Pada 2009, Mas Herman menjalankan usaha toko material atau bahan bangunan di daerah tempat tinggalnya. Saat itu belum banyak toko serupa di sekitar wilayah tersebut sehingga usahanya berkembang cukup pesat. Dari bisnis yang awalnya kecil, perlahan toko Herman menjadi semakin lengkap dan dikenal masyarakat sekitar sebagai salah satu tempat utama untuk membeli kebutuhan bangunan.
Ketika usaha sedang berada di masa terbaiknya, Herman mengaku omzet tokonya bisa mencapai sekitar Rp30 juta dalam sehari. Ia kemudian mempekerjakan empat karyawan, dua orang untuk melayani pembeli di toko dan dua lainnya bertugas mengirim barang. Bersama sang istri, Herman mengelola usaha tersebut hampir setiap hari dan sempat menikmati kondisi ekonomi yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Keadaan mulai berubah sekitar 2011 ketika seorang pemodal besar membuka toko material baru di daerah yang sama. Menurut Herman, pesaing tersebut mempunyai modal jauh lebih besar dan dapat mengambil barang langsung dari pabrik, mulai dari semen, cat, keramik, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Karena jalur pembeliannya lebih pendek, harga yang ditawarkan kepada konsumen menjadi lebih murah daripada harga di toko Herman yang masih mengambil barang melalui distributor.
Perlahan pelanggan Herman mulai berpindah. Omzet yang sebelumnya mencapai puluhan juta rupiah sehari terus menurun dari bulan ke bulan hingga hanya tersisa beberapa juta rupiah. Dengan keuntungan sekitar sepuluh persen, uang yang diperoleh bahkan mulai tidak cukup untuk membayar empat karyawan sekaligus menyediakan makan mereka. Herman akhirnya menghentikan sebagian aktivitas toko, memberhentikan karyawan, dan hanya berusaha menghabiskan stok barang yang masih tersisa.
Masalah menjadi semakin berat karena selama toko berkembang Herman terbiasa mengambil barang dari distributor dengan sistem pembayaran tempo. Ketika penjualan macet, tagihan tetap berjalan. Menurut pengakuannya, total tunggakan ke sejumlah distributor mencapai sekitar Rp300 juta. Di sisi lain, sertifikat rumah dan toko sudah dijadikan jaminan bank untuk mendapatkan modal usaha dengan cicilan beberapa tahun. Ketika angsuran tidak lagi mampu dibayar, rumahnya akhirnya disita.
Dalam kondisi pikiran kacau, Herman suatu hari keluar rumah untuk mencari udara dan berhenti di sebuah warung kopi. Di sana ia bertemu Ujang, mantan karyawan yang dahulu menjadi salah satu orang kepercayaannya di toko material. Ujang kini bekerja sebagai sopir mobil rental dan mengatakan baru saja mengantar seorang bos melakukan perjalanan ke Jawa Tengah.
Setelah didesak untuk bercerita, Ujang mengungkapkan bahwa tujuan perjalanan tersebut adalah menemui seseorang yang dianggap sebagai “orang pintar” atau dukun. Menurut Ujang, bos yang diantarnya sebenarnya sudah kaya tetapi masih mendatangi tempat tersebut untuk mencari cara agar kekayaannya bertambah. Cerita itu langsung menarik perhatian Herman yang saat itu sedang terhimpit utang dan kehilangan hampir seluruh asetnya.
Herman kemudian meminta Ujang mengantarnya menemui orang tersebut. Ketika persoalan itu dibicarakan kepada istrinya, menurut Herman sang istri juga mendukung karena berharap ada jalan yang dapat mengubah keadaan keluarga mereka. Dalam kondisi terdesak, Herman mengaku cara berpikirnya saat itu sudah tidak lagi jernih. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana memperoleh uang sebanyak mungkin untuk melunasi utang.
Keesokan harinya Herman dan Ujang menempuh perjalanan sekitar empat jam menuju sebuah daerah di Jawa Tengah. Mereka tiba di rumah seorang lelaki tua yang dipanggil Simbah. Herman kemudian menceritakan seluruh persoalan bisnisnya, mulai dari toko yang bangkrut, utang distributor, hingga rumah yang disita bank. Sang Simbah mengatakan akan mencoba mencari tahu apakah Herman mempunyai “jodoh rezeki” melalui jalan yang ditawarkannya.
Herman kemudian diajak masuk ke sebuah kamar yang dipenuhi berbagai benda pusaka serta aroma wewangian. Di depan sebuah meja kecil menyerupai altar, Simbah menyalakan hio lalu melakukan meditasi. Setelah selesai, ia mengatakan menurut penerawangannya terdapat kesempatan bagi Herman untuk mendapatkan kekayaan besar. Namun kesempatan tersebut disebut mempunyai satu syarat: harus ada “darah”.
Ketika Herman menanyakan maksudnya, Simbah menjelaskan bahwa “darah” berarti tumbal. Herman langsung mengatakan tidak bersedia apabila harus mengorbankan orang lain, terlebih anggota keluarganya. Namun karena sudah sangat putus asa, ia justru menawarkan dirinya sendiri. Herman bahkan mengatakan bersedia diberi kekayaan selama sekitar tiga tahun kemudian menyerahkan nyawanya apabila seluruh utangnya berhasil diselesaikan.
Simbah kembali melakukan meditasi dan kemudian mengatakan pengajuan tersebut dianggap dapat dilakukan dengan Herman sebagai tumbalnya sendiri. Untuk melanjutkan ritual, ia diminta menyediakan berbagai sesajen seperti tumpeng tiga warna, ayam berbulu walik, kelapa hijau, wewangian, rokok lisong, dan sejumlah perlengkapan lain. Karena takut salah membeli, Herman memilih memberikan sekitar Rp2 juta kepada Simbah agar seluruh kebutuhan disiapkan.
