Tahun 2003, Kang Ade masih hidup serabutan. Apa pun kerja halal ia ambil—yang penting dapur tetap ngebul. Di pasar, ia bukan pedagang tetap, lebih sering bantu-bantu: angkut barang, bersih-bersih, ikut siapa pun yang butuh tenaga.
Di tengah rutinitas itu, Kang Ade bertemu lagi dengan teman lama bernama Abdul. Mereka sudah lama sekali tidak bersua—sekitar sepuluh tahun. Pertemuan itu hangat; mereka saling peluk, saling tanya kabar keluarga, lalu kembali ke urusan masing-masing.
Abdul terlihat seperti orang yang “punya pegangan”. Ia bilang sekarang berdagang sembako. Tapi dari cara bicaranya, Kang Ade menangkap ada beban yang disembunyikan. Seolah Abdul tidak sedang menikmati hasil dagang, melainkan sedang dihajar oleh tekanan yang tak kelihatan.
Seminggu setelah pertemuan di pasar, Abdul benar-benar datang ke rumah Kang Ade. Wajahnya kusut. Baru duduk sebentar, ia membuka keluhannya: jualannya sepi, pembeli cuma lihat-lihat, stok sembako pun terbatas karena modal seret. Bukan sekadar lesu—Abdul seperti orang yang sudah bosan hidup begini.
Kang Ade mencoba menenangkan. Mengingatkan Abdul tentang sabar, tentang jalan pelan-pelan. Tapi Abdul memotong semua nasihat itu dengan satu permintaan yang membuat dada Kang Ade dingin: ia ingin “jalan pintas”.
Abdul mengajak Kang Ade ikut melakukan pesugihan sistem kontrak umur. Ia bilang kontraknya bukan untuk istri, bukan untuk anak—cukup dirinya sendiri. Lima tahun saja. Habis itu, urusan belakangan. Yang penting saat ini ia bisa kaya, bisa mengangkat derajat, bisa membahagiakan keluarga.
Kang Ade kaget, tapi Abdul sudah bulat. Mereka berangkat ke sebuah tempat di Jawa Barat. Menjelang magrib, mereka bertemu seorang kakek bongkok yang dipanggil “Abah”. Abah seperti sudah tahu maksud mereka, bahkan menegur Abdul karena berpikir instan dan ingin cepat.
Di situ Abah memaparkan syarat-syarat ritual: hewan berkaki empat bisa sapi atau kambing, ayam, kembang tujuh rupa, buah-buahan, air kelapa hijau, kopi manis-pahit, teh manis-pahit, susu putih dan susu coklat. Abdul memilih paket “cepat” dengan sapi—dan total maharnya disebut sampai sekitar 65 juta, sudah termasuk perlengkapannya.
Malam itu juga ritual dimulai di dalam gua. Kang Ade yang hanya mengantar sempat ingin tidur dan tidak ikut, tapi Abah meminta ia tetap berada di dalam sebagai saksi. Pesan Abah tegas: apa pun yang terjadi, jangan lari. Kalau lari, gagal dan tidak bisa diulang.
Malam pertama, gangguan dimulai dengan suara lemparan batu dari dalam gelap. Kang Ade menahan panik karena dilarang menyebut asma-asma tertentu. Tidak lama, muncul ular besar yang melilit badan Abdul dari bawah sampai ke kepala. Kang Ade melihat Abdul gemetar ketakutan, tapi Abdul bertahan dan tidak kabur.
Malam kedua lebih mengerikan. Ular itu datang lagi, berdiri tegak, lalu berubah menjadi sosok perempuan cantik seperti permaisuri. Pakai mahkota, pakaian merah marun, berselendang bunga yang mirip kantil. Kang Ade mendengar dialog pelan antara Abdul dan sosok itu. Sosok tersebut menegaskan: tidak ada tumbal, hanya kontrak.
Kontraknya lima tahun. Tapi ada kalimat yang menampar nalar Kang Ade: setelah kontrak selesai, Abdul “akan ikut mereka” karena sudah ditandai dan disorot bangsa itu. Abdul tetap nekat.
