Pada 2013, Mas Ikin memulai usaha kolam pemancingan yang dikelolanya bersama keluarga. Karena tidak mempunyai cukup modal, ia berdiskusi dengan sang istri dan menggunakan sepeda motor Tiger sebagai jaminan untuk mengajukan pinjaman ke bank. Meski sempat ditawari pinjaman sekitar Rp30 juta, Ikin memilih mengambil sekitar Rp15 juta karena khawatir tidak mampu membayar cicilan jika meminjam terlalu besar. Uang tersebut kemudian digunakan untuk merenovasi kolam, memperindah lokasi, membuka warung, serta membeli ikan.
Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu sekitar satu bulan, pemancingan tersebut mulai ramai didatangi pelanggan. Menurut Ikin, omzet harian saat kondisi sedang bagus dapat mencapai jutaan rupiah jika digabung dengan pemasukan warung. Namun keramaian itu perlahan berubah. Jumlah pemancing mendadak menurun tanpa alasan yang dipahaminya, hingga pemasukan yang sebelumnya besar mulai tidak cukup untuk membayar karyawan sekaligus cicilan bank.
Keanehan kemudian mulai dirasakan di sekitar rumah dan kolam. Sang istri bercerita pernah menemukan gundukan pasir di depan rumah yang bentuknya menyerupai makam kecil. Beberapa hari kemudian, Ikin menemukan seekor ikan mengambang dengan kondisi yang menurut penglihatannya sangat tidak biasa karena bagian dagingnya seperti sudah tidak ada dan hanya menyisakan kulit serta tulang. Dari rangkaian kejadian tersebut, ia mulai mencurigai ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi pada usahanya.
Ikin kemudian mendatangi seorang teman yang dianggap memahami persoalan spiritual dan disamarkan dengan nama Pak Ote. Setelah mendengar ceritanya, Pak Ote menyarankan Ikin menjalani tirakat untuk mencari petunjuk mengenai penyebab keterpurukan usahanya. Ia direkomendasikan pergi ke sebuah tempat di Depok dan tinggal selama sekitar satu minggu di Masjid Alkaramah. Sebelum berangkat, Ikin meminta izin kepada istrinya dan menegaskan bahwa tujuannya bukan mencari benda ghaib atau kekayaan instan, melainkan berikhtiar agar usahanya kembali membaik.
Sesampainya di lokasi, Ikin meminta izin kepada seorang ustaz yang menjaga tempat tersebut. Ia menjelaskan niatnya dan diperbolehkan menjalani tirakat. Selama berada di sana, Ikin menjalankan puasa dengan menu berbuka dan sahur yang sangat sederhana berupa beberapa potong ubi dan cabai. Pada malam hari ia melakukan salat hajat, salat tahajud, salat tobat, kemudian melanjutkannya dengan zikir serta membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas berulang kali sesuai arahan yang diterimanya.
Pada malam pertama, Ikin mengaku mengalami pengalaman seperti berada di tempat lain ketika sedang khusyuk berzikir. Ia merasa berjalan di sebuah padang pasir hingga menemukan sebuah gua. Ketika mengucapkan salam, terdengar suara yang menjawab meskipun tidak ada seorang pun terlihat. Di dalam pengalaman tersebut, ia menemukan batu besar berbentuk bulat dan mengaku bertemu sosok berjubah putih yang menyuruhnya duduk serta melanjutkan zikir sampai menjelang Subuh.
Malam berikutnya kembali menghadirkan pengalaman yang menurutnya sulit dijelaskan. Saat berzikir dalam kondisi panas dan dingin, Ikin merasa kepalanya seperti dilempari benda. Ketika membuka mata, ia mengaku melihat benda menyerupai batu cincin berwarna merah. Kejadian tersebut terulang dengan warna biru dan kuning. Namun ia memilih tidak mengambilnya karena sejak awal merasa tidak datang untuk mencari benda pusaka atau benda yang dianggap mempunyai kekuatan ghaib.
