Teh Lia tidak pernah menyangka puncak rezeki justru jadi pintu paling dekat menuju jurang. Tahun 2018, ia sedang “panen” usaha konveksi yang ia bangun dari nol bersama partnernya, Idah. Dari rumah, mereka jualan baju tidur, duster, gamis, setelan rumahan—produk yang kelihatannya sederhana, tapi perputarannya gila karena dicari hampir setiap hari.
Awalnya mereka hanya melayani reseller. Baru hitungan bulan, permintaan naik seperti dikejar angin. Mereka sampai kewalahan, lalu merekrut satu karyawan untuk membantu produksi dan pengelolaan pesanan. Dalam tujuh bulan, uang berputar cepat, modal jadi tiga kali lipat, bahkan mereka bisa beli mobil pick-up cash. Hidup Teh Lia terasa seperti mulai “beres” untuk pertama kalinya.
Mereka lalu merambah pasar besar di Kabupaten Cirebon. Bukan kios—terlalu mahal—mereka sewa lapak saja sudah sampai belasan juta, bahkan bisa tembus sekitar Rp23 juta untuk hari-hari ramai (Selasa, Jumat, Sabtu). Tapi hasilnya sebanding: pembeli datang bukan cuma dari Cirebon, melainkan dari berbagai daerah. Order bisa ribuan potong, omset per bulan menyentuh ratusan juta.
Di saat semua tampak mulus, ada satu hal kecil yang Idah rasakan sejak awal: suasana di blok tempat mereka berjualan “beda”. Di sekitar lapak, pedagang kanan-kiri terlihat normal, tapi ada satu sosok ibu bertubuh pendek yang tatapannya tajam dan susah diajak bicara. Kata-katanya pun menusuk: “Ini bukan tempat kamu. Kamu orang baru.”
Teh Lia menenangkan Idah, menganggap itu cuma persaingan pedagang lama dan pedagang baru. Di pasar, saingan memang banyak. Tapi Idah semakin tidak enak. Pernah ia diberi makanan, tapi justru takut memakannya—seolah ada maksud lain di balik “baik-baik” yang terasa dipaksakan.
Akhirnya mereka sepakat rolling. Idah yang lebih pendiam dan tidak terbiasa menghadapi tekanan sosial diminta fokus produksi, sementara Teh Lia gantian jaga di pasar. Teh Lia menganggap ia lebih kuat karena sudah lama menghadapi kerasnya hidup—termasuk rumah tangganya yang retak sejak 2011 karena suaminya punya istri muda. Ia terbiasa berdiri sendiri.
Malam Jumat itu, Teh Lia masuk pasar menjelang magrib karena jam-jam itu jalanan padat dan sulit ditembus. Ia bahkan menginap karena ramai biasanya dari malam Jumat sampai Sabtu siang. Saat itulah kejadian aneh pertama muncul—bukan di dirinya, tapi di anak keduanya yang ia panggil “Kakak”.
Anaknya pulang ke rumah, lalu mendadak menggigil, tubuhnya kacau, seperti diserang sesuatu yang tidak jelas. Keluarga mengira itu gelombang sakit biasa, mungkin efek musim penyakit saat itu. Tapi kondisi Kakak merosot cepat: kejang, mata melotot, lalu harus dibawa ke rumah sakit sekitar jam sembilan malam.
Hari pertama hingga hari kelima, semua pemeriksaan terasa seperti mentok di tembok. Rontgen, USG, sampai city scan tidak menunjukkan penyakit yang bisa menjelaskan kondisinya. Kakak tidak mau makan, tidak mau minum—bahkan menelan air saja menjerit kesakitan. Tubuh bagian bawahnya dingin bukan main, sementara perut sampai kepala panas seperti terbakar.
Teh Lia terjebak di dilema pedih: bisnis sedang ramai di pasar, tapi anaknya berada di ambang batas. Ia pulang-pergi dengan hati robek. Di hari-hari itu, ia mulai mendengar komentar ganjil dari orang-orang yang melihat kondisinya: “Ini bukan sakit biasa. Coba ikhtiar non-medis.” Teh Lia awalnya menolak percaya, karena ia sudah membayar mahal rumah sakit dan dokter spesialis.
Yang membuat bulu kuduknya runtuh, datang dari mulut anaknya sendiri. Suatu malam hujan besar, saat Teh Lia keluar sebentar mencari makan, Kakak berkata ada dokter perempuan yang visit. Dokternya cantik, memakai kerudung indah “seperti pelangi”, membuka pintu lalu menutup lagi—dan beberapa detik setelah itu Teh Lia masuk. Kakak yakin ibunya “harusnya papasan” dengan dokter itu. Masalahnya, saat Teh Lia bertanya ke ruang jaga, tidak ada dokter lain yang visit. Tidak ada siapa pun.
Sejak malam itu, Teh Lia merasa horornya mulai nyata. Ia memaksa pulang dari rumah sakit meski diperingatkan, karena semakin lama di sana, anaknya semakin seperti “ditarik” menjauh dari kesadaran. Di rumah, Kakak sempat ingin salat tahajud karena melihat kakaknya yang pertama bangun lebih dulu. Baru rakaat pertama, ia menjerit: perutnya terasa seperti diikat, tubuhnya kaku, dan ketakutannya mendadak meledak tanpa alasan.
