Pada 2004, Mas Ul masih duduk di kelas satu SMP di Cirebon. Ia menggambarkan dirinya sebagai anak yang pendiam, murung, penakut, dan tidak suka bergaul. Sifat tersebut membuatnya lebih sering menyendiri dan tidak mempunyai keberanian untuk melawan ketika diperlakukan buruk oleh orang lain.
Setiap hari, Mas Ul berangkat sekolah dengan berjalan kaki, bersepeda, atau naik angkot, tergantung uang yang diberikan orang tuanya. Suatu pagi, ia bertemu seorang kakak kelas bernama samaran Edo. Setelah mengetahui Mas Ul merupakan siswa baru, Edo mengatakan terdapat aturan yang mewajibkan murid baru memberikan uang kepada senior.
Mas Ul mencoba menjelaskan bahwa uang Rp1.000 yang dibawanya merupakan bekal dari orang tua. Apabila diberikan, ia tidak dapat membeli makanan saat istirahat. Namun Edo tetap memaksa dan mengintimidasinya hingga Mas Ul menyerahkan seluruh uang tersebut. Di sekolah, ia hanya melihat teman-temannya jajan sambil beralasan sedang berpuasa.
Pemalakan kembali terjadi pada hari berikutnya. Edo menghentikan sepeda Mas Ul, menariknya dengan kasar, lalu merusak sebagian sepeda tersebut. Ketika ditanya teman-temannya, Mas Ul mengatakan bahwa ia menabrak pohon karena takut masalah itu berkembang menjadi perkelahian dan membuat Edo semakin mengincarnya.
Tekanan tersebut membuat Mas Ul tidak masuk sekolah selama sekitar satu minggu. Kepada orang tuanya, ia sempat mengaku sedang sakit. Setelah terus didesak untuk berkata jujur, Mas Ul akhirnya menceritakan pemalakan yang dialaminya. Orang tuanya kemudian mendatangi sekolah dan melaporkan perbuatan Edo kepada wali kelas.
Edo mengakui kesalahannya dan menerima surat peringatan. Namun hukuman itu tidak benar-benar mengakhiri gangguan. Ia justru mendatangi Mas Ul di lorong sekolah, menuduhnya sebagai pengadu, lalu memukulnya. Selama hampir satu tahun, Mas Ul tetap menjalani sekolah dalam ketakutan dan tidak berani kembali mengadu kepada keluarganya.
Ketika naik ke kelas dua SMP, Mas Ul menceritakan masalahnya kepada seorang kerabat yang dipanggil Ua Wawarjan. Ia meminta perlindungan agar tidak terus menjadi sasaran kakak kelas. Sang ua kemudian memberinya sebuah laku berupa puasa sehari penuh tanpa makan, minum, dan tidur.
Saat menjalani ritual tersebut, tubuh Mas Ul terasa sangat panas seperti terbakar. Menjelang tengah malam, ia mendengar suara perempuan yang memintanya melanjutkan laku itu dengan sungguh-sungguh. Pada pagi harinya, ia mengaku melihat perempuan cantik berambut panjang dan mengenakan kebaya putih berdiri tidak jauh dari dapur sebelum sosok tersebut menghilang.
Setelah menyelesaikan puasa, Mas Ul kembali berangkat sekolah dan tidak lagi dicegat Edo. Ua Wawarjan menjelaskan bahwa laku tersebut berkaitan dengan ilmu pengasihan yang dipercaya membuat seseorang memperoleh belas kasih dan perlindungan. Karena merasa mendapatkan hasil, Mas Ul tertarik mempelajari keilmuan itu lebih dalam.
Tahap berikutnya mengharuskannya berpuasa selama tiga hari. Setiap waktu berbuka, ia hanya diperbolehkan memakan ketan dan meminum segelas air. Pada malam terakhir, ia harus menjalani mati geni dengan tetap terjaga hingga waktu yang telah ditentukan. Selama laku tersebut, tubuhnya terasa ringan dan langkahnya seperti melayang meskipun kedua kakinya tetap menyentuh tanah.
Pada malam ketiga, Mas Ul duduk sendirian di luar rumah agar tidak tertidur. Ia mengaku didatangi seorang laki-laki berpakaian hitam, memakai sarung yang diselempangkan, dan mengenakan topi seperti petani. Sosok itu memperkenalkan diri sebagai Kucung dan mengatakan bahwa kedatangannya bertujuan menjaga keselamatan Mas Ul.
