Pada 2012, Mas Apud memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai sales rokok karena merasa tidak nyaman dengan target yang terus meningkat. Setelah menghitung tabungan dan kebutuhan hidup, ia mulai menghubungi teman-temannya untuk mencari pekerjaan baru. Kesempatan akhirnya datang melalui kakak iparnya yang menawarkan posisi administrasi di sebuah perusahaan proyek pengaspalan.
Mas Apud diterima setelah menjalani wawancara singkat dengan pemilik perusahaan yang namanya disamarkan menjadi Pak Toni. Pekerjaannya meliputi pembuatan surat jalan, pengelolaan uang perjalanan, dan berbagai urusan administrasi kendaraan proyek. Selama empat hingga lima bulan pertama, pekerjaannya berjalan lancar tanpa masalah berarti.
Keadaan berubah ketika perusahaan menghapus sistem kas borongan untuk para sopir. Kebijakan baru membuat seluruh pengeluaran perjalanan diatur kantor, sedangkan para sopir hanya menerima uang makan. Merasa penghasilan mereka berkurang, para sopir melakukan protes dan sering meminta Mas Apud menyampaikan keluhan kepada pemilik perusahaan.
Karena dianggap terlalu dekat dengan para sopir, Mas Apud dipindahkan ke cabang perusahaan di Merak. Meskipun sempat khawatir dengan biaya hidup di kota lain, ia menerima keputusan tersebut karena masih membutuhkan pekerjaan. Di Merak, ia bekerja bersama seorang admin lama yang disamarkan dengan nama Budi.
Pak Toni mulai memperlakukan Mas Apud dengan sangat baik. Ia sering memberikan makanan dan menyelipkan uang tanpa sepengetahuan Budi. Perlakuan berbeda tersebut membuat hubungan Mas Apud dengan rekan kerjanya menjadi renggang, tetapi saat itu ia mengira Pak Toni hanya merasa cocok dengan cara kerjanya.
Suatu malam, Mas Apud mendadak mengalami demam tinggi, menggigil, serta rasa sakit di seluruh tubuh. Telapak tangan dan kakinya terasa dingin, sedangkan badannya sangat panas. Pemeriksaan di klinik tidak langsung menemukan penyebab yang jelas sehingga dokter hanya memberikan obat dan memintanya kembali apabila kondisinya tidak membaik.
Orang tua Mas Apud kemudian meminta bantuan seorang praktisi di kampung. Menurut keterangan yang diterima keluarganya, gangguan tersebut dikaitkan dengan seseorang yang berada tidak jauh dari tempat kerjanya. Setelah menjalani penanganan melalui media air, kondisi Mas Apud sedikit membaik meskipun tubuhnya masih terasa lemah.
Mengetahui karyawannya sakit dan tinggal sendirian di mess, Pak Toni menawarkan agar Mas Apud pindah ke rumahnya. Mas Apud menerima karena khawatir tidak ada orang yang menolong apabila penyakitnya kambuh. Ketika tiba, ia terkejut melihat rumah yang sangat besar dengan banyak mobil mewah terparkir di halaman.
Mas Apud ditempatkan di lantai dua dan diminta membersihkan sebuah kamar. Awalnya kamar tersebut terlihat biasa, tetapi beberapa saat kemudian seluruh bagiannya seolah berubah menjadi hijau. Dinding, seprai, tempat tidur, dan ornamen kamar terlihat didominasi warna tersebut.
Di dalam kamar itu juga terdapat bunga tujuh rupa, dupa, tempat penyimpanan beras, serta lukisan seorang perempuan yang dihiasi rangkaian bunga melati. Merasa ketakutan, Mas Apud segera berlari ke lantai bawah. Istri Pak Toni yang disamarkan menjadi Bu Ida lalu memintanya tidur di kamar lain yang berada tepat di depan ruangan hijau tersebut.
Selama tinggal di rumah itu, Pak Toni semakin sering memberikan uang, makanan, dan fasilitas kepada Mas Apud. Ia bahkan membolehkan Mas Apud menggunakan sepeda motor miliknya untuk bekerja. Namun seluruh uang pemberian Pak Toni tidak pernah digunakan dan hanya disimpan karena Mas Apud masih mempunyai uang dari pekerjaannya.
