Tahun 2018, Teh Tina merasa hidupnya sedang di puncak. Ia sudah berkeluarga, punya dua anak, dan merintis usaha jual-beli kayu bersama suaminya dari nol. Perlahan usaha mereka naik buka cabang, punya pabrik gesek kayu, saudara ikut kerja uang terasa lancar, kebutuhan rumah terpenuhi, bahkan sempat terlintas rencana umrah.
Di titik itu, Teh Tina mengaku terlalu percaya. Ia bukan tipe istri yang mengorek pergerakan suami tak pernah tanya pulang jam berapa, dari mana, dengan siapa. Dalam pikirannya, yang penting keluarga aman dan uang berjalan. Tapi justru sikap “cuek” itu berubah jadi celah: suaminya mulai gelap mata main perempuan dan, yang paling fatal, main judi online.
Masalahnya tidak berhenti di kebiasaan buruk. Orang-orang datang ke rumah menagih utang: 50 juta, 80 juta, dan seterusnya. Teh Tina shock karena ia merasa memegang kendali keuangan tapi ternyata suaminya menyembunyikan banyak pinjaman. Saat didesak, suaminya malah menyebut itu urusannya sendiri, bukan urusan istri.
Keributan rumah tangga pun tak terhindarkan. Puncaknya, suami memberi “syarat” kalau Teh Tina ingin berpisah: hutang-hutangnya harus dibayar. Teh Tina yang sudah lelah, tapi tetap memikirkan anak-anak, menyanggupi meski kemudian baru tahu totalnya bisa membengkak sampai ratusan juta.
Di saat itulah semuanya ambruk cepat. Usaha kayu yang tadinya kuat jadi berantakan karena Teh Tina pergi merantau dan suami tidak becus mengelola. Cabang tutup satu-satu, aset dijual, dan akhirnya Teh Tina memutuskan cari kerja yang “kilat” menghasilkan uang besar untuk menutup hutang.
Lewat temannya, Sasa, Teh Tina diajak kerja di spa. Awalnya Teh Tina bahkan tidak paham “spa itu apa”—yang ia tahu hanya pijat untuk perempuan dan katanya aman. Ia setuju karena terdesak. Training dilakukan di Bali selama tiga bulan, baru setelah itu dijanjikan pindah cabang ke Jakarta.
Masalahnya, begitu lulus training dan mulai kerja, Teh Tina justru sepi tamu. Sistem pemilihan memakai foto; kalau tidak dipilih tamu, ya tidak bekerja, tidak ada pemasukan. Kadang seminggu cuma dapat satu dua tamu—padahal ia butuh uang cepat. Di titik putus asa itulah Sasa mengatakan kalimat yang mengubah jalan hidup Teh Tina: kalau mau “dibungkusin” tamu—harus pakai bantuan abahnya.
Teh Tina mengira “abah” itu ayah kandung Sasa. Ternyata bukan. Mereka naik motor masuk jalur seperti ke gunung, melewati area kuburan dan petilasan. Di sana ada beringin besar dan makam tua, lalu muncul seorang lelaki sepuh yang anehnya matanya rapat tanpa bola mata, tapi bisa pegang HP, angkat telepon, dan bergerak seperti orang yang sangat paham medan. Tempat itu disebut berkaitan dengan “kuburan Nyeronggeng”.
Abah itu menilai weton Teh Tina “bagus”, lalu memberi arahan syarat: ayam cemani, kain hijau, bunga-bungaan khusus, dan ritual lanjutan. Di kunjungan berikutnya, Teh Tina diminta menyaksikan ayam cemani disembelih memakai keris. Darahnya diminum, sisanya dibalurkan ke tubuh, dan Teh Tina dilarang membersihkan sampai benar-benar pulang. Ia pulang dengan rasa takut, tapi nafsu “ingin cepat beres” lebih besar daripada nalar.
Malamnya Teh Tina bermimpi sosok perempuan seperti ronggeng—berkemben hijau lumut, bersanggul besar, membawa selendang, lalu memegang kepala Teh Tina sambil berkata: “Kamu anak saya.” Setelah itu, Teh Tina dibawa ke tempat lain (disebut pulau/petilasan) ditemani orang bernama Ucup. Di sana ia menjalani proses semacam berendam pada jam tertentu, airnya terasa hangat di malam dingin, lalu datang sosok yang ia lihat seperti putri duyung: bawahnya bersisik emas, atasnya cantik seperti putri, memakai mahkota dan selendang. Sosok itu memberikan “hadiah” dan kembali mengulang kalimat yang sama: “Kamu anak saya.”
