Tahun 2013, Mas Ryanto (samaran) dari Semarang didatangi seorang kenalan bernama Andi. Mereka bukan sahabat dekat, hanya saling kenal, tapi Andi datang dengan wajah yang jelas sedang runtuh. Ia tengkulak sayur—menampung hasil panen petani lalu mengirimkannya ke pasar—dan di balik rutinitas itu, ia menggendong hutang ke mana-mana: rentenir, tetangga, sampai sesama tengkulak.
Andi tidak datang mencari saran bisnis. Ia datang mencari jalan instan. Kata yang ia ucapkan terang-terangan: pesugihan. Mas Ryanto menolak. Baginya, itu jalur yang tidak sejalan dengan keyakinan, dan risikonya pasti tidak main-main. Tapi Andi tetap memaksa—bahkan dua hari kemudian ia datang lagi membawa temannya, Imron, seolah ingin “menggiring” Mas Ryanto agar mau membantu.
Mas Ryanto akhirnya tidak menjanjikan apa pun. Ia hanya bilang akan bertanya pada ibunya—seorang sepuh yang punya latar kejawen kuat dan dianggap paham dunia kebatinan. Dari sang ibu, Mas Ryanto mendapat satu informasi yang membuat Andi langsung “nyala”: ada tempat di pesisir pantai selatan, ada goa, ada jalur lelaku. Tapi jalur itu tidak gratis, tidak mudah, dan selalu ada bayaran di belakang hari.
Andi tidak peduli bayaran. Yang ia pedulikan cuma satu: hutangnya lunas, secepat mungkin. Mereka sepakat berangkat Kamis dan masuk malam Jumat—waktu yang dianggap “pas” untuk ritual. Mereka bertiga berangkat dari Semarang naik mobil rental: Imron menyetir, Andi sebagai yang punya hajat, Mas Ryanto sebagai saksi sekaligus pendamping yang paling paham medan.
Di perjalanan, ada hal yang membuat Mas Ryanto mulai tidak enak. Ban depan meledak. Setelah diganti dan jalan beberapa kilometer, ban belakang meledak lagi. Dua ledakan di hari yang sama, di perjalanan menuju “jalan instan”, terasa seperti tanda yang tidak ingin diterjemahkan Andi.
Mereka sempat singgah di Parangtritis, lalu melanjutkan ke area perbukitan yang harus melapor dulu ke juru kunci. Juru kunci memberi daftar kebutuhan: bunga setaman, dupa, menyan, buah tujuh macam, kelapa hijau, jajanan pasar. Ia juga memberi satu peringatan: jangan sembrono, jangan mengganggu hewan di hutan, jaga omongan, fokus pada satu tujuan.
Dari pos terakhir, mereka harus jalan kaki. Medannya bukan jalur wisata: tebing curam, pegangan bambu, licin, dan salah langkah bisa jatuh ke jurang. Menjelang magrib, mereka melihat gerombolan kera. Ada satu yang besar, duduk seperti mengawasi, menatap tajam seolah menimbang siapa yang berani melintas wilayahnya.
Di sebuah gubuk atas, sebelum turun ke mulut goa dekat pantai, Andi dan Imron sempat beristirahat. Di situlah kesalahan pertama terjadi. Mereka berdua bercanda kasar soal kera—kata-kata yang bukan cuma tidak sopan, tapi seperti menantang “tuan rumah”. Mas Ryanto baru tahu setelahnya, ketika Andi mulai kerasukan secara tiba-tiba.
Malam belum benar-benar larut, tapi dua kali Andi mendadak bangun dengan mata melotot, tangan mencengkeram, suara berubah seperti kera. Pada kejadian kedua, Andi sampai menarik baju Imron dan mencabik-cabik sampai sobek. Mas Ryanto merangkul, menenangkan, membaca doa semampunya, sampai Andi sadar. Lalu Mas Ryanto memaksa mereka jujur—dan barulah Imron mengakui, mereka sempat menghina kera di atas.
Mas Ryanto kesal. Bukan karena baju sobek, tapi karena ini bukan tempat untuk mulut sembarangan. Ia menyalakan dupa dan mencoba “minta maaf” secara batin, lalu mempersiapkan ritual agar tidak makin kacau. Sesaji ditata, lilin dinyalakan, kemenyan dibakar. Lalu mereka naik ke dalam goa sekitar 75 meter dari bibir pantai, melewati batu-batu licin yang tajam.
Di dalam goa, Mas Ryanto menata sesaji di altar. Ia sempat melihat bayangan hitam lewat, seperti siluet besar. Ia bermeditasi sebentar—mengantar niat, menyerahkan sesaji—lalu ia memberi Andi pesan terakhir: jangan lari, jangan keluar sebelum dapat petunjuk, jangan panik, karena goa gelap dan stalaktit tajam. Setelah itu Mas Ryanto keluar, menunggu di mulut goa bersama Imron.
Sekitar pukul dua dini hari, terdengar suara memanggil “Mas… Mas… Mas…” dari dalam. Mas Ryanto dan Imron bergegas masuk. Andi ditemukan telentang, tubuh basah keringat, gemetar, seperti habis ditarik tenaganya. Ia minta dipapah keluar. Begitu agak tenang, Andi bercerita apa yang ia alami.
