Sejak lulus sebagai dokter umum pada 2012, Dr.Stephanie Reni Anindita sudah tertarik pada dunia forensik. Baginya, ilmu forensik bukan hanya soal memeriksa jenazah, tetapi menerapkan ilmu kedokteran untuk membantu kepentingan peradilan dan mencari jawaban dari tubuh orang-orang yang sudah tidak bisa lagi bercerita. Setelah sempat magang dan menempuh pendidikan spesialis, ia resmi menjadi dokter spesialis patologi forensik dan medikolegal pada 2019.
Dalam bekerja, dr. Stephanie mengaku selalu memperlakukan jenazah seperti pasien yang masih hidup. Sebelum pemeriksaan, ia biasa berdoa dan meminta izin ketika hendak menyentuh atau melakukan tindakan pemeriksaan. Sikap itu menurutnya merupakan bentuk penghormatan kepada seseorang yang pernah hidup sekaligus cara agar dirinya tetap tenang menghadapi beragam kasus kematian yang sering kali penuh kejanggalan.
Salah satu kasus yang paling membekas adalah penemuan jenazah laki-laki di kawasan pantai yang dikenal masyarakat sebagai lokasi ritual. Dari informasi petugas, korban ditemukan di tempat terpencil hanya mengenakan kain putih, sementara di sekitarnya terdapat bunga kering, wadah bekas pembakaran dupa, serta kertas bertuliskan simbol atau huruf yang tidak dikenali. Warga setempat menduga laki-laki tersebut datang untuk menjalani ritual tertentu yang dikaitkan dengan pencarian kekayaan.
Di masyarakat sekitar, lokasi tersebut juga dikaitkan dengan ritual yang disebut berhubungan dengan Batara Karang. Bahkan ada cerita bahwa orang yang gagal menjalani ritual bisa berubah menjadi jenglot. Namun ketika dr. Stephanie memeriksa jenazahnya, yang ia temukan bukan makhluk kecil bertaring seperti gambaran jenglot dalam cerita masyarakat, melainkan jenazah manusia yang telah mengalami mumifikasi secara alami.
Menurut penjelasan medisnya, kondisi lingkungan pantai yang panas, kering, dan kaya mineral dapat mempercepat hilangnya cairan tubuh sehingga kulit mengering, mengerut, dan berubah kecokelatan. Dari kondisi jenazah, ia memperkirakan laki-laki tersebut telah meninggal sekitar satu sampai dua bulan. Ia juga menemukan kerusakan tulang lama pada salah satu tungkai yang mengarah pada penyakit serius, sehingga muncul kemungkinan korban memang sudah sakit sebelum mendatangi lokasi ritual tersebut.
Kasus lain justru berkaitan dengan pengalaman yang sampai sekarang sulit ia jelaskan secara ilmiah. Suatu sore ketika tertidur, dr. Stefani mengaku mengalami ketindihan dan melihat sosok perempuan berbaju biru yang tampak sedih. Ia juga mencium aroma asing yang sangat kuat. Tidak lama kemudian, ia mendapat panggilan untuk memeriksa jenazah perempuan di rumah sakit.
Ketika kantong jenazah dibuka, dr. Stephanie terkejut karena perempuan tersebut mengenakan pakaian berwarna biru yang mengingatkannya pada sosok dalam pengalaman tidurnya. Aroma yang keluar dari jenazah juga terasa sama dengan bau yang sebelumnya ia cium. Dokter senior kemudian menjelaskan bahwa aroma tersebut dapat muncul pada kasus paparan zat beracun tertentu. Bagi Stephanie, kesamaan itu tetap menjadi pengalaman pribadi yang belum dapat ia jelaskan apakah hanya kebetulan atau sesuatu yang lain.
Dr. Stephanie kemudian menceritakan kasus seorang laki-laki yang oleh keluarganya diyakini menjadi korban santet setelah hubungan cintanya kandas. Laki-laki itu mengalami tekanan psikologis berat, mengurung diri, sering mengamuk, dan akhirnya ditemukan meninggal di kamarnya. Keluarga menganggap perubahan tersebut berkaitan dengan mantan pasangan dan dugaan guna-guna.
Pemeriksaan forensik justru menemukan penjelasan medis yang berbeda. Di saluran pencernaan korban ditemukan pecahan benda tajam yang menurut pola lukanya masuk melalui mulut dan menyebabkan cedera berat hingga peradangan rongga perut. Dr. Stephanie menilai kondisi mental korban kemungkinan mendorong perilaku memakan benda yang tidak semestinya. Menurutnya, kasus ini menunjukkan pentingnya tidak langsung menyimpulkan santet ketika gangguan kejiwaan dan penyakit masih mungkin ditangani secara medis.
Pengalaman berikutnya datang dari korban kecelakaan lalu lintas yang dikenal keluarganya sebagai orang kuat dan disebut mempunyai ilmu kebal. Saat memeriksa tubuh korban, dr. Stephanie menemukan benda panjang dan keras menyerupai logam di bawah kulit bagian dada. Keluarga kemudian mengakui bahwa korban memang pernah memasang susuk sebagai pegangan agar dianggap lebih kuat dan berani.
