Kang Daud menyebut kisah ini terjadi di awal 2000-an, saat ia dan tiga sahabatnya masih bujangan masa “nakal-nakalnya anak muda” yang suka nongkrong, gitaran, dan mulai coba rokok. Mereka bukan anak orang berada. Jajan seadanya, rokok pun rokok murah, sementara di sekitar mereka ada teman sebaya yang hidupnya terlihat jauh lebih enak: sudah bisa bawa motor, pakai barang bagus, uangnya seperti selalu ada.
Obrolan tongkrongan yang awalnya cuma celetukan berubah jadi niat. Asep yang paling sering melempar rasa iri, lalu Ujang menimpali: “Gimana kalau kita coba jalangkung?” Budi langsung menyahut paling yakin, karena ia merasa sudah “tahu caranya” dari film. Daud sendiri ikut mengangguk, walau sebenarnya mereka berempat sama-sama buta, tak ada yang benar-benar paham prosesnya seperti apa.
Budi jadi motor utama. Malam itu juga mereka keliling cari batok kelapa muda yang sudah dibuang. Batok itu dibersihkan, dilubangi, lalu Budi pulang sebentar dan kembali membawa gagang sapu rusak. Sapu dipotong dan dibentuk seperti badan boneka, batok jadi kepala, dipakaikan baju anak kecil, lalu di bagian “tangan” diselipkan kapur putih—kecil, sederhana, tapi cukup menyerupai jelangkung versi film yang mereka tonton.
Tempat pertama yang mereka pilih rumah kosong dekat tongkrongan. Mereka duduk berempat, masing-masing memegang jelangkung, lalu mengucap mantra yang mereka hafal dari film: “Jalangkung jalan se, di sini ada pesta kecil-kecilan, datang nggak dijemput, pulang nggak diantar.” Mereka ulang-ulang sampai setengah jam—tapi tak ada reaksi. Tidak bergerak, tidak menulis, tidak ada apa-apa. Mereka mulai merasa ini cuma permainan bodoh.
Ujang bilang mungkin lokasinya salah. Rumah kosong itu masih dekat rumah warga, “hawa manusia” masih banyak. Daud lalu punya inisiatif: pindah ke jembatan yang jaraknya sekitar dua kilometer, lebih sepi, lebih gelap, dan di sekitar jembatan ada pohon tua keropos yang katanya “nggak bisa ditebang.” Mereka jalan kaki setengah jam, turun ke bawah jembatan, lalu memulai lagi ritual yang sama.
Baru sekitar 15–20 menit, jelangkung tiba-tiba bergerak. Awalnya pelan, lalu makin keras, makin liar, sampai tangan mereka terasa seperti ditarik. Daud sempat mengira salah satu temannya bercanda menggerakkan, tapi mereka saling tatap dan sama-sama panik—tak ada yang “main tangan.” Budi mendadak lepas pegangan, mundur, lalu seperti orang kesurupan: minta minum, terengah, wajahnya berubah.
Mereka bubar, jelangkung disimpan, Budi dibacakan ayat kursi sampai ia tenang. Di tongkrongan—yang ternyata pangkalan becak—mereka malah mendapat “guru” baru. Salah satu tukang becak mengaku dulu pernah main jalangkung dan bilang: yang sering didapat bukan uang langsung, melainkan nomor gaib untuk dipasang di lotre (zaman itu SDSB sempat legal). Si tukang becak memberi saran tambahan yang terdengar semakin menyeramkan: tambahkan ayam jantan hitam, sembelih tanpa bacaan, tampung darahnya, lalu ujung kayu jelangkung dicelupkan ke darah sebelum ritual dimulai.
Besoknya mereka patungan, beli ayam hitam jantan. Malamnya mereka kembali ke jembatan. Ayam disembelih, darah ditampung, lalu ritual dimulai dengan darah sebagai “pemancing.” Sekali lagi jelangkung bergerak brutal—kali ini sampai jatuh tengkurap, kapur menulis coret-coret di permukaan semen halus bawah jembatan. Di tengah coretan acak itu, mereka melihat angka-angka… empat digit. Mereka buru-buru menghafal sambil gemetar.
Budi kembali “minta diantar pulang.” Karena takut dilihat orang di jalan raya, mereka memilih lewat sawah dan… nyaris celaka: mereka hampir tertabrak kereta karena tidak mendengar suara apa pun sampai lampu kereta terlihat sudah dekat. Daud refleks menarik semua orang jatuh, dan mereka selamat “karena masih dikasih kesempatan,” begitu kata Daud. Jelangkung akhirnya “lepas” sendiri di depan pemakaman umum besar—seolah memang pulangnya ke sana.
