Kisah Ibu Fatimah bermula jauh sebelum teror itu datang ke rumahnya. Saat masih muda, ia bertemu dengan Edi di sebuah diskotek. Edi bukan laki-laki mapan, bahkan saat itu ia masih menganggur. Namun karena sering ikut dalam lingkaran pergaulan Ibu Fatimah, Edi perlahan menjadi sosok yang selalu ada di dekatnya.
Bagi Ibu Fatimah muda, Edi bukan cinta yang besar. Ia hanya merasa nyaman karena Edi sering menemani dan menjaganya ketika pergi ke tempat hiburan. Namun hubungan pertemanan itu terdengar oleh keluarga besar. Mereka khawatir melihat kedekatan tersebut, lalu akhirnya berunding dan memutuskan agar Ibu Fatimah dinikahkan dengan Edi.
Saat itu Ibu Fatimah masih kelas 2 SMA. Ia belum siap menjadi istri, apalagi menjadi seorang ibu. Namun Edi membujuknya dengan janji kebebasan: jika menikah, mereka bisa pergi ke mana saja tanpa dimarahi keluarga. Dalam pikiran remajanya yang masih labil, bujukan itu terdengar seperti jalan keluar. Akhirnya pernikahan pun terjadi, dengan seluruh biaya ditanggung keluarga Ibu Fatimah.
Di awal pernikahan, kehidupan mereka masih dibantu oleh ibu Ibu Fatimah. Setiap bulan ada uang yang dikirim untuk kebutuhan rumah tangga. Namun karena gaya hidup mereka masih penuh hiburan dan foya-foya, uang itu cepat habis. Lama-lama keluarga Ibu Fatimah berhenti membantu, dan dari sanalah kenyataan pahit mulai terasa.
Kontrakan habis, teman-teman mulai menjauh, dan mereka tidak punya tempat aman untuk kembali. Edi kemudian mengajak Ibu Fatimah tinggal di rumah orang tuanya. Rumah itu kecil, sementara penghuni di dalamnya sangat banyak. Mereka tidur berdesakan, hidup dalam kondisi sempit, dan untuk makan sehari-hari pun sering kali harus berebut nasib.
Di rumah mertua itulah Ibu Fatimah mulai benar-benar belajar pahitnya hidup. Dari perempuan yang dulu tidak pernah mengurus rumah, ia berubah menjadi seseorang yang harus mencuci, menyetrika, membersihkan rumah orang, bahkan memijat demi sesuap nasi. Bukan lagi untuk bersenang-senang, bukan lagi untuk diskotek, melainkan agar perut bisa tetap terisi.
Setelah hamil dan memiliki anak, Ibu Fatimah mulai sadar bahwa ia tidak mungkin terus hidup menumpang di rumah mertua. Ia mengajak Edi mengontrak rumah kecil. Tempat itu sempit, semua dilakukan dalam satu ruangan: tidur, memasak, menyimpan barang, dan menjalani hidup. Kamar mandi pun harus berbagi dengan penghuni lain.
Meski miskin, pada awalnya Edi belum seburuk kemudian hari. Ia masih kadang membantu, masih bisa diajak bicara, dan belum terlalu kasar. Namun hidup mereka tetap berat. Bayar kontrakan sering menunggak, makan seadanya, dan anak mereka yang masih kecil harus tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
Pada tahun 2000, ketika anak pertama mereka berusia sekitar tiga tahun, Edi tiba-tiba menyampaikan niat yang membuat Ibu Fatimah bingung. Ia ingin ikut pesugihan bersama seseorang bernama Pak Asep. Ibu Fatimah yang saat itu masih awam bahkan belum memahami apa itu pesugihan. Ia hanya mendengar penjelasan sederhana dari Edi bahwa mereka akan “memberi makan” makhluk halus, lalu nanti akan diberi uang.
Karena sedang miskin dan tidak benar-benar paham bahayanya, Ibu Fatimah mengizinkan. Ia membayangkan Edi akan pulang membawa uang dan kehidupan mereka membaik. Biaya ritual pun disebut akan ditanggung oleh Pak Asep. Edi lalu pergi selama beberapa waktu, meninggalkan Ibu Fatimah dan anak mereka di kontrakan kecil itu.
Malam pertama setelah Edi pergi masih terasa biasa. Namun malam berikutnya, anak Ibu Fatimah mulai mengatakan ada banyak teman di luar rumah yang datang menjemputnya bermain. Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa pun. Suasana sunyi, tidak ada suara anak-anak, tidak ada ketukan, tidak ada tanda manusia lain.
Kejadian berikutnya lebih menakutkan. Saat Ibu Fatimah mencuci piring sebentar, ia kembali dan melihat anaknya bermain kelereng sambil tertawa sendiri. Anak itu mengaku sedang bermain dengan teman-temannya, padahal ruangan kosong. Ia bahkan bercerita ada yang memainkan kelereng dengan lidah, membuat Ibu Fatimah mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Pada malam lain, Ibu Fatimah sengaja menidurkan anaknya sebelum magrib karena takut kejadian itu terulang. Namun ketika ia tertidur sambil memeluk anaknya, terdengar suara tawa dan langkah-langkah kecil di sekitar kasur. Saat membuka mata, ia melihat tiga sosok anak kecil bersiluet aneh, bertelinga runcing, bermata merah, dan salah satunya menjulurkan lidah panjang. Tubuhnya kaku seperti ketindihan, tak mampu berteriak.