Sekitar lima bulan kemudian, Pak Toni menawarkan untuk menjodohkan Mas Apud dengan adik perempuannya yang disamarkan menjadi Putri. Mas Apud merasa ragu karena perbedaan kondisi ekonomi mereka sangat jauh. Namun Pak Toni terus meyakinkan dan bahkan memberikan uang Rp500 ribu agar Mas Apud dapat mengajak adiknya berjalan-jalan.
Pertemuan dengan Putri berjalan baik. Perempuan itu digambarkan cantik, ramah, bekerja di perusahaan besar, dan tidak mempermasalahkan latar belakang Mas Apud. Setelah melihat keduanya terlihat cocok, Pak Toni mulai mendorong agar hubungan tersebut segera dilanjutkan menuju pernikahan.
Pada hari Minggu berikutnya, Pak Toni mengajak Mas Apud mengunjungi seseorang yang dipanggil Mbah di kawasan dekat pantai selatan. Rumah yang mereka datangi terlihat tua dan berdiri jauh dari permukiman. Mas Apud diminta menunggu di luar, tetapi dari jendela yang terbuka ia dapat mendengar percakapan di dalam rumah.
Mbah tersebut memperingatkan bahwa waktu Pak Toni hampir habis dan menanyakan apakah sesuatu yang dijanjikan sudah diperoleh. Pak Toni mengatakan bahwa ia masih berusaha. Setelah pertemuan itu, wajahnya yang semula ceria berubah murung dan terlihat seperti orang yang sedang menanggung beban berat.
Malam harinya, Mas Apud mencium aroma dupa dari kamar hijau. Ketika mengintip, ia melihat Pak Toni duduk tegang di depan meja rias yang dipenuhi bunga, kopi pahit, dan berbagai persembahan. Di sampingnya terlihat sosok perempuan memakai mahkota, kemben hijau, serta selendang yang bentuknya menyerupai perempuan dalam lukisan.
Beberapa hari kemudian, Mas Apud kembali melihat Pak Toni melakukan ritual di kamar tersebut. Hampir satu minggu setelahnya, ia terbangun karena mendengar Pak Toni berteriak meminta pertolongan. Bersama Bu Ida dan seorang sopir, Mas Apud membawa bosnya ke rumah sakit, tetapi Pak Toni akhirnya meninggal setelah disebut mengalami serangan jantung.
Sebagai bentuk penghormatan kepada bos yang selama ini dianggap baik, Mas Apud ikut menggali kubur. Ketika kedalaman liang hampir mencukupi, air tiba-tiba keluar dari tanah meskipun saat itu sedang musim kemarau. Air tersebut berulang kali dikuras, tetapi terus muncul hingga memenuhi dasar liang.
Jenazah akhirnya tetap dimakamkan dalam kondisi liang yang dipenuhi air. Pada malam ketiga setelah pemakaman, Mas Apud melihat sosok menyerupai pocong berdiri membelakangi rumah di depan gerbang. Menjelang hari ketujuh, sosok tersebut kembali muncul seolah memaksanya melihat ke luar, membuat Mas Apud memutuskan mengundurkan diri.
Sebelum pulang, Mas Apud mengembalikan seluruh uang pemberian Pak Toni kepada Bu Ida dan membatalkan rencana perjodohannya dengan Putri. Gangguan masih mengikutinya sampai kampung dalam bentuk mimpi buruk, penampakan perempuan berpakaian hijau, dan ketindihan. Setelah menjalani pembersihan, seorang praktisi mengatakan bahwa Mas Apud diduga hendak dijadikan tumbal, tetapi selamat karena tidak pernah menggunakan uang pemberian Pak Toni. Tidak lama kemudian, usaha pengaspalan itu runtuh, mobil-mobil dijual untuk membayar karyawan, rumah besar ditinggalkan, dan Bu Ida pulang ke kampungnya. Pengalaman tersebut membuat Mas Apud berpesan agar manusia tetap waspada terhadap pemberian yang mencurigakan, karena kebaikan yang tampak berlebihan belum tentu datang tanpa tujuan tersembunyi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
