Mbak Nur masih ingat jelas tahun 2018, saat ia tinggal di Jakarta bersama suaminya. Di masa itu, rumahnya sering didatangi seorang teman suaminya—sebut saja Agus—yang datang hampir setiap hari, bukan untuk sekadar main, tapi untuk lari dari masalah yang menumpuk di rumahnya sendiri. Pelan-pelan Agus curhat: hidupnya kelihatan “wah”, tapi di balik itu ada utang yang menggunung.
Agus bekerja sebagai karyawan swasta biasa, namun gaya hidupnya mewah—makan harus restoran, belanja barang mahal, keluar malam, dan ada kebiasaan buruk yang ikut menyeretnya: judi. Utang yang ia akui “yang kelihatan” saja sudah di angka 700 juta lebih, belum yang kecil-kecilnya. Ketika suami Mbak Nur bilang solusi utang cuma satu—dibayar—Agus justru balik bertanya: “Dari mana uangnya?”
Di titik buntu itulah Agus melempar ide yang bikin Mbak Nur dan suaminya langsung waspada: ia ingin pesugihan. Agus bahkan terdengar sudah mantap. Ia mengaku punya “info” dan meminta Mbak Nur—yang orang Jawa Barat—untuk menemani, seolah Mbak Nur pasti lebih tahu jalan menuju tempat-tempat seperti itu. Padahal Mbak Nur sendiri mengaku sama sekali buta soal dunia tersebut.
Yang membuat Mbak Nur makin kaget, Agus benar-benar menyiapkan modal. Ia membawa mobil (katanya mobil saudara) untuk “digade atau dijual”—pokoknya dijadikan uang. Beberapa waktu kemudian, Agus datang lagi membawa uang sekitar 70 juta lebih sebagai modal ritual. Mbak Nur sudah merasa ada yang tidak sehat: masalah keuangan bukannya diselesaikan dengan perencanaan, malah dibawa lari ke jalur instan.
Mereka akhirnya berangkat dari Jakarta ke Jawa Barat. Agus memilih tidur di penginapan, makan di restoran—meski modalnya cuma segitu. Mbak Nur sempat pulang ke rumahnya, namun Agus terus menekan: “Cari info tempatnya.” Mbak Nur pun terpaksa bertanya sana-sini sambil bercanda agar tidak menimbulkan kecurigaan, sampai akhirnya ada warga yang memberi petunjuk tentang “kuncen” di pinggiran desa dekat kebun dan alas.
Mereka datang ke rumah kuncen pertama. Rumahnya tua, kayu berukir, suasananya seperti rumah zaman dulu. Agus mengutarakan niat: pesugihan instan, tanpa puasa, tanpa proses panjang. Kuncen sempat menolak karena trauma—katanya dulu pernah didemo warga karena kasus tumbal—tapi pada akhirnya memberi daftar persyaratan di kertas.
Mulailah rombongan itu keliling mencari syarat: ayam cemani, minyak “jarum 9” yang mahal, kembang tujuh rupa, jajanan pasar, dan lain-lain. Setelah lengkap, kuncen bilang Agus harus ikut ke tempat ritual, sementara Mbak Nur dan suaminya tidak boleh ikut—mereka disuruh pulang.
Namun subuh-subuh, kuncen menelpon: ritual gagal. Agus ketakutan, menyerah, minta pulang. Mbak Nur mengira itu akhir—ternyata bukan. Agus justru makin keras kepala. Ia bilang masih mau cari “yang instan”, dan mulai membawa mereka ke titik-titik lain yang ia dapat entah dari mana. Berkali-kali mereka menempuh perjalanan jauh—3 sampai 4 jam keluar kota—dan tetap gagal.
Di percobaan kelima, suasana makin “gelap”. Lokasinya di pinggir hutan dan bukit, ada terowongan bambu rindang seperti menutup jalan, rumah terpencil dengan patung Semar di kanan-kiri. Kuncennya marah karena mereka datang tanpa “izin”. Agus disuruh masuk berdua saja bersama keponakan (Yanto), Mbak Nur dan suami menunggu di mobil.
Saat Agus keluar, ia membawa minyak yang katanya harus dioleskan ke alis. Begitu minyak itu dipakai, bau misik memenuhi mobil sampai membuat suami Mbak Nur pusing. Dalam perjalanan, mobil terasa menabrak sesuatu—Mbak Nur yakin seperti menabrak kuntilanak—mobil oleng ke pinggir jurang dan terselamatkan hanya karena ada tonggak-tonggak bambu. Suaminya lalu pingsan di jalan, sadar tapi linglung, menengok kanan-kiri seperti melihat sesuatu. Sesampainya rumah, Mbak Nur memanggil ustaz dan suaminya baru benar-benar pulih setelah diberi air doa.