Kata Andi, di dalam goa muncul sosok kakek-kakek membawa tongkat—dan tongkatnya berbentuk ular. Kakek itu menanyai kebutuhan Andi. Andi menjawab lugas: uang untuk melunasi hutang. Kakek itu bertanya apakah Andi siap resiko. Andi mengiyakan. Kakek itu lalu mengatakan akan ada “yang datang” membantu—dan Andi akan diberi instruksi lanjutan.
Andi juga mengaku diganggu anak-anak kecil berlarian mengitari, lalu mendengar suara gaib yang memerintahkannya menyiapkan ayam blorok dan sesaji tertentu di rumah. Darah ayam harus ditaruh di mangkuk dalam kamar, bersama kain mori. Dan malam berikutnya, “mereka” akan datang ke rumah Andi untuk mewujudkan permintaan.
Menjelang subuh, mereka pulang. Juru kunci berpesan lagi: kalau sudah mulai, jangan ada kesalahan. Jangan ada pelanggaran. Seolah semua jalur sudah terbuka dan tinggal menunggu Andi menjalankan perintah.
Di rumah, Andi menjalankan instruksi itu. Ia menyembelih ayam, menaruh darah sesuai arahan, menyiapkan sesaji, dan menunggu. Lalu—menurut pengakuannya—sosok siluman kera hadir. Dan uang yang ia minta benar-benar muncul: tumpukan pecahan seratus ribuan, lembap, berbau seperti minyak misik, tidak rapi dalam bendelan, tapi nyata. Andi memperkirakan jumlahnya sekitar 5 miliar rupiah.
Andi menelpon Mas Ryanto dengan suara campur aduk: senang, takut, tidak percaya. Mas Ryanto hanya mengingatkan: gunakan seperlunya, jangan ugal-ugalan, dan ingat… resiko itu tidak pernah hilang hanya karena uang sudah datang. Tapi Andi terlalu gembira. Ia melunasi hutang, membelikan hadiah untuk ibunya, membangun gudang, bahkan memberi hadiah motor untuk Imron.
Masalahnya, begitu hutang lunas, Andi berubah. Ia mulai hura-hura, klub malam, karaoke, menghamburkan uang seperti orang yang merasa dunia sudah selesai. Imron sampai bercerita pada Mas Ryanto: Andi makin susah dinasihati, makin sering pulang dalam keadaan mabuk, makin jauh dari rem yang dulu masih ia punya.
Lalu tagihan pertama datang. Tiga bulanan setelah uang itu muncul, ibu Andi mendadak sakit panas tinggi dan pingsan. Andi panik, minta saran, membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi paginya, kabar duka datang: ibunya meninggal. Mas Ryanto datang melayat dan melihat Andi seperti orang yang mulai kehilangan pegangan. Di kepala Mas Ryanto, satu kalimat gaib yang pernah disampaikan terasa menampar: “akan minta sesuatu yang berharga, sewaktu-waktu.”
Setelah ibunya wafat, Andi bukannya menepi—ia justru makin sering menghilang, seperti menghindari rumah yang sudah kosong. Uang masih ada, tapi arah hidupnya seperti tidak lagi ada tempat pulang. Dan tak lama kemudian, petaka kedua datang lebih keras.
Andi dan Imron mengalami kecelakaan mobil. Kendaraan menabrak pohon. Imron terjepit di kabin dan meninggal di tempat. Andi selamat, tapi kondisinya parah: pendarahan kepala, patah kaki, berhari-hari tak sadar di ICU. Mas Ryanto datang menjenguk, lalu takziah ke keluarga Imron—menahan rasa bersalah yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.
Andi akhirnya sadar, tapi hidupnya runtuh. Kakinya diamputasi. Uang yang dulu menggunung ludes untuk biaya rumah sakit, perawatan, dan kebutuhan. Mobilnya dijual. Tanah yang sempat ia beli digadaikan. Yang tersisa hanya tubuh kurus kering dan tatapan kosong. Saat Mas Ryanto datang lagi, Andi hanya menatap—seolah mengenal, tapi tak sanggup merangkai kata.
Kini, menurut Mas Ryanto, Andi masih hidup—dirawat pamannya—dijemur di depan rumah karena sudah tidak punya tenaga dan kewarasan yang utuh. Hutang memang sempat lunas. Tapi yang dibayar bukan cuma uang. Yang dibayar adalah ibu, sahabat, kaki, dan diri Andi sendiri. Dan semua itu terjadi bahkan belum genap setahun sejak ritual dimulai.
Mas Ryanto menutup kisahnya dengan penyesalan yang berat: ia tidak mengambil bagian uang, tidak ikut menikmati, hanya menjadi saksi. Tapi jadi saksi pun cukup untuk membuatnya trauma—karena ia melihat sendiri bagaimana “hasil cepat” datang, lalu merobek hidup pelan-pelan sampai tidak ada yang tersisa selain penyesalan.
Pesannya singkat: kalau sedang terjepit, jangan cari jalan pintas yang gelap. Karena yang terlihat seperti pertolongan, sering kali hanya umpan. Dan ketika umpan itu termakan, yang diminta sebagai bayarannya bukan lagi rupiah… melainkan manusia paling dekat, lalu diri kita sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
