Tahun 2017 menjadi titik balik bagi keluarga Mbak Dini. Sang ayah yang baru saja pensiun harus memikirkan cara untuk tetap menopang perekonomian keluarga, sementara Mbak Dini sendiri masih menjalani masa kuliah. Dalam sebuah musyawarah keluarga yang sederhana, sang ibu mengusulkan satu ide yang terdengar menjanjikan sekaligus membumi — membuka warung sembako di rumah sendiri. Dengan modal dari uang pensiun sang ayah dan penuh semangat, impian kecil itu pun mulai diwujudkan.
Persiapan dilakukan dengan matang. Etalase dibeli, rak-rak dipasang, lemari dibuat, dan para tukang dibayar. Belanjaan pertama mulai memenuhi rak-rak yang masih baru — beras, gula, garam, mie, telur, hingga aneka jajanan. Modal yang dikeluarkan kala itu berkisar di bawah lima puluh juta rupiah, jumlah yang tidak sedikit namun disertai harapan besar. Warung pun resmi dibuka pada awal tahun 2018 dengan penuh keyakinan bahwa usaha ini akan menjadi sumber penghidupan keluarga.
Harapan itu tidak mengkhianati mereka. Karena tak ada warung lain yang berdekatan di blok tersebut, pelanggan datang dari berbagai penjuru. Warung sang ibu menjadi satu-satunya tempat warga sekitar berbelanja kebutuhan sehari-hari. Omzet terus merangkak naik, bahkan dalam sehari bisa mencapai lima ratus ribu hingga satu juta rupiah. Melihat perkembangan yang menggembirakan, sang ibu pun mulai menambah ragam produk — mulai dari voucher pulsa, voucher token listrik, hingga aneka sembako yang semakin lengkap.
Namun keberhasilan selalu mengundang mata yang memandang. Menjelang akhir tahun 2018, kabar mulai berhembus bahwa di blok yang berbeda ada seseorang yang juga membuka warung sembako. Mbak Dini dan ibunya tidak terlalu risau. Mereka yakin bahwa rezeki sudah ada bagiannya masing-masing, dan pelanggan pun sudah lebih dulu mengenal warung mereka. Persaingan dinilai wajar dan masih dalam batas yang sehat.
Namun yang terjadi kemudian jauh dari kata wajar. Suatu hari, seorang pembeli yang mampir ke warung baru itu rupanya menyampaikan sesuatu yang mengusik hati sang ibu. Ia bercerita bahwa di warung pesaing tersebut beredar kabar bahwa warung sembako keluarga Mbak Dini menggunakan pesugihan. Bukan hanya itu, gosip yang beredar pun semakin menjadi-jadi — ada yang mengklaim bahwa warung itu dijaga oleh makhluk tinggi besar yang tak kasat mata. Fitnah yang keji dan sama sekali tidak berdasar.
Mbak Dini yang mendengar kabar ini langsung naik pitam. Ia bergegas mendatangi warung Pak Adi — nama yang ia samarkan untuk pemilik warung baru tersebut — dan dengan tetap menjaga tata krama karena perbedaan usia, ia menyampaikan keberatannya secara baik-baik. Namun bukannya klarifikasi yang didapat, Pak Adi justru menyangkal dan balik menyerang dengan nada kasar. Debat sengit pun sempat terjadi sebelum akhirnya ditenangkan oleh orang-orang yang kebetulan lewat dan membeli di sana.
Mbak Dini pulang dengan emosi yang sudah diredam, meski rasa tidak terima tetap membara di dadanya. Sang ibu memintanya untuk bersabar dan tidak memperpanjang masalah. Namun bukannya tenang, beberapa minggu setelah konfrontasi itu justru menjadi awal dari serangkaian kejadian aneh yang membuat seluruh keluarga berdiri bulu romanya. Warung yang biasanya penuh aktivitas mulai diselingi aroma yang tidak wajar — bau bangkai yang menyengat tanpa sumber yang jelas, muncul setiap kali warung akan dibuka dan menjelang tutup.
