Ada tempat-tempat yang tampak biasa saja kalau dilihat siang hari jejeran kafe di pinggir pantai, kursi kayu, meja sederhana, lalu suara musik yang terdengar samar dari kejauhan. Tapi Mbak Ais bersumpah, salah satu kafe di deretan itu punya “ramai” yang tidak wajar. Bukan cuma ramai oleh tamu. Ramai oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Mbak Ais bukan orang baru di dunia panggung. Ia pemandu lagu, penyanyi panggilan, hidupnya terbiasa berpindah tempat. Dalam obrolannya, ia mengaku sejak kecil memang sering mengalami kejadian aneh seperti ada “tarikan” yang membuat hal gaib mudah mendekat. Ia menyebut faktor weton dan “tulang wangi” yang katanya bikin dirinya sering jadi sasaran.
Tahun 2022, sepulang dari luar negeri, Mbak Ais kembali mencari kerja. Ia menemukan lowongan lewat Facebook: sebuah kafe karaoke di Bali. Yang menghubunginya adalah “mami” pemilik tempat itu. Aturannya terdengar tegas, bahkan ganjil: tidak ada gaji bulanan, hanya hitungan “per botol” (misalnya 10 ribu per botol, makin banyak botol, makin besar pemasukan), dan yang paling bikin Mbak Ais merinding setelah dipikir-pikir: kerja nyaris tanpa jeda, seolah 24 jam terus.
Karena tak punya ongkos, Mbak Ais berangkat dengan sistem kasbon. Perjalanan Indramayu–Bali ditempuh darat naik travel. Sopirnya bernama Mas Iing. Di perjalanan, Mas Iing beberapa kali menatap Mbak Ais seperti orang melihat “ada sesuatu”, lalu menanya hal-hal yang bukan soal uang—lebih ke “bekal” batin. Mbak Ais tak paham maksudnya. Yang ia ingat, Mas Iing tiba-tiba memberi uang tambahan, seolah ingin memastikan Mbak Ais punya jalan pulang kalau terjadi apa-apa.
Setelah menyeberang, kenyataan memukul lebih keras dari angin laut. Kafe itu bukan seperti bayangan “Bali mewah” yang dipikir Mbak Ais. Deretan kafe di pinggir pantai itu terasa seperti lapak-lapak sederhana yang memanjang, tanpa ruang karaoke privat. Malah seperti “warung” yang dijejer, dan para LC harus mencari tamu di area terbuka. Tapi Mbak Ais sudah terlanjur datang jauh-jauh.
Belum sempat melepas lelah, mami langsung menyuruh Mbak Ais dandan dan kerja malam itu juga. Kamar mes bersebelahan dengan tempat kerja, kamar mandi seperti fasilitas umum. Di lobi, Mbak Ais melihat banyak LC lain—katanya sekitar dua puluh orang. Di sanalah ia berkenalan dengan Caca, salah satu LC yang terlihat lebih “paham keadaan” dibanding yang lain.
Malam pertama justru terasa aneh. Kafe tempat Mbak Ais bekerja tiba-tiba paling ramai di antara kafe-kafe tetangga, padahal menurut Mbak Ais, di sebelah-sebelah ada yang lebih “menarik” secara tampilan. Namun tamu menumpuk, sampai keluar-keluar, sampai macet. Mbak Ais kerja berjam-jam dan dibuat bertanya-tanya: ini ramai karena apa sebenarnya?
Hari-hari berikutnya memperlihatkan wajah asli tempat itu: keras, penuh intrik, dan seperti ada kasta. Mbak Ais menyaksikan pertengkaran besar ketika Caca tiba-tiba menjambak Nunut, LC yang disebut-sebut “anak kesayangan” mami. Botol pecah, darah tercecer, tamu lari tunggang langgang. Yang lebih menyesakkan, Caca menangis karena merasa diperlakukan tidak adil—bahkan urusan kasbon untuk ibunya saja ditolak sampai ibunya keburu meninggal.
Setelah kejadian itu, Caca justru dipukuli mami. Lebam dan luka-luka di tubuhnya jadi bukti kalau “baik” mami hanya berlaku untuk orang yang dianggap membawa hoki. Caca bilang mereka terikat kontrak, KTP ditahan, sehingga keluar tidak semudah membalik telapak tangan. Mbak Ais mulai sadar: ini bukan sekadar tempat kerja yang buruk—ini jebakan.
Di hari kesepuluh lebih, mami memanggil Mbak Ais untuk ikut keluar diam-diam. Mbak Ais sempat berpikir ia mulai dianggap “anak emas” karena performanya bagus. Tapi yang terjadi justru membawa Mbak Ais ke pantai sepi, tanpa orang. Mami menyuruhnya ganti pakaian putih seperti kemben, menyalakan kemenyan panjang (jumlahnya disebut tujuh), menyiapkan bunga tujuh rupa, lalu memerintah Mbak Ais merendam badan di laut sebagai “perkenalan”—ritual yang katanya wajib untuk LC yang sudah lewat sepuluh hari.
Saat bunga ditabur dan kemenyan diputar-putar sambil mami komat-kamit bahasa yang Mbak Ais tak mengerti, tubuh Mbak Ais mendadak seperti diikat—kaku, nyeri, sulit bergerak. Ketika ia mengeluh sakit, mami malah berkata itu tanda “sudah nyatu, sudah berteman.” Kalimat itu menancap seperti paku, karena Mbak Ais tak paham: berteman dengan siapa?
