Mas Arka datang lagi ke studio dengan masker menutup wajah. Bukan gaya-gayaan—ia bilang ini soal keselamatan, juga soal beban yang sudah lama menggerogoti tidur. Ia mengaku pernah tergabung dalam sebuah organisasi elit yang tidak terdaftar, bergerak lintas negara, dan hidup dari jaringan kuasa yang rapi: uang, pengaruh, serta ketakutan.
Awalnya, ia masuk bukan karena ingin jadi “orang gelap”. Ia mengaku hanya penasaran. Ia tertarik pada pengetahuan-pengetahuan terlarang, simbol-simbol, dan kitab ritual yang membuat rasa ingin tahu manusia jadi lapar. Dalam ceritanya, ketertarikan itu jadi pintu—dan pintu itu terbuka dari lingkaran pertemanan kuliah yang memperkenalkannya pada orang-orang “berlevel” di organisasi tersebut.
Mas Arka menggambarkan fase awalnya seperti candu yang manis. Dari latar hidup biasa, tiba-tiba ia merasakan limpahan fasilitas dan uang yang seolah tidak ada batas. Malamnya jadi pesta, siangnya jadi belanja, apa pun bisa dibeli. Tapi anehnya, semakin banyak yang ia dapat, semakin hampa ia merasa. Di situ, salah satu “elit” mendekat dan bertanya: apakah semua kemewahan itu benar-benar membuatnya hidup?
Lalu tawaran yang lebih ekstrem datang: bukan sekadar kaya, tapi punya kuasa—kuasa atas orang lain. Mas Arka mengaku kala itu pikirannya sudah gelap; ia mengiyakan, karena merasa tidak ada lagi yang bisa mengisi kekosongan selain sesuatu yang “lebih tinggi” dari uang.
Setelah itu, ia menceritakan perjalanan-perjalanan yang kabur namun membekas. Ia menyebut pernah dibawa naik jet pribadi, namun detail tempat dan durasi penerbangan seperti “terkunci” di kepala—setiap dipaksa diingat, sakitnya seperti dihantam palu. Ia hanya ingat satu kesan: ada pulau-pulau yang tampak mirip satu sama lain, seolah memang sengaja dibuat samar agar sulit ditelusuri.
Di salah satu lokasi, ia menggambarkan bangunan bergaya Eropa lama—temaram, formal, dan dingin. Para orang penting berdandan rapi, memakai aksesori organisasi berupa simbol-simbol tertentu. Ia mengatakan, di titik inilah ia mulai sadar: ini bukan komunitas kecil yang iseng ritual, melainkan jaringan yang sudah berjalan lama, terdokumentasi, dan terorganisir.
Mas Arka kemudian menceritakan ritual yang membuatnya trauma. Ia menyebut ada altar, ada “tumbal”, dan ada pemanggilan entitas yang oleh banyak orang disebut dengan nama berbeda—Baal, Baphomet, Lucifer, atau sebutan lain—tapi menurutnya itu hanyalah label manusia untuk sesuatu yang mereka sembah. Ia menggambarkan penampakan entitas itu muncul dari gumpalan asap dan energi yang membuat semua orang di ruangan bersujud ketakutan.
Yang paling membuat ceritanya berbahaya—dan membuatnya sulit bicara—adalah bagian “tugas”. Mas Arka mengaku pernah berada di posisi rendah: semacam kurir/calo yang diperintah untuk membawa korban-korban rentan dengan iming-iming palsu, sementara eksekusi dan agenda besar dipegang orang lain. Ia menyebut organisasi itu menuntut “ketakutan” sebagai nilai tukar, dan korban dipilih karena semakin mudah dikendalikan, semakin “baik” bagi ritual.
Di tengah perbincangan, muncul istilah yang sedang viral di internet: “Epstein files”. Mas Arka tidak mengklaim punya bukti hukum, tapi ia mengaitkan isu itu dengan pola yang ia lihat—bahwa ketika skandal permukaan muncul, itu bisa menjadi pengalih perhatian dari sesuatu yang lebih besar. Ia juga menegaskan: dirinya tidak mengalami langsung bagian eksploitasi seksual seperti yang sering dituduhkan dalam isu tersebut, namun ia mengakui praktik penculikan dan pengorbanan manusia adalah bagian gelap yang ia lihat di lingkarannya.
Mas Arka juga menyinggung “cara kerja” jaringan itu untuk menjaga kuasa: memecah konsentrasi publik dengan banyak label—Illuminati, Freemason, dan berbagai simbol populer—agar orang sibuk berdebat soal kulit luar, sementara inti busuknya tetap tersembunyi. Ia bahkan menyebut isu-isu global (perang, teror, konflik, sampai ketakutan massal) sering dimanfaatkan sebagai skema kontrol dan perputaran uang—bukan karena ia bisa membuktikan semuanya, tapi karena itulah narasi yang ia dengar dan ia rasakan atmosfernya dari dalam.
Lalu bagaimana ia keluar? Mas Arka menyebut ia “menghapus jejak”: membuang kartu-kartu, memutus koneksi, mengubah identitas, dan menjauh dari tempat-tempat yang berpotensi dikenali. Ia mengaku hidupnya sekarang lebih aman, tapi tidak pernah benar-benar tenang—kegelisahan yang “tidak berwujud” masih sering datang, seperti bayangan yang menempel di belakang punggung.
Di akhir kisah, Mas Arka justru menyampaikan kalimat yang paling menusuk: yang paling berbahaya bukan iblis—melainkan manusia. Karena manusia sanggup melakukan apa pun, mengorbankan siapa pun, demi kuasa dan kenikmatan sesaat. Ia mengaku inilah alasan ia berani bicara: semacam penebusan dosa, dengan harapan tidak ada korban berikutnya.
Pesannya sederhana, tapi keras: jangan tergoda jalan pintas—entah itu kekayaan, kekuasaan, atau pengaruh. Karena bila seseorang menukar nurani dengan “pintu gelap”, yang datang mungkin tampak seperti hadiah, tapi ujungnya adalah tagihan yang menghancurkan jiwa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