Lebih mencengangkan lagi, sang ibu menemukan genangan merah kental di sudut dalam toko, tepat di samping etalase. Saat Mbak Dini mendekat dan menyentuhnya, teksturnya kenyal dan berbau anyir — itu adalah darah. Dari mana asalnya, tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada hewan yang masuk, tidak ada barang yang pecah. Mereka membersihkannya dalam diam agar tidak menimbulkan kepanikan di antara para pembeli, namun kejadian itu terus berulang selama hampir seminggu penuh.
Puncak teror gaib itu datang pada suatu malam ketika sang ibu berteriak histeris di dalam warung. Mbak Dini yang berlari menemuinya mendapati ibunya dalam kondisi lemas dan ketakutan, menunjuk ke arah yang tampak kosong di mata Mbak Dini. Setelah perlahan tenang dengan bantuan istigfar dan zikir, sang ibu mengaku melihat sosok tinggi besar berwarna hitam yang mencengkeram lehernya. Sosok yang persis seperti deskripsi fitnah yang disebarkan oleh Pak Adi — kini seolah benar-benar hadir di dalam rumah mereka.
Gangguan tidak berhenti di situ. Malam-malam berikutnya, Mbak Dini yang pulang kerja larut malam mendapati ada sesuatu yang melempar pintu rumahnya dengan kencang. Ia keluar memeriksa namun tidak menemukan apa pun — tidak ada manusia, tidak ada binatang, tidak ada jejak. Tak lama setelah itu, tubuhnya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Demam tinggi hingga 42 derajat Celsius, perut terasa dipelintir, dan kondisi badannya terus merosot drastis.
Mbak Dini dibawa ke UGD. Dokter menyatakan suhu tubuhnya sangat berbahaya — bisa berujung kejang atau pecah pembuluh darah. Namun yang mengherankan, semua hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi yang normal. Tidak ada kelainan yang ditemukan. Ia sempat dirawat, diperbolehkan pulang, lalu kambuh lagi. Siklus ini berulang hingga berat badannya anjlok drastis dan tubuhnya tampak seperti tinggal tulang dibalut kulit, terbaring lemah di kasur selama hampir empat bulan.
Di tengah kondisi yang mengkhawatirkan itu, Pakde dan Budhe Mbak Dini datang berkunjung. Keduanya memiliki kepekaan terhadap hal-hal gaib dan segera merasakan bahwa yang dialami Mbak Dini bukan sekadar sakit biasa. Mereka menyarankan agar Mbak Dini ditemui oleh seorang ustaz yang mereka kenal dan dipercaya. Dengan kondisi yang sudah sangat parah dan tidak membaik meski sudah bolak-balik ke rumah sakit, keluarga pun akhirnya setuju untuk mencoba jalan tersebut.
Sang ustaz datang dan mulai menyelidiki. Ia meminta segelas kopi diletakkan di bawah ranjang Mbak Dini sebelum tidur sebagai salah satu cara untuk mendeteksi keberadaan kiriman gaib. Keesokan paginya, kopi itu berkurang separuh tanpa ada yang menyentuhnya. Sang ustaz yang dihubungi pagi itu langsung memastikan dugaannya — ada kiriman yang memang sengaja ditujukan ke rumah tersebut. Ia pun menjadwalkan ritual pembersihan pada malam Jumat Kliwon yang kebetulan jatuh keesokan harinya.
Malam Jumat Kliwon tiba. Sang ustaz datang membawa kendi, kain putih, dan Al-Qur’an. Setelah semua anggota keluarga menunaikan salat Isya berjamaah, ritual dimulai. Mbak Dini diminumi air ruqyah, namun tubuhnya seolah menolak. Setelah beberapa tegukan, Mbak Dini tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri. Saat itulah sang ustaz menyadari bahwa ada roh perempuan yang menguasai tubuh Mbak Dini — roh yang tertawa-tawa, menangis, dan menolak untuk menyebutkan identitasnya.