Mereka pasang nomor itu, tapi zonk. Baru setelah malam jam pengumuman, mereka sadar kesalahannya bukan di angka lain—melainkan satu digit yang mereka kira “2”, ternyata “3” (ada “kuping” kecilnya). Budi emosi, ngotot ulang ritual. Mereka beli ayam lagi, kembali ke jembatan, ulang semuanya.
Malam kedua, nomor baru muncul. Budi kembali kerasukan, minta diantar pulang, dan lagi-lagi jelangkung dituntun ke area pemakaman. Keesokan harinya mereka pasang nomor itu. Malamnya… tembus. Empat angka kena. Buat ukuran anak-anak tongkrongan di masa itu, uangnya terasa “besar banget.” Budi memegang uangnya dan—menurut Daud—dia amanah: rokok mahal dibeliin, bakso ditraktir, semua kebutuhan tongkrongan dibayar. Selama hampir seminggu mereka hidup poya-poya, serasa jadi “bos kecil” di pangkalan becak.
Karena sudah merasakan hasil, mereka ketagihan. Mereka main lagi. Kali ini, nomor tidak selalu ditulis. Di salah satu ritual lanjutan, Budi kesurupan dengan suara perempuan tertawa, lalu menyebut angka-angka terpatah-patah sampai jadi empat digit. Mereka mengantar jelangkung “pulang” bukan lagi ke pemakaman yang sama, tapi ke pemakaman lain—lebih dekat—dan Budi sampai “joget-joget” sambil tertawa di tengah kuburan sebelum pingsan. Lalu nomor itu kembali tembus, dan Budi mulai pasang lebih besar. Hasilnya makin terasa.
Dari uang itu, mereka membeli handphone—barang yang saat itu masih identik dengan “bos-bos,” bukan anak nongkrong biasa. Budi juga membagi-bagi rezeki ke tukang becak yang dulu memberi saran. Di permukaan, semuanya terlihat seperti keberuntungan yang akhirnya menoleh ke mereka.
Tapi bayaran gelapnya datang pelan-pelan. Budi jadi orang yang paling tersiksa. Setiap malam ia tidak bisa tidur. Di rumah, boneka jelangkung yang disimpan di pojok kamar sering bergerak sendiri, membenturkan “kepalanya” ke tembok, bunyinya “tok-tok” bikin orang tua Budi ikut ketakutan. Budi berubah paranoid, kurus kering, sakit-sakitan dengan diagnosa yang tidak jelas. Puncaknya, rumah keluarganya sampai dijual dan mereka pindah ngontrak.
Daud juga menyimpan penyesalan lain: bukan cuma “uang aneh”, tapi nyawa mereka yang hampir hilang dua kali—sekali nyaris disambar kereta saat mengantar jelangkung pulang, dan ada satu kejadian lain di perlintasan rel yang hampir menghajar mereka ketika sedang membawa jelangkung. Setelah itu, mereka sadar permainan ini bukan sekadar iseng.
Budi akhirnya marah dan memilih menghancurkan semuanya. Boneka jelangkung dibanting, lalu dibakar di lahan kosong. Meski sempat ada teror setelahnya, mereka tidak pernah main lagi—karena “mesinnya” sudah mati: Budi tidak mau, dan tanpa Budi, ritual itu seolah kehilangan pintu masuk.
Setelah kejadian itu, Daud mencari jawaban ke seorang tua yang ia panggil Abah. Dari Abah, Daud mendapat kesimpulan yang menampar: jelangkung disebut “permainan jin”—yang masuk bisa jin ifrit yang senang menipu manusia. Kenapa selalu Budi yang kesurupan? Abah menyebut Budi punya sifat “tulang wangi” (dalam istilah spiritual tertentu), sehingga lebih mudah “diikuti” dan dijadikan pintu.
Kang Daud menutup kisahnya dengan pesan sederhana: jangan coba-coba. Di awal memang tampak seperti jalan pintas—angka muncul, uang datang, hidup terasa naik kelas. Tapi yang ikut datang juga teror, kecelakaan, perubahan mental, dan efek yang menghancurkan persahabatan serta keluarga. Bagi Daud, “rezeki” dari jalur semacam itu bukan rezeki—melainkan umpan yang ujungnya selalu minta bayaran.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
