Kisah ini disampaikan oleh Kang Rian dan bermula pada tahun 2015, ketika ia masih bekerja di salah satu jaringan minimarket besar di Indonesia. Setelah tiga tahun bekerja, ia sempat dipercaya menjadi pemimpin toko, tetapi pemindahan ke cabang lain justru mendatangkan banyak masalah. Barang-barang sering hilang, hubungan antarkaryawan tidak harmonis, dan gajinya terus dipotong untuk menutup selisih persediaan. Karena tidak tahan, Rian memilih mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain.
Setelah sekitar empat bulan menganggur, Rian diterima bekerja di sebuah rumah makan di kawasan Setiabudi, Bandung. Gajinya memang jauh lebih kecil daripada pekerjaan sebelumnya, tetapi pemilik dan rekan-rekannya memperlakukannya dengan baik. Ia merasa cukup nyaman hingga suatu acara keluarga mempertemukan kembali namanya dengan seorang paman kandung yang dalam cerita ini disamarkan sebagai Surya. Paman tersebut dikenal sebagai pengusaha proyek perumahan yang bergelimang harta.
Melalui ibu Rian, Surya menawarkan pekerjaan dengan bayaran sekitar Rp300.000 per hari, bonus dari setiap rumah yang terjual, serta kendaraan operasional. Tawaran itu sangat menggiurkan bagi Rian yang saat itu masih lajang dan membutuhkan penghasilan lebih besar. Ia akhirnya meninggalkan rumah makan dan datang ke proyek milik pamannya. Di lokasi tersebut terdapat beberapa rumah berderet yang belum selesai, sementara para pekerja lama telah berhenti tanpa alasan yang jelas.
Rian kemudian ditempatkan di bagian pengadaan material dan membantu penjualan unit rumah. Pada minggu-minggu awal, kegiatan proyek terlihat berjalan normal. Namun, setelah sekitar satu bulan, upah tukang mulai menunggak dan pemasok menuntut pembayaran. Rian juga baru mengetahui bahwa tanah yang dibangun bukan sepenuhnya milik Surya, melainkan lahan kerja sama yang belum dilunasi kepada pemiliknya.
Ketika didesak mengenai persoalan tersebut, Surya meminta Rian tidak banyak bertanya dan hanya menjalankan tugasnya. Beberapa waktu kemudian, ia mengajak Rian menemui seorang tokoh di sebuah pesantren. Tokoh itu meminta segenggam tanah dari lokasi proyek, melakukan ritual tertentu, lalu memerintahkan agar tanah tersebut dikembalikan tepat ke tempat semula. Setelah itu, rumah-rumah yang sebelumnya sulit terjual mendadak laku dalam waktu singkat.
Walaupun seluruh unit telah terjual, uang pembayaran tanah tidak kunjung diserahkan kepada pemilik lahan. Dua orang datang ke proyek dan mengancam akan mengusir para penghuni apabila kewajiban tersebut tidak segera diselesaikan. Surya meminta tambahan waktu tiga bulan, tetapi Rian mulai tertekan karena banyak konsumen membeli rumah melalui dirinya. Ia merasa ikut bertanggung jawab memastikan para penghuni memperoleh rumah dan sertifikat secara sah.
Dalam keadaan terdesak, Surya kembali mengajak Rian menemui kenalan seorang kerabat bernama Isan. Di rumah orang tersebut, Rian menyaksikan uang Rp50 juta diletakkan di bawah terpal, lampu dimatikan, lalu uang itu tampak berubah menjadi berkali-kali lipat. Karena percaya pada apa yang dilihatnya, Rian diminta mengumpulkan sekitar Rp100 juta tambahan dari para pembeli rumah dengan alasan untuk melunasi tanah proyek.
Uang dari konsumen kemudian menjalani ritual serupa dan disimpan di sebuah kamar tertutup di rumah Surya. Mereka dilarang membuka kamar itu selama satu bulan karena uang disebut belum “sempurna”. Ketika waktunya tiba, seluruh tumpukan uang telah menghilang dan hanya menyisakan amplop serta kertas kosong. Orang yang mengaku dapat menggandakan uang juga tidak dapat ditemukan, membuat masalah proyek semakin berat.
Tiga hari setelah kegagalan tersebut, Isan menghubungi Rian dan membawa Surya menemui seorang dukun lain di wilayah Purwakarta. Dukun itu mengarahkan mereka mencari seekor kambing hitam dari seseorang di Cianjur. Rian mendapat pesan agar tidak menawar berapa pun harga yang diminta. Demi memperoleh uang, dua sepeda motor milik Surya dijual dengan harga murah, lalu Rian membeli kambing kecil yang seluruh tubuhnya berwarna hitam.
Selain kambing, Rian membeli bunga tujuh rupa, dupa, hio, kelapa, dan perlengkapan ritual lainnya. Ketika tiba kembali di rumah dukun, ia melihat suasana bangunan yang sangat menyeramkan, termasuk sebuah bentuk menyerupai makam kecil di tengah rumah. Surya diminta berdiri di dekat makam, sementara Rian dan Isan memegang kaki kambing. Sebilah golok disiapkan untuk menyembelih hewan tersebut di atas makam.
