Di sebuah kampung di Jawa Barat, sekitar tahun 2000, hiduplah seorang pria bernama Agus yang dikenal sebagai juragan motor terpandang. Usaha jual beli kendaraan bekas miliknya sempat melejit pesat, menjadikannya salah satu orang terkaya di kampung tersebut. Namun dalam waktu yang tidak terlalu lama, roda nasib berputar. Hutang mulai menumpuk, pelanggan sepi, dan yang paling menyakitkan, istri beserta anaknya memilih meninggalkannya di saat kondisi benar-benar terpuruk.
Kang Rayu, seorang pemuda yang saat itu baru lulus SLTA dan masih berstatus bujangan, adalah tetangga sekaligus teman yang dipercaya Agus. Selama beberapa malam berturut-turut, Agus datang ke rumah keluarga Kang Rayu, duduk berbincang panjang dengan sang ayah, mencurahkan isi hati tentang kondisi usahanya yang hancur. Obrolan itu berlangsung dua hingga tiga malam, sebelum akhirnya sang ayah meminta Kang Rayu untuk mengantar Agus menemui seorang ustaz yang dikenalnya — seorang yang dipercaya bisa menjadi jembatan antara alam nyata dan alam gaib.
Sesampainya di kediaman sang ustaz, Agus langsung mengungkapkan niatnya yang mengejutkan: ia ingin menikahi sosok jin. Baginya, jalan itulah yang diyakini bisa memulihkan usahanya yang sudah berada di titik nadir. Ustaz tersebut bersedia membantu dan mengaku akan mengirimkan jin Islam yang bisa dijadikan “makmum” oleh Agus — dalam artian, sosok gaib itu kelak bisa dimintai bantuan. Sebuah amalan tertulis diberikan dan harus diletakkan di depan rumah Agus sebagai isyarat.
Namun hari demi hari berlalu tanpa hasil. Sosok gaib yang dijanjikan tidak pernah datang. Setelah satu minggu penuh, Agus dan Kang Rayu kembali menemui ustaz untuk mempertanyakan kegagalan tersebut. Sang ustaz pun terus terang: niat Agus sejak awal sudah salah. Agus tidak sungguh-sungguh menikahi sosok jin itu — ia hanya ingin menggunakannya sebagai alat untuk mengeruk keuntungan. Makhluk gaib, kata sang ustaz, memiliki kepekaan yang luar biasa dan tahu bila niat seseorang tidak tulus. Maka mereka memilih tidak datang.
Sebulan kemudian, Agus kembali menemui Kang Rayu dengan pendekatan yang berbeda. Kali ini ia meminta diantar ke sebuah kota di Jawa Barat, sekitar dua hingga tiga jam perjalanan dengan motor, tanpa memberitahu orang tua Kang Rayu. Ia mendapat informasi tentang seorang sesepuh yang dikenal dengan sebutan Abah Aja — sosok yang diyakini banyak orang sebagai perantara antara alam gaib dan dunia nyata. Dengan berat hati namun tidak tega menolak, Kang Rayu pun menyanggupi.
Mereka berangkat pada hari Senin pagi. Sesampainya di kampung tujuan, nama Abah Aja ternyata sudah sangat dikenal oleh warga setempat. Rumahnya terletak di ujung kampung, berdampingan dengan hamparan pemakaman tua yang tidak terawat — makam-makam kuno bergaya Tionghoa yang dipenuhi semak liar. Ketika tiba, sudah banyak tamu yang menunggu di teras, semuanya adalah “pasien” dengan permohonan masing-masing. Abah Aja, seorang pria berusia lanjut namun bertubuh kuat, menyambut Agus dengan kalem dan langsung membawa mereka berdua ke dalam kamar untuk berbicara empat mata.
Pada kunjungan pertama itu, sore harinya Abah Aja mengajak keduanya berjalan kaki sekitar setengah jam menyusuri pematang sawah dan ilalang menuju puncak sebuah bukit. Di sana terdapat sebuah goa yang diapit dua pohon besar. Di dalam goa, dalam kegelapan yang hanya ditembus sedikit cahaya dari luar, mereka duduk bertiga. Abah Aja memimpin ritual dengan membacakan mantra dalam bahasa Sunda kuno, memerintahkan Kang Rayu dan Agus untuk menutup mata saat tepukan pertama dan membukanya saat tepukan kedua.
