Pada 2010, Mbak Mey mulai bekerja di sebuah perusahaan konstruksi baja berat di Jawa Barat untuk menggantikan seorang karyawan yang hendak mengundurkan diri. Sesuai latar belakang pendidikannya, Mey ditempatkan sebagai sekretaris dan banyak mengurus administrasi perusahaan sekaligus kebutuhan pekerja. Ketika itu skala usaha bosnya belum terlalu besar. Kendaraan untuk mengangkut konstruksi panjang masih harus menyewa, sementara perusahaan baru mempunyai kendaraan operasional sederhana.
Sekitar enam bulan pertama berjalan normal sampai seorang kepala bagian pemotongan stainless yang disamarkan sebagai Budi meminta izin libur karena merasa tidak sehat. Budi mengeluh dadanya panas, napas sesak, serta merasa tidak nyaman berada di bengkel. Permintaan tersebut disampaikan Mey kepada bos, tetapi tidak diizinkan karena perusahaan sedang mengejar target. Budi akhirnya tetap bekerja, meskipun beberapa hari sebelumnya ia mengaku mencium bau seperti rawa atau lumut dan melihat sesuatu bermoncong panjang di salah satu sudut tempat kerja.
Menjelang Asar, tumpukan plat stainless tiba-tiba jatuh dan menghantam kaki kanan Budi. Ia segera dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Menurut Mey, dokter mengatakan tulang kakinya mengalami kerusakan sangat berat sehingga harus dilakukan amputasi. Ketika sadar, Budi marah dan menyalahkan Mey karena sebelumnya sudah meminta izin untuk tidak bekerja. Perusahaan menanggung perawatan dan kemudian menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dengan keluarga Budi, termasuk memberikan sekitar Rp20 juta dalam pertemuan yang disaksikan aparat setempat.
Mey saat itu masih menganggap kejadian tersebut sebagai kecelakaan kerja. Terlebih tidak lama setelah persoalan Budi selesai, perusahaan justru mendapatkan proyek pembangunan showroom dengan nilai yang jauh lebih besar. Aktivitas kembali berjalan dan Mey tetap bekerja seperti biasa. Pembicaraan para pekerja yang mulai menganggap kecelakaan tersebut tidak wajar juga belum terlalu ia hiraukan karena menurutnya pekerjaan konstruksi berat memang memiliki risiko tinggi.
Sekitar bulan kesepuluh bekerja, Mey diajak kedua bosnya pergi ke Jawa Timur dengan alasan berziarah dan meminta berkah di Gunung Kawi. Di lokasi tersebut ia diminta membeli berbagai perlengkapan seperti bunga dan dupa berdasarkan catatan yang sudah disiapkan. Mey melihat salah satu bos melakukan penghormatan di dekat patung monyet besar, kemudian mendaftarkan identitas serta tujuan kedatangan menggunakan data asli. Setelah itu mereka berpindah dari satu kuncen ke kuncen lainnya hingga sampai di lokasi pemandian yang di dekatnya terdapat patung buaya besar dan berbagai sesajen.
Setelah mandi, kedua bos menjalani proses yang lebih panjang dan menunggu sampai hari berikutnya. Mereka kemudian bergabung dengan orang-orang lain di bawah sebuah pohon besar yang disebut pohon dewandaru. Kuncen menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan daun atau buah yang jatuh akan memperoleh berkah atau kemakmuran. Menjelang malam, Mey mengaku mendengar suara seperti koin berjatuhan dan orang berlari meskipun sopir yang berada bersamanya tidak mendengar apa pun. Ia juga merasa wajah beberapa peserta tampak berubah menyerupai babi atau monyet.
Pada siang berikutnya, sebuah buah merah jatuh tepat ke pangkuan bos perempuan. Sesuai aturan, ia langsung berdiri dan dibawa menemui kuncen terakhir yang disebut hanya dapat ditemui orang yang memperoleh daun atau buah tersebut. Mey tidak mengetahui apa yang dibicarakan di dalam. Setelah seluruh proses selesai, rombongan diperintahkan langsung kembali ke Jawa Barat tanpa berhenti di perjalanan, bahkan untuk makan atau membeli oleh-oleh.
Hanya beberapa hari setelah pulang, perusahaan kembali memenangkan tender yang menurut Mey nilainya jauh lebih besar. Perusahaan kemudian mampu membeli kendaraan sendiri untuk mengangkut konstruksi sepanjang sekitar 12 meter, menambah kendaraan pribadi, bahkan membeli tanah sekitar dua setengah hektare. Mey ikut senang melihat perkembangan tersebut dan belum menghubungkannya dengan perjalanan ke Gunung Kawi.