Sekembalinya ke kafe, Mbak Ais tak sanggup menyimpan sendiri. Ia bercerita pada Caca. Dan di situlah pintu horor dibuka lebar-lebar: Caca menyebut kafe itu penganut pesugihan leak. Bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut—Caca mengatakannya dengan takut, seolah ia sudah melihat bukti. Katanya, mami memilih “anak baru” tertentu berdasarkan hitungan, dan Mbak Ais sedang “pas” untuk dijadikan tumbal.
Gangguan makin menjadi. Mbak Ais menceritakan penampakan dari pantulan kaca kamar mandi: seperti sorot mata menyala. Lalu suatu malam, di kamar mes yang sempit, ia melihat sosok yang disebut Caca sebagai leak itu berdiri begitu dekat—badannya besar sampai hampir menyentuh atap, kukunya panjang, bulu-bulu menempel di tubuhnya, kepalanya menyerupai barong dengan taring mengarah ke atas dan bawah, dan lidahnya menjulur sampai mendekati lutut, meneteskan air liur.
Mbak Ais ingin berteriak, tapi suara musik dan riuh tempat kerja seperti menelan teriakannya bulat-bulat. Sosok itu kemudian “masuk” ke tubuhnya. Yang ia rasakan bukan cuma takut—tapi sakit yang seolah merobek bagian dalam, seperti organ tubuhnya mau “diambil”. Ia muntah darah hitam pekat. Dalam panik, Mbak Ais memotret kondisinya dan mengirim ke Mas Iing. Mas Iing menelpon dengan suara seperti menahan tangis—lalu mengatakan ia melihat sesuatu seperti belatung di dekat bibir Mbak Ais pada foto, meski saat Mbak Ais memegang bibirnya, tak ada apa-apa.
Mas Iing menyuruh Mbak Ais salat dan meminta petunjuk. Mbak Ais pun wudu di kamar dengan air kemasan seadanya, lalu salat dalam keadaan badan lemah dan pikiran kacau. Baru selesai, Caca mengetuk pintu: ia sudah menyiapkan rencana kabur. Katanya, besok mami akan membawa para LC ke luar untuk acara tertentu, dan saat itulah Mbak Ais harus lari—tanpa menunggu, tanpa ragu.
Hari yang ditunggu datang. Saat kafe lengang, Mbak Ais mengemasi barang dan keluar. Ia berjalan jauh membawa koper, sampai akhirnya ada orang baik yang menawarkan tumpangan motor ke halte. Di sana ia menunggu bus yang menuju Jakarta. Mbak Ais menelpon Mas Iing: “Saya sudah keluar.” Mas Iing masih menanyakan uangnya cukup atau tidak, bahkan menawarkan akan mengirim lagi kalau habis.
Mbak Ais memilih tidak langsung pulang ke Indramayu karena malu—merasa pulang tanpa hasil hanya akan menambah luka. Ia justru menuju rumah Mas Iing di Jakarta, bertemu keluarga yang ia gambarkan sangat religius dan lembut. Mbak Ais merasa kecil, merasa “kotor”, tapi mereka tetap menerima. Namun malam-malam di rumah itu pun tak tenang: Mbak Ais tiba-tiba teriak keras saat tidur, tubuhnya kejang kaku, sampai tetangga keluar karena kaget. Keluarga panik, memanggil ustaz, lalu membawanya ke rumah sakit.
Dan tragedi paling pahit datang ketika Mbak Ais belum selesai menata napasnya. Pagi setelah ia pulang dari rumah sakit, Mas Iing keluar untuk mencari sarapan. Tak lama kemudian, tetangga berlari sambil berteriak memanggil ibu Mas Iing. Kabar itu memukul semua orang: Mas Iing kecelakaan ditabrak mobil truk, bahkan belum sempat dibawa ke rumah sakit, ia sudah meninggal. Ibu Mas Iing pingsan. Mbak Ais diliputi rasa bersalah yang menusuk: “Kenapa orang yang nolong saya malah pergi?”
Dua hari Mbak Ais masih berada di sana, membantu sebisanya, menahan rasa tak enak pada keluarga yang sedang berduka. Setelah itu ia pamit. Tapi ia pun tak punya uang. Ia menggadaikan HP kepada tetangga, sambil meminta satu hal: jangan bilang-bilang kalau dirinya masih di situ. Ia lalu mencari kerja serabutan—membantu ibu-ibu jual tahu, menggoreng, mengumpulkan botol bekas, apa saja yang bisa jadi rupiah.
Berbulan-bulan Mbak Ais menghilang kabar. Bukan karena tak rindu, tapi karena malu. Empat bulan kemudian, ia berhasil menebus HP, menghubungi keluarga, dan mendengar mereka menangis karena selama ini mencarinya ke mana-mana. Akhirnya kakaknya mengirim ongkos agar Mbak Ais pulang.
Namun cerita tidak berhenti hanya karena jarak sudah dijauhkan. Mbak Ais mengaku masih dihantui mimpi. Dalam salah satu mimpi, ia melihat mami datang membawa bunga di nampan, seperti hendak “mengantar” sesuatu ke depan pintu. Lalu sosok leak itu muncul lagi, mencoba mendekat. Tapi kemudian hadir sosok laki-laki berjubah putih bersorban, wajahnya seperti bercahaya—dan dengan satu gerakan, sosok itu membuat leak terpental jauh, seolah ada pelepasan.
Kisah Mbak Ais meninggalkan satu garis pelajaran yang terasa pahit: kadang bahaya datang bukan dengan bentuk yang langsung menakutkan, tapi lewat tawaran kerja yang “kelihatannya menguntungkan”, lewat ramah yang berlebihan, lewat tempat yang ramai tapi auranya terasa ganjil. Dan saat seseorang sudah ditahan dengan kontrak, KTP, dan rasa takut, jalan keluar sering kali hanya tersisa keberanian—plus pertolongan yang datang dari arah yang tak disangka.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
