Mas Iman bercerita, awalnya ia merantau ke Jakarta Barat pada 2018. Ia jadi kuli panggul di pasar: bongkar sayur, kelapa, pisang, apa saja yang datang dari mobil bak. Upahnya dihitung per bongkaran, sekitar Rp45.000 sekali angkut. Untuk bisa makan, ia harus ikut beberapa mobil dalam sehari, dan itu berarti tubuh diperas dari pagi sampai malam.
Ia punya istri dan seorang anak kecil waktu itu. Setiap kali dapat uang, ia berusaha kirim ke rumah—meski tak selalu lancar karena kerja kuli tidak punya kepastian. Seiring waktu, rasa jenuh dan capek menumpuk. Mas Iman mulai mencari pekerjaan yang “lebih manusiawi,” setidaknya tidak menuntut fisik habis-habisan.
Kesempatannya datang dari kenalan bernama Tio yang bekerja di toko sembako. Mas Iman memberanikan diri melamar dan diterima. Toko itu lumayan besar, pengiriman ramai, dan Mas Iman merasa hidupnya mulai sedikit lebih stabil. Namun ada hal yang membuatnya tidak nyaman: setiap buka toko, bosnya membakar dupa, seperti melakukan sembahyang dan menyiram air ritual sebelum memulai aktivitas dagang. Mas Iman menahan diri, menganggap itu urusan orang, karena ia hanya karyawan yang butuh makan.
Lalu pandemi 2020 menghantam. Jam operasional dibatasi, pasar sepi, pemasukan toko turun. Setelah sekitar enam bulan, bos toko memutuskan menutup sementara dan mem-PHK karyawan. Mas Iman pulang membawa amplop berisi gaji terakhir dan pesangon kecil—uang yang cepat sekali habis untuk kebutuhan keluarga.
Yang membuat mentalnya makin runtuh adalah telepon dari kampung. Ia berniat memberi kabar baik karena masih bisa mengirim uang, tapi mertua justru merampas telepon, memaki, dan menyebutnya menantu miskin, tidak berguna, tak punya masa depan. Mas Iman menahan malu, lalu mematikan telepon. Kata-kata itu menancap—bukan sekadar hinaan, tapi seperti menutup pintu harga diri.
Ia kembali serabutan: parkir, kerja apa saja yang ada, tapi hasilnya pas-pasan. Hutang kecil-kecil mulai menumpuk. Saat itu Tio pulang kampung ke Banten dan mengajak Mas Iman main sekadar “menenangkan kepala.” Mas Iman ikut, berharap bisa sedikit lepas dari tekanan.
Di Banten, Tio mengajak Mas Iman bersilaturahmi ke “guru spiritual” yang dipanggil Mbah. Rumahnya jauh dari permukiman, masuk ke jalan kecil melewati sawah dan area gelap yang terasa seperti hutan. Ketika Mbah akhirnya keluar—berjubah hitam, berblangkon, ditemani asisten—Mas Iman mengaku sudah merinding sejak salam pertama.
Mas Iman menceritakan masalahnya: tak punya penghasilan, dikejar kebutuhan, dan merasa buntu. Mbah lalu memberi dua pilihan: jalan kanan atau jalan kiri. Jalan kanan adalah puasa panjang dan amalan yang butuh waktu. Jalan kiri adalah ritual cepat—dengan mahar sekitar Rp500.000 untuk perlengkapan seperti menyan dan kembang tujuh rupa. Mas Iman yang sedang putus asa memilih jalan kiri.
Malam ritual pertama, ia diantar ke tempat keramat lewat jalan setapak di antara pohon beringin dan randu besar. Baru beberapa langkah, Mas Iman sudah mendengar suara tangisan dan geraman dari kegelapan, tapi Mbah dan asistennya berjalan santai seolah itu angin biasa. Mas Iman ditinggal sendirian dengan kertas mantra, menyan, dan bunga. Dan saat itulah ia baru sadar: di belakang pohon randu ada makam—ia sedang melakukan ritual di kawasan kuburan.
Gangguan datang bertubi-tubi. Mas Iman melihat wewe gombel mendekat, lalu pocong dan kuntilanak bergelantungan di pohon randu, menertawakan dan menatapnya. Puncaknya, muncul sosok manusia tanpa kepala membawa ember dengan darah bercecer. Mas Iman panik, lari tunggang-langgang sampai tercebur lumpur sawah, lalu menumpang motor orang asing untuk kembali ke rumah Tio menjelang subuh.