Karena ketakutan, Ibu Fatimah membawa anaknya ke rumah orang tua. Ia berharap gangguan berhenti jika pindah tempat. Namun di rumah itu, adik perempuannya justru menjerit ketakutan karena melihat perempuan berambut panjang dan berkuku hitam di atas akuarium. Sejak saat itu, Ibu Fatimah mulai sadar bahwa apa pun yang mengikuti mereka tidak hanya tinggal di kontrakan.
Tak lama setelah itu, anak Ibu Fatimah jatuh sakit. Tubuhnya panas tinggi, matanya kosong, dan ia seperti terus menatap sudut ruangan. Dokter hanya menyebut demam biasa, tetapi Ibu Fatimah tahu ini bukan sekadar sakit biasa. Teror semakin jelas ketika di rumah orang tuanya ia melihat tangan besar hitam berkuku panjang muncul dari jendela nako, membuatnya pingsan karena ketakutan.
Puncaknya terjadi ketika pembantu rumah tangga di rumah orang tua Ibu Fatimah tiba-tiba kesurupan. Ia melompat-lompat seperti bukan dirinya sendiri dan menunjuk anak Ibu Fatimah, mengatakan bahwa anak itu harus mati sebagai tumbal untuk memenuhi keinginan bapaknya. Ibu Fatimah panik dan memeluk anaknya erat-erat, takut sesuatu benar-benar akan mengambil nyawa anak kecil itu.
Seorang ustaz kemudian dipanggil. Dengan doa dan air yang dibacakan, pembantu itu perlahan sadar. Anak Ibu Fatimah juga didoakan, dimandikan dengan air yang sudah dibacakan doa, dan seketika seperti ada sesuatu yang lepas dari tubuhnya. Anak itu langsung mencari ibunya dan minta digendong. Ustaz tersebut hanya berkata bahwa yang penting anak itu sudah selamat, dan bapaknya nanti akan pulang dalam keadaan kapok.
Setelah itu, anak Ibu Fatimah menjadi semakin peka. Dalam perjalanan pulang, ia menunjuk area kuburan dan mengatakan ada orang berdarah terbaring di tanah. Di pasar, ia menunjuk orang-orang tertentu dan menyebutnya seperti binatang. Ibu Fatimah merasa kemampuan melihat hal gaib itu muncul akibat pintu yang dibuka oleh ritual Edi.
Beberapa hari kemudian, Edi pulang menjelang subuh. Tubuhnya kurus, kusut, dan seperti kurang tidur. Ia menangis, memeluk anaknya, lalu meminta maaf berulang-ulang. Saat ditanya, Edi akhirnya bercerita bahwa ia dan Pak Asep pergi ke sebuah tempat di daerah Ciamis untuk melakukan pesugihan. Di sana ia menjalani puasa dan ritual di dekat sungai, serta diganggu berbagai sosok hitam besar dan suara-suara menyeramkan.
Dalam ritual itu, Edi mengaku didatangi perempuan cantik seperti putri, memakai kebaya, mahkota, dan selendang kuning. Sosok itu meminta Edi menikah dengannya dan menyediakan syarat tertentu setiap bulan purnama. Edi terpesona sekaligus takut, hingga akhirnya proses berlanjut pada tahap menangkap ikan dalam wadah. Ketika ia hendak menyembelih ikan kecil yang mendekat, tiba-tiba wajah ikan itu berubah menjadi wajah anaknya sendiri.
Edi langsung sadar dan menyebut nama Allah. Seketika suasana ritual kacau, angin kencang datang, tanah seperti bergetar, dan kuncen marah karena ritual dianggap gagal. Edi kemudian memperingatkan Pak Asep bahwa ikan yang harus disembelih bukan ikan biasa, melainkan keluarga sendiri. Namun Pak Asep tidak mendengarkan dan tetap menyelesaikan ritualnya.
Saat menunggu Pak Asep selesai, Edi sempat melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Di kontrakan tempat mereka tinggal sementara, Pak Asep melakukan ritual sendiri. Dari kamar sebelah, Edi mencium bau amis busuk dan mendengar suara aneh dari atap. Ketika ia mengintip, ia melihat tubuh Pak Asep dibelit ular besar dalam keadaan yang tidak wajar. Pemandangan itu membuat Edi ketakutan dan akhirnya pulang ke rumah.
Sejak pulang dari ritual gagal itu, sifat Edi berubah drastis. Ia menjadi temperamental, kasar, mudah meledak, dan mulai melakukan kekerasan. Selama bertahun-tahun rumah tangga Ibu Fatimah tidak lagi sehat. Meski kemudian kehidupan mereka sempat membaik dari hasil kerja Ibu Fatimah sendiri, Edi justru semakin banyak berbohong, berjudi, berselingkuh, dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Puncak kekerasan membuat Ibu Fatimah akhirnya memilih pergi dan meminta perlindungan keluarga. Ia bercerai, meninggalkan rumah, harta, mobil, dan semua kenyamanan yang pernah ia bangun. Bagi Ibu Fatimah, semua perubahan buruk Edi tidak bisa dilepaskan dari pesugihan yang pernah ia jalani. Jalan gelap yang awalnya dikira bisa mengangkat mereka dari kemiskinan justru membawa gangguan, ancaman tumbal, rusaknya batin anak, kehancuran rumah tangga, dan penyesalan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
