Tahun 2015 menjadi tahun yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Mas Eko. Saat itu ia mengenal seorang pemuda bernama Udin, bukan teman lama, melainkan kenalan baru yang kebetulan mengontrak kamar tepat di seberang rumahnya. Karena letak tempat tinggal yang berdekatan, keduanya menjadi akrab dengan cepat. Udin adalah sosok yang sederhana, bersahaja, dan bekerja sebagai pedagang baju keliling yang menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung dengan sistem kredit. Setiap pagi ia selalu mampir membeli nasi di warung istri Mas Eko, dan dari kebiasaan itu persahabatan mereka perlahan tumbuh menjadi lebih dari sekadar hubungan tetangga.
Namun di balik penampilan yang sederhana, Udin menyimpan keresahan yang dalam. Suatu malam, sambil ngopi bersama, ia mencurahkan isi hatinya kepada Mas Eko. Pekerjaannya sebagai pedagang kredit pakaian ternyata jauh dari menguntungkan. Banyak pembeli yang kabur tanpa membayar, dan karena semua barang adalah milik bos, setiap kerugian harus ditanggung sendiri oleh Udin. Bukannya mendapat untung, dari hari ke hari ia justru terus merugi. Bahkan untuk sekadar makan pun ia mengaku kesulitan, apalagi memikirkan cara membayar hutang ke bos. Tekanan hidup itu sudah menghimpitnya begitu keras hingga ia mulai berpikir ke arah yang tidak biasa.
Titik balik datang ketika Udin pulang kampung dan bertemu dengan seorang teman lamanya bernama Jupri. Jupri yang dulu ia kenal sebagai orang tidak punya apa-apa, kini telah berubah menjadi orang paling kaya di kampungnya. Ia memiliki banyak unit traktor yang disewakan ke petani-petani sekitar, tempat penggilingan padi sendiri, rumah bagus, dan kendaraan lebih dari satu. Udin yang terkejut langsung bertanya kepada Jupri tentang rahasia di balik perubahan luar biasa itu. Jupri yang sudah akrab dengan Udin akhirnya berterus terang bahwa semua itu diperoleh melalui pesugihan, sebuah ritual yang ia lakukan di lereng Gunung Galunggung bersama seorang juru kunci yang biasa disebut Abah.
Mendengar cerita Jupri, Udin tidak langsung tertarik. Namun tekanan ekonomi yang terus menggerogoti membuat pikirannya berputar-putar pada cerita itu. Ia meminta alamat Abah dari Jupri, dan tanpa membuang waktu, ia menemui Mas Eko untuk menyampaikan keinginannya. Mas Eko yang mendengar rencana itu langsung mengingatkan bahwa jalan itu sudah jelas keluar dari jalur yang benar dan penuh risiko. Namun Udin sudah bulat tekadnya. Ia hanya memohon satu hal kepada Mas Eko, yaitu agar mau mengantarkannya ke tempat si Abah tanpa perlu ikut terlibat dalam apapun yang terjadi di sana. Mas Eko akhirnya setuju, dengan satu syarat tegas bahwa ia hanya mengantar, tidak lebih dari itu.
Keesokan paginya, sebelum Mas Eko sempat bersiap dengan tenang, Udin sudah mengetuk pintunya sejak pagi buta. Ia sudah mendapatkan pinjaman uang dari saudaranya dan ingin segera berangkat tanpa menunda. Setelah Mas Eko pamit kepada istrinya, keduanya pun berangkat menuju lereng Gunung Galunggung. Perjalanan memakan waktu hampir empat hingga lima jam. Sesampainya di kawasan itu, mereka bertanya kepada warga setempat tentang rumah si Abah, juru kunci yang tinggal di lereng gunung. Warga menunjuk ke sebuah rumah berpagar coklat berlatar putih yang berdiri sendiri di pojok, jauh dari pemukiman lain.
Si Abah menyambut kedatangan mereka dengan tenang. Ketika Udin menyampaikan maksudnya ingin mengikuti ritual seperti yang pernah dilakukan Jupri, Abah tidak langsung mengiyakan. Ia justru meminta Udin untuk mempertimbangkan kembali dengan matang, karena keputusan seperti ini tidak bisa diambil setengah hati. Namun Udin menegaskan bahwa ia sudah benar-benar siap lahir dan batin. Abah pun akhirnya menerimanya dan menjelaskan bahwa dana yang dibutuhkan untuk membeli seluruh perlengkapan ritual adalah sekitar tiga juta rupiah. Daftar syaratnya panjang, mulai dari berbagai jenis bunga, kemenyan, dupa, aneka minyak, jajanan pasar, nasi tumpeng kuning, kain kafan putih, sebuah kendi kuno, hingga satu ekor ayam cemani.