Ia mengaku nyerah, tapi kebutuhan membuatnya kembali bimbang. Dua minggu kemudian, hutang makin menekan dan ia nekat datang lagi ke rumah Mbah—kali ini tanpa ditemani Tio. Rumah Mbah sempat kosong dan terasa menakutkan, namun akhirnya Mbah muncul dan menerima Mas Iman kembali, dengan satu peringatan: jangan lari lagi, karena kalau lari, uang untuk ritual hanya jadi sia-sia.
Ritual kedua dijalani. Gangguan tetap ada—suara hewan buas, sosok tengkorak yang membesar, wewe gombel yang menyuruhnya jangan setengah hati. Lalu datang sosok yang paling membuat Mas Iman tak bisa lupa: gendoruwo besar, berat auranya, mendekat seperti angin yang menekan dada. Sosok itu mengambil sebuah kantong hitam yang sejak awal dibawa Mbah, lalu menghilang. Menjelang subuh, Mbah menjemput Mas Iman dan membawa kantong itu pulang.
Di rumah Mbah, kantong itu dibuka. Isinya uang berserakan—jumlahnya jutaan rupiah. Mas Iman sempat mengucap syukur dalam hati, merasa seperti menemukan pintu keluar. Tapi Mbah langsung mengunci kebahagiaan itu dengan kalimat yang membuat Mas Iman membeku: uang ini boleh dibawa, tapi syaratnya harus ada tumbal. Dan yang diminta… anak Mas Iman.
Mas Iman menolak keras. Ia memilih pergi meski diancam akan ada risiko jika menolak “perjanjian.” Ia pulang dalam keadaan kacau, bahkan sempat salah naik kendaraan sampai terdampar ke Anyer. Saat akhirnya tiba kembali di tempat saudaranya, perilakunya berubah: linglung, banyak diam, seperti orang kehilangan arah. Edwin (saudaranya) memanggil orang spiritual bernama Mas Adi untuk menolong.
Mas Adi membacakan doa pada air, membuat Mas Iman minum dan membasuh muka. Setelah itu Mas Iman mulai sadar dan bisa bicara lebih normal. Namun malam-malamnya belum tenang—dalam mimpi, gendoruwo datang marah, seperti menagih Mas Iman kembali ke jalur itu karena ia menolak tumbal. Mas Adi kemudian memberi amalan dan cara “membentengi diri,” meminta Mas Iman kembali salat lima waktu dan menaruh bacaan tertentu serta tasbih di bawah bantal saat tidur.
Di tengah proses pemulihan, Mas Iman baru membuka ponselnya dan melihat banyak panggilan tak terjawab dari rumah. Ia menelepon istri dan mendapat kabar yang membuat darahnya turun: anaknya—Fitri (nama samaran)—sakit parah, demam tinggi, tidak mau makan, muntah setiap minum, bahkan buang air di tempat tidur seperti orang yang sudah tidak punya tenaga. Mas Iman langsung pulang dengan hati hancur.
Ia meminta bantuan Mas Adi lagi melalui telepon. Dengan air yang sudah dibacakan doa, Mas Iman memandikan dan meraupkan ke tubuh anaknya, meminumkannya sedikit demi sedikit. Perlahan Fitri batuk seperti orang keselek, lalu mulai sadar dan memanggil ibunya—tanda pertama yang membuat Mas Iman merasa napasnya kembali. Mas Adi meminta mereka menjaga bacaan, menyimpan amalan di bawah bantal anak, dan tidak meninggalkan salat.
Tiga minggu setelah itu, kondisi Fitri membaik total. Mas Iman akhirnya paham maksud peringatan Mas Adi: ketika perjanjian ditolak, gangguan bisa dialihkan ke keluarga—dan dalam kasus Mas Iman, anak menjadi sasaran terdekat. Rasa takut itu mengubahnya. Ia memilih kapok, menutup pintu itu rapat-rapat, dan kembali menjalani hidup meski serabutan, asal tidak mengorbankan siapa pun.
Kini Mas Iman menyampaikan pesannya tanpa bertele-tele: jangan percaya ritual “tanpa tumbal.” Menurutnya, ujung-ujungnya selalu ada yang diminta, dan sering yang diminta bukan sekadar uang—melainkan keluarga, anak, atau nyawa. Ia mengaku lebih baik dihina miskin daripada kaya lewat jalan yang membuat rumah tangga jadi taruhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
