Pada 2015, Mbak Yati sedang berusaha membantu ekonomi keluarga dengan berjualan sarapan dan gorengan. Karena usaha di rumah mulai sepi setelah banyak warga ikut berjualan, ia memilih berkeliling dari kampung ke kampung. Suaminya bekerja sebagai kuli bangunan sehingga penghasilan tambahan dari Yati sangat dibutuhkan untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari. Dari aktivitas berdagang itulah ia bertemu seorang pelanggan bernama samaran Bu Mira yang kemudian menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Bu Mira mengatakan calon majikannya adalah keluarga pengusaha daging dengan gaji sekitar Rp2,5 juta per bulan, nominal yang menurut Yati cukup besar pada masa itu. Setelah mendapat izin suami, Yati berangkat dan tiba di sebuah rumah yang menurutnya sangat besar, bahkan terlihat seperti istana. Pemilik rumah dipanggil Bu Haji. Di rumah tersebut tinggal Bu Haji, anak laki-lakinya yang disamarkan sebagai Yanto, menantunya Putri, serta Yati sebagai pekerja. Sementara Pak Haji lebih sering tinggal di rumah lain yang berjarak sekitar 20 meter dan juga aktif mengajar anak-anak mengaji.
Pekerjaan Yati sehari-hari adalah membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan makanan, dan membantu kebutuhan penghuni rumah. Beberapa bulan pertama berjalan biasa, meski ia mulai menyadari ada satu kamar pribadi di lantai atas yang selalu terkunci dan tidak pernah boleh dibersihkan. Bu Haji sangat tegas melarang Yati mendekati ruangan tersebut. Saat itu Yati memilih tidak banyak bertanya karena dirinya baru bekerja dan tidak ingin menyalahi aturan majikan.
Sekitar empat bulan setelah Yati mulai bekerja, Putri mengalami keguguran dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ketika Putri kembali ke rumah, Yati membantu merawatnya karena kondisinya masih lemah dan demam. Pada malam hari, Yati mulai mendengar suara seperti babi dari bagian rumah tertentu. Ia juga beberapa kali melihat bayangan hitam tinggi dan besar melintas menuju bagian atas rumah, tetapi saat itu ia masih mencoba menganggapnya sebagai sesuatu yang mungkin hanya salah lihat.
Keanehan semakin terasa ketika memasuki malam Jumat. Yati mencium bau kemenyan dari arah kamar pribadi yang selalu terkunci, padahal ia tidak mengetahui siapa yang berada di dalam. Pada malam lain, ia mengaku melihat sosok menyerupai babi besar berbulu lebat berjalan di depan pintu kaca lalu seperti menembus dinding rumah. Yati tidak berani menceritakan pengalaman tersebut karena takut dianggap mengada-ada atau justru dimarahi oleh majikannya.
Tidak lama kemudian Putri kembali hamil. Namun kehamilan tersebut kembali berakhir dengan keguguran, kali ini ketika usia kandungan menurut cerita Yati sudah sekitar lima bulan. Setelah kejadian itu, Yati mengaku melihat bayangan seorang nenek membawa sesuatu yang menyerupai bayi merah melewati bagian rumah. Ketika ia bertanya kepada Pak Haji apakah ada nenek yang tinggal atau sering datang ke rumah, Pak Haji mengatakan tidak ada dan meminta Yati tidak terlalu banyak melamun.
Kondisi Putri setelah keguguran kedua semakin menurun. Ayah kandung Putri kemudian datang dan merasa kejadian tersebut tidak wajar karena putrinya mengalami keguguran berulang. Ia akhirnya membawa Putri pulang dari rumah mertuanya. Sejak Putri pergi, perhatian Yati justru beralih kepada Bu Haji yang mulai mengalami sakit berat, diawali demam tinggi sebelum kondisi fisiknya semakin memburuk.