Namun kecelakaan kerja kembali terjadi. Saat sejumlah pekerja membongkar pipa besar setelah waktu istirahat, pipa terjatuh dan menghantam seorang mandor yang disamarkan sebagai Sarif. Menurut Mey, cedera tersebut kembali berakhir dengan amputasi. Kecelakaan kedua membuatnya mulai resah karena waktunya kembali terjadi pada rentang sore menjelang Magrib. Ia kemudian berkonsultasi kepada seorang ustaz yang selama ini menjadi tempatnya bertanya mengenai persoalan spiritual.
Ustaz tersebut hanya meminta Mey lebih berhati-hati dan menyebut aliran spiritual bosnya berbeda. Mey juga diminta membaca Al-Fatihah ketika memasuki tempat kerja dan berhenti sesaat pada kata “Malik”. Ustaz itu kemudian mengatakan Mey dianggap memiliki tanda berupa tiga titik yang jika dihubungkan membentuk segitiga di tangan kanan dan menafsirkannya sebagai salah satu bentuk perlindungan. Semua penjelasan tersebut merupakan keyakinan spiritual sang ustaz, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara objektif.
Ketika kalender Jawa memasuki 1 Suro, Mey kembali diminta pergi bersama bosnya. Kali ini ia harus membawa sekitar 100 lembar kasur tipis serta sebuah jam dinding besar yang seluruh angkanya lengkap. Kasur disebut akan digunakan para peziarah yang tinggal lama di sana, sementara jam dimaknai sebagai simbol agar perjalanan usaha terus berjalan setiap detik. Setelah perjalanan tersebut, para pekerja mulai semakin sering mengeluhkan bau aneh di bengkel pada sore hingga malam hari.
Tidak lama kemudian kecelakaan lain terjadi ketika seorang pekerja menggunakan mesin pemotong. Empat jarinya masuk ke mesin dan mengalami cedera berat. Mey mulai merasa jumlah kecelakaan sudah terlalu banyak, terutama karena korban berulang kali kehilangan anggota tubuh sehingga tidak dapat kembali bekerja seperti sebelumnya. Ketika kembali berkonsultasi, sang ustaz akhirnya mengatakan menurut penerawangannya bos Mey menjalankan sesuatu yang disebut “pesugihan buaya ngeser kembar”, yakni sepasang buaya yang dipercaya meminta bagian tubuh pekerja.
Meski sudah mendengar penjelasan tersebut, Mey belum langsung mengundurkan diri. Salah satu alasannya sederhana: gajinya di perusahaan saat itu sangat besar. Tidak lama kemudian ia diminta pergi ke Jakarta untuk membantu acara kelahiran cucu bos. Di sana terdapat seorang asisten rumah tangga bernama samaran Yanti yang sudah lama bekerja bersama keluarga tersebut dan memiliki keterbatasan bicara serta pendengaran. Setelah acara selesai, Yanti berkali-kali meminta ikut pulang bersama Mey, tetapi permintaan itu ditolak bos.
Dua hari setelah Mey kembali ke Jawa Barat, ia menerima kabar bahwa Yanti menghilang. Keluarga Yanti langsung dilibatkan, laporan dibuat kepada aparat, dan pencarian dilakukan ke berbagai tempat. Bahkan salah satu program televisi besar yang ketika itu menayangkan pencarian orang hilang ikut membantu menyebarkan informasi. Keluarga mencetak sekitar seribu lembar foto Yanti dan menempelkannya di banyak lokasi, tetapi hampir satu bulan pencarian tidak membuahkan hasil.
Setelah mendatangi berbagai orang yang dianggap mampu membantu, keluarga akhirnya menemui seorang kiai besar di Jawa Barat. Sang kiai menggunakan foto Yanti serta foto kedua orang tuanya dalam sebuah proses doa dan kemudian mengatakan menurut penerawangannya Yanti sudah meninggal dan dimakamkan dengan layak. Setelah keluarga pulang, Mey ditahan sebentar dan diberi nasihat secara pribadi. Sang kiai mengatakan menurut pandangannya kepergian Yanti tidak wajar dan menggambarkannya seperti “diseret sepasang buaya”. Ia juga menyarankan Mey berhenti bekerja di perusahaan tersebut. Sekali lagi, hal itu merupakan tafsir spiritual, bukan bukti mengenai nasib Yanti yang sebenarnya.