Malam ketiga, sosok itu muncul lagi dan menyerahkan sebotol air. Pesannya singkat tapi tajam: air itu disiramkan saat membuka toko. Kalau habis, tinggal “diisi” lagi dengan cara tertentu—dan Abdul dilarang lupa pada perjanjian.
Setelah keluar dari gua, Kang Ade merasa lega sekaligus bersalah. Ia pulang ke rumah, dan Abdul pun kembali ke keluarganya. Mereka sempat putus kabar beberapa bulan.
Tiga bulan kemudian, Kang Ade mendatangi toko Abdul. Ia tercengang: toko sembako Abdul ramai luar biasa, antrean silih berganti. Barang dagangan bertambah lengkap, dari sembako dasar sampai kebutuhan lain. Abdul terlihat “jadi bos”—bukan lagi pedagang yang bingung menutup modal.
Kang Ade sempat mampir ke rumah Abdul. Rumahnya sudah bagus, bertingkat, mobilnya bagus, dan yang paling mencolok: Abdul disebut membuka cabang sampai delapan toko. Di titik itu, Kang Ade merasa campur aduk—lega karena temannya sukses, tapi takut karena ia tahu pintu yang dipakai bukan pintu biasa.
Namun masa manis itu tidak bertahan selamanya. Mendekati akhir kontrak, Abdul mulai murung dan sering pegang kepala. Ia mengaku sering “didatangi” lagi. Ia juga berpesan pada Kang Ade: kalau nanti ia sakit atau meninggal, jangan ribut-ribut, jangan heboh, dan jangan ceritakan ke banyak orang.
Beberapa bulan setelah itu, kabar buruk datang: Abdul sakit aneh sudah hampir tiga bulan. Kang Ade mendatangi toko, dan dari karyawannya ia dengar sang bos tidak bisa kerja. Kios-kios cabang mulai dijual untuk menutup kebutuhan.
Kang Ade menyusul ke rumah Abdul. Ia melihat sendiri kondisi temannya: kulitnya memutih, mengelupas, lalu muncul sisik-sisik merah sampai ke kaki—seperti kulit ular. Obat dokter menumpuk, tapi tidak ada yang benar-benar mempan.
Istri Abdul—Umi—menangis dan mengaku melihat penampakan: sosok “ular” yang sudah berubah wujud seperti manusia, datang dan memanggil Abdul untuk pulang “bersama-sama”. Seolah kontrak sudah habis dan penjemputan dimulai.
Satu per satu aset hilang. Mobil tidak ada. Rumah bagus tinggal kenangan. Abdul yang dulu bergelimang harta kembali hidup sederhana, bahkan sempat disebut mengontrak. Semua yang datang dalam lima tahun itu seperti dicabut bersamaan dengan habisnya waktu perjanjian.
Tak lama menjelang masa lima tahun selesai, Abdul meninggal. Sesuai pesan almarhum, keluarganya tidak memberi kabar pada banyak orang. Kang Ade baru tahu belakangan, dan ia hanya bisa menelan sesal karena merasa pernah ikut mengantar.
Yang paling membuat merinding: setelah Abdul wafat, istrinya mengaku melihat sesuatu saat jenazah hendak dimandikan—tampak wujud ular, dan ada sisik-sisik yang membuatnya takut untuk menyimpan apa pun. Bahkan ada cerita lanjutan yang membuat Umi makin terpukul: kuburan almarhum sempat terasa “kosong” dalam mimpi, seolah ada bagian yang belum benar-benar selesai.
Kang Ade menutup kesaksiannya dengan penyesalan yang jujur. Ia merasa bersalah walau hanya mengantar. Dari kisah Abdul, ia menarik satu pelajaran keras: jalan pintas memang bisa membuat orang kaya mendadak—bahkan sampai punya delapan cabang—tapi waktu perjanjian selalu berjalan. Dan saat kontrak habis, yang ditarik bukan cuma uang… melainkan tubuh, ketenangan, keluarga, dan akhirnya hidup itu sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
