Mas Lukman mengalami semuanya di awal tahun 2000-an, saat ia baru saja menikah dan berencana memboyong istrinya ikut tinggal di Jakarta. Waktu itu ia bekerja di sebuah pabrik sepatu ternama, posisinya sudah lumayan, hidup terasa mulai stabil—sampai badai PHK datang dan ia ikut terseret.
Karena gengsi dan tidak tega membuat keluarga cemas, Mas Lukman menutup rapat kabar pahit itu. Ia tetap bertahan di Jakarta, cari cara apa pun agar dapur tetap ngebul. Dari staf kantor ia turun jadi buruh bongkar-muat kontainer di kawasan industri, lalu pulang kampung dua minggu sekali membawa pendapatan seadanya.
Suatu hari ia bertemu teman lama, Mas Imam, yang menawarkan pekerjaan di sebuah “transit hotel” di wilayah Jakarta Utara. Awalnya Mas Lukman ditugaskan jaga malam menjaga material bangunan, lalu setelah hotel selesai ia dipindah ke bagian dining room seperti OB. Gaji bulanan memang tidak besar, tapi ia bersyukur karena akhirnya punya pegangan lagi.
Di tempat itulah Mas Lukman kenal dengan manajer bernama Mas Aris. Sosok Mas Aris kelihatan baik luar biasa—bahkan terlalu baik. Kalau satu shift, Mas Aris sering menyelipkan uang makan, kadang seratus, kadang dua ratus ribu. Mingguan pun kadang masih ada “uang V” yang Mas Lukman sendiri tidak paham itu uang apa. Tapi karena sedang butuh dan menganggap itu sedekah atasan, Mas Lukman menerimanya tanpa banyak curiga.
Beberapa bulan setelah istrinya ikut ke Jakarta, mereka mendapat kabar gembira: istrinya hamil. Namun sejak mulai hamil, muncul kebiasaan aneh yang berulang: setiap habis magrib, istrinya selalu minta keluar kontrakan. Alasannya macam-macam—beli sabun, beli ini-itu—padahal barang di rumah masih ada. Mas Lukman mengira itu ngidam biasa dan memilih menuruti.
Sampai suatu malam, istrinya pulang dengan muka pucat. Ia bilang ada wanita cantik memakai baju kuning long dress yang seperti membuntuti dan memperhatikan terus. Mas Lukman awalnya menganggap hal itu cuma sugesti, tapi ketakutan istrinya nyata—bukan ketakutan yang dibuat-buat.
Puncaknya terjadi saat “wanita itu” berbicara langsung ke istrinya. Kalimatnya membuat Mas Lukman panas dingin: yang di dalam kandungan itu “punya dia”. Istri Mas Lukman menggigil begitu sampai rumah, dan Mas Lukman hanya bisa menahan panik sambil membaca doa sebisanya, berharap keluarga kecilnya dilindungi.
Tidak lama kemudian, istrinya keguguran untuk pertama kali. Secara medis tidak ada penyebab yang jelas—istrinya bukan orang lemah, tidak jatuh, tidak ada tanda bahaya yang spesifik. Mereka mencoba menenangkan diri: mungkin belum rezeki.
Namun pola itu terulang. Hamil lagi, habis magrib ingin keluar lagi, “wanita kuning” muncul lagi, kalimat yang sama diulang lagi. Lalu keguguran kedua terjadi—dan kali ini Mas Lukman mulai hancur dari dalam. Ia menahan tangis di masjid, merasa ada yang mengacak-acak hidupnya tapi ia tidak tahu apa.
Mas Lukman dan istrinya mencoba bertahan. Hamil ketiga, dan kejadian itu datang lagi—seolah ada yang menunggu di jam dan tempat yang sama. Tak sampai lama, keguguran ketiga terjadi. Tiga kali kehilangan, tiga kali juga rasa bersalah tumbuh: “Ada apa dengan rumah tangga kami?”
Di titik itulah Mas Lukman memberanikan diri sowan pada seorang kiai di kampung kontrakan. Ia cerita apa adanya: keguguran berulang, gangguan yang mengikut, dan perasaan tidak enak yang tidak bisa ia jelaskan. Kiai itu tidak langsung menyebut hal gaib—yang pertama ditanya justru sumber penghasilan dan uang yang masuk ke rumah.
Mas Lukman pun teringat: uang “bonus” dari Mas Aris yang sering ia terima. Ia tidak tahu itu uang dari mana. Ia lalu menanyai rekan kerja senior, Mas Niko, dan dari situ ia mendapat cerita yang membuat dada tambah sesak: pernah ada tamu hotel datang hendak menginap, tapi Mas Aris bilang kamar penuh—padahal kamar kosong. Ada dugaan uang kamar tidak masuk jalur resmi, dan Mas Aris “mengambil” dari situ.
Kiai itu hanya berpesan tegas: kalau uangnya tidak jelas, jangan dibawa pulang jadi makanan istri dan anak. Mas Lukman diminta memutus keterikatan dengan sumber yang meragukan, memperbanyak istighfar, dan kalau bisa pindah bagian atau menjauh dari lingkaran orang yang memberi uang itu.
Mas Lukman akhirnya meminta dipindahkan dari lingkaran kerja yang dekat dengan Mas Aris. Mas Aris terlihat tidak senang, bahkan seperti tersinggung—seolah kepindahan Mas Lukman bukan sekadar urusan divisi, tapi urusan “ikatan”. Mas Lukman tetap jalan, karena ia lebih butuh tenang daripada dianggap loyal.
