Tahun 2016 menjadi awal perubahan besar dalam hidup Mbak Leli. Saat itu ia masih menjadi ibu rumah tangga biasa, hidup sederhana bersama suami dan dua anak. Untuk membantu ekonomi keluarga, ia berjualan makanan kecil di rumah seperti otak-otak dan es. Hasilnya memang ada, tetapi hanya cukup untuk makan, bayar kebutuhan harian, dan sedikit membantu biaya sekolah anak.
Kehidupan Mbak Leli mulai terusik ketika ia sering melihat tetangganya, Sari, berangkat pagi dan pulang sore dengan penampilan rapi. Sari bekerja sebagai SPG minuman dan tampak punya penghasilan lebih baik. Dari cara berpakaian, gaya hidup, sampai uang yang terlihat lebih lancar, semua itu membuat Mbak Leli penasaran sekaligus ingin merasakan hal yang sama.
Akhirnya Mbak Leli bertanya kepada Sari dan meminta diajak bekerja sebagai SPG. Sari menerima, bahkan membantu Mbak Leli berdandan karena sebelumnya ia hanya terbiasa sebagai ibu rumah tangga biasa. Setelah mendapat izin dari suami, Mbak Leli mulai ikut berjualan minuman dari kantor desa ke kantor kecamatan, belajar bagaimana menawarkan produk kepada para pembeli.
Awalnya Mbak Leli belum berani menjual sendiri. Ia hanya ikut Sari, memperhatikan cara bicara, cara menawarkan, dan cara menarik perhatian pelanggan. Dari situ ia mendapat sedikit bagian hasil penjualan. Meski tidak besar, uang itu terasa lumayan dibanding hanya berjualan kecil-kecilan di rumah.
Namun lama-kelamaan, Mbak Leli mulai memperhatikan sesuatu yang membuat hatinya iri. Sari begitu mudah menjual produk. Ia menawarkan sedikit saja, pembeli langsung mengeluarkan uang, bahkan kadang memberi lebih. Mbak Leli mulai bertanya-tanya, apa yang membuat Sari begitu gampang menarik pembeli, sementara dirinya harus berusaha jauh lebih keras.
Rasa penasaran itu semakin kuat setelah Mbak Leli bertemu teman lamanya, Rina. Penampilan Rina berubah drastis: memakai perhiasan, membawa ponsel bagus, dan terlihat jauh lebih mapan. Ketika ditanya, Rina mengaku memakai penglaris dan pemikat. Menurut Rina, dalam dunia kerja yang banyak berhadapan dengan laki-laki, hal semacam itu dianggap biasa oleh sebagian orang yang ingin cepat menghasilkan uang.
Ucapan Rina membuat Mbak Leli tergoda. Ia membayangkan bisa punya uang lebih, membeli perhiasan, ponsel baru, dan membantu keluarga tanpa terus merasa kekurangan. Malam itu juga, Rina mengajak Mbak Leli menemui seorang Abah yang tinggal di rumah pojok dekat kali, di antara pohon-pohon besar yang suasananya sudah terasa menyeramkan sejak pertama kali dilihat.
Abah itu berpenampilan serba hitam, memakai penutup kepala seperti blangkon, gelang, dan cincin besar. Di ruangan khususnya, Mbak Leli melihat asap kemenyan, bunga tujuh rupa, air kelapa muda, keris, pedang, dan tulisan-tulisan kuno di dinding. Meski takut, ambisinya untuk bisa seperti Sari dan Rina membuat ia tetap duduk dan mengikuti proses yang diminta.
Abah mengatakan bahwa Mbak Leli cocok memakai susuk kantil, karena pekerjaannya mengharuskan ia bertemu banyak orang dan menawarkan langsung kepada pembeli. Setelah proses itu dijalani, Abah mengingatkan bahwa ada pantangan dan kewajiban yang harus dijaga, terutama setiap malam Jumat Kliwon. Mbak Leli diminta untuk tidak lupa “memberi makan” pada sosok yang mengikuti susuk tersebut.
Setelah ritual, Mbak Leli melihat sosok perempuan cantik berparas halus, bersanggul, dan memakai selendang hijau. Abah mengatakan bahwa sosok itulah yang akan mengikuti Mbak Leli saat berjualan. Tak lama kemudian, saat menunggu Rina, Mbak Leli mendengar bisikan perempuan di telinganya yang berkata bahwa ia akan selalu mengikuti. Sejak malam itu, Mbak Leli sadar ada sesuatu yang sudah menempel dalam hidupnya.
Keesokan harinya, perubahan langsung terasa. Mbak Leli mencoba berjualan sendiri dan hasilnya jauh berbeda dari sebelumnya. Ia menawarkan produk, pembeli cepat membeli, bahkan sering memberi uang lebih untuk makan, bensin, atau sekadar “jajan”. Dalam satu hari, Mbak Leli bisa membawa pulang uang sekitar lima ratus ribu rupiah dari hasil penjualan dan tip.
Hari demi hari berjalan makin enak. Uang terkumpul, kebutuhan rumah terpenuhi, bahkan Mbak Leli bisa membeli barang-barang yang sebelumnya hanya ia impikan: televisi layar datar, kulkas dua pintu, mesin cuci, dan kebutuhan rumah lainnya. Ia merasa susuk kantil benar-benar membuat hidupnya berubah, dari ibu rumah tangga pas-pasan menjadi SPG yang mudah menghasilkan uang.