Keesokan harinya Herman kembali membawa pakaian koko dan handuk sesuai permintaan. Menjelang malam ia dibawa menuju sebuah makam keramat yang bentuknya memanjang. Seorang asisten bernama samaran Mas Parto mengantarnya masuk dan memberi pesan agar apa pun yang terjadi ia tidak boleh meninggalkan tempat sebelum waktunya. Herman kemudian ditinggalkan seorang diri untuk menjalani malam pertama ritual.
Pada awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun menurut kesaksiannya, udara di dalam ruangan makam perlahan menjadi sangat dingin meski tidak terdapat ventilasi besar. Ia merasa seperti ribuan semut merambat di kakinya. Tidak lama kemudian seekor kucing hitam jatuh dari atas dan disebut perlahan berubah semakin besar hingga menyerupai harimau sebelum menghilang menembus tembok. Setelah itu Herman mengaku melihat sosok tinggi besar berbulu, bermata besar, bertaring, dan bertubuh buncit berdiri di hadapannya.
Meski sangat ketakutan, Herman mengingat pesan agar tetap duduk. Setelah sosok tersebut menghilang, ruangan mendadak dipenuhi aroma pandan. Tidak lama kemudian, menurut pengakuannya, benda-benda seperti emas batangan, berlian, mutiara, dan uang kuno seolah muncul dari sekitar lantai makam. Benda-benda tersebut bahkan disebut seperti melayang dan memantulkan cahaya. Herman memilih tidak menyentuhnya karena sebelumnya sudah diingatkan agar tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi tujuan utama ritual.
Menjelang Subuh malam pertama berakhir. Pada malam kedua Herman kembali ditinggalkan sendirian di makam tersebut. Sekitar dua jam kemudian ia mencium aroma amis dan busuk yang semakin lama semakin menyengat. Ia mengaku kemudian melihat sosok menyerupai tengkorak dengan sisa daging yang bergelantungan berjalan di depannya sebelum menghilang. Setelah sosok itu pergi, suasana berubah dan muncul seorang perempuan cantik berambut panjang dengan bibir merah serta pakaian bergaya lama yang ia sebut sebagai Nyai.
Menurut Herman, perempuan tersebut bertanya apa yang diinginkannya. Herman menjawab bahwa dirinya membutuhkan modal sebanyak-banyaknya. Sang Nyai lalu mengatakan, “400 cukup enggak?” Sesaat kemudian Herman mengaku melihat tumpukan uang berjatuhan dan memenuhi ruangan. Karena masih terdiam, tawaran disebut meningkat menjadi 600 dan kemudian Rp1 triliun. Belakangan Simbah menjelaskan bahwa angka pertama yang disebut Nyai dimaksudkan sebagai Rp400 miliar.
Ketika Herman hendak mendekati tumpukan uang untuk memastikan apakah semuanya nyata, ia tiba-tiba melihat anak bungsunya yang saat itu berusia sekitar 13 tahun berdiri di atas uang tersebut dengan tatapan kosong. Herman langsung menghentikan langkahnya. Sosok Nyai kemudian menghilang, disusul anaknya dan seluruh tumpukan uang. Saat menceritakan kejadian tersebut kepada Simbah, Herman mendapat penjelasan bahwa karena dirinya tidak langsung menerima tawaran Rp400 miliar, nilai tersebut terus bertambah hingga akhirnya sosok yang disebut Nyai meminta anaknya sebagai tambahan tumbal.
Herman langsung menolak melanjutkan kesepakatan. Ketika pulang, ia justru mendapati anak bungsunya sedang demam tinggi, matanya melotot dan giginya bergemeretak. Herman semakin panik karena teringat apa yang baru dilihatnya di makam. Ia segera kembali menemui Simbah dan menyatakan ritual dibatalkan. Simbah kemudian memberikan air yang telah melalui proses ritual untuk diminum dan dibasuhkan kepada Herman serta anaknya, lalu meminta pakaian sang anak dilepas dan dibuang ke laut. Menurut Herman, beberapa hari kemudian kondisi anaknya berangsur pulih.
Setelah membatalkan seluruh proses, Herman tetap harus menghadapi kenyataan bahwa utangnya belum selesai. Ia akhirnya memilih jalan yang lebih berat tetapi nyata dengan menjual bagian warisan orang tuanya berupa sawah untuk melunasi tunggakan kepada para distributor. Setelah pembayaran diselesaikan, sisa hasil penjualan warisan dibagikan kepada saudara-saudaranya. Herman mengaku bersyukur karena meskipun kehilangan banyak harta, dirinya tidak sampai meneruskan perjanjian yang menurut keyakinannya dapat mengorbankan anak sendiri.
Kini Herman tidak lagi menjalankan toko material. Ia hidup lebih sederhana dengan membuka warung kecil dan usaha air galon sambil tinggal bersama anaknya. Ia mengaku tidak lagi mengalami gangguan setelah meninggalkan ritual tersebut dan merasa hidupnya jauh lebih tenang meskipun keadaan ekonomi tidak semewah dahulu. Dari pengalaman nyaris menerima Rp400 miliar hingga ditawari Rp1 triliun di makam panjang, Herman menyadari bahwa keterpurukan dan keserakahan pernah membuatnya hampir mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang. Pesannya kepada orang lain adalah jangan menjadikan pesugihan atau jalan instan sebagai solusi ketika sedang terdesak, karena keinginan mendapatkan kekayaan dengan cepat bisa membuat seseorang kehilangan keluarga, akal sehat, bahkan dirinya sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
