Pada 2005, Pak Agung sedang menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Saat itu ia sudah menikah dan mempunyai seorang anak yang masih kecil, sementara pekerjaannya masih serabutan. Di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan, seorang teman memberitahunya mengenai lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan yang menjual screen antiradiasi untuk televisi dan komputer.
Pak Agung diterima dan mengikuti pelatihan sekitar tiga minggu sebelum mulai bekerja sebagai tenaga pemasaran dari rumah ke rumah. Pada awalnya pekerjaan tersebut terasa sangat berat karena ia belum mempunyai pengalaman menghadapi calon konsumen. Selama berhari-hari ia berjalan menawarkan produk tetapi terus mengalami penolakan hingga sempat merasa putus asa.
Seorang supervisor kemudian membimbingnya mengenai cara berbicara dengan pelanggan dan memberikan buku tentang pemasaran. Perlahan Pak Agung mulai berani menawarkan produk hingga ke sekolah serta beberapa instansi. Hasilnya mulai terlihat. Penjualannya meningkat dari bulan ke bulan dan ia bahkan mendapatkan apresiasi dari perusahaan karena omzet yang berhasil dicapainya.
Kesuksesan tersebut justru membawa masalah baru ketika banyak pelanggan membeli produk secara kredit atau tempo tetapi tidak menyelesaikan pembayaran. Menurut cerita Pak Agung, jumlah tagihan yang bermasalah akhirnya mencapai puluhan juta rupiah. Perusahaan meminta dirinya bertanggung jawab sampai seluruh pembayaran selesai, sedangkan ijazah yang digunakan sebagai jaminan juga masih tertahan. Tidak tahan dengan tekanan tersebut, Pak Agung akhirnya memilih meninggalkan pekerjaannya.
Sekitar satu minggu ia hanya berada di rumah bersama istri dan anaknya. Meskipun kebutuhan makan sementara masih dibantu keluarga mertua, Pak Agung merasa malu karena tidak mempunyai penghasilan. Ketika berjalan melewati sawah, ia melihat banyak burung seperti tekukur dan kutilang. Dari situlah muncul pemikiran untuk menangkap burung dan menjualnya ke pasar sebagai jalan sementara mencari uang.
Keesokan paginya ia membawa lem dan jaring untuk berburu, tetapi hingga sore tidak mendapatkan seekor burung pun. Setelah Magrib, muncul ide untuk mencoba berburu pada malam hari karena burung dianggap lebih mudah ditangkap saat sedang beristirahat. Sekitar pukul sembilan malam, dengan menggunakan senter di kepala, Pak Agung kembali memasuki kawasan persawahan dan kebun seorang diri.
Di tengah pencarian, ia melihat seekor burung murai yang menurutnya bernilai jutaan rupiah apabila berhasil ditangkap. Pak Agung langsung membayangkan uang hasil penjualan burung tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan keluarganya selama beberapa waktu. Ia beberapa kali mencoba mendekati burung itu, bahkan sampai memanjat pohon, tetapi murai tersebut selalu berhasil terbang beberapa meter sebelum kembali terlihat.
Pak Agung terus mengejarnya hingga tanpa sadar berjalan semakin jauh dari rumah. Setelah kehilangan burung tersebut di dekat sungai, ia sempat berhenti dan merokok. Tidak lama kemudian muncul berbagai kejadian yang menurut kesaksiannya tidak biasa. Ia melihat cahaya menyerupai bola api melintas di hadapannya, kemudian bertemu sosok perempuan berkebaya yang membawa wadah di belakang tubuhnya. Ketika perempuan itu menoleh, Pak Agung mengaku wajahnya tampak rata dan tidak seperti manusia biasa.
