Teh Fani datang dari Bandung membawa satu kisah yang ia simpan rapat sejak 2023—kisah tentang toko sayur dan buah di komplek perumahan yang awalnya berjalan lancar, sampai tiba-tiba seperti “ditutup” oleh sesuatu yang tak kasatmata. Ia dan suaminya sama-sama berkutat di dunia sayuran; suaminya menyuplai dari petani dan pasar besar, sementara Teh Fani menjaga toko yang biasanya ramai sejak pagi.
Hari pertama kejanggalan itu muncul, Teh Fani membuka rolling door seperti biasa. Namun begitu pintu terangkat, ruangan seperti penuh asap hitam pekat—anehnya tanpa bau. Ia mengira tetangga membakar sampah, tapi suaminya sama sekali tidak melihat apa pun. Teh Fani berusaha tenang, membaca doa sebisanya, dan asap itu mendadak hilang begitu saja.
Yang membuatnya terpukul bukan hanya asap, melainkan dampaknya: dari pagi sampai sore, tidak ada satu pun pembeli datang. Untuk dagangan sayur, ikan, dan daging yang harus selalu segar, sehari tanpa transaksi sudah terasa seperti luka. Teh Fani masih mencoba berpikir positif—mungkin hanya sedang sepi.
Keesokan harinya, mereka kembali buka. Kali ini yang menyambut justru taburan tanah merah mengelilingi area toko, padahal sekelilingnya aspal dan teras keramik. Lebih menjijikkan lagi, tercium bau kotoran manusia yang menyengat. Suaminya membersihkan sambil membaca doa, tapi hasilnya sama: toko “hidup” secara fisik, namun mati secara rezeki—tidak ada pembeli sama sekali.
Hari ketiga, mereka nekat tetap belanja stok baru. Namun mulai muncul hal yang membuat Teh Fani merinding: beberapa pelanggan mengirim pesan menanyakan kenapa tokonya tutup terus. Padahal Teh Fani berdiri di sana, menunggu pembeli, dengan pintu terbuka. Pesan semacam itu datang dari beberapa orang, seolah mata mereka benar-benar tidak melihat toko yang sedang dibuka.
Malamnya, suami Teh Fani memutuskan mencari bantuan—menemui seseorang yang dikenal sebagai “Abah”. Teh Fani tinggal sendiri di rumah karena anak-anak sedang menginap. Di rumah yang biasanya terasa biasa itu, ia mendadak merasa hawa berubah: dingin, sunyi, seperti ada tangis samar. Puncaknya, terdengar bunyi keras di atas atap seperti ledakan berulang kali. Ia panik, menangis, memohon suaminya cepat pulang.
Suaminya pulang membawa air yang sudah didoakan, garam kasar, dan sebuah bungkusan kain putih yang diminta disimpan sebagai “penjaga” di toko. Keesokan harinya mereka bersih-bersih dengan ikhtiar itu—dan ajaibnya, pembeli kembali normal, dagangan habis seperti dulu. Untuk sesaat, Teh Fani merasa semuanya sudah selesai.
Ternyata gangguan hanya berganti bentuk. Beberapa minggu kemudian, pembeli masih ramai, tetapi yang diserang adalah barang dagangan. Ada pelanggan mengeluh ayam yang baru dibeli ternyata penuh belatung. Saat dicek, bukan satu bungkus—hampir semua stok terkena. Hari-hari berikutnya pola itu terulang, sampai suaminya pun mengalami hal serupa: sayur yang baru dipanen mendadak tidak layak jual saat sampai pasar. Modal tergerus, utang mulai menumpuk, dan kepala mereka makin panas.
Karena terdesak, mereka kembali ke Abah. Di ruang tunggu, Teh Fani melihat sesuatu yang membuatnya gelisah: orang-orang yang baru selesai bertamu tampak seperti sedang membagi uang dalam jumlah besar, dan obrolannya menyentuh “ritual penarikan uang”. Saat itulah Abah menawarkan hal yang sama kepada mereka—seolah itu jalan keluar tercepat dari tekanan ekonomi.
Suami Teh Fani menyanggupi tirakat tertentu. Teh Fani sendiri sebenarnya menolak dalam hati, tapi tidak berani melawan karena keadaan rumah tangga sudah di ujung: penagih datang, usaha terancam, dan mereka butuh napas. Dalam masa tirakat itu, Teh Fani mengalami kejadian yang membuat tubuhnya seperti dikunci—ia melihat tiga sosok di rumah: satu perempuan cantik berbusana seperti bangsawan namun bagian bawahnya ular, satu perempuan tua berkebaya, dan satu bayangan hitam tinggi. Ia jatuh gemetar, sementara suaminya justru tersenyum seolah yakin “pintu” sudah terbuka.