Teh Lia akhirnya meminta bantuan orang yang paham—seorang Abah yang biasa menangani gangguan spiritual, lalu datang pula seorang perempuan yang lebih tua yang dipanggil “Bibi”. Begitu baru berdiri di depan rumah, Bibi langsung menahan langkah. Katanya, aura di depan rumah—dekat pohon mangga—kencang sekali. Seperti ada yang “ditanam.”
Dari penerawangan mereka, Teh Lia mendapat kata yang membuat darahnya dingin: santet gondo mayit. Artinya kasar, korban ditarget untuk “dibawa” ke alam lain—tumbal. Dan yang lebih menakutkan, kata Bibi, santet itu seharusnya untuk Teh Lia… tapi malah nyasar ke anaknya.
Mereka menyebut jumlahnya bukan satu-dua. Total ada belasan gangguan—di tubuh anak, juga di titik-titik rumah: musala, kamar, sudut depan, dan pohon mangga. Jenis yang dominan, kata mereka, ular dan monyet. Teh Lia hanya bisa terpaku saat mendengar kalimat yang menampar: “Dagang di pasar itu enggak ada yang polos. Harus dibentengin. Kamu jualan tanpa pelindung, kamu nyerahin diri.”
Proses penyembuhan dimulai sebelum ritual apa pun selesai—Kakak muntah darah, mengerang kesakitan, sampai sempat berkata lirih, “Bun… ikhlasin aja.” Teh Lia hancur mendengarnya. Tapi ia tidak punya pilihan selain bertahan, menggenggam tangan anaknya, menahan tangis, dan mengikuti arahan Abah serta Bibi.
Satu per satu gangguan “ditarik” dengan media yang aneh: tusuk gigi. Setiap kali satu gangguan masuk, tusuk gigi itu berubah warna—hijau. Teh Lia menyaksikan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa: panas tubuh anaknya seperti bara, mendadak dingin, lalu panas lagi, seperti ada sesuatu berkelahi di dalamnya.
Yang paling mengerikan, bukan hanya Kakak yang terdampak. Anak pertamanya—Teteh—ikut terkena imbas. Dari mulut Teteh keluar benda-benda seperti baut atau paku kecil, sampai bibir kanan-kirinya sobek. Teh Lia menjerit, merasa ini sudah kelewat batas: kenapa dua anaknya jadi korban?
Di tengah proses itu, terjadi “komunikasi” dengan pihak pengirim. Teh Lia mendengar ancaman yang membuat lututnya lemas: anaknya sudah “dibeli”, maharnya satu motor NMAX. Mereka menuntut tumbal. Teh Lia tidak berpikir panjang—ia menawar dengan putus asa: “Saya ganti! Saya kasih NMAX! Saya kasih rumah ini sekalian!”
Rumah yang ia maksud bukan rumah kecil. Nilainya sekitar setengah miliar. Dalam kondisi panik seorang ibu, logika jadi runtuh. Teh Lia hanya punya satu prioritas: anaknya lepas. Ia lebih rela kehilangan semua harta daripada kehilangan nyawa darah dagingnya.
Menjelang tengah hari, suasana rumah seperti berubah. Ada bunyi seperti letupan kecil, lalu tekanan yang sejak pagi menindih terasa turun. Kakak yang berhari-hari tidak bisa makan tiba-tiba bilang lapar—dan makannya tidak wajar: setengah magicom habis, tiga porsi lauk habis. Di satu sisi Teh Lia lega karena anaknya hidup lagi, di sisi lain ia takut: ini anaknya yang makan… atau sesuatu yang baru mau pergi?
Setelah itu, mereka menemukan semacam “batu” atau kerikil besar berwarna hijau lumut sebagai tanda santetnya memang nyata dan berlapis. Dari penelusuran mereka, muncul dugaan lebih mengerikan: serangan bukan dari satu pihak. Ada kaitan antara saingan di pasar yang mengincar tumbal, dengan istri muda suaminya yang ingin Teh Lia hancur usahanya dan rumah tangganya. Bahkan disebut ada hubungan kerabat di antara mereka.
Pada akhirnya, Teh Lia menepati ucapannya. Ia menyerahkan rumah beserta isinya sebagai mahar—sebagai “tebusan” agar serangan berhenti dan anaknya tidak diambil. Setelah itu benar saja, gangguan mereda. Namun hidup Teh Lia jungkir balik: usahanya berhenti, uangnya habis, dan ia terpaksa tinggal di kontrakan kecil.
Anak-anaknya selamat, tapi tidak semuanya kembali “normal”. Kakak yang dulu hampir direnggut itu, kata Teh Lia, jadi lebih peka—seperti indigo—dan masih ada “penjaga” yang menempel, digambarkan sebagai dua sosok jenis monyet yang tidak mau pergi. Penjaga yang katanya baik, tapi tetap meninggalkan rasa ngeri karena hidup mereka tak lagi sama.
Teh Lia menutup kisahnya dengan getir: iri bisa berubah jadi senjata yang tidak terlihat, dan pasar—tempat orang cari makan—kadang menyimpan kompetisi yang tidak sehat. Baginya, kekalahan terbesar bukan saat usaha hancur, melainkan saat ia menyadari rezeki yang cepat naik bisa mengundang sesuatu yang cepat pula ingin merobohkan.
Dan di atas semua itu, kisah Teh Lia meninggalkan satu peringatan yang sederhana tapi pahit: ketika seseorang menargetkan kita dengan niat jahat, sering kali yang diserang bukan cuma badan—melainkan keluarga, rumah, dan ketenangan. Karena yang paling mudah menghancurkan manusia… adalah membuatnya kehilangan arah lewat orang-orang yang paling ia sayangi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.