Di masa itu, Mas Aris juga sempat datang ke kontrakan Mas Lukman dan menunjukkan benda-benda semacam jimat di dompetnya. Ia bertanya-tanya soal “tempat ngalap berkah” di Jawa Barat, lalu mengajak Mas Lukman cuti bareng ke daerah Sragen—katanya untuk cari berkah. Mas Lukman ikut karena merasa hutang budi, tapi batinnya tidak enak: tempat yang dituju bukan pesantren, bukan kiai—melainkan gubuk dan perbukitan sunyi yang terasa janggal.
Di sana Mas Lukman menyaksikan Mas Aris bicara dengan kuncen, menyebut-nyebut “Nyai Ratu” yang oleh kuncen juga dikaitkan dengan Dewi Lanjar. Mas Aris menjalani proses beberapa hari. Mas Lukman tidak ikut ritual, hanya menunggu. Ketika selesai, Mas Aris pulang dengan wajah sumringah—seperti orang yang baru menang besar sebelum pertandingan benar-benar dimulai.
Dua bulan setelah itu, perubahan Mas Aris terlihat mencolok. Ia punya mobil. Lalu rumahnya direnovasi. Lalu bisnisnya merambat—dari rental, sampai ekspedisi dan kendaraan besar. Seolah uang datang deras, dan semuanya harus “diubah” setiap periode tertentu seperti memenuhi permintaan yang tak kasat mata.
Mas Aris kemudian sering meminta tolong Mas Lukman mencairkan BG (cek/giro) untuk kebutuhan operasional. Mas Lukman membantu karena dianggap sekadar urusan administrasi, dan ia dapat komisi kecil. Tapi sejak dinasihati kiai, uang itu tidak pernah ia bawa sebagai nafkah keluarga. Ia pakai untuk kebutuhan dirinya sendiri, dan sisanya ia simpan tanpa berani menyentuhnya.
Gangguan datang lagi—kali ini lebih frontal. Suatu malam lewat tengah malam, ada perempuan cantik datang ke kontrakan mencari Mas Lukman, menyebut namanya dengan yakin, lalu memaksa Mas Lukman ikut. Ia bilang Mas Lukman “terlibat” karena ikut menikmati aliran uang Mas Aris. Mas Lukman merinding: ini bukan lagi sekadar cerita “wanita kuning” yang dilihat istrinya, melainkan seperti penagihan.
Mas Lukman lari ke kiai saat itu juga. Kiai marah dan menegaskan: putus total, jangan lagi ada urusan apa pun, dan perbanyak bacaan tolak bala. Mas Lukman pulang dengan gemetar—dan anehnya, perempuan itu hilang begitu saja, seperti kabut yang tidak punya pintu keluar.
Meski begitu, Mas Aris tetap mencoba melibatkan Mas Lukman. Ia datang lagi bawa BG, minta dicairkan lagi. Mas Lukman menuruti seperlunya, tapi uangnya tidak dipakai. Dan gangguan itu kembali—lebih menekan. Perempuan itu datang lagi, kali ini bersama sosok laki-laki tinggi besar berjubah hitam bermata kemerahan, seperti “pengawal”. Mereka memaksa Mas Lukman ikut malam itu juga.
Mas Lukman memilih satu hal yang masih ia pegang: ia mengembalikan semua uang yang pernah ia terima dan yang sedang ia pegang, sambil menegaskan tidak memakainya sama sekali. Seolah itu bukti bahwa ia tidak mau terikat. Perempuan itu ditarik mundur oleh sosok pengawal tadi—dan pergi tanpa banyak kata.
Dua hari setelah kejadian itu, kabar buruk datang: istri dan anak Mas Aris kecelakaan. Lalu Mas Aris sendiri mulai linglung. Pekerjaan hotelnya ditinggalkan, usaha-usaha yang tadinya melesat mulai kacau, mobil-mobilnya hilang satu per satu, dan dari cerita yang sampai ke telinga Mas Lukman, Mas Aris seperti orang yang “habis bahan bakar”—padahal baru dua tahunan menikmati puncak.
Mas Lukman sempat diajak menjenguk Mas Aris yang sakit. Kondisinya mengenaskan: tubuhnya lemah, komunikasi kacau, tatapannya kosong. Tak lama setelah itu, Mas Aris meninggal. Mas Lukman tidak merayakan apa pun—yang ia rasakan hanya takut dan sedih, karena ia melihat sendiri betapa cepat “kemenangan” itu runtuh.
Mas Lukman akhirnya mengambil keputusan besar: pulang kampung. Ia merasa di Jakarta ia tidak pernah benar-benar bisa membangun rumah tangga dengan tenang. Di kampung, ia bekerja sederhana ikut lembaga desa, hidupnya tidak berlebihan, tapi batinnya jauh lebih adem.
Dari semua kejadian itu, Mas Lukman menyimpulkan sesuatu yang menempel di kepalanya sampai sekarang: uang yang sumbernya tidak bersih bukan cuma merusak dompet—ia bisa merusak tubuh, rumah tangga, bahkan “mengundang” masalah yang tak bisa dijelaskan medis. Karena itu ia selalu mengingatkan: jangan pernah menghalalkan cara, jangan bersekutu dengan apa pun yang menuntut tumbal, dan kalau pun hidup sedang sempit, lebih baik pelan-pelan dengan cara yang benar daripada cepat tapi membakar keluarga sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