Karena keluarga tidak memberikan izin untuk mengeluarkan benda tersebut, dr. Stephanie hanya dapat mendokumentasikan keberadaannya. Dari pemeriksaan luar, luka-luka korban tetap sesuai dengan pola kecelakaan berat, termasuk cedera kepala, patah tulang, dan kerusakan di beberapa bagian tubuh. Bagi dr. Stephanie, keberadaan susuk tidak mengubah kenyataan bahwa tubuh manusia tetap dapat mengalami cedera fisik sebagaimana manusia lainnya.
Ketika masih praktik sebagai dokter umum, ia pernah diminta datang ke rumah seorang laki-laki yang sakit parah. Kulit pasien tersebut dipenuhi lepuhan yang telah terinfeksi dan kondisinya sangat lemah. Dari gejalanya, dr. Stephanie sempat memikirkan kemungkinan sindrom berat akibat reaksi obat, tetapi keluarga mengatakan pasien menolak dibawa ke rumah sakit karena percaya penyakitnya bukan masalah medis.
Saat tiba di rumah, dr. Stephanie memeriksa napas, denyut nadi, dan bunyi jantung pasien, tetapi tidak menemukan tanda kehidupan. Tidak lama kemudian tubuh laki-laki tersebut mengeluarkan suara seperti erangan. Ia memeriksa ulang dan tetap tidak menemukan tanda vital. Menurut penjelasannya, suara itu dapat terjadi karena sisa gas dari lambung atau paru-paru keluar setelah kematian, sehingga bukan berarti orang tersebut hidup kembali seperti yang mungkin terlihat oleh orang awam.
Seorang tokoh yang dituakan di lingkungan tersebut kemudian bercerita bahwa pasien pernah mempelajari ilmu agar tubuhnya kuat dan mempunyai pantangan tertentu. Menurut cerita itu, pasien melanggar pantangan setelah berhubungan dengan perempuan yang bukan pasangannya, lalu kulitnya mulai melepuh. Dr. Stefani tetap memandang cerita tersebut sebagai kepercayaan keluarga dan menyesalkan keputusan pasien menolak pertolongan medis, karena kondisi seperti reaksi obat berat pada beberapa kasus masih mungkin ditangani bila cepat dibawa ke fasilitas kesehatan.
Ia juga membagikan cerita turun-temurun dari keluarganya mengenai seorang kerabat yang mendatangi sebuah gunung di Jawa Timur karena percaya pada sebuah pohon yang diyakini dapat memberikan keberuntungan. Kerabat tersebut mendapatkan sesuatu yang jatuh dari pohon dan bahkan menolak menjualnya meskipun ditawar mahal karena yakin benda itu akan membuat usahanya semakin sukses.
Harapan tersebut justru tidak menjadi kenyataan. Menurut cerita keluarga, usaha kerabat itu malah mengalami kemunduran hingga banyak harta harus dijual. Dr. Stephanie melihat kemungkinan yang lebih sederhana: keyakinan akan kekayaan instan bisa membuat seseorang kehilangan kewaspadaan, menjadi terlalu percaya diri, dan mengabaikan usaha yang selama ini menopang bisnisnya.
Ada pula kasus perempuan yang ditemukan meninggal di kamar kos setelah sebelumnya mengalami sakit cukup lama. Dalam pemeriksaan ditemukan kondisi biologis yang menurut dr. Stephanie tidak lazim untuk seseorang yang baru meninggal dalam waktu relatif singkat dan dikenal sangat menjaga penampilan serta kebersihan. Karena keluarga tidak mengizinkan autopsi lengkap, penyebab kematian tidak dapat ditentukan dan kasus itu tetap menjadi salah satu pertanyaan yang belum memperoleh jawaban medis secara utuh.
Kasus lain bermula ketika sebuah rumah lama dibongkar dan ditemukan kerangka perempuan yang tertanam di salah satu ruangan. Pemeriksaan DNA kemudian menunjukkan bahwa kerangka tersebut adalah istri pemilik rumah yang bertahun-tahun sebelumnya dinyatakan pergi meninggalkan rumah. Keluarga korban sebelumnya mengaku beberapa kali bermimpi bahwa perempuan itu meminta dicari karena masih berada di sekitar rumah. Namun secara hukum, kasus tersebut tidak pernah terungkap sepenuhnya karena orang yang paling dicurigai juga sudah meninggal.
Dr. Stephanie juga pernah mengetahui kasus kriminal yang pada awalnya terlihat seperti ritual mistis. Seorang perempuan ditemukan dalam kondisi telah meninggal dengan pakaian menyerupai busana pengantin. Setelah penyelidikan, pelakunya ternyata orang dekat korban yang mengaku ingin menguasai hartanya. Alasan penggunaan pakaian tersebut tetap tidak jelas, sehingga unsur yang terlihat seperti ritual tidak otomatis membuktikan adanya pesugihan atau praktik ghaib.
Setelah bertahun-tahun menangani kematian, dr. Stephanie menarik satu pelajaran penting: jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa penyakit atau kematian berasal dari santet, pesugihan, ilmu kebal, atau penyebab nonmedis. Ikhtiar medis harus tetap dilakukan lebih dahulu karena banyak kondisi yang tampak aneh ternyata mempunyai penjelasan ilmiah dan masih bisa ditangani. Pada saat yang sama, ia mengakui masih ada pengalaman pribadi yang belum dapat dijelaskannya. Baginya, kematian selalu mengingatkan bahwa hidup jauh lebih rapuh daripada yang dibayangkan, sehingga manusia perlu berhati-hati terhadap keputusan, menjaga hubungan dengan orang lain, dan tidak menunda memperbaiki diri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
