Mas Saleh tidak pernah menyangka telepon dari Abah—seorang spiritual yang ia kenal—akan menyeretnya ke pengalaman paling ganjil dalam hidupnya. Waktu itu tahun 2025, bulan Februari. Mas Saleh baru pulang kerja dari swalayan, masih santai di teras sambil ngopi dan ngerokok, ketika Abah menelpon dan minta ia datang ke rumah besok malam. Abah tidak menjelaskan detailnya, hanya bilang, “Nanti di rumah aja ceritanya.”
Keesokan malamnya, Mas Saleh datang. Di rumah Abah, sudah ada “pasien”: pasangan suami istri bernama Pak Joko dan Bu Tari (nama disamarkan). Wajah mereka tampak lelah—bukan capek fisik, tapi capek hidup. Abah memperkenalkan Mas Saleh sebagai orang yang biasa ikut mendampingi urusan spiritual, lalu Pak Joko mulai membuka cerita: usaha furniturnya bangkrut, dan yang paling menghancurkan, ia tertipu investasi bodong sampai kerugiannya sekitar dua miliar rupiah.
Utang menumpuk. Mereka sudah coba pinjam sana-sini, tapi justru makin dikejar-kejar karena tidak sanggup bayar. Pak Joko dan Bu Tari datang dengan satu permintaan: “Tolong bantu, Bah… gimana caranya supaya bisa balik lagi kayak semula.” Abah mendengarkan, lalu menawarkan satu jalan yang terdengar “ringan” dibanding cerita-cerita pesugihan yang biasa orang dengar: penarikan uang gaib.
Pak Joko sempat ragu karena ia sudah sering dengar ritual semacam itu butuh biaya jutaan. Tapi Abah justru bilang, maharnya kecil—sekitar tiga ratus ribu rupiah saja—untuk membeli syarat sederhana: minyak duyung, kelapa muda, dan kembang tujuh rupa. Mas Saleh sendiri kaget: kok sesimpel itu? Tapi Abah seperti sudah yakin, seolah yang penting bukan mahalnya mahar, melainkan “jalurnya” terbuka atau tidak.
Malam berikutnya, mereka berangkat ke lokasi di daerah Jawa Barat. Rombongan awalnya empat orang: Abah, Mas Saleh, Pak Joko, dan Bu Tari. Mereka masuk ke jalan-jalan gelap jauh dari penduduk, kiri-kanan pohon rindang. Di tengah perjalanan, Mas Saleh sempat berhenti beli kelapa muda sekitar pukul 00.30—penjualnya bahkan heran, “Buat apa beli kelapa malam-malam begini?” Sejak momen itu, Mas Saleh merasa perjalanan seperti sudah diperhatikan banyak mata.
Belum sampai lokasi, motor Pak Joko mendadak mogok padahal bensin penuh. Abah minta air, lalu komat-kamit sekitar lima menit, airnya disiramkan ke motor. Dua menit kemudian motor nyala lagi. Bagi Mas Saleh, itu pertanda pertama bahwa malam itu tidak akan berjalan normal.
Mereka sampai di rumah seorang yang disebut Abah Mamad (nama disamarkan). Abah Mamad sudah berdiri di depan, seolah menunggu. Ia menyambut mereka, lalu masuk ke kamar sebentar, lalu keluar dan berkata, “Silakan, sudah ditunggu di ruangan itu.” Kalimat “sudah ditunggu” itulah yang bikin Mas Saleh merinding—karena yang menunggu jelas bukan manusia.
Tepat tengah malam, mereka masuk ke ruangan yang disebut sebagai “gudang duit.” Dari luar tampak biasa, tapi Abah mengatakan ia sudah “membukakan pintu” agar jalur terbuka. Dupa dinyalakan, syarat diletakkan di depan, semua duduk bersila. Abah berpesan pada Pak Joko dan Bu Tari: jangan panik, dan kalau uang muncul, harus segera disiram air kelapa.