Setelah Abah selesai berbelanja semua perlengkapan dan istri Abah mengolahnya, sore harinya mereka bertiga berangkat menuju lokasi ritual di dalam hutan. Perjalanan dimulai dengan angkutan desa, lalu dilanjutkan berjalan kaki menelusuri jalan setapak yang menanjak di antara pepohonan besar. Mas Eko yang hanya ikut mengantarkan tidak bisa menyembunyikan rasa ngerinya saat melihat kiri kanan dipenuhi pohon-pohon raksasa dalam suasana yang semakin gelap. Di tengah hutan itu terdapat sebuah gua dan sebuah gubuk kecil yang menjadi titik tempat ritual akan dilangsungkan.
Abah memerintahkan Mas Eko untuk menunggu di gubuk sementara ia dan Udin masuk ke dalam gua. Sebelum masuk, ia berpesan tegas kepada Mas Eko agar tidak ke mana-mana dan tidak bereaksi apapun terhadap hal-hal yang mungkin ia lihat atau dengar. Sendirian di gubuk dalam gelap malam hutan lereng gunung, Mas Eko mulai merasakan ketidaknyamanan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata biasa. Perasaan diawasi oleh sesuatu yang tidak terlihat hadir begitu kuat, seolah ada banyak pasang mata yang mengintai dari balik pepohonan di sekeliling gubuk.
Tidak lama kemudian, sesuatu muncul di atas pohon tidak jauh dari tempat Mas Eko berdiri. Sosok perempuan dengan rambut panjang menutupi wajah dan kuku-kuku yang mencengeram kulit pohon. Mas Eko yang tidak bisa berbuat apapun hanya menundukkan kepala dan berdoa dalam hati agar sosok itu cepat pergi. Alhamdulillah, sosok itu akhirnya lenyap setelah beberapa saat. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ketika Mas Eko membalikkan badannya, tepat di pojok gubuk berdiri sosok pocong dengan mata merah kecil yang memancarkan cahaya menyeramkan di tengah kegelapan. Jantungnya nyaris copot. Ia terus mengucap istighfar tanpa henti hingga sosok itu pun ikut menghilang.
Malam kedua ritual berlangsung dengan intensitas yang berbeda. Abah kali ini menyalakan dupa di empat sudut gua sebelum memulai prosesi bersama Udin. Sementara itu dari arah yang tidak jelas, Mas Eko mendengar suara derap langkah seperti kuda disertai bunyi gemerincing logam yang semakin lama semakin mendekat. Bersamaan dengan datangnya aroma bunga melati yang sangat kuat dan tidak wajar di tengah hutan, sebuah kereta kencana berhenti tepat di depan mulut gua. Di atasnya duduk seorang perempuan cantik luar biasa berpakaian seperti seorang ratu, mengenakan busana hijau berlapis ornamen emas, mahkota berkilau, gelang dan kalung yang memancarkan cahaya, ditemani seorang kusir dan dua pengawal.
Perempuan itu turun dari kereta dan masuk ke dalam gua. Begitu sosok itu masuk, gua yang sebelumnya gelap gulita tiba-tiba terang benderang seperti diterangi cahaya dari dalam. Mas Eko yang menyaksikan dari kejauhan melihat sosok itu bertemu dengan Udin di dalam gua. Apa yang kemudian terjadi di dalam sana terlihat jelas dari luar karena cahaya dalam gua begitu terang. Udin dan sosok perempuan itu bersatu layaknya sepasang suami istri. Dan begitu semuanya selesai, sosok perempuan cantik itu perlahan berubah wujud menjadi seekor ular besar sebelum akhirnya lenyap, dan cahaya dalam gua padam seketika, kembali ke kegelapan asal.
Udin keluar dari gua sambil membawa sebuah kendi yang ditutup rapat dengan kain kafan putih. Abah berpesan agar kendi itu tidak dibuka sebelum ia tiba di rumahnya sendiri. Mereka bertiga kembali menginap semalam di rumah Abah sebelum pulang keesokan paginya. Sebelum berpisah, Abah kembali menegaskan kepada Udin agar tidak mampir ke mana-mana selama perjalanan pulang dan baru membuka kendi setelah benar-benar sampai di kamarnya. Mas Eko diberikan uang ongkos oleh Udin sebagai bentuk terima kasih, dan keduanya pun kembali ke kota masing-masing dengan membawa ingatan yang sangat berbeda tentang apa yang baru saja mereka alami.
Kurang lebih tiga tahun berselang, Udin tiba-tiba muncul di depan rumah Mas Eko. Namun Udin yang datang kali itu bukan lagi Udin yang dulu mengenakan pakaian lusuh sambil mendorong sepeda berisi tumpukan baju kredit. Di depan rumah terparkir sebuah mobil mewah jenis Alphard. Udin turun dengan penampilan yang rapi dan bersih, seolah ia adalah orang yang sama sekali berbeda dari yang dikenal Mas Eko bertahun-tahun lalu. Mas Eko yang terkejut hampir tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.