Ketika malam Jumat Kliwon tiba, Ikin bersama para jemaah mengikuti kegiatan tawasul di makam Syekh Pasiraga. Di tengah zikir, ia tiba-tiba merasa seperti sudah kembali berada di Masjid Alkaramah. Ketika berusaha berjalan kembali menuju makam, menurut kesaksiannya ia tiga kali dihadang sosok berjubah putih yang terus mengatakan bahwa dirinya harus bertawasul terlebih dahulu. Setelah pengalaman tersebut selesai, Ikin menceritakannya kepada ustaz yang mendampinginya.
Sang ustaz kemudian memberikan sebuah bacaan untuk dihafalkan dan diamalkan pada malam berikutnya. Saat kembali melakukan salat malam dan zikir, Ikin mengaku seolah-olah berada di lokasi pemancingannya sendiri. Namun yang dilihatnya membuatnya terpukul. Kolam yang selama ini menjadi sumber penghasilan seperti tidak terlihat, demikian pula rumahnya. Ia hanya dapat melihat beberapa bagian tertentu seperti pipa di kolam dan warna oranye pada bangunan rumahnya.
Pengalaman itu mengingatkannya pada cerita beberapa pelanggan yang pernah datang tetapi merasa pemancingannya selalu tutup. Ikin menganggap penglihatan tersebut sebagai petunjuk mengenai penyebab usahanya kehilangan pelanggan. Ketika menceritakan semuanya kepada sang ustaz setelah Subuh, ia diminta menyelesaikan tirakat sampai hari ketujuh. Pada malam terakhir, Ikin diajak menuju sebuah tempat pemandian yang sangat sepi untuk menjalani mandi malam.
Di lokasi tersebut terdapat sebuah pohon besar dengan sumber air yang mengalir seperti air terjun kecil. Ikin mandi di bawah aliran tersebut dan mengaku setelahnya tubuh terasa jauh lebih ringan serta pikiran yang selama beberapa hari dipenuhi masalah menjadi lebih tenang. Setelah kembali ke masjid, sang ustaz memberinya empat botol air. Satu botol digunakan untuk mandi, satu diminum, sementara dua sisanya diminta untuk disiramkan ke seluruh area usaha pemancingan.
Setelah tujuh hari menjalani tirakat, Ikin pulang dan langsung melakukan apa yang diarahkan kepadanya. Menurut kesaksiannya, beberapa waktu kemudian jumlah pemancing mulai meningkat kembali. Usahanya bahkan menjadi sangat ramai hingga ia dan istrinya memutuskan melakukan renovasi lebih besar. Dua kolam diperbaiki, warung diperindah, dan fasilitas untuk pelanggan dibuat lebih nyaman. Dalam sekitar dua tahun, keramaian tersebut sampai membuat Ikin kewalahan menangani banyaknya pelanggan.
Di tengah kondisi usaha yang kembali bagus, Ikin mendadak mengalami gangguan kesehatan. Pada pagi hingga siang hari dirinya dapat beraktivitas seperti biasa, tetapi menjelang sore setelah waktu Asar kepalanya terasa sangat berat dan seperti ditusuk-tusuk. Lehernya juga terasa seperti dicekik dan tubuhnya seperti sedang menggendong sesuatu yang sangat berat. Kondisi tersebut berlangsung sekitar enam bulan hingga membuatnya sering harus masuk kamar ketika seharusnya sedang sibuk melayani pelanggan.
Ikin kemudian memeriksakan diri ke dokter. Berdasarkan pemeriksaan yang diceritakannya, tekanan darah dan hasil pemeriksaan lainnya disebut tidak menunjukkan masalah yang menjelaskan keluhannya. Karena merasa sakit tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia kembali menemui Pak Ote. Temannya itu kemudian menyarankan agar Ikin memperbanyak salat malam dan zikir di Masjid Agung Kasepuhan. Setelah beberapa waktu menjalankannya, Ikin mengaku rasa sakit di kepala, leher, dan tubuhnya perlahan menghilang.