Meski ketakutan, pikirannya masih tertuju pada kebutuhan anak dan istrinya sehingga ia terus berjalan. Hujan kemudian turun dan Pak Agung mengaku melihat sosok sangat tinggi dengan mata merah, mulut besar, serta gigi bertaring. Ia langsung berlari menjauh, tetapi anehnya selalu kembali ke sebuah patok yang sama meskipun merasa sudah berlari lurus atau berbelok ke arah lain. Sebuah kepala botak yang menggelinding sambil menyeringai juga disebut sempat mengikuti perjalanannya.
Dalam keadaan kelelahan dan hampir pasrah, Pak Agung mencoba mengambil jalan lain. Dari kejauhan ia melihat sebuah bangunan menyerupai gubuk di tengah area persawahan. Karena hujan semakin deras, ia berlari menuju tempat tersebut dengan maksud berteduh. Berbeda dengan gubuk sawah biasa, bangunan itu mempunyai pintu dan jendela sehingga Pak Agung menduga ada seseorang yang tinggal di dalamnya.
Dari dalam terdengar suara yang kemudian mempersilahkannya masuk. Penghuninya adalah seorang lelaki tua yang diperkirakan berusia sekitar 75 tahun, bertubuh tinggi dan tegap, berjanggut, serta mengenakan pakaian serba hitam. Pak Agung duduk dan menceritakan bahwa dirinya sedang mencari burung untuk dijual karena membutuhkan uang bagi anak dan istrinya. Lelaki yang dipanggilnya Mbah itu kemudian memberikan minuman kepadanya.
Saat berada di dalam gubuk, perhatian Pak Agung tertuju pada dua karung besar di sisi kanan dan kiri lelaki tersebut. Karena sedang lapar, awalnya ia mengira karung itu berisi ubi atau singkong dan memberanikan diri bertanya. Ketika diminta membuka salah satunya, Pak Agung terkejut karena isinya bukan makanan, melainkan uang dalam jumlah yang menurut penglihatannya sangat banyak.
Rasa takut yang sebelumnya dirasakan perlahan berubah menjadi keinginan memiliki uang tersebut. Ketika karung kedua dibuka, isinya juga penuh uang. Pak Agung menggambarkan jumlahnya begitu besar hingga dalam pikirannya dapat digunakan membeli berbagai barang mewah sekaligus memulai usaha. Sang Mbah kemudian mengatakan uang itu boleh dibawa, tetapi terdapat sesuatu yang harus diberikan sebagai gantinya.
Menurut kesaksian Pak Agung, lelaki tersebut hanya meminta “pitik” dan “bibit”. Saat itu Pak Agung memahami pitik sebagai anak ayam dan bibit sebagai induknya sehingga permintaan tersebut terasa sangat ringan dibandingkan dua karung uang yang ditawarkan. Untuk memperoleh kedua karung sekaligus, ia menyanggupi membawa seekor anak ayam bersama induknya ke tempat tersebut keesokan harinya.
Menjelang Subuh, Pak Agung tiba-tiba dapat menemukan jalan pulang dengan mudah. Pagi harinya ia meminta izin kepada istrinya untuk membawa anak ayam dan induknya milik sang mertua, tetapi tidak menjelaskan tujuan sebenarnya. Sang mertua tidak mengizinkan. Menjelang sore Pak Agung bahkan sempat mencoba mengambil ayam tersebut sendiri, tetapi suara ayam membuat mertuanya keluar dan kembali melarangnya.
Malam harinya Pak Agung tertidur di ruang tamu sambil memikirkan bagaimana mendapatkan ayam yang telah dijanjikan. Di tengah malam ia terbangun karena mendengar suara dari arah plafon. Menurut pengakuannya, lelaki tua yang ditemuinya di gubuk kemudian muncul dan menagih janji. Ketika Pak Agung mengatakan tidak dapat membawa ayam karena dilarang mertuanya, wajah sosok tersebut berubah menyeramkan dengan mata membesar, telinga meruncing, dan lidah menjulur sebelum akhirnya seperti mencekik dirinya hingga kehilangan kesadaran.