Saat ritual berlangsung, Mas Saleh merasa seperti “ditarik” ke alam lain. Suhu mendadak dingin seperti dingin yang bukan milik dunia nyata. Ia melihat suasana seperti hutan bambu, lalu datang kakek berbaju hitam, blangkon, berjenggot putih—seolah pemandu. Kakek itu membawanya melewati gerbang bercorak ukiran Jawa seperti pintu keraton bata merah. Di balik gerbang pertama, ada macan putih berjaga. Gerbang kedua terbuka sendiri seperti ditiup angin, dan di situlah Mas Saleh melihat pemandangan yang membuatnya bengong: uang menumpuk segudang—pecahan ratusan ribu—seperti benar-benar sebuah “gudang.” Ia terpaku sekitar sepuluh menit, lalu dituntun kembali.
Mas Saleh tersentak balik ke alam nyata. Tidak lama setelah itu, di ruangan ritual muncul sosok tinggi besar hitam bertanduk, mata merah, bertaring—dan seolah meletakkan uang di depan Pak Joko dan Bu Tari. Bu Tari mendadak kesurupan, gerung-gerung seperti macan. Uang bertumpuk di depan mereka, terlihat jelas… tapi Pak Joko panik dan lupa menyiram uang itu dengan air kelapa seperti amanat Abah.
Uang itu tidak hilang sekaligus. Mas Saleh melihatnya menyusut pelan-pelan, seperti “dihisap”, sampai lenyap. Abah menegur Pak Joko: kenapa amanatnya tidak dijalankan? Pak Joko cuma bisa minta maaf—ia terlalu panik melihat sosok hitam tadi.
Abah Mamad akhirnya menyarankan mereka kembali lagi besok malam. Dan mereka pun berangkat untuk percobaan kedua—kali ini jumlah orang bertambah jadi enam, karena ada pasangan lain ikut: Pak Amir dan Bu Neni. Keanehan terulang: motor pasangan baru ini justru yang mogok, dan kembali nyala setelah disiram air yang sudah Abah bacakan.
Malam kedua, gangguan di ruangan makin jelas. Mas Saleh mendengar suara garukan di pintu seperti cakar kucing, lalu ada sesuatu berputar mengelilingi mereka sambil mengelus tangan Mas Saleh—kuku panjang, dingin, membuatnya membeku. Ia kembali “ditarik” ke alam lain, tapi kali ini kakek pemandu justru marah dan menyuruhnya pulang.
Saat Mas Saleh kembali sadar di ruangan, sosok hitam bertanduk itu datang lagi—kali ini membawa buntelan kain/plastik hijau seperti bungkusan zaman dulu. Uangnya disebut sekitar dua miliar, tidak sebanyak malam pertama, tapi jelas besar. Lagi-lagi Bu Tari pingsan, Pak Joko panik, dan lagi-lagi lupa menyiram uang dengan air kelapa.
Namun ada faktor lain yang memperparah: di luar ruangan, pasangan tambahan ribut membahas pembagian uang padahal uangnya belum benar-benar jadi. Abah marah besar—menurutnya, “belum apa-apa sudah ribut bagian.” Sosok yang datang pun seperti murka, dan uang lenyap lagi. Abah menutup ritual: berhenti. Tidak dilanjutkan.
Mereka pulang menjelang pagi. Di jalan, Abah sempat mendapat “bisikan batin”: jika melihat kucing seperti habis kecelakaan yang ngesot di jalan, jangan berhenti menolong—langsung lewat saja. Dan benar, di tengah jalan mereka melihat kucing dalam kondisi persis seperti itu. Abah memilih lurus, tidak berhenti, karena takut itu jebakan yang bisa mencelakakan rombongan.
Akhirnya Abah menyampaikan kesimpulan: ritual gagal karena dua hal—amanat air kelapa tidak dijalankan, dan energi keserakahan sudah muncul lewat ribut pembagian. Pak Joko dan Bu Tari memilih berhenti. Belakangan, kata Mas Saleh, urusan utang Pak Joko tetap bisa tertutup lewat kerja sama bisnis secara bertahap, bukan lewat jalur uang gaib.
Mas Saleh menutup ceritanya dengan peringatan yang ia pegang sampai sekarang: penarikan uang gaib mungkin terlihat seperti harapan, tapi begitu pintunya dibuka, ada “penjaga” yang tidak bisa dibohongi. Bahkan jika berhasil pun, katanya, tetap ada pantangan dan risiko—kadang bukan tumbal orang lain, tapi tubuh dan hidup pelakunya sendiri yang menjadi bayaran.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
