Tahun 2022, Mas Rully sedang ramai order keris. Ia bahkan sempat seminggu berada di Yogyakarta, berkutat dengan transaksi, kolektor, dan dunia perkerisan yang baginya bukan sekadar hobi—tapi jalan hidup. Di tengah kesibukan itu, istrinya (Lisa) menelepon dari rumah: ingin mulai jualan di TikTok, memanfaatkan barang-barang yang ada di peti koleksi Mas Rully.
Awalnya Mas Rully menanggapi santai. Sampai suatu hari Lisa kembali menelepon dengan nada berapi: ada yang “nantang” di TikTok—minta pembuktian anti-bacok, kebal senjata, dan semacamnya. Lisa mengaku ingin terkenal. Mas Rully menyuruhnya tunggu sampai ia pulang, tapi di dalam dirinya, tantangan itu seperti menyulut bara lama: ambisi menunjukkan kemampuan yang jarang dimiliki orang.
Setelah pulang ke Cirebon, Mas Rully mulai “mengisi” Lisa—bukan untuk pamer, katanya, tapi karena Lisa sudah kadung terobsesi. Ia mengklaim ada teknik ekstrem yang ditaruh pada bagian mata, semacam “intan” gaib yang membuat mata tidak mudah bereaksi pada benda-benda tertentu. Di satu sisi, mereka kebanjiran atensi dan order. Di sisi lain, Mas Rully justru dilanda dilema: bagaimana cara mencabutnya kembali?
Mas Rully mengaku sudah mencari banyak orang yang katanya bisa menarik energi itu dari mata Lisa, tapi selalu mentok. Orang yang mencoba mencabut malah jatuh dan tidak sanggup. Jika Mas Rully sendiri memaksakan menariknya, ia takut dampaknya fatal—Lisa bisa buta. Pada akhirnya, Lisa memilih pasrah: biarkan saja, anggap takdir. Dari situlah ambisi Mas Rully bergeser: ia merasa harus naik level, mencari ilmu yang “puncak”, sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebal.
Nama ilmu itu yang terus ia sebut: rogo jiwo—ilmu yang konon membuat seseorang mampu “mewujudkan” kehadiran jin di mana pun, sampai bisa dilihat banyak orang. Mas Rully menegaskan ia bukan mencari kekayaan, melainkan ingin menguasai sesuatu yang jarang dimiliki. Namun justru karena bukan mencari uang, ia merasa dirinya “lebih aman” dari godaan—dan itu membuatnya makin berani.
Pencarian itu membawanya bertemu sesama orang keris yang ia samarkan sebagai Mas Agus. Mas Rully terkesan karena Mas Agus bisa melakukan hal-hal yang menurutnya di luar trik: keris berdiri sendiri tanpa warangka, seolah ada kendali yang tak kasatmata. Ketika Mas Rully meminta diajari, Mas Agus hanya memberi alamat: ada orang tua di sebuah desa dekat TPU (tempat pemakaman umum), yang disebut punya “jalur”.
Mas Rully datang membawa gula, teh, kopi, dan kue seadanya—sebagai etika bertamu. Di sanalah ia berkenalan dengan sosok tua yang ia panggil Wak Banjir. Dari awal, Wak Banjir seperti merendahkan diri: mengaku orang biasa, tidak ngerti apa-apa. Tapi ucapan itu bertolak belakang dengan caranya menatap—seolah ia membaca isi kepala Mas Rully sampai ke akar.
Wak Banjir tidak langsung mengajari apa pun. Ia hanya memberi janji: datanglah pada Jumat Kliwon, ikut ke petilasan. Dan saat Jumat Kliwon tiba, Wak Banjir datang ke rumah Mas Rully dengan cara yang makin membuatnya yakin ini bukan orang sembarangan—menempuh jarak jauh naik sepeda ontel, menolak naik motor, dan terlihat tidak peduli uang.
Pada perjalanan pertama, Wak Banjir meminta satu saksi lagi agar jumlahnya ganjil. Mas Rully mengajak Pak Jana—sesepuh yang ia percaya paham urusan keris. Mereka menuju lokasi yang disebut Watu Perahu, dekat gua/area keramat. Menjelang magrib, Wak Banjir mulai melafalkan sesuatu, suasana berubah, dan Mas Rully mengaku menyaksikan kemunculan makhluk besar yang dikaitkan dengan legenda “Antaboga”: ular raksasa bertanduk satu yang salah satunya seakan patah.
