ahun 2008 menjadi titik kehancuran dalam kehidupan Mas Bram. Saat itu ia masih bekerja sebagai sopir truk gandeng yang mengangkut semen ke berbagai kota, seperti Magelang dan Solo. Kehidupan di jalan mempertemukannya dengan beragam pergaulan, mulai dari minuman keras, hiburan malam, hingga perjudian yang dilakukan para sopir ketika menunggu muatan.
Mas Bram awalnya hanya menjadi penonton ketika teman-temannya bermain sabung ayam. Namun seorang teman mengajaknya memasang taruhan kecil sebesar Rp100 ribu. Kebetulan ayam yang dipilih menang sehingga uangnya berlipat. Kemenangan pertama itu membuat Mas Bram senang dan mulai percaya bahwa sabung ayam bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.
Setelah kembali menang pada beberapa pertandingan berikutnya, Mas Bram ingin memiliki ayam sendiri. Ia membeli seekor ayam yang diklaim mempunyai kemampuan bagus, tetapi hewan tersebut langsung kalah ketika diadu. Alih-alih berhenti, kekalahan itu justru membuatnya semakin penasaran dan ingin mengembalikan uang yang telah hilang.
Ambisi Mas Bram semakin besar setelah melihat ayam milik temannya menang dengan taruhan jutaan rupiah. Ia kemudian membeli ayam mahal dari Cilacap dengan uang sendiri dan pinjaman dari temannya. Ayam tersebut sempat menang pada pertandingan pertama, membuat Mas Bram semakin yakin bahwa dirinya telah menemukan jalan menuju keuntungan besar.
Pada pertandingan berikutnya, Mas Bram menaikkan nilai taruhan hingga jutaan rupiah. Ayamnya kalah dan seluruh uang yang dipasang lenyap. Ia kembali membeli ayam lain, lalu memakai uang operasional truk yang seharusnya digunakan untuk perjalanan. Sekali lagi ia kalah dan tidak mempunyai dana untuk membawa kendaraan beserta muatannya melanjutkan perjalanan.
Dalam keadaan panik, Mas Bram menelepon istrinya dan berbohong bahwa truk mengalami kerusakan. Istrinya mencari pinjaman ke berbagai tempat lalu mengirimkan uang untuk membantu suaminya. Sebagian uang itu digunakan menutup biaya perjalanan, tetapi Mas Bram kembali tergoda membeli ayam serta memasang taruhan, hingga utangnya semakin bertambah.
Ketika sedang terjebak bersama truknya, Mas Bram melihat sebuah gunung dan mendengar cerita tentang ayam berkekuatan tidak biasa. Ia mendaki seorang diri karena berharap menemukan ayam yang selalu menang. Di perjalanan, ia melewati makam tua dan bertemu beberapa kakek yang mencoba memperingatkannya agar tidak melanjutkan niat tersebut.
Salah seorang kakek mengatakan bahwa ayam yang dicari Mas Bram memang ada, tetapi kemenangan yang diberikannya harus dibayar dengan nyawa anak-anak di sekitar pemiliknya. Semua anak berusia di bawah 15 tahun dapat menjadi korban. Mas Bram langsung teringat kepada anaknya dan memutuskan tidak mengambil ayam tersebut.
Mas Bram turun dari gunung dengan perasaan semakin kacau. Pada malam hari ia bermimpi bertemu seorang kakek yang memintanya bersabar karena rezeki akan datang. Namun ketika bangun, utang tetap menumpuk dan uang operasional truk belum tersedia. Ia kemudian mendatangi temannya yang disamarkan dengan nama Toyib untuk mencari pertolongan.
Toyib ternyata juga sedang terlilit masalah ekonomi. Keduanya kemudian sepakat mencari uang melalui jalan ritual setelah mendapat informasi dari seorang kenalan di Garut. Mereka mengumpulkan uang pinjaman untuk membayar biaya perlengkapan, lalu melakukan perjalanan panjang menuju sebuah tempat terpencil di kaki gunung.
Di lokasi tersebut, mereka bertemu orang tua yang menjanjikan jalan keluar dari utang. Pada malam yang ditentukan, telah disediakan berbagai persembahan, termasuk bunga, kelapa, dupa, dan sate yang disebut terbuat dari daging babi hutan. Mas Bram dan Toyib kemudian ditempatkan secara terpisah di sekitar makam, rumpun bambu, dan pohon durian.