Setelah sekitar satu tahun, Sari berhenti bekerja dan pindah rumah. Mbak Leli sempat bingung karena kehilangan teman kerja, tetapi kemudian ia bertemu Dewi yang mengenalkannya pada pekerjaan SPG direct selling dengan mobil. Di tempat baru itu, Mbak Leli langsung menonjol. Ia sering mencapai target lebih cepat daripada SPG lain, bahkan kadang sebelum siang penjualannya sudah selesai.
Kesuksesan itu membuat rasa puas Mbak Leli berubah menjadi ambisi. Ia mulai berpikir, jika satu susuk saja bisa membuat jualannya segampang itu, bagaimana jika ia memasang lagi. Dari rasa ingin mencoba dan ingin lebih “gacor”, ia mencari orang pintar lain dan mendatangi seorang perempuan muda yang dikenal bisa memasang pemikat untuk orang yang bekerja, berdagang, atau ingin disayang majikan.
Dari perempuan itu, Mbak Leli memasang susuk lain yang disebut berbahan emas. Pantangannya berbeda, termasuk larangan makan pisang dan ketan hitam. Setelah pemasangan kedua, hasil jualannya terasa makin mudah. Pembeli makin cepat tertarik, uang semakin lancar, dan Mbak Leli makin yakin bahwa jalan yang ia pilih adalah jalan tercepat untuk bertahan hidup.
Namun setelah berjalan sekitar dua tahun, tubuh Mbak Leli mulai bermasalah. Ia sering pusing, gelisah, emosi tidak stabil, susah tidur, dan merasa seperti dikejar rasa takut setiap malam. Sosok perempuan cantik berselendang hijau mulai datang dalam mimpi dan bayangan, seolah menagih sesuatu. Mbak Leli kemudian teringat bahwa ia pernah lupa menjalankan kewajiban pada malam Jumat Kliwon.
Sakit itu membuat suami Mbak Leli curiga. Ia memanggil orang pintar bersama keluarga untuk melihat kondisi istrinya. Saat orang pintar datang, Mbak Leli bereaksi keras, marah, menolak, dan mengusirnya seolah bukan dirinya sendiri. Setelah diperiksa, orang pintar itu mengatakan bahwa Mbak Leli memakai susuk, tetapi tidak bisa merawatnya. Susuk yang dipasang dari beberapa sumber berbeda membuat batinnya saling bertabrakan.
Sejak rahasia itu terbongkar, rumah tangga Mbak Leli mulai retak. Suaminya kecewa karena merasa uang yang selama ini masuk ke rumah tidak datang dari jalan yang benar. Pertengkaran makin sering terjadi, perbedaan pendapat tidak pernah selesai, hingga akhirnya pada tahun 2019 mereka bercerai. Mbak Leli pun harus menghidupi dua anak sendirian, membayar kontrakan, dan tetap bekerja demi bertahan.
Dalam kondisi menjadi janda, Mbak Leli justru sempat tergoda lagi. Tahun 2020, ia bertemu Mas Dedi, orang yang juga dikenal paham dunia spiritual. Mas Dedi menawarkan dua “barang” yang disebut cocok untuk Mbak Leli. Karena terdesak kebutuhan anak dan hidup sendiri, Mbak Leli akhirnya kembali memasang pemikat baru, berharap penghasilannya semakin besar.
Awalnya, hasilnya kembali terasa enak. Jualan lancar, uang datang, kebutuhan anak bisa terpenuhi. Tetapi tubuh Mbak Leli kembali jatuh sakit. Ia merasa bagian dalam dirinya rusak, pikirannya bertentangan, dan hidupnya mulai tidak terkendali. Di tengah kondisi itu, ia bertemu seorang perempuan yang dipanggil Bunda, seseorang yang kemudian menawarkan bantuan untuk membersihkan semua yang sudah terlanjur menempel.
Proses pembersihan dilakukan beberapa tahap. Mbak Leli menjalani ritual pembersihan di rumah, lalu dibawa ke balong keramat, kemudian ke tempat yang lebih angker di kawasan puncak dengan kuburan, batu besar, pohon tua, dan pancuran. Di sana ia dimandikan, dibacakan doa, dan diminta menguatkan diri sampai akhirnya kuncen menyatakan bahwa semua yang mengikuti dirinya sudah lepas dan bersih.
Setelah itu, hidup Mbak Leli perlahan kembali normal. Ia tidak lagi memakai susuk, tidak lagi memakai penglaris, dan memilih bekerja seperti biasa. Memang hasilnya tidak semudah dulu; menawarkan produk butuh usaha lebih keras, pembeli tidak selalu langsung tertarik, dan uang tidak datang sederas saat memakai bantuan gaib. Namun kali ini ia bisa tidur tenang, tidak dihantui, tidak gelisah, dan tidak merasa dikejar sosok apa pun.
Kini Mbak Leli merasa kapok. Ia sadar bahwa uang yang datang cepat selalu membawa konsekuensi yang berat. Penglaris dan susuk memang sempat membuatnya mudah menjual apa saja, tetapi juga merusak kesehatan, rumah tangga, batin, dan ketenangannya. Dari kisah itu, ia berpesan kepada siapa pun yang bekerja sebagai SPG, LC, pedagang, atau pekerjaan apa pun yang berhadapan dengan banyak orang: lebih baik cari uang secara normal, meski hasilnya sedikit, daripada banyak uang tetapi hidup dihantui rasa takut.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