Dukun mengelilingi mereka sambil melantunkan tembang dan menaburkan bunga. Menurut pengakuan Rian, tubuh sang dukun yang semula terlihat kecil mendadak tampak tinggi dan besar. Kambing yang sedang dipegang juga mengeluarkan suara yang terdengar menyerupai ucapan manusia. Surya sempat terpaku, tetapi akhirnya menyembelih kambing itu setelah memperoleh perintah dari dukun.
Setelah penyembelihan selesai, Rian diperintahkan mengambil cangkul dan menggali tanah di bawah sebuah pohon randu. Pada kedalaman sekitar setengah meter, cangkulnya mengenai benda keras. Surya kemudian melanjutkan penggalian menggunakan tangan dan menemukan batangan-batangan yang mereka yakini sebagai emas. Benda tersebut dimasukkan ke dalam dua karung beras berkapasitas sekitar 25 kilogram.
Dukun memperingatkan bahwa kekayaan tersebut merupakan utang yang suatu hari harus dibayar. Surya diwajibkan kembali membawa kepala kambing sebagai bagian dari perjanjian. Namun, kegembiraan mendapatkan emas membuat peringatan itu diabaikan. Rian, Surya, dan rombongan membawa dua karung tersebut ke Jakarta untuk dijual melalui tempat yang khusus menerima logam mulia dari jalur tidak resmi.
Setelah proses pemeriksaan dan transaksi, rekening Surya menerima uang yang menurut Rian nilainya hampir Rp30 miliar. Utang proyek dapat dibayar dan Surya merasa telah menjadi orang kaya. Akan tetapi, ketika mereka pulang ke Bandung dua hari kemudian, keluarga Surya sedang diliputi duka. Anak laki-lakinya yang berusia sekitar enam tahun ditemukan meninggal setelah diseret seekor anjing berukuran sangat besar.
Menurut cerita warga, seorang petugas ronda awalnya mengira anjing itu sedang membawa boneka. Setelah didekati, benda yang diseret ternyata tubuh anak Surya dan ditemukan di sekitar depan rumah. Waktu kematian tersebut diduga berdekatan dengan pelaksanaan ritual penyembelihan kambing. Rian merasa bahwa nyawa anak itu telah menjadi pembayaran pertama, meskipun Surya tidak pernah mengakuinya secara langsung.
Kekayaan Surya terus berkembang dan proyek-proyek baru dibuka di berbagai wilayah Bandung. Rian masih bekerja bersamanya selama kurang lebih satu tahun karena ingin menyelesaikan kewajiban terhadap para pembeli rumah. Enam bulan setelah kematian anak Surya, kecelakaan lain terjadi di salah satu bangunan. Seorang tukang masuk ke bagian yang baru selesai dicor, lalu konstruksi tersebut ambruk dan menewaskannya.
Kematian pekerja itu membuat Rian semakin yakin bahwa korban baru terus diminta. Setelah seluruh proyek yang menjadi tanggung jawabnya selesai dan hak para konsumen terpenuhi, ia memutuskan mengundurkan diri. Surya sempat membujuknya untuk kembali bekerja serta menawarkan rumah dan mobil. Rian menolak seluruh pemberian karena merasa harta tersebut berasal dari ritual yang telah mengorbankan orang-orang tidak bersalah.
Setelah berhenti, Rian mengaku terus dihantui rasa bersalah karena pernah membantu mencari kambing, membeli perlengkapan, dan hadir dalam ritual. Ia menceritakan semuanya kepada orang tuanya, tetapi keluarganya sangat marah. Rian bahkan sempat diusir dari rumah selama kurang lebih satu tahun karena dianggap mengetahui perbuatan salah, tetapi tetap terlibat dan tidak segera menghentikannya.
Sementara itu, kehidupan Surya disebut semakin mewah. Ia memiliki banyak proyek perumahan, rumah, tanah, serta deretan kendaraan mahal seperti BMW, Lamborghini, Alphard, dan mobil mewah lainnya. Kawasan yang awalnya hanya berupa klaster kecil berkembang menjadi hunian luas setelah Surya membeli lahan di sekelilingnya. Menurut Rian, pamannya masih hidup dan tetap kaya, tetapi keberadaan serta kegiatan terakhirnya sulit dilacak.
Rian memilih menceritakan pengalamannya tanpa menutupi wajah karena ingin Surya mendengar pesannya secara langsung. Ia meminta pamannya menghentikan usaha yang menyimpang, menyelesaikan urusan pribadi di antara mereka, dan bertobat sebelum lebih banyak korban jatuh. Dari kisah tersebut, Rian mengingatkan bahwa kekayaan instan tidak pernah benar-benar gratis karena di balik kemewahan yang datang terlalu cepat, dapat tersembunyi kehilangan yang tidak mungkin dikembalikan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
