Mas Yoga tidak pernah menyangka, pertemanan memancing yang selama ini hangat justru menyeretnya ke cerita paling pahit dalam hidup. Tahun 2006, ia punya sahabat dekat—Miskad (nama samaran)—yang sudah seperti saudara sendiri. Biasanya mereka rutin ketemu di pelabuhan atau spot mancing, tapi beberapa bulan belakangan Miskad menghilang. Sampai suatu malam sehabis magrib, rumah Mas Yoga diketuk, dan Miskad datang dengan wajah yang jelas membawa beban.
Di teras rumah, Miskad langsung bicara tanpa basa-basi: ia ingin melakukan pesugihan karena usahanya hancur dan hutangnya ratusan juta. Mas Yoga menolak mentah-mentah. Baginya, uang instan seperti itu pasti ada konsekuensinya. Tapi Miskad tidak berhenti. Hampir seminggu ia datang setiap hari, memaksa Mas Yoga ikut. Mas Yoga tetap keras menolak—sampai akhirnya Miskad lenyap lagi dua minggu, lalu kembali dengan membawa seorang pria lain.
Pria itu bernama Tatang (nama samaran), bos beras dari Indramayu. Kiosnya banyak, perputaran uang besar, tapi hidupnya sedang ambruk karena satu tabiat yang tidak pernah bisa ia rem: dunia malam. Tatang mengaku hobi main perempuan, LC karaoke, diskotik, dan duitnya banyak bocor ke sana-sini sampai terjerat hutang yang lebih besar dari Miskad. Di titik terdesak itulah Tatang nekat: ia ingin “kontrak nyawa” demi uang gaib.
Mas Yoga tetap tidak mau ikut sebagai pelaku, tapi akhirnya luluh untuk sekadar mengantar—karena merasa tidak enak terus menolak dan melihat temannya makin buntu. Mereka berangkat ke Indramayu malam hari bersama sopir bernama Adi. Di tengah perjalanan, ban mobil meledak. Mas Yoga sempat berpikir, “Belum pesugihan sudah mati duluan.” Untungnya ban yang meledak ban belakang, mobil bisa dikendalikan, dan mereka tetap lanjut.
Sampai di rumah Tatang, mereka bertemu istrinya, Sumi (nama samaran), yang justru mengizinkan. Kalimat Sumi membuat Mas Yoga makin getir: yang penting suaminya punya duit, urusan caranya dari mana belakangan. Tengah malam mereka berangkat ke rumah kuncen, dan sepanjang jalan Mas Yoga berkali-kali melihat perempuan bergaun putih muncul di depan mobil, lalu hilang begitu saja. Seolah perjalanan itu memang sudah “diiringi” sejak awal.
Kuncen yang mereka temui ternyata perempuan, dipanggil Bu Nyai. Begitu mendengar maksud mereka, Bu Nyai langsung menegaskan: pesugihan kontrak nyawa idealnya satu orang saja, tidak boleh dua. Tapi Tatang keras kepala, merasa hutangnya terlalu besar dan harus ditangani sekarang. Akhirnya diputuskan Tatang yang menjalani dulu, sementara Miskad menyusul kalau Tatang sudah berhasil. Dari Bu Nyai, Tatang menerima syarat besar: menebus perlengkapan ritual, menyembelih ayam cemani, menyiapkan buhur/kembang, dan yang paling berat—menyembelih tiga ekor sapi jantan putih polos.
Tatang mencari cara. Ia meminjam uang dengan berbagai alasan, lalu benar-benar mendatangkan tiga sapi putih jantan. Penyembelihan dilakukan tiga tahap: pagi, siang, sore. Kepalanya diperlakukan berbeda-beda—ada yang ditanam di halaman depan, ada yang di belakang, dan satu kepala dibungkus kain putih untuk dibawa ke Pangandaran (pantai selatan) sebagai bagian dari ritual lanjutan. Darah sapi pun ditampung dalam botol untuk ikut dibawa. Di momen ini, keanehan muncul: sapi pertama disembelih sampai tujuh kali tidak mempan, baru berhasil setelah Tatang menghubungi Bu Nyai. Pada sapi ketiga, ribuan capung mengerumuni rumah Tatang—anehnya cuma mereka yang melihat, orang sekitar seperti tidak sadar.
Mereka berempat berangkat ke Pangandaran membawa kepala sapi dan darah. Di jalur menuju keramat terakhir, Mas Yoga yang sempat istirahat malah mengalami kejadian paling membuatnya gemetar: ia seperti didatangi rombongan pasukan berkuda, ada sosok berpakaian kerajaan menanyai asalnya, lalu menghilang. Setelah itu muncul iring-iringan manusia berdarah-darah seperti diseret dan dicambuk, menjerit kesakitan, sebelum akhirnya lenyap juga. Mas Yoga baru menyusul ke gua keramat dengan napas yang sudah kacau.
Di keramat terakhir, mereka bertemu kuncen laki-laki tua bertubuh kecil bernama Pak Tabun (sesuai pesan Bu Nyai). Tatang dimandikan air kembang, buhur dinyalakan, lalu Tatang dipaksa makan ayam mentah dan minum darah sapi dari botol. Setelah itu Tatang diminta melihat “sumur” atau lubang tertentu di dalam gua. Saat ditanya apa yang ia lihat, Tatang menjawab: dirinya memakai baju putih membawa satu kelapa. Pak Tabun menyatakan ritual berhasil, tapi memberi pesan tegas: setiba di rumah, Tatang harus menyiapkan satu kamar kosong gelap dan satu lemari. Tidak boleh ada siapa pun masuk selama tujuh hari.
