampilkan gambar dan produksi dapat diteruskan hingga malam. Pengalaman itu membuat Mas Kenken memahami pentingnya menghormati tempat-tempat yang digunakan sebagai lokasi syuting, terutama kawasan yang jarang didatangi manusia.
Produksi film laga pada masa itu juga penuh risiko karena banyak adegan dilakukan secara nyata. Ledakan dibuat menggunakan perlengkapan manual, bangunan benar-benar dibakar, dan para pemain harus melakukan berbagai gerakan tanpa bantuan efek komputer seperti sekarang. Salah satu adegan berbahaya bahkan hampir merenggut nyawa Mas Kenken.
Dalam adegan tersebut, tubuh Mas Kenken diangkat menggunakan sling setinggi sekitar tiga meter di sebuah gedung bioskop yang sudah tidak terpakai. Tali itu tiba-tiba putus dan membuatnya jatuh keras. Hidungnya patah, wajahnya berlumuran darah, tangannya membengkak, dan beberapa bagian tubuhnya mengalami cedera hingga ia harus dibawa ke rumah sakit.
Selama bertahun-tahun memerankan Wiro Sableng, Mas Kenken merasa karakter tersebut mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya. Gaya berjalan, pandangan mata, kebiasaan berbicara sendiri, dan tingkah laku Wiro terkadang masih terbawa setelah syuting selesai. Ia harus menenangkan diri, mengontrol pikiran, dan melakukan meditasi agar dapat kembali menjadi dirinya sendiri.
Mas Kenken mengaku tidak menjalani pesugihan untuk mendapatkan peran tersebut. Namun selama berada di lingkungan perfilman, ia beberapa kali menyaksikan benda-benda yang dikaitkan dengan praktik spiritual. Seorang aktor senior pernah memperlihatkan keris yang telah dirapalkan dan dikatakan mempunyai kodam karena bayangannya terlihat menjadi dua ketika diletakkan di bawah cahaya.
Aktor senior itu juga menunjukkan dua helai benda menyerupai rambut yang disebut buluh perindu. Ketika dimasukkan ke dalam wadah berisi air, kedua helai tersebut bergerak dan saling melilit. Menurut penjelasan pemiliknya, benda itu berkaitan dengan ilmu pemikat, meskipun Mas Kenken hanya menyampaikan kejadian tersebut sebagai pengalaman yang pernah ia saksikan.
Seorang sahabatnya yang juga aktif di dunia film pernah menunjukkan jenglot, rantai babi, dan sejumlah benda pusaka. Sahabat tersebut dikenal mendalami dunia supranatural, melakukan tapa dalam ruangan gelap, dan menggunakan beberapa media untuk membantu terapi. Mas Kenken mengaku tidak memakai benda-benda itu, tetapi pernah melihatnya secara langsung.
Sekitar tujuh tahun sebelum wawancara tersebut, Mas Kenken bersama tim mengunjungi sebuah hutan di pedalaman Kalimantan untuk mencari lokasi syuting. Setelah berjalan hampir satu kilometer, seorang anggota tim yang dianggap mempunyai kepekaan spiritual tiba-tiba meminta semua orang kembali. Ia mengaku melihat sosok besar menyerupai Buto Ijo yang melarang rombongan melanjutkan perjalanan karena dapat mengalami kecelakaan.
Mas Kenken juga pernah melihat seorang pekerja seni memakan bunga kantil sebelum pengambilan gambar. Ia tidak mengetahui apakah kebiasaan tersebut merupakan bagian dari ritual atau sekadar kesukaan pribadi. Menurutnya, memang ada orang-orang di dunia hiburan yang mempercayai ajian, pusaka, ilmu pemikat, atau pendamping ghaib, tetapi hal itu tidak berarti seluruh artis menggunakan cara yang sama.
Di balik popularitas Wiro Sableng, perjalanan hidup Mas Kenken tidak selalu berada di puncak. Memasuki masa krisis moneter, produksi film menurun dan ia mulai terbawa pergaulan malam. Selama hampir dua tahun, tabungan, kendaraan, dan berbagai hasil kerja kerasnya habis, sedangkan kehidupan keluarga turut mengalami keretakan.
Mas Kenken membutuhkan waktu sekitar 18 tahun untuk memulihkan dirinya. Ia kembali ke kampung, bertani, menanam pisang, jagung, dan sayuran, serta memilih menyembunyikan identitasnya sebagai mantan aktor. Setelah memperoleh dukungan dari orang terdekat, ia perlahan berani muncul kembali dan menerima beberapa tawaran tampil di layar kaca.
Dari seluruh perjalanannya, Mas Kenken menyimpulkan bahwa lawan paling berat bukanlah musuh yang terlihat, melainkan keinginan di dalam diri sendiri. Filosofi angka 212 mengingatkannya bahwa kehidupan selalu memiliki dua sisi yang berlawanan, tetapi semuanya berada dalam kuasa Tuhan. Ia berpesan agar manusia tidak lupa kepada Sang Pencipta ketika berada di puncak, karena kekayaan, ketenaran, dan kemudahan dapat hilang apabila seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