Udin mengajak Mas Eko berkeliling untuk melihat hasil dari apa yang telah ia jalani. Pertama ia diajak ke rumah orang tuanya yang dulu Mas Eko ingat sebagai bangunan sederhana. Kini rumah itu telah direnovasi menjadi bangunan yang layak dan terawat. Kemudian Udin mengajak Mas Eko ke rumahnya sendiri yang terpisah dari rumah orang tuanya. Mas Eko dibuat terdiam. Bangunan bertingkat dua berdiri megah dengan kolam renang di halaman belakang, beberapa kendaraan terparkir rapi, dan beberapa pembantu yang lalu lalang. Sesuatu yang tiga tahun lalu sama sekali tidak terbayangkan oleh siapapun yang mengenal Udin.
Puncak dari kunjungan itu adalah saat Udin membawa Mas Eko melihat jaringan usahanya. Ia memiliki lima toko pakaian yang tersebar di berbagai lokasi, sebagian di dalam kota dan sebagian lagi di luar kota. Toko-tokonya bukan toko kecil biasa, melainkan bangunan luas yang menjual pakaian seperti layaknya swalayan dengan berbagai pilihan. Udin yang dulu berjalan kaki dari kampung ke kampung menjajakan baju kredit kini telah menjadi pemilik jaringan toko pakaian yang cukup besar. Sebelum pulang, Udin menyisipkan uang sepuluh juta rupiah ke tangan Mas Eko sebagai hadiah, mengatakan bahwa itu adalah bentuk terima kasihnya karena Mas Eko pernah bersedia mengantarnya ke lereng Galunggung bertahun-tahun lalu.
Mas Eko menerima uang itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia senang karena sahabatnya berhasil keluar dari jerat kemiskinan yang selama ini mencekiknya. Di sisi lain, ia tahu persis dari mana semua kemewahan itu berasal dan ia tidak bisa benar-benar merasa tenang. Namun ia menggunakan uang itu untuk menambah modal usahanya, dan sampai hari ini ia mengaku tidak merasakan dampak buruk apapun dari uang tersebut. Menurut penjelasan yang pernah disampaikan Jupri kepada Udin, perjanjian dalam pesugihan jenis ini menetapkan bahwa tumbalnya adalah diri sendiri, bukan orang lain di sekitarnya.
Dua hingga tiga tahun setelah pertemuan terakhir itu, telepon Mas Eko berdering. Nomor yang tertera adalah nomor orang tua Udin. Suara di ujung sana mengabarkan bahwa Udin telah meninggal dunia. Mas Eko yang tidak bisa tidur langsung memacu motornya menerobos malam dan tiba di kediaman keluarga Udin menjelang subuh. Ia langsung diapit oleh ibu Udin ke ruangan terpisah, jauh dari kerumunan pelayat, untuk berbicara empat mata. Sang ibu menjelaskan bahwa malam sebelum meninggal, Udin mengeluh kepanasan yang datang dan pergi berulang kali. Pembantunya membawanya ke rumah sang ibu, namun kondisinya terus memburuk.
Yang paling memilukan adalah cara Udin menghabiskan momen-momen terakhirnya. Kepanasan yang menyiksa membuat Udin melepas semua pakaiannya dan menggeliat di lantai, bergerak-gerak tidak beraturan seperti seekor ular yang kepanasan. Tak lama kemudian napasnya berhenti dan ia pergi untuk selamanya. Mas Eko yang mendengar cerita itu memilih diam, tidak berani menceritakan apapun kepada sang ibu tentang ritual yang pernah ia saksikan sendiri di gua lereng Galunggung bertahun-tahun silam.
Ketika jasad Udin hendak dimandikan dan Mas Eko meminta izin untuk melihat wajah sahabatnya untuk terakhir kalinya, apa yang ia dapati membuat nafasnya tersentak. Seluruh tubuh Udin dari ujung kepala hingga ujung kaki penuh melepuh seperti tubuh orang yang baru saja terbakar. Padahal tidak ada kebakaran, tidak ada kecelakaan, tidak ada tanda-tanda kekerasan dari luar. Mas Eko yang paham apa artinya kondisi itu hanya bisa mengucap istighfar berulang kali sambil meminta agar kain penutup jasad segera dikembalikan. Ia keluar dari ruangan itu dengan beban di dada yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun.
Setelah pemakaman selesai dan semua pelayat pulang, Mas Eko pun berpamitan dan tidak pernah kembali lagi ke tempat itu. Ia memutus seluruh kontak dengan keluarga Udin karena tidak sanggup menanggung beban rahasia yang ia simpan. Seluruh harta Udin, rumah mewah bertingkat, Alphard, lima toko pakaian, kolam renang, dan semua kemewahan yang pernah ia perlihatkan kepada Mas Eko, semuanya raib entah ke mana setelah Udin tiada. Tidak ada yang tahu ke mana perginya semua itu. Yang tersisa hanya cerita, dan pelajaran pahit bahwa kekayaan yang datang dari jalan gelap tidak pernah benar-benar menjadi milik siapapun, karena pada akhirnya ia akan diambil kembali dengan harga tertinggi yang bisa dibayar manusia, yaitu nyawanya sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