Mas Bram diminta tetap berada di tempatnya sambil menunggu kemunculan sosok yang diyakini dapat memberikan rezeki. Semakin larut, tubuhnya terasa panas dan dingin secara bergantian, sedangkan pundaknya seperti ditekan beban berat. Dari kejauhan ia melihat bayangan putih bergerak di sekitar pohon.
Ketika mendongak, Mas Bram melihat makhluk tinggi besar yang tingginya hampir menyerupai pohon durian. Matanya menyala, bibirnya tebal, dan tubuhnya dipenuhi bulu. Ketakutan membuat Mas Bram mundur perlahan, sedangkan Toyib ternyata telah lebih dahulu meninggalkan tempatnya karena mengalami gangguan serupa.
Orang yang membimbing mereka menyatakan ritual itu gagal. Mas Bram dan Toyib pulang tanpa membawa uang, sementara biaya perlengkapan berasal dari pinjaman yang harus dikembalikan. Mas Bram merasa tidak berani pulang menemui istri, tetapi juga tidak dapat kembali bekerja karena seluruh uang jalannya telah habis.
Beberapa hari kemudian, mereka mendengar cerita mengenai sebuah gudang peninggalan Belanda. Konon, orang yang bermalam di sana pernah memperoleh uang setelah datang dalam keadaan kesulitan. Mas Bram kembali tergoda dan meminta izin kepada penjaga gudang untuk bermalam di dekat sebuah sumur tua yang dianggap keramat.
Mas Bram membawa persembahan serupa dalam jumlah lebih sedikit, termasuk bunga, kelapa, kepala ayam, dan sate babi hutan. Saat malam semakin larut, ia mendengar suara tangisan berputar-putar di sekelilingnya. Napasnya mendadak sesak dan tubuhnya terasa seperti ditarik memasuki sebuah lorong menuju bangunan tua.
Di dalam bangunan tersebut, Mas Bram bertemu seorang nenek berkebaya yang membawa tongkat. Nenek itu mengajaknya masuk ke sebuah ruangan yang dijaga berbagai makhluk menyeramkan. Setelah sebuah tirai dibuka, Mas Bram melihat tumpukan uang yang lebih tinggi daripada tubuhnya serta berbagai perhiasan yang jumlahnya sangat banyak.
Nenek itu mengatakan semua uang dan perhiasan tersebut boleh dibawa, tetapi ada syarat yang harus dipenuhi. Di atas meja tersedia tiga batang singkong yang harus dipotong oleh Mas Bram. Saat melihat jumlahnya, ia langsung teringat bahwa dirinya memiliki tiga orang anak dan menduga singkong tersebut melambangkan nyawa mereka.
Mas Bram menolak memotong singkong meskipun sedang sangat membutuhkan uang. Seketika ia sadar kembali di dekat sumur ketika waktu hampir subuh. Ia membereskan barang-barangnya dan pulang menemui Toyib, lalu menjelaskan bahwa uang itu hanya bisa didapatkan dengan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga.
Setelah pengalaman tersebut, Mas Bram akhirnya memberanikan diri pulang dan mengakui semua perbuatannya kepada sang istri. Ia menceritakan uang operasional yang dipakai berjudi, kebohongan tentang kerusakan truk, utang yang menumpuk, serta ritual ghaib yang hampir mengancam anak-anak mereka. Sang istri bersedia memaafkan dengan syarat Mas Bram benar-benar berhenti.
Mas Bram kemudian meninggalkan sabung ayam, memperbaiki ibadah, dan berusaha melunasi utangnya sedikit demi sedikit. Utang sekitar Rp10 juta akhirnya dapat diselesaikan tanpa bantuan uang ghaib. Ia juga meninggalkan pekerjaan sebagai sopir dan beralih menjadi montir hingga memiliki kesibukan di bengkel. Kisahnya menjadi peringatan bahwa perjudian dapat membuat seseorang kehilangan akal, membohongi keluarga, dan mencari jalan berbahaya. Sebesar apa pun masalah ekonomi, nyawa anak dan ketenangan rumah tangga tidak pernah pantas ditukar dengan kekayaan instan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