Setelah kejadian itu, suami Mbak Nur sudah meledak: capek, takut, dan tidak mau lagi menemani. Tapi Agus tetap memaksa. Uangnya menipis. Barang-barang mulai dijual. Ia tidak peduli—asal dapat “hasil”.
Sampailah percobaan keenam, yang jadi titik balik. Mereka naik ke daerah puncak gunung, melewati tempat yang tampak seperti “kompleks”: ada saung, kamar-kamar, kuburan, pohon besar. Di sana, kuncen bertanya blak-blakan: mau pesugihan model apa—nikah jin, tumbal keluarga, atau yang lain. Dan dari pembacaan kuncen, Agus tidak “cocok” menumbalkan orang lain. Jalurnya hanya satu: pesugihan kontrak umur.
Kontraknya disebut 10 tahun. Agus tetap mengiyakan—karena ia sudah merasa habis. Demi syarat, mereka menjual barang elektronik: laptop, HP, apa pun. Uang masih kurang dan “ditalangi dulu” oleh pihak kuncen. Lalu Agus ditinggal 7 hari di lokasi, menjalani prosesnya.
Seminggu kemudian, kuncen menelpon agar Agus dijemput. Agus terdengar percaya diri: ia menjanjikan pembagian miliaran untuk Mbak Nur, suami, dan Yanto. Tapi ternyata ada instruksi lanjutan: Agus harus ngontrak di Jakarta, membeli lemari kayu, dan melakukan ritual harian sesuai arahan.
Mereka pontang-panting mencari pinjaman untuk sewa kontrakan dan beli lemari. Malam pertama Agus menjalani ritual di kontrakan itu. Paginya, Agus panik-minta didatangi. Begitu lemari dibuka… uang tumpah.
Uang pecahan 100 ribuan, banyak sekali—ada yang masih dibendel, ada yang sudah bercecer, seperti benar-benar memenuhi lemari. Agus memaksa mereka pegang “buat belanja, buat tester”. Mbak Nur gemetar. Karena di momen yang sama, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya serasa berhenti: sosok besar tinggi bertanduk tiga duduk di atas lemari. Yang melihat hanya Mbak Nur. Yang lain tidak. Dan sejak itu, Mbak Nur menolak mentah-mentah menyentuh selembar pun uang tersebut.
Agus terus menghubungi suami Mbak Nur, menawarkan uang, mengajak ikut lagi ke puncak gunung. Mereka menolak total. Mbak Nur memilih memutus jarak—tak mau terlibat, takut “imbasnya” merambat meski kontraknya atas nama Agus.
Beberapa bulan kemudian, kabar sukses Agus makin jelas. Dari jauh, Mbak Nur mendengar Agus membangun ruko tiga lantai dan membuka usaha macam-macam. Tahun-tahun berikutnya, Agus disebut makin berada: punya mobil Pajero, kadang membawa Alphard. Dari luar, hidupnya tampak menang telak.
Tapi kemenangan itu tidak bertahan selamanya.
Menurut cerita yang Mbak Nur dengar belakangan dari keponakan suaminya, awal 2025 Agus justru datang meminta ditemani ke Jawa Timur—ingin memutus pesugihan. Mereka tetap menolak. Agus berangkat bersama orang lain. Di sana, proses pemutusan gagal—bahkan dukun yang menanganinya disebut kalah dan meninggal. Agus pulang ke Jakarta dalam kondisi sakit-sakitan, lalu asetnya berangsur habis untuk berobat. Setelah itu, mentalnya ikut runtuh: linglung seperti orang gila, dan akhirnya hanya “dikurung” keluarga di rumah karena tidak mampu lagi ditangani.
Mbak Nur mengakui ada penyesalan besar. Ia merasa bersalah karena pernah menemani, walau tak menikmati hasilnya. Tapi ia juga memegang satu pelajaran yang ia ulang berkali-kali: ketika seseorang mengejar kaya instan dengan cara apa pun, sering kali ujungnya bukan sekadar “uang habis”—melainkan kesehatan, kewarasan, dan keluarga yang ikut menanggung malu dan takut.
Dan untuk siapa pun yang sedang terjepit, Mbak Nur meninggalkan pesan yang sederhana tapi tegas: jangan ikuti jejak Agus—bahkan jangan jadi orang yang “cuma menemani.” Karena sekali pintu itu dibuka, yang terlihat menjanjikan di awal, bisa berubah jadi tagihan panjang yang menutup hidup dari segala arah.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