Saat kembali, Teh Tina diberi “batu” yang katanya harus dibawa ke mana-mana. Ia sendiri mengaku kalau tidak membawa batu itu, batinnya seperti gelisah—seolah ada ketergantungan yang dipasang halus. Setelah itu barulah pemasangan susuk dilakukan: empat titik—di jidat, dada, bagian tertentu di tubuh, dan bibir. Anehya, Teh Tina bilang prosesnya bukan sakit—justru seperti “enteng”, seperti melayang, seperti ada kebahagiaan yang dipompa dari dalam.
Efeknya langsung meledak sejak hari pertama kerja. Baru sampai tempat kerja, ia sudah dibooking. Sehari bisa masuk berkali-kali. Tamu-tamu yang datang bukan cuma “minta treatment”, tapi banyak yang cuma ngobrol dan memberi uang besar. Ada yang transfer 5 juta, ada yang kasih saweran belasan juta lewat kasir. Dalam beberapa hari, Teh Tina merasa hidupnya berubah drastis—seolah ia jadi pusat magnet.
Di tengah euforia itu, muncul satu tamu yang makin membuat Teh Tina yakin “ini jalan keluar”: pria berduit yang royal, sering memberi tip besar, lalu berani membuktikan keseriusannya dengan transfer 25 juta hanya karena Teh Tina menantang, “kalau serius, transfer malam ini.” Teh Tina sampai tidak bisa tidur—karena itu pertama kalinya ia merasakan uang segitu datang dari satu orang tanpa proses panjang.
Tapi hidup yang terlalu mudah biasanya menyimpan tali. Abah sebenarnya memberi pantangan, namun Teh Tina mengaku tidak diberi penjelasan spesifik. Ia baru paham belakangan: salah satu larangan intinya adalah jangan berhubungan dengan pasangan orang (dalam cerita Teh Tina, itu disimbolkan sebagai “jangan makan daging mentah”). Teh Tina melanggar—karena pria yang membuat hutangnya terasa bisa selesai itu ternyata sudah beristri.
Setelah pelanggaran itu, teror datang seperti pintu yang dibuka paksa. Teh Tina mulai melihat sosok perempuan bermuka rata seperti habis kecelakaan, lalu penampakan lain yang makin mengerikan: makhluk bertaring, mata merah, muncul dekat wajah saat ia hendak memejamkan mata. Bukan cuma Teh Tina yang merasakan—teman-temannya juga kadang ikut teriak karena melihat hal yang sama.
Bukan hanya gangguan visual. Rezekinya juga mendadak seret. Dari yang tadinya full booking, tiba-tiba sepi total. Teh Tina panik, balik menemui Abah. Di sana Abah marah karena Teh Tina tidak setia pada perjanjian. Sebagai “penetral”, Abah menyuruh penyembelihan kambing hitam dan penguburan bagian tertentu di titik tertentu—namun Teh Tina tidak sempat menjalankan karena pekerjaannya dan kondisinya yang sudah kacau.
Yang lebih membuat Teh Tina tidak tenang: Abah kemudian meninggal. Saat Teh Tina datang lagi, keluarga mengatakan Abah sudah wafat dua bulan, padahal Teh Tina merasa baru berbincang beberapa minggu sebelumnya. Sejak itu, Teh Tina seperti kehilangan pintu pulang—susuknya sudah terpasang, “batu” harus dibawa terus, sementara orang yang memasang sudah tidak ada.
Teh Tina mengaku sudah ke mana-mana mencari cara agar semuanya hilang, tapi belum berhasil. Efeknya menempel ke hidup sehari-hari: insomnia, mudah marah, ingin menangis tanpa sebab, emosi meledak, dan ketakutan tiap kali memejamkan mata karena penampakan seperti sengaja muncul tepat di depan wajah.
Di tengah titik gelap itu, Teh Tina bertemu suami barunya, Hadi—orang yang katanya juga punya kepekaan. Hadi tidak menghakimi, justru mau mendengar dan menemani. Teh Tina bilang, hal sesederhana “tidur ditemani” saja sangat menolong, karena dulu ia menanggung semuanya sendirian.
Namun Teh Tina juga jujur: sampai sekarang gangguan itu belum benar-benar hilang. Ia hanya belajar bertahan, menjaga agar tidak berdampak ke anak-anak, dan berharap suatu saat ada jalan yang benar-benar bisa memutus semuanya.
Di akhir kisahnya, Teh Tina meninggalkan pesan yang terdengar sederhana tapi berat: sesulit apa pun hidup, jangan mengambil jalan gaib untuk “mempercepat” rezeki. Karena ketika penyesalan datang, ia datang belakangan—dan tidak semua orang diberi kemudahan untuk pulang seperti semula.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