Dengan bacaan doa dan ancaman yang sungguh-sungguh dari sang ustaz, roh perempuan itu akhirnya menyerah. Ia mengungkap bahwa dirinya dikirim oleh Pak Adi dengan tujuan awal menyerang sang ibu. Namun karena Mbak Dinilah yang pernah mendatangi Pak Adi untuk meminta pertanggungjawaban, justru Mbak Dini yang menjadi sasaran. Tujuannya jelas — menghancurkan warung sembako keluarga Mbak Dini agar tidak lagi bisa bersaing.
Di saat yang bersamaan, ketika proses pembersihan rumah dan warung berlangsung, terdengar suara gedebukan dari atap. Sebuah gumpalan tanah bercampur batu jatuh dari genteng. Sang ustaz yang mengambil dan memeriksa benda itu tampak terkejut. Dengan nada penuh keprihatinan ia menyebut dua kata yang membuat bulu kuduk merinding — tanah Panguragan. Tanah dari tempat keramat di Kabupaten Cirebon yang dipercaya mampu menghancurkan usaha dan rumah tangga siapapun yang terkena lemparan atau simpanannya.
Pencarian pun dilakukan di sudut-sudut warung. Sang ibu akhirnya menemukan sebuah bungkusan kecil terbungkus kain hitam yang tersembunyi di celah etalase yang nyaris tidak terlihat oleh siapa pun. Di dalamnya terdapat rambut, paku berkarat, dan silet. Buhul itu diserahkan kepada sang ustaz, dimasukkan ke dalam kendi, didoakan, lalu dibakar. Secara mengejutkan, setelah dibakar buhul itu lenyap tanpa meninggalkan bekas sedikit pun — seolah-olah tidak pernah ada di dunia ini.
Proses pemulihan belum selesai. Keesokan harinya warung sang ibu menjadi sunyi senyap — tak ada satu pun pembeli yang datang. Sang ustaz datang kembali dan menjelaskan bahwa kondisi ini masih bagian dari proses, bahwa baik Mbak Dini maupun warungnya belum sepenuhnya pulih dan perlu ditangani lebih lanjut. Ia kemudian mengantarkan mereka ke sebuah tempat bernama Lemah Tambah, di mana seorang kuncen dikenal mampu menetralkan gangguan-gangguan yang berkaitan dengan tanah Panguragan dan ilmu-ilmu hitam lainnya.
Di Lemah Tambah, Mbak Dini disuruh membaca istigfar dan Al-Fatihah berulang kali hingga kelelahan, meski napasnya masih tersengal akibat sesak yang dirasakannya selama sakit. Kuncen mendoakannya, dan perlahan Mbak Dini pun muntah — tanda bahwa racun gaib di dalam tubuhnya mulai dikeluarkan. Sang ibu kemudian diminta menyiapkan daun kelor, minyak kelapa, dan bengkoang yang dijadikan jus untuk diminum Mbak Dini setiap hari. Daun kelor dan minyak kelapa dibalurkan di bagian perut setiap malam sebelum tidur hingga kondisinya benar-benar membaik.
Seminggu lebih menjalani perawatan tersebut, tubuh Mbak Dini perlahan kembali pulih. Mimpi buruk tentang ular yang melilit seluruh tubuh dan rumah mulai menghilang. Kebiasaan berbicara dalam tidur, tertawa, menangis, bahkan meludah saat tidur yang selama ini mengkhawatirkan sang ibu, pun berangsur lenyap. Warung sang ibu kembali ramai. Dan Pak Adi beserta istrinya — kata para tetangga — justru jatuh sakit parah, warungnya tutup, dan tak lama kemudian datang ke rumah untuk meminta maaf meski tetap tidak mengaku atas perbuatannya. Bagi Mbak Dini, semua itu adalah pelajaran pahit sekaligus pengingat bahwa dalam dunia usaha pun, ada ancaman yang datang bukan dari dunia yang terlihat oleh mata.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