Persoalan Yanti akhirnya diselesaikan antara perusahaan dan keluarganya dengan sejumlah uang yang menurut Mey jauh lebih besar daripada penyelesaian kasus sebelumnya. Sekitar sebulan kemudian perusahaan kembali memperoleh dua proyek besar sekaligus, salah satunya milik perusahaan Korea dan lainnya pembangunan sebuah pabrik makanan. Proyek kedua dipimpin pekerja bernama samaran Didi. Saat proses erection berlangsung, terjadi ledakan keras dan listrik di kawasan tersebut padam. Didi terjatuh dari ketinggian serta mengalami luka bakar berat akibat sengatan listrik tegangan tinggi.
Didi segera dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi untuk membersihkan jaringan kulit yang terbakar. Ayah dan ibunya datang mendampingi. Menurut Mey, ibu Didi merupakan guru mengaji sedangkan ayahnya seorang penghafal Al-Qur’an. Selain mengikuti perawatan medis, keluarga melakukan doa dan berbagai tradisi keluarga seperti menyiapkan rujak takir, memasang lampu sentir, serta terus memanggil nama Didi agar kembali sadar. Ayahnya meyakini anaknya sedang berada dalam kondisi “tarik-menarik” dengan sesuatu yang ia kaitkan dengan buaya. Didi akhirnya bertahan hidup dan setelah sekitar dua bulan kondisi fisiknya berangsur membaik, meski sempat mengalami kebingungan.
Sebelum kecelakaan Didi, Mey mengingat ada pemberitahuan dari Gunung Kawi bahwa jam dinding yang sebelumnya mereka serahkan telah berhenti. Bos kemudian meminta jam tersebut diganti. Mey melakukan perjalanan ketiganya hanya untuk mengantarkan jam baru. Dalam perjalanan pulang, bos perempuan terlihat menangis. Setelah kecelakaan Didi terjadi, ustaz yang biasa menjadi tempat konsultasi Mey mengatakan menurut penafsirannya peristiwa itu merupakan “titik akhir” dari perjalanan spiritual sang bos.
Kejadian lain kemudian muncul ketika perusahaan sedang membangun kos-kosan. Seorang pekerja mengalami kondisi yang dianggap kesurupan selama sekitar dua minggu. Setelah sadar, ia bercerita seolah dirinya dijadikan budak dan dipaksa mengangkat kayu gelondongan menuju bangunan tua, sementara sosok buaya muncul jika ia berjalan terlalu lambat. Tidak lama kemudian bos laki-laki mengalami stroke. Ia bahkan sempat menjalani pengobatan ke luar negeri, tetapi menurut Mey kondisinya kemudian menjadi linglung dan sulit mengenali orang di sekitarnya.
Para kepala bagian akhirnya sepakat menghentikan kegiatan perusahaan. Aset dijual, pekerjaan dibereskan, lalu para karyawan menerima pesangon. Mey yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun memperoleh pesangon cukup besar dan menggunakannya untuk membuka usaha distribusi serta membeli kendaraan operasional. Usaha tersebut sempat berjalan baik, tetapi memasuki tahun kedua kendaraannya hilang. Sistem sewa kendaraan tidak mampu menutup biaya hingga akhirnya bisnis yang dibangunnya kembali bangkrut.
Ketika mempertanyakan kejadian tersebut kepada ustaznya, Mey hanya diminta bersyukur karena dirinya masih hidup dan sehat. Belakangan ia mendengar bos perempuan mengalami kecelakaan di jalan tol dan akhirnya menggunakan kursi roda, sedangkan sopir yang dahulu beberapa kali mengantarnya ke Gunung Kawi meninggal akibat serangan jantung sekitar sebulan setelah menerima pesangon. Mey tidak menganggap kematian maupun penyakit mereka dapat dibuktikan sebagai akibat ritual. Ia juga mengingat bahwa selama bertahun-tahun bekerja, kecelakaan kecil seperti kehilangan jari cukup sering terjadi, sedangkan kecelakaan fatal menurut ingatannya bisa muncul beberapa kali dalam setahun.
Setelah seluruh rangkaian itu berakhir, Mey menjalani proses yang ia anggap sebagai pembersihan melalui doa, tawasul, dan mandi di beberapa sumber air. Ustaznya kemudian mengatakan bahwa menurut penerawangannya Mey sendiri pernah “diajukan” sebagai sasaran ketika tiga kali ikut mengantarkan ke Gunung Kawi, tetapi selalu gagal. Mey tidak dapat membuktikan penjelasan tersebut dan hanya bersyukur dirinya masih dapat menceritakan pengalaman itu. Dari kecelakaan Budi, Sarif, Didi, hilangnya Yanti, hingga kehancuran perusahaan dan usahanya sendiri, Mey memilih mengambil satu pesan: hidup sebaiknya dijalani dengan bersyukur, bekerja melalui jalan yang wajar, dan tidak mengejar kekayaan dengan cara yang menurut keyakinannya dapat membawa penderitaan kepada orang lain.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