Keesokan harinya, Edo kembali mendekati Mas Ul di lorong sekolah. Namun ketika Mas Ul menatapnya, kakak kelas tersebut mendadak terlihat terkejut dan memilih pergi. Ua Wawarjan menilai kejadian itu sebagai tanda bahwa penjaga yang diperoleh Mas Ul telah menyatu dan membuat orang yang berniat mengganggunya merasa segan.
Untuk menyempurnakan laku tersebut, Mas Ul diberi tulisan berisi rapalan berbahasa Jawa. Ia diminta menghafalkannya, membakar kertas tersebut, lalu mencampurkan abunya ke dalam segelas air untuk diminum. Setelah itu, teman-temannya menilai sorot mata serta wibawanya berubah. Mas Ul pun dapat menyelesaikan pendidikan SMP hingga lulus tanpa kembali mengalami pemalakan.
Setelah lulus SMK pada 2010, Mas Ul merantau untuk memenuhi panggilan kerja di Bogor. Karena belum mengenal wilayah Jakarta, ia sempat kebingungan mencari kendaraan dari Cempaka Putih. Dalam perjalanan, telepon genggamnya dicopet oleh dua orang yang berada di dekat pintu angkutan umum.
Mas Ul mencoba mengejar orang-orang yang dicurigainya. Seorang pria lain kemudian menawarkan bantuan, tetapi justru membawanya ke tempat sepi. Di sana, Mas Ul dikeroyok sekitar lima orang. Ia dipukul berulang kali dan diserang menggunakan pisau, tetapi dalam kesaksiannya, tubuhnya tidak merasakan sakit dan pisau hanya merobek pakaiannya.
Ketika merasa terdesak, Mas Ul mengaku seperti kehilangan kendali atas dirinya. Matanya melotot dan sikapnya berubah hingga para pengeroyok ketakutan lalu melarikan diri. Setelah kejadian itu, ia tetap mengikuti seleksi kerja dan berhasil menjadi salah satu dari 44 peserta yang diterima dari sekitar 400 pelamar.
Pengalaman keras di perantauan membuat Mas Ul ingin mempunyai perlindungan yang lebih kuat. Sambil bekerja di Bogor, ia mendatangi sebuah padepokan di wilayah Rangkas, Banten. Di sana ia melihat atraksi debus, seperti menginjak pecahan kaca, bermain dengan api, menusukkan besi ke tubuh, dan menahan sabetan senjata.
Mas Ul kemudian diminta berpuasa selama tujuh hari dengan berbuka menggunakan cabai dan sedikit air putih. Pada malam terakhir, ia kembali menjalani mati geni. Saat itulah ia mengaku melihat sosok tinggi besar bermata merah, bertaring, dan berkuku panjang berdiri di dekatnya. Meskipun takut, ia bertahan sampai seluruh rangkaian selesai.
Setelah dinyatakan lulus, gurunya menguji ilmu tersebut menggunakan golok yang sebelumnya mampu memotong batang tebu dan pelepah kelapa. Mas Ul mengaku sangat gemetar ketika tangannya dijadikan sasaran. Namun saat golok digesekkan dan disabetkan, kulitnya tidak terluka dan ia hanya merasakan geli. Kemampuan itu kembali dirasakannya ketika berkelahi dengan seorang pengamen di perjalanan pulang. Pukulan lawan tidak terasa, sedangkan tangan orang yang memukulnya justru kesakitan.
Rasa penasaran membawa Mas Ul melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam. Ia berjalan dari Baduy Luar melewati hutan, sungai, jembatan, dan jalur naik-turun tanpa menggunakan perangkat elektronik. Di sana ia menjalani ritual dengan tubuh dipendam sendirian selama satu hari. Dalam kesaksiannya, ia melihat sosok perempuan putih, perempuan merah dengan wajah berdarah, serta makhluk berbulu yang bertanduk, bertelinga panjang, berlidah panjang, dan berkaki seperti kuda.
Setelah bertahan menghadapi suara, angin besar, dan berbagai penampakan, Mas Ul dinyatakan berhasil. Ia menerima rangkaian lanjutan menggunakan kain putih, pisau, minyak, kemenyan, asap, dan air minum. Sekembalinya dari Baduy, ia merasa lebih peka terhadap pikiran orang lain. Namun ilmu tersebut juga membuatnya mudah marah, ingin berkelahi, sulit memperoleh rezeki, dan mengalami hambatan dalam urusan jodoh. Ia kemudian mempelajari ilmu penyeimbang di Cirebon, mendirikan padepokan serta sanggar seni, dan mengajarkan bela diri serta debus kepada murid-muridnya. Mas Ul berpesan agar ilmu kebal tidak dipelajari sembarangan karena manfaat perlindungannya selalu disertai risiko besar, terutama apabila seseorang tidak mempunyai guru dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