Ketika mata Kang Rayu akhirnya terbuka, ia menyaksikan sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Dari kegelapan goa, muncul seekor ular raksasa sebesar betis manusia dari kepala hingga ekor. Ular itu berwarna hijau botol, bergerak bukan dengan melata melainkan seolah berjalan tegak, lalu menatap Agus dengan seksama sebelum kembali ke dalam kegelapan. Tak lama kemudian muncul lagi seekor ular berwarna coklat, juga menatap Agus, lalu pergi. Yang terakhir, seekor ular berwarna kuning keemasan datang, menatap Agus, dan kembali beriringan dengan yang lainnya ke arah seorang Pak Tua misterius yang muncul membawa lampu tempel dari ujung goa.
Kang Rayu mengaku gemetar luar biasa menyaksikan pemandangan itu. Ia hampir tidak percaya dengan matanya sendiri. Namun Agus justru terlihat takjub dan terpesona, seolah menyaksikan sesuatu yang sangat indah — sesuatu yang Kang Rayu sendiri tidak bisa melihatnya dengan cara yang sama. Di perjalanan pulang, ketika Kang Rayu menyebut soal ular-ular itu, Agus meluruskan: “Yang ada itu bukan ular. Yang ada itu si kakek, si Mbah, dan cucu-cucunya si kakek.” Kang Rayu sadar bahwa sejak momen itulah, ia mulai merasakan firasat buruk yang kuat.
Dua hari kemudian, Agus kembali meminta Kang Rayu menemaninya. Kali ini ia sudah menyiapkan satu kardus besar berisi perlengkapan layaknya seserahan pernikahan: pakaian wanita, sandal, pakaian dalam, alat kosmetik, dan selembar kain hijau yang kemudian diketahui sebagai pengganti sprei. Kang Rayu yang membantu mengepak barang-barang itu baru menyadari tujuan sebenarnya ketika barang-barang itu sudah di dalam kardus — malam itu Agus akan menjalani prosesi pernikahan gaib.
Mereka berangkat lagi ke kota yang sama, tiba di rumah Abah Aja sore hari. Menjelang tengah malam, Abah Aja mengajak Agus pergi berdua ke goa. Kang Rayu dan saudara Abah menunggu di tepi jalan. Hampir dua jam Kang Rayu menunggu sambil menghabiskan beberapa batang rokok, hingga akhirnya sekitar pukul 11.30 malam Agus dan Abah kembali dengan langkah tenang. Malam itu, di dalam kamar Abah Aja, Agus menjalani malam pertamanya bersama sosok yang kemudian ia panggil “Si Putri.”
Keesokan subuhnya, di warung kopi pinggir jalan dalam perjalanan pulang, Agus menceritakan segalanya kepada Kang Rayu dengan wajah berbinar. Ia mengaku telah resmi menikah secara gaib melalui prosesi yang dipimpin Abah Aja selaku penghulu. Si Putri — siluman penghuni goa itu — datang ke kamarnya, melakukan hubungan layaknya suami istri, lalu pergi meninggalkan sejumlah uang di bawah sprei. Kang Rayu mengaku tidak begitu percaya saat itu, namun juga tidak tahu harus berkata apa selain mendoakan yang terbaik.
Tidak lama kemudian, Kang Rayu mendapat panggilan kerja ke Malaysia dan meninggalkan kampung selama 15 bulan. Selama itu ia nyaris tidak berkomunikasi dengan Agus. Ketika kembali, kabar yang ia dengar sungguh mengejutkan: Agus kini benar-benar kaya. Dari yang semula hanya memiliki satu ruko showroom motor, kini ia sudah memiliki tiga ruko sekaligus. Orang tua Kang Rayu pun heran dari mana Agus mendapat modal sebesar itu dalam waktu yang begitu singkat.
Saat Kang Rayu menemui Agus dan menanyakan kisah di balik kesuksesannya, Agus mengajak sahabatnya itu masuk ke kamar khusus berwarna serba hijau — dari kelambu hingga sprei. Di atas ranjang itu terhampar uang dalam jumlah yang cukup besar. Agus bercerita bahwa Si Putri datang dua kali setiap bulan, selalu pada malam Selasa atau malam Jumat yang jatuh di hari pasaran Kliwon atau Wage. Setiap kunjungan, setelah menjalankan kewajibannya sebagai “istri”, Si Putri selalu meninggalkan uang di bawah sprei. Total uang yang Kang Rayu hitung sendiri saat itu mencapai Rp5.250.000 — angka yang sangat besar untuk ukuran tahun 2000-an.