Setelah itu Pak Agung merasa tiba-tiba berada di sebuah tempat yang sangat berbeda. Ia melihat rumah-rumah menyerupai istana, orang-orang mengenakan perhiasan emas dan berlian, makanan mewah tersedia dalam jumlah berlimpah, serta kehidupan yang terlihat penuh kesenangan. Seorang penghuni bahkan mengajaknya masuk ke rumah dan mempersilakannya menikmati berbagai makanan. Dalam keadaan itu, Pak Agung mengaku sama sekali tidak merasa sedang bermimpi dan menganggap semua yang dilihatnya benar-benar nyata.
Dalam perjalanannya, Pak Agung kemudian bertemu seorang lelaki lanjut usia berpakaian putih yang membawanya melihat sisi lain tempat tersebut. Ia diperlihatkan berbagai sosok berwajah menyerupai monyet, bertanduk seperti kerbau, hingga berkepala menyerupai babi. Ia juga melihat orang-orang seperti dipaksa bekerja, dicambuk, menangis, dan terus mendorong pedati. Pemandangan paling mengerikan menurutnya adalah tumpukan tubuh manusia dalam jumlah sangat banyak sementara keluarga mereka seperti hanya dapat melihat tanpa mampu mendekat.
Lelaki tua berpakaian putih itu kemudian mengatakan bahwa kemewahan yang sebelumnya dilihat Pak Agung pada akhirnya akan berujung pada penderitaan tersebut. Setelah menerima penjelasan itu, Pak Agung merasa dibawa terbang hingga akhirnya tersadar kembali di rumah. Ketika membuka mata, istri, mertua, dan para tetangga sudah berada di sekelilingnya dalam keadaan cemas. Ia baru mengetahui bahwa selama pengalaman tersebut dirinya ternyata tidak sadarkan diri selama sekitar dua hari.
Karena masih penasaran, Pak Agung mendatangi kembali lokasi tempat ia bertemu lelaki tua tersebut. Ia berhasil menemukan daerahnya, tetapi gubuk yang sebelumnya dimasukinya sama sekali tidak ada. Di sana hanya terdapat sebuah pohon yang dibalut kain putih. Beberapa warga yang ditanyainya mengatakan tempat tersebut dikenal sebagai lokasi orang melakukan tirakat untuk tujuan yang dianggap tidak baik dan dikaitkan dengan praktik pesugihan. Pak Agung kemudian menceritakan semuanya kepada istri dan mertuanya, lalu menerima nasihat untuk memperbanyak istigfar serta meminta bantuan seseorang yang dianggap memahami persoalan spiritual.
Pak Agung kemudian dianjurkan membaca Ayat Kursi dan mengamalkan selawat. Dalam pengalaman setelahnya, ia mengaku mendapat penjelasan bahwa sosok yang pertama menawarinya uang merupakan makhluk yang disebut “gulang-gulang” atau dikaitkannya dengan genderuwo, sedangkan lelaki tua berpakaian putih yang membawanya keluar dari tempat mengerikan tersebut diyakininya sebagai leluhur yang menolongnya. Ia juga belakangan menafsirkan istilah “pitik dan bibit” bukan sekadar anak ayam dan induknya, melainkan kemungkinan berkaitan dengan anak serta istrinya, meski hal tersebut merupakan pemaknaan spiritual berdasarkan pengalaman pribadinya. Sekitar satu minggu setelah memperbaiki diri, seorang teman datang menawarkan pekerjaan dan kehidupannya perlahan kembali berjalan. Kini Pak Agung mengaku mungkin tidak hidup dalam kekayaan besar, tetapi merasa kebutuhan keluarganya cukup. Dari pengalaman itu ia berpesan agar orang yang sedang terdesak masalah ekonomi tidak tergesa-gesa mengambil jalan pintas, karena sesuatu yang terlihat sebagai jalan menuju kekayaan bisa saja membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada kesulitan yang sedang dihadapi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