Mas Yoga penasaran arti “baju putih dan kelapa satu”. Ia bertanya pada Pak Tabun, lalu pada Bu Nyai. Jawabannya sama, dingin, dan berulang: “Nanti kamu tahu sendiri.” Mereka pulang, menyiapkan kamar gelap itu, mengosongkan isi ruangan, menyisakan lemari, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Kuncinya dipegang agar tidak ada yang melanggar. Selama tujuh malam, Tatang mengirim kabar: ada suara benda jatuh keras, suara kerincing seperti kereta kuda mengitari rumah, dan kejadian-kejadian aneh yang hanya terdengar olehnya, sementara istrinya tidak mendengar.
Hari kedelapan, Tatang membuka kamar. Ia seperti terdorong energi dari dalam, tapi tetap masuk dan membuka lemari. Di sanalah uang itu muncul: bertumpuk rapih pecahan seratus ribuan, panas seperti memegang panci mendidih. Saat Mas Yoga dan dua orang lain datang memastikan, mereka melihat sendiri: uang itu nyata, tapi panas, lengket, dan terikat tali putih seperti tidak lazimnya uang bank. Setelah diberi kembang sesuai arahan Bu Nyai, uang yang tadinya lengket bisa dipisah satu-satu dan dibelanjakan; ada kembalian, uangnya “laku.” Totalnya dihitung: sekitar enam miliar rupiah.
Tatang membagi uang “terima kasih” pada Mas Yoga, Miskad, dan Adi. Mas Yoga membawa pulang sekitar tiga puluh juta, takut memakainya untuk hal macam-macam, lalu memilih membeli emas, dan akhirnya membeli rumah kecil seharga dua puluh sembilan juta agar bisa pindah dari rumah mertua. Ia mengira urusan selesai karena ia “cuma ngantar.” Ternyata itu awal tagihan.
Sebulan kemudian, anak Mas Yoga—usia satu setengah tahun—sakit panas ekstrem sampai 42–43 derajat. Mas Yoga sempat mengaji dan panasnya turun, tapi besoknya naik lagi, lalu anaknya meninggal di rumah sakit. Dalam duka, Mas Yoga mengabari Tatang. Bukannya belasungkawa, Tatang malah menjawab singkat: “Saya TF,” seolah mengira Mas Yoga minta uang. Istri Mas Yoga marah, merasa itu penghinaan. Uang transfer itu akhirnya disedekahkan ke masjid-masjid karena Mas Yoga takut itu jadi “jejak” yang menempel.
Belum kering air mata, kabar buruk bertubi-tubi. Tatang kambuh tabiat lamanya: kembali main perempuan, ke karaoke, diskotik, menghamburkan uang seolah bisa “pesugihan lagi” kapan pun habis. Mas Yoga, Miskad, dan Adi sempat datang menasihati. Tatang malah tersinggung, masuk kamar, dan berkata enteng: kalau uang habis, ya tinggal pesugihan lagi. Mereka pulang dengan hati panas, merasa nasihat mereka tak dianggap.
Beberapa waktu setelah 40 hari kematian anak Mas Yoga, anak Miskad kecelakaan dan meninggal. Tidak lama, istri Adi meninggal kesetrum saat menyetrika karena kabel terkelupas. Delapan bulan setelah kematian istri Adi, Tatang sendiri meninggal kecelakaan mobil—setelah sempat cekcok dengan istrinya yang melarang ia menemui perempuan-perempuan tak jelas. Subuh, Sumi mendapat kabar dari kepolisian: Tatang tewas.
Prosesi pemulasaraan Tatang pun aneh. Menjelang mandi jenazah, langit mendadak hitam, hujan deras, petir menyambar, seperti tidak wajar. “Pawang hujan” setempat menyerah dan berkata itu bukan hujan biasa—“hujan dari selatan.” Barulah seorang ustaz datang memimpin doa, dan hujan berangsur reda sehingga jenazah bisa dimandikan dan dikafani. Di warung, ustaz itu sempat berbisik pada mereka bertiga: yang mereka antar tadi “bukan jenazah manusia,” tapi ia enggan menjelaskan lebih jauh.
Malam tahlilan pertama, Mas Yoga melihat Tatang duduk di dekat pintu dengan pakaian putih. Ia menoleh ke Miskad—Miskad mengaku melihat juga. Adi pun sama. Seolah Tatang belum benar-benar “pulang,” atau masih terikat pada sesuatu yang dulu ia sepakati. Setelah itu, mereka pulang ke Cirebon dengan rasa ngeri yang tidak bisa ditaruh di mana-mana.
Empat puluh hari setelah Tatang wafat, rumah baru yang dibangun Tatang (biaya sekitar ratusan juta) terbakar habis. Berangkas yang menyimpan uang sisa enam miliar ikut gosong. Saat dibuka, uangnya sudah jadi abu hitam. Di saat yang sama, mobil rental yang dibeli Tatang dibawa kabur penyewa. Sumi menangis: semua habis, tinggal badan saja. Mas Yoga menatap puing-puing itu sambil mengingat anaknya, mengingat kematian yang berantai—dan ia baru benar-benar sadar ada benang yang sama di semua kejadian itu.
Bagi Mas Yoga, cerita ini bukan tentang “uang enam miliar” yang menggiurkan, tapi tentang kutukan yang menjalar. Ia sendiri hanya menerima sekitar tiga puluh juta—tapi dampaknya merambat sampai merenggut anak, mengguncang rumah tangga, dan menanam penyesalan yang tidak hilang sampai sekarang. Pesan terakhirnya sederhana tapi keras: jangan pernah mencari uang lewat jalur gaib, karena yang datang instan tidak pernah abadi—dan lebih mengerikan, keluarga kita bisa jadi yang pertama kali “dibayar.”
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