Gangguan terhadap usaha kemudian muncul dalam bentuk yang lebih nyata. Beberapa bulan setelah mengambil kembali pengelolaan warung di sekitar kolam, Ikin menemukan ikan-ikannya diracun. Menurut informasi yang diperolehnya, seseorang diduga menghancurkan kamper atau kapur barus, mencampurnya dengan pelet ikan, lalu menaburkannya ke kolam. Ikin terpaksa menguras kolam dan kembali membeli ikan. Meski merasa dirugikan, ia memilih tidak mencari keributan dan berusaha membangun usahanya kembali dari awal.
Pada 2021, musibah lain datang ketika hujan deras dan angin sangat kencang melanda daerahnya. Ikin yang berada di dalam rumah membaca azan dan berdoa ketika bangunan mulai bergetar. Setelah keluar, ia melihat area pemancingannya rusak akibat angin puting beliung. Atap dan saung di sisi kolam beterbangan, sebagian material jatuh ke dalam kolam dan menimpa ikan. Melihat usaha yang dibangunnya kembali hancur, Ikin mengaku menangis dalam pelukan istrinya.
Meski terpukul, Ikin tetap berusaha mempertahankan pekerjaan para karyawannya yang juga mempunyai keluarga. Sang istri kemudian mencoba mengajukan pinjaman dan mereka kembali membangun fasilitas yang rusak. Usaha sempat berjalan normal lagi, tetapi sekitar satu tahun kemudian pemancingan kembali mengalami penurunan. Ikin menafsirkan keterpurukan kali ini sebagai gangguan ilmu hitam, walaupun tidak ada bukti yang dapat memastikan bahwa penurunan usaha tersebut memang disebabkan praktik ghaib.
Suatu malam setelah salat Isya, Ikin duduk di tangga rumah sambil berzikir. Ia mengaku melihat seorang kakek berjubah hitam berjalan di depannya. Setelah menjawab salam, sosok itu kembali menghampiri dan hanya mengatakan agar Ikin mencari usaha lain. Ketika Ikin menoleh beberapa saat kemudian, orang tersebut sudah tidak terlihat. Ia kemudian mulai mempertimbangkan menutup kolam, terlebih karena merasa sistem perlombaan tertentu di dunia pemancingan masih bersinggungan dengan unsur taruhan yang membuat hatinya semakin tidak tenang.
Setelah pemancingan ditutup sementara, Ikin belajar membuat dan menjual sempol dari keponakannya. Tidak lama kemudian, seorang lelaki yang disamarkan dengan nama Mahmud datang ke rumah dan meminta maaf. Menurut pengakuan lelaki tersebut kepada Ikin, dirinya pernah mengambil tanah dari area kolam atas perintah seseorang dengan tujuan menghancurkan usaha pemancingan. Beberapa hari setelahnya, Ikin juga mengaku didatangi lelaki lain berjubah hitam yang mengatakan dirinya pernah diminta seseorang untuk melakukan sesuatu terhadap usahanya. Ikin memilih memaafkan keduanya dan tidak mengejar siapa orang yang diduga berada di balik tindakan tersebut.
Perlahan kehidupan Ikin berubah setelah meninggalkan pemancingan sebagai sumber penghasilan utama. Ia menjalankan usaha sempol dan kemudian menerima pekerjaan sebagai petugas keamanan meskipun gajinya tidak besar. Dari dua pekerjaan tersebut ia mulai mencicil kembali utang-utang yang tersisa akibat renovasi serta berbagai kerugian sebelumnya. Kolam pemancingannya masih ada, tetapi untuk sementara dibiarkan terbengkalai dengan harapan suatu hari dapat dibangun kembali jika keadaan memungkinkan.
Kini Ikin mengaku hidupnya jauh lebih tenang dan keluhan kesehatan yang dahulu dirasakan juga sudah menghilang. Ia tidak ingin mengetahui secara pasti siapa orang yang diduga pernah mencoba menghancurkan usahanya dan memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada Tuhan. Baginya, rangkaian kolam mendadak sepi, ikan diracun, penyakit misterius, puting beliung, hingga pengakuan beberapa orang menjadi pelajaran panjang tentang dunia usaha dan persaingan. Ia berpesan agar siapa pun tidak mengganggu rezeki orang lain hanya karena iri atau persaingan, karena menurut keyakinannya setiap tindakan pada akhirnya akan kembali kepada orang yang melakukannya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