Namun seiring kesuksesan yang terus mengalir, Agus juga memiliki kewajiban yang tidak boleh dilanggar: mengadakan ritual penjemputan dua kali setiap bulan tanpa terkecuali. Sesaji harus disiapkan — kelapa muda, kembang-kembang, dan kemenyan bakar — sebagai isyarat bagi Si Putri untuk datang. Agus mengakui tidak ada tumbal nyawa yang diminta, hanya kesetiaan menjalankan ritual sesuai perjanjian. Satu hal yang ia tekankan kepada Kang Rayu saat itu: jangan sampai lupa.
Kang Rayu kembali berangkat ke Malaysia untuk melanjutkan kontrak kerja keduanya. Komunikasi kembali terputus. Ketika ia pulang ke kampung beberapa belas bulan kemudian, kabar yang menghampirinya bukan lagi tentang kegemilangan Agus — melainkan tentang sakitnya. Kang Agus sudah terbaring sakit selama hampir satu setengah tahun. Kang Rayu yang bergegas menemuinya mendapati sosok yang dulu gagah dan bersemangat itu kini terbaring dengan pandangan mata yang sayu dan kosong, hampir seperti orang yang sudah kehilangan kesadaran.
Orang tua Agus meminta bantuan Kang Rayu. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Agus tidak pernah menceritakan pesugihan itu kepada keluarganya. Setelah berbagai upaya medis tidak membuahkan hasil, mereka memanggil seorang ustaz untuk melakukan ritual doa bersama. Dalam pandangan gaib yang dimiliki sang ustaz, terungkap bahwa Agus sedang “dibelenggu” oleh sebuah perjanjian yang dilanggar. Agus tampaknya lupa — atau keasyikan dengan kesibukannya — sehingga tidak menjalankan ritual dua kali sebulan yang sudah disepakati dengan Si Putri.
Kang Rayu kemudian mengusulkan agar mereka semua mendatangi Abah Aja untuk mencari solusi. Namun setibanya di sana, kabar buruk menghantam mereka: Abah Aja telah meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang bisa memutus perjanjian gaib itu, tidak ada yang tahu cara melepaskan Agus dari belenggu yang mengikatnya. Mereka pulang dengan tangan kosong dan rasa putus asa yang dalam. Kondisi Agus terus memburuk dari hari ke hari hingga akhirnya ia meninggal dunia, meninggalkan penyesalan mendalam bagi semua orang yang mengenalnya.
Yang membuat semua orang ternganga adalah kondisi jenazah Agus. Di bagian kemaluannya ditemukan banyak sisik ular — hanya di bagian itu saja, tidak di tempat lain. Bau busuk yang luar biasa tercium dari area tersebut, dan bahkan ditemukan belatung di sana. Seluruh harta yang telah Agus kumpulkan selama berhubungan dengan Si Putri pun lenyap tanpa bekas: habis untuk biaya pengobatan, kamar-kamar tempat ritualnya dibakar, motor-motor yang sudah dijual secara kredit tidak bisa ditagih karena banyak pembelinya kabur begitu saja. Yang tersisa hanyalah rumahnya dan satu ruko — itupun salah satunya diketahui berstatus kontrak.
Kang Rayu mengakhiri kisahnya dengan rasa penyesalan yang masih terasa hingga kini, meski ia sadar bahwa ia bukan yang mengajak, melainkan yang diajak. Ia menyesal tidak cukup keras melarang sahabatnya itu mengambil jalan sesat tersebut. Dari pengalaman pahit yang ia saksikan sendiri, Kang Rayu menyimpulkan satu pelajaran berharga: rezeki yang datang dari jalan haram tidak pernah bertahan lama. Selalu ada harga yang harus dibayar, dan harga itu hampir selalu jauh lebih besar dari nikmat sesaat yang sempat dirasakan. Kekayaan yang dibangun di atas perjanjian dengan kegelapan, pada akhirnya, akan kembali ke dalam kegelapan juga.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