Abah kemudian mengatakan ada kaitan besar: sosok yang menampakkan diri justru “tertarik” pada Teh Fani, sehingga proses penarikan dana gaib lebih “cepat” jika Teh Fani yang menjalani. Teh Fani kesal, takut, tapi posisinya seolah sudah terseret terlalu jauh.
Ritual pun berjalan beberapa kali. Pada salah satu malam, Teh Fani seperti melihat rombongan orang berpakaian kerajaan mendekat menaiki kereta kencana. Ada benda putih bercahaya yang terasa “ditanamkan” ke dirinya, membuat tubuhnya seperti dialiri sesuatu yang asing—dan Abah menyebutnya sebagai tanda keberhasilan yang tinggal selangkah lagi.
Di malam berikutnya, teror lebih keras: sosok hitam besar muncul, memukul dadanya sampai ia terpental ke tembok. Dalam ketakutan, ia tetap memaksa melanjutkan bacaan yang diperintahkan. Setelah suasana mereda, ia membuka mata dan melihat pemandangan yang membuatnya nyaris pingsan: nampan beralas daun sirih yang disiapkan mendadak penuh tumpukan uang, pecahan besar, terasa nyata saat disentuh. Namun begitu ia refleks mengambil dari atas, uang itu lenyap lagi seperti disedot balik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Saat ia melapor, Abah justru berkata cara mengambilnya “tidak tepat”. Teh Fani sudah terlalu lelah dan takut untuk mengulang. Puncaknya, Abah menyimpulkan ritual mereka gagal: ada leluhur pihak Teh Fani yang tidak merestui, dan Teh Fani sendiri menjalani semua itu tanpa keyakinan penuh. Pulanglah mereka dengan kecewa, lalu pertengkaran di rumah pecah—bahkan sempat hampir berujung perpisahan.
Teh Fani mengira berhenti berarti aman. Nyatanya, setelah mereka memutuskan menutup semua urusan “penarikan”, teror justru membesar. Teh Fani mulai sering kesurupan, mendengar suara-suara, dan anak-anak pun ikut ketakutan—berulang kali menyebut melihat ular, namun ketika dikejar, “ular” itu hilang begitu saja.
Malam-malamnya berubah jadi siksaan. Teh Fani terus-menerus mimpi dililit ular besar, bangun selalu di jam yang sama dengan napas tersengal. Pernah pula ia merasa suaminya pulang dan memeluk dari belakang, tubuhnya terasa dingin tak wajar—lalu tiba-tiba ada ketukan pintu lagi dan suara suaminya memanggil dari luar. Saat menoleh, sosok yang memeluknya sudah menghilang.
Tubuh Teh Fani kemudian ikut “runtuh”: ia muntah darah, buang air berdarah, bolak-balik ke IGD, tapi pemeriksaan medis berkali-kali menyatakan “tidak ada apa-apa”. Di satu malam saat kumpul keluarga, Teh Fani pingsan lama. Ia merasa seperti keluar dari tubuh, melihat dirinya sendiri tergeletak, lalu ada sosok putih melambaikan tangan mengajak pergi. Tepat saat ia hendak “melewati pintu”, suara orang-orang membaca Yasin terdengar, dan ia seperti ditarik paksa kembali. Setelah sadar, keluarga bilang ia tidak sadar berjam-jam dan kondisinya sempat mengerikan.
Akhirnya mereka memilih ikhtiar lain: ruqyah di pesantren. Dalam proses itu, Teh Fani kembali kesurupan dan sosok yang merasuki meminta “telur matang” (yang dimaknai sebagai simbol tertentu oleh ustaz). Keanehan lain muncul: dari baskom air putih tiba-tiba muncul serangga kecil berwarna keemasan. Ustaz menegaskan akar masalahnya terkait “portal” yang sudah terlanjur terbuka akibat ritual sebelumnya—dan Teh Fani jadi mudah dimasuki gangguan.
Sejak rangkaian ruqyah dan tobat itu, hidup Teh Fani perlahan normal. Kesurupan berhenti, kesehatan membaik, dan mereka akhirnya pindah rumah karena trauma. Usaha tetap berjalan lagi, pembeli kembali wajar, dan mereka memilih bertahan dengan cara yang lebih lurus—meski harus pelan-pelan membayar utang dan menata ulang hidup.
Teh Fani menutup kisahnya dengan satu pelajaran yang terasa pahit: persaingan usaha bisa membuat orang lain iri, bahkan dengki sampai ingin menghancurkan. Tapi mencari jalan pintas dengan ritual juga bukan solusi—kalau pun “nyaris berhasil”, yang dibayar bisa ketenangan, keluarga, bahkan nyawa. Bagi Teh Fani, daun sirih yang sempat berubah menjadi uang itu bukan pertanda rezeki—melainkan peringatan bahwa ada pintu yang seharusnya tidak pernah dibuka.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