Bu Haji sempat dibawa ke rumah sakit dan dirawat sekitar dua minggu sebelum diperbolehkan pulang. Namun tidak lama setelah kembali ke rumah, penyakitnya muncul lagi dengan kondisi yang lebih berat. Menurut Yati, kedua kaki Bu Haji membengkak, kulit tubuh dan wajahnya memerah, serta kemampuan berjalan semakin berkurang. Keluarga mencoba pengobatan medis, terapi, hingga jamu, tetapi kondisi Bu Haji menurut kesaksiannya terus menurun.
Dalam masa sakit tersebut, rumah semakin terasa menakutkan bagi Yati. Ia mengaku mendengar suara seperti babi mendengkur dari lantai atas dan beberapa kali melihat bayangan besar menyerupai genderuwo keluar dari arah kamar pribadi. Ketika Yati memberanikan diri menyinggung kamar itu kepada Bu Haji, sang majikan langsung marah dan menegaskan bahwa Yati hanya boleh mengurus bagian rumah yang menjadi pekerjaannya, bukan kamar tersebut.
Tetangga dan jemaah yang datang menjenguk juga mulai membicarakan kekayaan keluarga Bu Haji. Menurut cerita yang didengar Yati, keluarga tersebut mempunyai tujuh kios daging, banyak kendaraan, berbagai aset, serta puluhan pintu kontrakan. Yati sendiri kemudian menyebut jumlah kontrakan yang pernah diketahuinya mencapai sekitar 50 pintu. Karena rumah sangat mewah sementara beberapa kejadian di dalamnya terasa janggal, mulai muncul gosip di kalangan warga bahwa kekayaan tersebut berkaitan dengan pesugihan.
Kecurigaan warga semakin besar ketika mereka melihat pola keguguran Putri dan kondisi Bu Haji. Beberapa orang bahkan berbisik bahwa janin yang keguguran mungkin digunakan sebagai tumbal, meskipun Yati tidak pernah melihat bukti mengenai tuduhan tersebut. Ia sendiri semakin takut karena harus tinggal di rumah yang setiap malam menurutnya dipenuhi suara dan bayangan aneh, sementara orang yang paling sering berada bersamanya justru sedang sakit berat.
Hal lain yang membuat Yati penasaran adalah pola makan Bu Haji. Meski hidup sangat kaya dan memiliki usaha daging, selama Yati bekerja ia mengaku tidak pernah melihat Bu Haji makan ikan atau daging. Makanan yang diminta justru berulang kali berupa tempe, tahu, bayam, kangkung, jagung, dan sayuran sederhana. Yati kemudian menghubungkan kebiasaan itu dengan cerita tentang pesugihan babi ngepet yang pernah ia dengar, tetapi ia mengakui itu hanya dugaan pribadinya.
Pada suatu malam, warga di luar rumah tiba-tiba berteriak bahwa ada seekor babi masuk ke rumah Bu Haji. Orang-orang yang sedang ronda mengejar hewan tersebut, tetapi menurut cerita mereka babi itu menghilang setelah masuk ke area rumah. Tidak lama kemudian Yati kembali melihat bayangan hitam besar keluar dari arah rumah. Bu Haji yang saat itu sudah sakit parah marah ketika mendengar warga membicarakan babi dan meminta Yati tidak ikut menjawab atau menyebarkan cerita tersebut.
Malam Jumat berikutnya, bau kemenyan kembali memenuhi rumah bahkan sampai tercium oleh tetangga. Kondisi Bu Haji semakin buruk. Tubuhnya membengkak, ia sering bergerak atau berputar-putar di tempat tidur, dan dari mulutnya keluar suara yang menurut Yati terdengar seperti dengkuran babi. Pada suatu malam muncul seorang nenek yang tidak diketahui datang dari mana dan mencoba menangani Bu Haji sambil mengatakan dalam bahasa Sunda agar ia jangan mati dan “dihidupkan kembali”. Pak Haji dan Yanto sendiri mengaku tidak mengetahui siapa perempuan tua tersebut.