Di momen itu Mas Rully merasa ini ujian mental. Wak Banjir seperti sengaja membuatnya berdiri berhadapan dengan rasa takut paling primitif: “jangan lari, jangan menoleh, jangan gentar.” Bahkan ketika hujan besar dan petir datang, mereka merasa tetap “tidak basah”, seolah berada dalam ruang yang berbeda. Mas Rully menganggap kejadian itu sebagai pelajaran pertama: kalau mau masuk dunia yang berbahaya, rasa takut adalah pintu yang harus ditaklukkan dulu.
Ujian kedua justru lebih licik: bukan ketakutan, tapi godaan. Wak Banjir membawa Mas Rully ke tempat lain yang terkenal jadi lokasi ritual pesugihan. Di sana, Mas Rully mengaku berhasil “memanggil” sosok yang bukan sekadar menyeramkan—melainkan juga memamerkan kemampuan: membuat uang muncul melingkari dirinya, seolah membuka pintu kekayaan instan.
Mas Rully mengaku sempat terguncang. Di kepalanya langsung melintas bayangan mobil mewah, hidup yang melompat, dan semua yang selama ini orang kejar mati-matian. Tapi di balik pameran itu, ia menangkap syarat terselubung: permintaan “bekak ayam utuh” berulang-ulang, dan kata-kata yang membuatnya sadar—kalau diteruskan, ada harga yang tidak ringan, yang bisa mengarah pada “tumbal”.
Mas Rully memilih menolak. Ia tidak mengambil tawaran itu. Ia pulang dengan tubuh seperti habis tabrakan energi: lemas, pusing, dan akhirnya pingsan. Wak Banjir justru tertawa kecil, seakan puas—bukan karena Mas Rully kuat, tapi karena Mas Rully berhasil melewati tes paling sulit: menahan diri saat harta dipertontonkan di depan mata.
Namun ambisi belum padam. Mas Rully masih ingin rogo jiwo. Wak Banjir lalu menawarkan ujian yang lebih ekstrem—yang kemudian dikenal Mas Rully sebagai pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya: ritual “topo kubur”, semacam simulasi kematian. Mas Rully diminta menata hati, ikhlas, tidak menyimpan ganjalan, karena jika batin ragu, katanya, yang terjadi justru petaka.
Mas Rully dibersihkan, diperlakukan seperti jenazah: dimandikan, dikafani, diletakkan dalam lubang tanah seperti liang, lalu ditutup papan. Ia mengaku di titik itu bukan lagi memikirkan “ilmu”, melainkan merasakan sebuah realitas yang memukul: “Oh, begini rasanya mati.” Dan justru di situlah horor lain muncul—bukan penampakan, melainkan suara.
Mas Rully mengaku mendengar jerit ribuan orang dari “seberang” yang terasa begitu dekat, seperti azab yang menembus telinga. Yang paling membuatnya kaget, jeritan itu menurutnya dominan perempuan. Ia panik, menangis, merasa tubuhnya seperti “dipanggang” dari dalam, sampai kain kafannya terlihat gosong seperti habis dibakar, meski tubuhnya tidak terluka. Ia tidak sanggup melanjutkan. Ia bangkit, berontak, memeluk Wak Banjir sambil menangis sejadi-jadinya.
Bagi Mas Rully, kegagalan itu justru jadi titik balik. Ia menyadari ada batas manusia yang tidak bisa dilampaui hanya karena ambisi. Wak Banjir menguatkan satu hal: ilmu tanpa hati yang bersih hanya akan menyesatkan. Ibadah bukan sekadar gerakan—tapi kejernihan batin. Dan jika batin masih keruh, mengejar kemampuan besar justru membuka pintu bencana.
Sebagai penutup perjalanan, Wak Banjir memperkenalkan pusaka bernama Kiai Sengkelat—keris yang menurut keyakinan mereka bisa “memanggil” tanda-tanda (ular, burung, lebah) untuk membaca pertanda. Mas Rully menganggapnya bukan hadiah untuk pamer, melainkan pengingat: bahkan pusaka pun hanya alat; yang paling penting tetap kendali diri dan arah hidup.
Mas Rully akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang ia ulang berkali-kali: jangan memaksa menginginkan sesuatu di luar kemampuan dan di luar restu jalan yang benar. Karena semakin jauh melangkah tanpa pondasi iman dan akal sehat, semakin besar kemungkinan seseorang bukan naik level—melainkan terseret ke jurang yang tidak semua orang bisa kembali darinya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