Nenek misterius itu kemudian menghilang tanpa seorang pun mengetahui kapan atau melalui jalan mana ia pergi. Sementara itu Bu Haji terus mengalami sakit berkepanjangan, sulit makan, sulit minum, dan semakin tidak mampu berbicara. Yati tetap membantu mengompres dan merawatnya, tetapi kondisi tersebut tidak membaik. Menurut kesaksiannya, pada malam hari rumah terasa sangat sunyi dan ia masih mendengar berbagai suara keras dari arah lantai atas tanpa mengetahui sumbernya.
Pada akhirnya Bu Haji meninggal dunia dalam kondisi yang membuat warga terkejut. Menurut Yati, posisi tubuhnya tampak membungkuk dan melengkung sehingga sebagian orang yang datang berkomentar bahwa bentuk jenazahnya menyerupai babi. Komentar tersebut merupakan penilaian warga berdasarkan apa yang mereka lihat, bukan kesimpulan medis. Ayah Putri yang datang ke rumah bahkan mengatakan dirinya bersyukur telah lebih dulu membawa anaknya pulang karena khawatir Putri bisa menjadi korban berikutnya.
Proses pengurusan jenazah juga diwarnai ketakutan warga. Beberapa orang sempat enggan memandikan jenazah karena merasa ngeri dengan kondisinya, hingga Pak Haji akhirnya meminta bantuan dan menawarkan imbalan kepada orang yang bersedia. Ketika pemakaman dilakukan di kawasan yang cukup jauh dan berbukit, para penggali kubur menurut cerita Yati menemukan banyak lintah keluar dari liang. Pemakaman baru selesai menjelang Magrib setelah proses penggalian berlangsung cukup lama.
Setelah pemakaman, sejumlah keluarga dan warga mulai semakin penasaran terhadap kamar pribadi di lantai atas. Pintu yang selama ini selalu terkunci akhirnya didobrak. Menurut Yati, di dalam ditemukan berbagai benda yang oleh warga dianggap sebagai perlengkapan ritual, seperti bokor, sesajen, gambar, serta patung-patung berbentuk babi. Temuan tersebut membuat dugaan mengenai pesugihan babi semakin kuat di lingkungan sekitar, meskipun Yati tidak mengetahui secara pasti bagaimana benda-benda itu digunakan atau sejak kapan berada di ruangan tersebut.
Yati masih bertahan sampai rangkaian tahlilan tujuh hari selesai karena Pak Haji belum mengizinkannya pulang. Pada malam terakhir ia mengaku kembali melihat sosok tinggi berdiri di dekat meja makan dan ketakutannya mencapai puncak. Ia menangis serta memohon agar diizinkan pulang, bahkan mengatakan rela tidak menerima gaji. Pak Haji akhirnya memberikan gaji beserta uang tambahan sebagai bekal, lalu mengizinkannya kembali kepada keluarga. Setelah sekitar dua tahun bekerja di rumah tersebut, Yati memilih tidak pernah kembali menjadi pekerja di sana.
Bertahun-tahun kemudian Yati sempat kembali ke daerah tersebut ketika mengunjungi keponakannya. Ia terkejut melihat rumah megah tempat dirinya dahulu bekerja sudah rusak dan tidak lagi menunjukkan kejayaan yang sama. Dari warga ia mendapat kabar bahwa usaha daging keluarga tersebut bangkrut dan Pak Haji bersama Yanto telah pulang ke kampung. Yati tetap tidak dapat memastikan apakah kekayaan keluarga itu benar-benar berasal dari pesugihan atau apakah keguguran Putri, sakit Bu Haji, serta kehancuran usaha mempunyai hubungan satu sama lain. Namun pengalaman melihat kamar ritual, bayangan babi, kemenyan setiap malam Jumat, hingga kematian Bu Haji membuatnya memilih hidup sederhana dan mencari rezeki melalui usaha biasa. Kini ia kembali berjualan sarapan dan menganggap ketenangan jauh lebih berharga daripada kekayaan besar yang asal-usulnya membuat hidup dipenuhi ketakutan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
